
Episode 33
“Oiya Aster sekarang
Kerja dimana ?” tanya Hendra membuka percakapan dengan nada Halus agar bisa
ngobrol enak.
Sementara Astri yang
sudah berada didepan pintu mendengar Hendra bertanya begitu jadi agak gugup.
Takut Aster cerita dia kerja diperusahaan yang sebenarnya adalah milik papahnya
Hendra. Bisa kacau nanti rencanya. Dengan cepat Astri memotong pembiacaraan
mereka berusaha jangan samapai Aster mengatakanya sekarang. Dan saat itu pun
Aster sudah bersiap membuka mulut….
“Wah ternyata kalian
mesra ya kalo kami gak ada,” kata Astri
memecahkah kebekuan.
“Gak kok Astri Hendra
Cuma nanya biasa aja kok ?” jawab Hendra.
“Yang ada juga abang
kamu yang songong Astri ?” kata Aster.
“Gak gitu juga Aster,
kamu aja yang terlalu sensi sama aku.” Sahut Hendra.
“Bodo…!” gerutu Aster.
Astri dan Asih hanya
saling pandang mendengar Hendra dan Aster saling olok. Dalam hati Astri
berkata,”dua orang ini kayaknya cocok kalo dijadikan icon benci tapi cinta.”
Gumam Astri dalam hati. Dan Astri sudah menyusun rencana untuk mendekatkan
Hendra abangnya dengan Aster.
Cukup lama mereka
berada diruang tamu hingga maghrib tiba. Sesudah dirasa cukup Astripun pamit
pada Aster dan Asih, diikuti Hendra.
“Aster, Asih aku
pulang dulu ya kapan kapan kalian gentian tidur dirumahku.” Kata Astri.
“Iya Astri, kemarin
kan kita juga sudah nginep disana.” Jawab Asih.
“Iya tenang saja
Astri, kalo abang reseh lo gak dirumah Aster akan ajak Asih nginep sana !”
sahut Aster.
Sementara Hendra hanya
senyum senyum saja menanggapi komentar Aster.
Berangkatlah Astri
kerumah ibunya bersama abangnya Hendra. Dalam perjalanan Astri hanya senyum
senyum melihat Hendra abangnya yang habis dikerjain Aster.
“Ngapain kamu senyum
senyum Astri ?” Tanya Hendra pada Astri.
“Abang suka ya sama
Aster ?” Astri tidak menjawab justru balik bertanya pada Hendra.
“Kok Astri nanya gitu
?” kata Hendra.
“Gak papa bang, Astri
suka aja kalo bang Hendra jadian sama Aster. Bahkan mamah pun pinginya abang
jadian sama Aster.” Kata Astri.
“Mamah,, kok bisa
begitu ? bukankah mamah paling gak suka aku deket sama cewek. Seperti ketika
aku deket sama Elisa dulu. Mamah selalu sewot kalo Elisa kuajak kerumah ?” kata
hendra.
“Iya karena dari dulu
mamah pinginya bang Hendra jadian sama Aster bukan yang lain.” Jawab Astri.
“Kok bisa begitu Astri
?” Tanya Hendra penasaran.
“kata mamah, Aster tu
dari kecil sudah kelihatan sebagai orang yang sangat setia. Teguh pada
pendirian. Terbukti kemarin saat kembali ke Indonesia, mencari Astri gak ketemu
sampai nangis. Padahal kita sudah belasan tahun berpisah. Tapi Aster masih
mengingat Astri juga” Sahut Astri.
“Itukan dengan kamu
bukan dengan Hendra Astri ?” kata Hendra.
“Setidaknya itu
membuktikan kalo Aster itu setia bang, gak kaya Elisa yang hanya mengincar
perusahaan abang saja kan ?” kata Astri yang membuat Hendra terdiam sesaat.
Ingat ketika Elisa tahu dia tidak mau mengurusi perusahaan langsung meminta
putus. Saat itu hendra memang tidak mau mengurusi perusahaan karena baru
marahan sama mamahnya, justru karena Elisa.
Kemudian hendra mau
membuktikan jika Elisa mencintai dia bukan karena harta, Hendra hendak
membuktikan pada ibunya. Dia bilang pada Elisa jika perusahaanya bangkrut dan
di take over orang lain. Kemudian Hendra pura pura ngekos dirumah sederhana
sampai sekarang. Tapi ternyata Elisa lebih memilih putus dengan Hendra saat
itu. Hendrapun hancur hatinya, maka dia bertekat mau mencari wanita dengan
penampilan dia yang sekarang, yang berpenampilan sederhana. Tinggal dirumah
sederhana, agar tidak tertipu lagi dengan cinta palsu yang menyakitkan.
“Kenapa bang kok diem
? inget pengkhianatan Elisa yang sekarang bersama pria lain ?” Tanya Astri.
“Gak nyangka aja
Astri, Elisa yang sudah bertahun tahun bersama justru memilih pria lain saat
kubilang perusahaan bangkrut. Ternyata dia memang lebih memilih harta dari pada
aku.” Jawab Hendra.
“Iyalah bang, makanya
mamah gak suka abang berhubungan dengan Elisa.” Kata Astri.
“Tapi Astri kan tahu
sendiri, betapa bencinya Aster sama abang kamu ini ?” kata Hendra.
“Gak juga sih bang
justru Astri melihat ada sorot mata cinta dihati kalian.” Jawab Astri.
“Aah sok tahu aja kamu
Astri.” Jawab Hendra. Meski dalam hati dia mengakui jika ada ketertarikan
dengan Aster.
“Astri juga wanita
bang, bisa bedain benci beneran atau pura pura benci aja.” Kata Astri.
“Maksut Astri ?”
Hendra bertanya penuh penasaran.
“orang yang benci
beneran, gak mau bang ketemu aja apa lagi sampai bicara seperti Aster dan abang tadi.” Kata Astri.
“Barang kali dia Cuma
gak enak karena aku ini abang kamu Astri..” kata Hendra.
Dari jawaban Hendra
itu Astri bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya abangnya ada ketertarikan dengan
Aster. Tinggal mengatur siasat agar mereka lebih intens bertemu. Agar dapat
menumbuhkan benih benih cinta yang sudah ada diantara keduanya.
“Begini bang, sebenarnya
Aster dan Asih itu besuk mulai bekerja di perusahaan papah. Tapi mamah dan
Astri merahasiakan jika itu perusahaan keluarga kita. Dan mamah pingin bang
Hendra kembali masuk keperusahaan kita itu. Agar bisa kenal Aster secara lebih
dekat.” Kata Astri.
__ADS_1
“Ya sama aja bohong,
nanti kalo abang masuk sana Aster juga akan tahu dong Astri.” Sahut Hendra.
“Caranya dong abangku,
bang Hendra masuk sana jangan sebagai owner, tapi sebagai karyawan, klo perlu
jadi bawahan Aster dan Asih !” kata Astri.
Hendra terdiam sesaat,
dia tidak menyangka jika Astri adiknya juga mamahnya mempunyai rencana seperti
itu.
Hendra berpikir, ada
benarnya juga Astri dengan begitu akan bisa melihat sikap sebenarnya Aster
kepada dirinya sebagai seorang karyawan bukan sebagai owner perusahaan.
“Tapi bagaimana dengan
para direksi dan Personalia yang sudah mengenali abang Astri ?” Tanya Hendra.
“Gampang itu bisa
diatur, berarti abang setuju kan kalo Astri dan mamah punya rencana seperti ini
?” Tanya Astri.
“Setuju juga sih, tapi
gimana ceritanya Aster bisa masuk perusahaan keluarga kita Astri ?” Tanya
Hendra.
“Awalnya memang karena
perusahaan butuh tenaga kerja baru, dan kebetulan Aster melamar kerja disitu.
Makanya Astri undang abang didekat perusahaan waktu itu, sebenarnya Astri lagi
anterin Aster test psykologi dan penyaringan tahap ke dua. Tapi Astri langsung
telpon kepala personalia agar Aster dan Asih diterima langsung. Karena test
pertama sudah lolos.” Jawab Astri.
“Owh jadi, mereka
berdua memang punya kemampuan juga ya, karena sudah lolos test tahab pertama ?”
jawab Hendra.
“Gak Cuma itu, dari
nilai test pun khususnya Aster mendapat point tertinggi juga bang.jadi
kebetulan saja, dia adalah Aster sahabat kecil Astri, dan sudah mamah anggap
anak kandung sendiri kan.” Jawab Astri.
“Ok kita lanjut bicara
dengan mamah saja, ini sudah sampai rumah.” Kata Hendra.
Kemudian mereka berdua masuk menemui mamahnya,
dan melanjutkan pembicaraan yang sempat terjeda tadi.
“Baru sampai kalian,
mampir kemana saja ?” Tanya mamah Hendra dan Astri membuka pembicaraan.
“Gak mampir kemana
mana kok mah, Cuma tadi harus nungguin bang Hendra sama Aster berantem kayak
waktu kecil dulu.” Jawab Astri.
“Hmmm… kenapa begitu
Hendra, apa kamu masih dendam sama Aster kayak dulu ?” Tanya lanjut mamahnya.
“Hendra sih gak mah,
tapi Aster yang dendamnya gak hilang hilang sama Hendra..” Jawab Hendra.
“Ya iyalah, abang sih
keburu nafsu main peluk Aster saja jelas Aster marah lah ?” canda Astri.
“Benar begitu Hendra
?” Tanya mamahnya.
“Gak kok bu, sekilas
Aster kan mirip Astri jadi kukira Astri jadi aku peluk karena kukira Astri.”
Jawab Hendra.
“Boong tu bang Hendra,
jelas ada perbedaan antara Astri dan Aster lah. Warna kuli juga sekarang
putihan Aster mah. Secara dia lama di negeri sakura.” Kata Astri.
“Sudah gak usah ribut
ah, kalian ini kalo bertemu saja ribut melulu kalo jauh saling nanyain juga.”
“Jadi bagaimana mah,
rencana kita kemarin ?” kata Astri.
“Yaudah jalan terus,
besuk kita panggil semua direksi dan personalia. Biar mereka bisa menjaga
rahasia ini. Hendra biar masuk ke kantor sebagai karyawan biasa, dan semua
harus bersikap biasa pada Hendra. Agar kita bisa tahu seperti apa sikap Aster,
dengan Hendra yang hanya karyawan biasa.” Ucap mamah mereka berdua.
“Tapi bagaimana
mungkin mah, kan Aster tahu rumah ini, jadi gak mungkin percaya kalo Hendra
masuk sana jadi karyawan biasa.” Kata hendra.
“Bilang saja rumah ini
hasil jerih payah adikmu, sementara kamu masih harus berjuang dri Nol. Makanya
malu tinggal disini dan pilih tinggal di kos an kamu.” Jelas mamah Hendra.
“yang jelas bang
Hendra memang ada hati kan sama Aster ?” desak Astri pada Hendra.
“Jujur saat ini abang
hanya tertarik dengan kepribadian Aster saja, belum ada rasa lebih dari itu.”
Ucap Hendra.
“Felling mamah Aster
tu anak baik Hendra, jangan sia siakan kesempatan ini. Saat ini jarang wanita
seperti Aster itu.”
Astri dan Hendra hanya
terdiam mendengar penjelasan mamahnya.
*********
Sementara dirumah
Aster
“Kamu kenapa sih sama
abangnya Astri kok kayaknya dendam banget begitu Aster ?” Tanya Asih.
“Ya begitulah Asih,
meski Aster sama Astri dulu bersahabat dekat bahkan seperti saudara kandung
bahkan. Tapi dengan abangnya Astri, Aster merasa sangat benci. Dia selalu
jahilin kami. Terutama Aster, tahu tahu tadi main peluk saja siapa yang gak
marah, dan jadi ingat masa kecil dulu.” Jawab Aster.
“Ya tapi gak harus
segitunya juga kali Aster, dia kan abang dari sahabat karib yang kamu cari
selama ini kan ?” kata Asih.
“Iya sih, kalo bukan
karena ingat dia abangnya Astri sudah Aster pukulin lah tadi, main peluk peluk
aja sama cewek.” Jawab Aster.
“Tapi kan dia udah
jelasin kalo dia kira kamu adalah Astri adiknya. Kan memang kalian ada
kemiripan Aster ?” jawab Asih.
“Aster gak yakin, bisa
aja dia sengaja godain Aster, karena sifat jahilnya yang sudah mendarah daging
dari dulu.” Sanggah Aster.
“Aah kayaknya sih gak
gitu Aster, atau justru kamu ada perasaan sama abangnya Astri ?” kata Asih.
“Iya memang, ada
perasaan tapi perasaan benci !” gerutu Aster.
“Awas loh nanti benci
jadi bener bener cinta Aster.” Gurau Asih.
“Ciih gak bvakalan
Asih. Cowok songong kayak gitu !” jawab Aster.
__ADS_1
“Yaudah deh terserah
kalian saja,” jawab Asih.
“Owh iya Asih, gimana
hubungan kamu sama Andi, baik baik saja kan ?” Aster mengalihkan pembicaraan.
“Iya tenang saja, kami
baik baik sja. Kan Aster dan Astri sudah dengar sendiri perkataan Hazel saat
itu.” Jawab Asih.
“Sukurlah kalo begitu,
Aster ikut senang kalian baik baik saja.” Kata Aster.
“Jangan hanya ikut
senang dong Aster.” Kata Asih.
“Lah terus Aster harus
ngapain ?” Tanya Aster.
“Ya harus senang juga
artinya segera cari pendamping biar kita sama sama punya kekasih nati bisa
jalan ranme rame kan asik.” Kata Asih.
“Aah bodo, Aster lagi
bad mood kalo ngomongin cowok gara gara Hendra songong tadi.” Kata Aster.
Padahal hatinya juga
merindukan perasaan jatuh cinta itu seperti apa. Karena selama ini hatinya
dingin membeku bagaikan salju abadi, menunggu seseorang yang mampu
mencairkanya.
“Gak boleh gitu Aster,
masak kamu mau menyalahi kodrat wanita yang mencintai lelaki sebagai
opendamping hidupnya.” Ucap Asih.
“Ya gak gitu juga
Asih, hanya saja tidak saat ini pokoknya.” Kata Aster.
Asih tak berani
melanjutkan perkataanya, melihat respon ster yang sudah kurang respek dengan
pembicaraan.
Kemudian Asih mengajak
Aster untuk istirahat, karena besuk harus berangkat bekerja, di hari pertama
bekerja harus datang lebih awal, pikir Asih.
“Taudah kita istirahat
saja yuk. Takut besuk kesiangan berangkat kerjanya.” Ajak Asih pada Aster.
Aster dan Asih masuk
kedalam kamar masing masing. Asih sibuk dengan lamunanya tentang Andi
kekasihnya yang baru saja resmi berpacaran.
Sementara Aster masih
sibuk dengan pemikiran dirinya terhadap Hendra abang dari Astri sahabat
dekatnya dari masa kecilnya dulu.
Kenapa aku jadi kepikiran Hendra songong terus nih, gak aah gak
mau Aster mikirin dia. Cowok nyebelin yang sukanya selalu bikin reseh. Rasanya
pingin nonjok tadi saat dia tiba tiba meluk Aster, baru tadi Aster dipeluk
cowok yang bukan kerabat Aster. Mana keringat dingin Aster sampaikeluar lagi,
dasar songong tuh Hendra, pingin balas lagi yang lebih dari tadi rasanya.
Bagaimana caranya besuk kalo dirumah Astri gak ketemu cowok
songong itu ya ? batin Aster. Tapi kata Astri dia tidak tinggal serumah dengan
Hendra, Hendra kos sendiri, kenapa bisa begitu ya ? ada apa dengan Hendra,
hingga tidak mau tinggal serumah dengan Astri adiknya dan juga mamahnya. Iih
kok jadi mikirin anak songong itu lagi sih, nyebelin banget deh. Dasar nak
bermasalah, sama keluarganya saja bermasaah apa lagi dengan orang lain. Gerutu
Aster dalam hati, namun rasa keingin tahuan tentang Hendra justru semakin
besar. Kenapa dia tidak mau tinggal serumah denganmamahnya dan Astri, apa dia
lagi ada masalah ya. Batin Aster yang justru lebih masuk dalam lamuanan tentang
Hendra.
Kenapa susah banget menghilangkan bayangan mahluksongong bernama
Hendra itu sih. Gerutu Aster dalam hati. Aster kan benci sama Hendra, kenapa
sekang malah mikirin dia sih. Sungut Ater dalam hati. Lama gak juga tertidur,
akhirnya Aster bangkit menuju kedapur mengambil air putih untuk minum.
Saat didapur, ternyata Asihpun baru kedapur untuk minum.
“Heeh belum tidur juga kau Asih ?” sapa Aster pada Asih.
“Iya nih Aster, bingung besuk mau mulai masuk kerja. Kamu juga
belum tidur, mikirin apa atau siapa Aster ?” goda Asih pada Aster.
“Siapa,,, gak kali, mikirin bokap nyokap aja belum ada kepastian
kapan akan pulang.” Sahut Aster bohonh.
“Kirain mikir tadi yang barusan dapat pelukan.” Goda Asih.
“Diih gak banget deh Asih. Neg tahu dipeluk Hendra si songong
begitu.” Jawab Aster.
Asih hanya tersenyum mendengar jawaban Aster yang
sepertinyamasih menyimpan dendam masa lalu dengan Hendra. Sebesar apa sih
kenakalan Hendra waktu kecil hingga membuat Aster susah menghapus memori itu.
“Jujur Aster, Asih takutnya kamu yang sekarang benci sama Hendra
nanti justru jadi saling jatuh cinta ?” kata Asih.
“Gak lah Asih, masa iya sih Aster jatuh cinta sama anak songong
begitu ?” kata Aster.
“jadi kamu beneran benci sama Hendra abangnya Astri ?” Tanya
Asih.
“Ya kamu lihat sendiri kan dia konyol begitu.” Kata Aster.
“Menurut Asih kok gak ya Aster, maksutku Hendra tu gak songong
seperti kkata kamu. Tapi dia memang hidupnya kayak gitu saja.” Kata Asih.
“Skarang Asih pikir, mana mungkin dia tinggal di kos ana
sementara rumah dia saja sangat nyaman. Kalo gak karena dia cowok bermasalah ?”
kata Aster.
“Udah aha kok malah jadi
ngerumpi lagi sih, kata Asih.
Sebenernya sih pun merasa aneh dengan hendra, namun dia pilih
diam agar tidak salah ngomong.
******
Saat pagi sebelum
mereka berangkat kerja, setelah sarapan pagi tiba tiba asih mendapat telepon
dari Andi.
“Assalaamu’alaikum
Andi, Asih mau berangkat bekerja dulu ya sayang.” Ucap Asih menjawap telpon dar
Andi.
“Wa’alaikummmussalam Asih sayangku, maaf ndi mengganngu pagi pagi, ini ada
berita jika Hazel semalam kecelakaan. Dan Wawan mengajak Andi jenguk Hazel,
Asih keberatan tidak ?” Tanya Andi.
Asih agak terdia lama
sebelum angkat bicara.
“Andi jenguk deh
anterin Wawan juga, mudah mudahan Hazel gak papa.” Ucap Hazel.
“Itullah masalahnya
Asih, Hazel koma saat ini.” Ucap Andi.
bersambung
Mohon dukungan
Like
Komen &
__ADS_1
Vote
Terimakasigh