Cinta Asteria

Cinta Asteria
Arya bertemu Hendra


__ADS_3

Gak fair dong pak, karyawan baru masuk kemarin sudah diberi tugas seperti itu. Apa hanya karena dia lulusan Universitas sana dianggap lebih bisa dari kita yang sudah bertahun tahun bekerja pak !” protes seorang karyawan.


Emosi Aster sudah sampai keubun ubun, untunglah Nisa kembali memegang tangan Aster untuk menenangkan. Namun tidak disangka sang manager marketing pun ikut emosi mendengar itu. Kemudian terdengar suara gebrakan meja dari sang manager tersebut.


Bruaaaakkkk……


Suara meja digebrak.


“Jika ada yang tidak setuju silahkan membuat surat pengunduran diri sekarang juga…!!!”. Ucapan manager marketing.


Semua yang mendengar tertunduk diam tak ada yang berani mengangkat muka, terlebih orang yang berteriaaka tadi.


Justru dengan kejadian itu Aster merasaa kasihan pada orang itu. Yang ternyata tidak punya cukup nyali.


“Ini adalah keputusan dewan direksi, dengan melihat, menimbang dan mempertimbangkan kemudian mengambil keputusan tersebut. Tentu saja sudah dengan perhitungan yang masak. Jadi jangan ada yang merasa super disini.” Bentak manager marketing tersebut.


Semua hanya terdiam, jangankan berkata mengangkat kepala pun gak ada yang berani. Memang begitulah umumnya, orang yang over acting biasanya justru tidak bernyali. Dan sekedar menutupi kekurangan diri dengan tingkah yang membosankan bagi orang lain.


“Satu hal lagi keputusan dari dewan direksi adalah, untuk ibu Nisa yang sudah lepas masa traing serta dinilai kinerjanya cukup bagus, loyaliatas ke perusahaan juga bagus. Maka mulai bulan ini akan diberikan tambahan tunjangan jabatan. Serta akan diberikan seorang pegawai tambahan untuk membantu pekerjaanya.Kuharap kalian semua bisa menerima keputusan ini dengan bijak. Jadikan ini sebagai motivasi diri untuk berubah menjadi lebih baik.” begitu akhir ucapan manager marketing tersebut. Tanpa disambut sepatah katapun oleh anak buahnya..


Kemudian semua kembali ke pekerjaan masing masing tanpa ada yang berani berkomentar apapun terkait apa yang disampaikan oleh manager marketing tersebut.


“Bu Aster, saya berharap banyak untuk persiapan loby ke perusahaan Asing tersebut benar benar disiapkan dan dikoordinasikan dengan bu Asih dan bu Nisa. Untuk itu mulai sekarang bu Aster bu sih dan bu Nisa akan disiapkan ruangan khusus yang bisa dipergunakan bertiga untuk koordinasi.” Kata manager marketing.


“Maksutnya bagaimana pak ?” Tanya Aster pada manager marketing tersebut.


“Mari saya tunjukan ruang koordinasi bagi ibu bertiga nanti, silahkan ibu bertiga berkoordianasi untuk persiapan tersebut. Dan mulai besuk tugas bu Nisa akan di bantu oleh karyawan baru yang insya Allah besuk mulai masuk kerja.” Kata manager marketing tersebut.


Aster yang sebenarnya merasa aneh dengan semua yang terjadi, namun karena saat ini dia mendapat job yang cukup besar nilai kontrak kerjasamanya maka dia lebih konsen kepada tugas dan tanggung jawab yang dia pikul. Dari pada memikirkan hal hal yang dia rasa aneh.


Begitulah akhirnya Aster Asih dan Nisa dikumpulkan dalam satu ruangan untuk persiapan pengajuan tender kerja sama dengan perusahaan asing tersebut.


“Ya Allah,ada apa dibalik semua ini. Aster merasamendapat Anugeraah yang sangat luar biasa saat ini,bisik Aster dalam hati. Asih dan Nisa pun merasa bersukur atas apa  yang mereka capai, namun tiak mempunyai pemikiran seperti apa yang dirasakan Aster.


...*****...


Di tempat kos Dika.


Arya yang sedang merenung sendiri karena Dika sedang bekerja. Kembali membuka Hp. Menghubungi Astri sahabatnya.


“Hai.. Astri lagi ngapa nih ?


pingin ketemu enaknya dimana ya “ chat Arya pada Astri.


“Hai juga Arya,


Mau ketemuan dimana Astri ngikut aja. Di coffe resto juga boleh.” Jawab Astri.


“OK,tapi Astri yang Traktir ya,hehehe…!”


“”Lah bukanya yg ngajak kamu Arya !” canda Astri.


“ya sih, tapi kan Astri tahu Arya masih jobless,he he he !” jawab Arya.


“Iya iih gitu aja diambil hati sih Arya, yauudah Astri berangkat sekarang.” Kata Astri.


Astri segera mengeluarkan mobilnya dan meluncur menuju tempat yang dijanjikan dengan Arya.


Sampai di tempat yang disepakati, Arya sudah berada di depan coffe.


“Kok diluar saja kamu Arya ?” Tanya Astri.


“Nungguin kamu lah, kalo masuk duluan kamu gak datang bisa tengsin didalem mo ngapain ?” jawab Arya.


“Dateng lah pastinya, yaudah ayuk masuk ke dalam saja biar nyantai.” Sahut Astri.


Mereka berdua kemudian masuk coffe dan memesan menu makan dan minuman. Jika Arya sendiri tentu gak akan mau jajan disitu melihat, price list yang terpampang sudah pusing duluan. Tapi bagi Astri gak masalah sekali kali nyenengin temen ditempat begitu. Meski juga tidak sering, bukanya pelit, hanya Astri tidak ingin orang menilai dia darifasilitas apa yang dia ada. Astri juga gak ingin dikenal sebagai orang yang berada. Bahkan dari banyak teman kampusnya hanya beberapa orang yang tahu siapa Astri. Termasuk Arya Dika dan Dimas itupun belakangan. Gak lebih dari 7 orang yang kenal siapa Astri, sebuah pribadi yang sederhana tapi menyimpan pesona yang luar biasa. Udah begitu ketulusan hati dan kesetiaan Astri 11-12 dengan Aster sahabatnya.


“Kok Cuma Aku yang pesen makan, kamu gak Astri ?” Tanya Arya.


“Tar aja masih kenyang, tadi barusan beli bubur ayam waktu kamu chat.” Jawab Aster.


“Masih doyan juga makanan tradisional kita ?” gurau Arya.


“Bukan doyan, malah suka kok Astri sama makanan bangsa kita.” Jawab Astri.


“Kirain dah ggak doyan lagi sekarang, kebanyakan makan makanan bule.” Kata Arya.


“Kamu ngajak Astri kesini mau bahas makanan atau mau bahas apa ?” jawab Astri.


“Iya maaf, Arya makan dulu deh ngobrolnya nanti.” Gurau Arya.


“Ar kamu ikut kerja diperusahaan alm papahku aja deh. Sambil bantuin Astri juga.” Kata Astri.


“Dug gimana ya Astri, aku tahu kamu baik tapi aku masih pingin mencari identitas diri dulu. Mau mengejar idealismeku dulul, gk mau bekerja hanya karena kebaikan seorang Astri. Jika aku bikin kamu kecewa justru makin gak baik dampaknya bagi kita.” Jawab Arya.


“Astri tahi itu, ta[I Astri juga sudah yahu kalo Arya itu punya dedikasi dan loyalitas. Makanya Astri minta bekerja di perusahaan papah. Bukan hanya karena teman, tapi juga ada kemampuan. Kalo gak ada kemampuan meski teman juga gak Astri tawarin,Arya.” Arya  berpikir tentang tawaran Astri tersebut.

__ADS_1


“Bagaimana nanti saja Astri, yang Arya khawatirkan  justru hubungan persahabatan kita nanti jadi kurang kalo aku bekerja di perusahaan papah kamu. Meski kita tetap bisa membedakan antara hubungan pertemanan dan urusan pekerjaan. Tetap saja akan ada garis pembeda bila kita hanya sekedar sebagai sahabat saja.” Kata Arya.


“Astri hargai itu Arya, tapi Astri tetap berharap kamu mau nantinya. Mengingat kamu sudah punya rencana meminang Ifah. Dan jangan anggap ini balas budi, tapa ini murni Astri membutuhkan keahlian tenaga dan pikiranmu untuk kemajuan perusahaan.” Jawab Astri.


“Iya Astri, akan kupikirkan nanti. Sekarang kita bicarakan tentang Dimas dulu saja.” Kata Arya mulai masuk pada tujuan menemui Astri.


“Ada perkembangan apa tentang Dimas Arya ?” Tanya Astri Antusias.


“Hari ini kan Dimas berangkat ke sini Astri, besuk mungkin sampai sini dan akan mengunjungiku di tempatnya Dika.” Kata Arya membuka pembicaraan.


“Berarti kamu semalam juga nginep di tempat Dika ?” Tanya Astri.


“Iya lah, masak iya mau nginep di tempat ifah bisa berabe urusanya nanti.” Jawab Arya sambil bercanda.


“terus kata Dimas bagaimana, apa dia singgung soal Astri ?” Tanya Astri.


Arya tampak ragu dan berpikir dulu untuk menyusun kata kata sebelum bicara.


“Jadi Dimas itu masih memrasa gak pantas bersamamu karena perbedaan status social dan ekonomi Astri. Meskipun secara tersirat Dimas itu masih mencintaimu sampai saat ini.” Kata Arya hati hati.


“Intinya dia masih sakit hati sama abangku saja kan, karena peristiwa waktu itu ?” komentar Astri ke Arya.


“Bisa jadi begitu Astri, maaf saja seandainya aku yang jadi Dimas pun juga pasti sakit hati dikatakan begitu sama abang kamu.” Jawab Arya.


“Iya Astri tahu kok, memang kesalahan abangku cukup besar. Menyinggung harga diri dan martabat Dimas. Tapi itu abangku bukan Astri, bahkan papah mamah Astripun tidak pernah mengajarkan anak anaknya untuk melihat orang dari strata social maupun ekonominya Arya.” Sahut Astri seakan menyesali apa yang pernah dilakukan abangnya pada Dimas dulu.


“Aku paham kamu Astri, kamu gak pernah menyombongkan kekayaanmu. Bahkan menunjukkan pun tidak. Tapi abangmu yang telah menyinggung Dimas, bahkan akupun ikut merasa tersinggung waktu itu. Karena Arya pun tak jauh berbeda dengan Dimas.” Kata Arya.


“Tapi itu adalah bang Hendra yang dulu Arya, bukan bang Hendra yang sekarang.” Jawab Astri.


“Maksut kamu sekarang hendra sudah berubah ?” Tanya Arya.


“Iya Arya, bahkan sekarang sangat menghormati dan menghargai orang lain. Berbeda dengan bang Hendra yang dulu.” Kata Astri.


“Kamu serius Astri ?” Tanya Arya.


“Serius, bahkan salah satu alas an Astri ngajak kamu bekerja di perusahaan papah itu ada kaitanya dengan ini.” Sahut Astri.


“Maksut Astri bagaimana ?” Tanya lanjut Arya.


“Kamu gabung aja dulu, kamu coba cocok tidak pekerjaan itu. Kalo gak cocok kamu boleh resent jika cocok boleh lanjut.” Jawab Astri.


“Tujuanya apa selain sekedar bergabung diperusahaan itu ?” Arya justru makin penasaran dengan keinginan Astri.


“Jadi, saat ini kan Aster dan Asih juga kebanyakan karyawan yang ada tidak tahu posisi bang Hendra dan Astri di perusahaan itu. Memang masih Astri rahasiakan, tujuan Astri mau mendekatkan bang Hendra dengan Aster. Dan bang Hendra akan pura pura masuk jadi karyawan disitu. Makanya butuh kamu untuk menemani abangku dalam bekerja.”kata Astri.


“Sebatas itu saja ?” Tanya Arya.


Kemudian Astri menceritakan lebih lanjut keinginan mamah Astri dan Astri sendiri untuk menjodohkan Hendra dengan Aster. Karena hanya Aster yang mereka yakini tepat untuk Hendra. Makanya akan didekatkan dengan cara seperti itu. Biarkan Aster tahunya Hendra adalah seorang pekerja biasa diperusahaan itu. Sehingga Aster bisa kenal dekat dan harapanya bisa saling suka dengan Hendra.


Dan itu membutuhkan scenario untuk memuluskan rencana itu. Makanya perlu bantuan dari beberapa orang disin termasuk juga Arya. Begitu penjelasan Astri kepada Arya, agar Arya mau ikut membantu mendekatkan Aster dengan Hendra.


“Wah gak mudah itu sih, apakah selama ini Aster dan abang kamu Hendra sudah saling kenal ?” Tanya Aster.


“Sudah, sayangnya yang Aster kenal adalah abangku Hendra yang dulu bukan yang sekarang. Jadi Aster selalu ketus bahkan suka ngomel sama abangku Hendra. Makanya dengan seperti itu tadi biar Aster tu bisa kenal abangku yang sekarang bukan abangku dulu yang nyebelin dan sombong.” Jawab Astri.


“Terus tugas apa yang harus Arya lakukan untuk membantu mendekatkan mereka Astri ?” Tanya Arya kepada Astri.


  “Kamu mendampingi dia dalam bekerja, bang Hendra nanti akan ditempatkan satu divisi dengan Aster. Tapi posisi bang Hendra adalah bawahan Aster, agar mereka setiap hari bisa saling kontak.” Kata Astri.


“Wah ide kamu gila Astri, mana mau abang kamu jadi bawahan Aster yang nota bene benci sama abang kamu. Gak lah Arya gak sanggup kalo begitu, berat banget. Belum lagi sifat abang kamu yang temperamental dan sombong, maaf aku bicara jujur saja.” Kata Arya.


“Itu berarti kamu sama dengan Aster, masih menganggap abangku seperti dulu. Kayaknya kamu harus aku pertemukan dengan abangku deh. Biar tahu abangku yang sekarang, yang sudah jauh berbeda debngan yang dulu.” Kata Astri.


“Boleh saja, siapa takut aku juga jadi penasaran sekarang. Apakah abangmu yang sombong dan temperamental itu sekarang beneran bisa berubah.” Jawab Arya.


“Ok biar abangku Astri suruh nyusul kesini sekarang juga.”kata Astri.


Kemudian Astri menghubungi Hendra untuk ikut bergabung denganya dan Arya. Serta memberikan lokasi dia sekarang berada.


“Bang Hendra, cepet susul Astri kesini, penting. Astri kirimkan lokasinya.” Chat Astri ke Hendra.


“Ok,aku segera meluncur.” Balasan chat Hendra setelah menerima sharelok dari Astri.


“Kita tunggu sebentar lagi abangku akan datang kesini.” Kata Astri.


“Siap, tapi maaf sebelumnya Astri. Kalo ternyata abangmu belum berubah dan bikin ribut disini jangan sampai merusak persahabatan kita ya. Karena kamu dan abangmu adalah dua sosok yang berbeda meski kalian saudara kandung !” pinta Arya pada Astri.


“Tenang saja Arya, gak akan merubah persahabatan kita dan Astri yakin gak aka nada keributan.” Jawab Astri.


“Ok. Semoga saja begitu Astri. Kembali ke pembicaraan awal. Apakah jika aku menerima tawaranmu nanti aku harus membuat surat lamaran resmi juga ?” Tanya Arya.


‘Kalo itu jelas lah, kan sudah menjadi SOP perusahaan. Dan itu akan masuk menjadi data iri karyawan perusahan. Bedanya kalo kamu Astri yang minta, kalo yang lain kan melamar sendiri. Jadi soal lamaran resmi tetap harus pakai.” Jawab Astri.


“Ok, sangat dimengerti kalo itu Astri, tapi nanti menunggu abang kamu dulu. Kalo benar dia berubah aku terima tawaranmu itu. Tapi jika tidak maaf saja, aku gak sanggup ya Astri.” Kata Arya.


Beberapa saat setelah Astri dan Arya ngobrol, datanglah Hendra dengan penampilan fisik yang jauh berbeda dari dulu.

__ADS_1


“Ada apa adikku, kok ngajak abangmu kesini. Mau traktir abang lagi ya ?” sapa Hendra pada Astri.


Dalam hati Arya yang melihat penampilan Hendra sekarang dan cara bicaranya, Ary kesabaran dia dulu.”  jadi bertanya dalam hatinya.


“Apakah anak ini sudah benar benar berubah sekarang, tapi perlu dites dulu kesabaranya.” Kata Arya dalam hati.


“Ada yang harus Astri omongin bang, masih kenal gak dengan teman Astri yang ini bang ?” Tanya Astri pada Hendra.


Hendra dan Arya saling tatap sebentar. Kemudian Hendra berucap, “Owh kamu kan Arya ya namanya kalo gak salah, gimana kabarnya bro ?” Tanya Hendra pada Arya sambil mengulurkan tanganya menyalami. Arya menyambut uluran tangan Hendra dengan dingin.


“Betul aku Arya, dan kabar aku masih sama seperti dulu. Masih menjadi seorang lelaki miskin.” Jawab Arya menyindir Hendra.


“Aah rupanya kamu masih dendam sama aku ya bro. Ok Aku minta maaf atas sifatku yang songong dulu deh. Hendra ngaku salah sama kalian, dan Hendra mau berubah memperbaiki sifat Hendra yang salah. Mau gak bro maafin Hendra ?” Tanya Hendra pada Arya.


Astri hanya diam mendengar percakapan Arya dan abangnya hendra. “Mungkin Arya pingin melihat seperti apa abangnya yang sekarang." pikir Astri.


“Buat apa minta maaf, kan orang seperti aku ni gak bisa memberikan manfaat apapun bagi kamu bang.” Ucap Arya dengan nada yang masih ketus.


“Jangan begitulah bro, aku tulus mengakui salahku pada kalian, dan jika mungkin aku juga mau minta maaf pada temen kamu si Dimas. Pasti dia sakit hati banget sama Hendra.” Jawab hendra datar tidak menanggapi perkataan Arya yang ketus.


“Udah terlambat bang kalo sama Dimas, orangnya kan sudah berada di jogja sekarang gak di Jakarta lagi. Kalo sama Arya ok lah Arya maafin. Tapi sama Dimas Arya gak tahu apa dia mau memaafkan atau tidak.” Jawab Arya.


“Apakah kamu tahu alamat Dimas, jujur saja aku beneran mau minta maaf sama dia. Bahkan aku sangat menyesal karena tindakanku itu membuat adikku jadi patah hati.” Kata Hendra.


Arya dalam hati tersenyum. “Wah ternyata si sombong hendra benar benar telah berubah sekarang.” Katanya dalam hati.


“Ya itu masalahnya, mungkin sekarang ini Dimas juga sudah bersama gadis lain, sementara adikmu masih berharap bisa kembali sama Dimas. Kamu sebagai abangnya harus tanggung jawab dong sama adik kamu Astri.” Kata Arya.


“Aku juga pinginya begitu Arya, tolong bantu aku mencari keberadaan Dimas. Sukur dia belum bersama gadis lain dan mau kembali sama adik ku. Tapi kalo dia gak mau aku juga gak bisa maksa, yang jelas aku harus minta maaf pada Dimas atas sikapku yang dulu.” Jawab Hendra.


“Sulit kalo itu bang, Arya gak bisa jamin apakah bisa mempertemukan bang Hendra dengan Dimas lagi atau gak. Kalopun bisa, apakah ngaruh dengan sikapnya Dimas atau gak Arya juga gak tahu. Soalnya Dimas sudah sakit hati betul sama bang Hendra.” Jawab Dimas.


“Apa kalian gak pernah ada kontak lagi ?” Tanya Hendra ke Arya.


“Pernah sih, tapi ya sekedar say hello biasa saja. Gak pernah nyinggung masalah pribadi masing masing.” Jawab Arya.


“Boleh aku minta no kontaknya biar aku bicara lewat telpon dulu dengan Dimas ?” Tanya Hendra.


“Wah gak semudah itu juga bang, Arya harus minta ijin dulu sama Dimas apakah boleh no kontaknya aku berikan ke bang Hendra. Kalo tidak boleh ya Arya gak berani bang. Soalnya itu kan privasi Dimas.” Jawab Arya yang belum puas ngerjain Hendra. Meskipun itu hanya sebatas menjajagi pribadi Hendra yang sekarang seperti apa.


“Ok, kamu ijin dulu sama Dimas kalo diperbolehkan aku minta nokontaknya. Nanti bisa dikirim ke no Astri adikku.” Jawab Hendra.


Astri mualai merasa iba dengan abangnya hendra, berkali kali Astri menendang kaki Arya pelan memberi kode agar menyudahi gojlokanya ke Hendra. Namun tampaknya Arya masih belum puas, sekaligus pingin tahu sampai mana perubahan si Hendra.


“Ya coba nanti malam deh, aku Tanya sama Dimas klo sekarang takutnya dia lagi sibuk.” Jawab Arya pada Hendra.


“Apa gak dicoba sekarang saja, kan sekalian mumpung kita kumpul disini. Biar semua nanti bisa clear gak ada masalah lagi.” Ucap Hendra.


“Jangan sekarang ah, Arya lagi gak mood ngomngin Dimas.” Jawab Arya.


“Udah lah Arya, hentikan sandiwaranya…!” ucap Astri gak tahan abangnya dibully Arya.


Mendengar itu justru Hendra jadi bingung.


“Sandiwara apaan Astri, maksutnya apa ?” Tanya Hendra penasaran.


Sementara Arya hanya tersenyum sendiri melihat Hendra abangnya Astri kebingungan.


“Makanya bang jangan suka nyakitin dan memepermainkan orang ? gak enak kan dipermainkan ?” Tanya Astri ke abangnya.


“Lah siapa yang mempermainkan orang Astri ?” Tanya Hendra.


“Kan dulu abang sukanya memepermainkan orang kan ?” jawab Astri.


“Itukan dulu Astri, abang kan udah berusaha berubah sekarang ini.” Jawab Hendra.


“Maaf bang, sebenarnya Dimas besuk akan kesini untuk menyelesaikan urusanya dengan Astri. Tapi selesainya bagaimana Arya juga gak tahu.” Jawab Arya.


“Menyelesaikan urusan dengan adikku Astri bagaimana maksutnya ?” Tanya Hendra.


“Ya bisa saja resmi memutuskan hubungan dengan Astri karena masih sakit hati dengan abang. Atau bagaimana Arya juga belum tahu itu.” Ucap Arya.


Hendra jadi tampak sedih mendengar kata kata Arya, sementara Arya terpingkal dalam hatinya dan merasa puas mempermainkan Hendra.


...bersambung...


...Jangan lupa beri dukungan...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


 


__ADS_2