
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
“Apkah Tuhan itu bener bener ada pak, dan apakah kehidupan setelah mati itu juga beneran ada. ataukah hanya sebuah cara agar orang itu takut untuk berbuat jahat saja. Karena menurut Syifa nih, orang berbuat baik itu karena naluri manusia saja. Sementara orang kebanyakan berbuat baik mengatas namakan Agama demi pahala, memang pahala itu apa pak ? apa memang benar ada ?” Tanya Syifa. Sebuah pertanyaan yang membuat pak Hamid dan bu Saodah sampai mengernyitkan keningnya.”Apakah Syifa ini orang yang tidak percaya Tuhan itu ada ( Atheis ) atau termasuk Agnostik ( percaya Tuhan itu ada tapi bingung pilih Agama ).” Kata ibu Saodah dalam hati.
“Dari mana aku harus menjelaskan ini.” kata pak Hamid dalam hati bingung mau mengatakan apa…???
*****
Episode ini
“Begini nak Syifa, keberadaan Tuhan itu memang tidak akan tampak oleh mata. Tapi bisa dirasakan dengan Iman. Juga kehidupan setelah mati hanya bisa dipercaya apa bila dalam hati manusia itu ada iman. Dan berbuat baik itu memang Naluriah, sedangkan agama itu membimbing perbuatan baik secara benar.” Jawab pak Hamid. Agak bingung juga menghadapi orang seperti Syifa.
“Terus iman itu bisa didapat dari mana pak ? apakah Tuhan tidak memberikan iman kepada setiap orang ?  apakah Tuhan tidak kasihan pada orang yang tidak diberi iman ? jika memang Tuhan itu Maha Kuasa, kenapa tidak semua orang diberi Iman pak ? itu yang membuat Syifa gak yakin tuhan itu ada.” Kata Syifa.
Pak Hamid pun harus berpikir keras untuk bisa memberikan penjelasan kepada Syifa. Memang tidak bisa begitu saja menyalahkan orang Seperti Syifa ini. dalam kehidupan sehari hari banyak orang yang seperti Syifa. Sekedar mengisi kolom Agama dalam KTP namun belum menemukan keimanannya.
“Orang beriman itu karena dapat Hidayah Syifa, dan Hidayah itu hak prerogative Allah yang berkuasa member Hidayah ataupun menyesatkan hambanya.” Jawab pak Hamid.
“Bukankah kalo seperti itu Allah itu tidak Adil pak, karena pilih pilih dalam memberikan Hidayah. Kenapa tidak semua manusia diberi Hidayah agar beriman pak ?” desak Syifa.
“Allah itu bukan Hanya adil tapi Maha Adil Syifa.” Jawab pak Hamid.
“Terus kenapa tidak semua orang diberi Hidayah ?” Tanya Syifa Lanjut.
“Allah member hanya manusia ada yang menerima ada juga yang tidak mau menerima Hidayah itu.” jawab pak Hamid.
“Maksutnya tidak mau menerima Hidayah bagaimana pak ?” Tanya Syifa.
“Seruan kebaikan selalu disampaikan lewat pengajian dan lain lainnya. Tapi tidak semua orang mau mendengar, dan yang mendengar tidak semua mau percaya.” Jawab pak Hamid.
__ADS_1
Syifa mulai sedikit berpikir meski belum bisa menerima keterangan pak Hamid. Karena Syifa masih merasakan kejanggalan tentang konsep yang disampaikan pak Hamid.
“Kenapa tidak Tuhan saja yang langsung memberikan Hidayah itu pak, bukan melalui seruan pengajian dan lainnya. Bukankah Allah itu Maha Kuasa, kenapa harus melalui seruan dari manusia lainya juga ?” Tanya Syifa.
“Saya memahami pemikiran mbak Syifa, maaf saya panggil mbak Syifa saja ya biar lebih enak di dengar. Logika praktis manusia pasti memang berpikir begitu. Tapi ketahuilah jika Allah menciptakan system itu untuk keseimbangan. Seperti halnya Allah membuat ketetapan jika bumi itu punya grafitasi. Maka manusia memperhatikann dan mencatat hukum Grafitasi itu.begitu juga dengan ketetapan lain yang bisa jadi hukum fisika, kimia dan sebagainya. Dan manusia harus mengikuti ketetapan Allah yang berupa hukum alam itu.
Jadi dlam kehidupan juga manusia itu tidak bisa lepas dari hukum alam itu,diharuskan berpikir dan memilih mana yang baik dan meninggalkan mana yang buruk. Seperti sudah diberikan petunjuk berupa hukum alam tadi itu. Ada hal yang manusia dipilihkan tidak bisa memilih sendiri dan ada hal yang manusia itu diberi pilihan bisa memilih sendiri.” Jawab pak Hamid dengan panjang lebar.
“Apa contohnya yang manusia tidak bisa memilih dan yang manusia bisa memilih pak ?” Tanya lanjut Syifa.
Untunglah pak Hamid itu orangnya sabar, sehingga meski pemahaman agamanya juga tidak tinggi tinggi amat tetapi tetap sabar melayani dan menjawab pertanyaan Syifa, yang memang butuh pencerahan.
“Yang tidak bisa memilih misalnya, lahir dari Rahim siapa, siapa ibunya siapa bapaknya, lahir dimana dan kapan meninggalnya itu semua sudah di tentukan Allah. Sedang yang manusia bisa memilih misalnya dia mau mempelajari apa, mau memilih jalan yang baik atau jalan yang buruk. Mau memilih percaya adanya Tuhan atau tidak percaya adanya Tuhan dan sebagainya. Jadi itu kembali soal Hidayah, orang bisa memilih menerima Hidayah ataupun menolaknya.” Jawab pak Hamid.
Syifa sedikit memahami namun masih juga mengajukan pertanyaan karena ada hal yang dia rasa janggal.
“Lah maaf pak, tadi bukanya Hidayah itu hak prerogative nya Allah. Kenapa sekarang bapak bilang manusia bisa memilih ?” desak Syifa sehingga suasana dialog itu seperti layaknya sebuah perdebatan saja. Meski Syifa tetap menaruh hormat kepada pak Hamid.
“Iya betul, sekarang sebagai contoh mbak Syifa saja. Sudah saya jelaskan dan gambarkan tentang ketetapan Allah dengan hukum alam dan manusia yang diberi kesempatan untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi soal mbak Syifa misalnya, memilih yang buruk padahal tahu itu buruk itu kan sudah ketetapan Allah. Makanya mbak Syifa diberi Akal, kemudian bisa berpikir soal memilih mana yang baik atau yang buruk kan mbak Syifa yang memilih dan Allah akan memberikan balasan yang setimpal/ sesuai pilihan mbak Syifa.” Jelas pak Hamid.
“Saya masih bingung pak maaf jujur saja dalam hati saya belum bisa menerima penjelasan dari bapak. Memang ada sedikit Gambaran tentang konsep system hukum alam dan ketetapan Tuhan. Namun belum bisa seratus persen bisa saya terima pak.” Kata Syifa jujur pada pak Hamid.
“Gak papa mbak Syifa, memang semua itu butuh proses, dan saya sendiri juga masih belajar jadi saya yang mohon maaf belum bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Mungkin saya juga harus banyak membaca lagi, agar dapat menjawab pertanyaan mbak Syifa secara gambling nanti.” Jawab pak Hamid.
“Silahkan saja, kapanpun mbak Syifa mau ngobrol datang saja kesini. Saya dan istri saya dengan senang hati akan menerima kedatangan mbak Syifa.” Ucap pak Hamid.
Kemudian Syifa pun melangkah pergi pulang kerumahnya, setelah berpamitan dan bersalaman dengan pak Hamid dan bu Saodah.
Setelah Syifa jauh bu Saodah pun berkomentar.
“Sayang ya pak, cantik cantik pemikirannya begitu. Padahal orangnya baik, tap ibu gak nyangka kalo dia punya pemikiran begitu.” Ucap bu Saodah.
“Itu semua proses bu, mudah mudahan saja dia bisa mendapatkan Hidayah. Doakan saja, agar kebaikan yang dia lakukan tidak percuma hanya mendapat balasan di dunia saja.” Kata pak Hamid.
*****
sesampai dirumahnya Syifa merebahkan dirinya di ranjang, kemudian saat terdengar adzan maghrib diapun melihat keluar melalui jendela rumahnya. Dia lihat beberapa orang yang berpakaian gamis dan mukena bagi yang wanita berangkat ke masjid untuk sholat maghrib.
“Buat apa juga tiap hari kemasjid katanya menyembah Tuhan, sementara gak pada pernah melihta Tuhan dan gak tahu Tuhan itu seperti apa dan apakah Tuhan itu beneran ada. Tapi kenapa banyak juga yang percaya ya ?” Tanya Syifa dalam hati.
“Aah masa bodo, saat ini Syifa masih belum bisa percaya jika Tuhan itu benar benar ada.” Ucap Syifa dalam hati.
__ADS_1
Kemudian dia merenungkan apa yang diperbincangkan dengan pak Hamid tadi. Hukum Alam \= ketetapan Allah. Hukum Fisika, Grafitasi tata surya semua ketatapan Allah ??? bagaimana bisa, itukan ilmu eksak ilmu pasti temuan manusia, kenapa dikatakan ketatapan Allah.
“Ya Tuhan, jika Engkau memang benar benar ada. Maka aku hanya minta satu hal pada-Mu saat ini. berikan aku jawaban atas pertanyaanku ini. jika tidak ada jawaban maka Tuhan itu pasti tidak ada, kan katanya Tuhan maha mendengar. Jadi pasti mau dong member aku jawaban, tunjukkan ke Maha an-Mu Tuhan pada diri Syifa. Agar Syifa yakin Engkau ada.” Ucap syifa entah bermaksut berdoa atau hanya sekedar ungkapan kegalauan hatinya saja.
“Lah kenapa aku jadi pusing mikirin Tuhan, apa beneran DIa ada. Kalo gak ada ngapain juga Syifa pikirin, mending juga mikirin yang pasti ada aja." Gumam Syifa.
“Wah iya, aku kan janji sama Andi jika mau minta tolong orang untuk lihat kondisi orang tua Andi. Bagaimana caranya ya, siapa yang aku maintain tolong. Kalo saja Yasinta gak pindah sekolah aku bisa minta tolong Yasinta.” Pikir Syifa.
“Apa minta tolong Herlambang? Aah bisa bisa dia gede rasa malah ngajakin Syifa begituan lagi. Tapi dia kan sekarang sudah gak beristri gak papa kali, eeh gak ah Syifa udah janji gak mau berbuat dosa seperti itu lagi !” ucap Syifa.
“Haah dosa….???? Kok aku bilang berbuat Dosa, Dosa itu apa, kan dia sudah cerai sama istrinya jadi Dosa sama siapa sebenarnya ?” kata Syifa dalam hati sehingga membuat Syifa bingung sendiri. Bahkan sampai gak menemukan apa itu Dosa, Dosa kepada siapa dan apa benar Dosa itu ada.
Lama lama membuat Syifa jadi pening sendiri dan Kahirnya dia kembali kekamar dan berangkat untuk tidur. Meski waktu masih sore, karena besuk harus mengajar Tari disekolah sekolah yang dia jadi guru ekstra kurikuler disitu.
“Aah mendingan juga aku tidur sajalah, dari pada mikirin yang belum jelas. Besuk harus ngajar tari dua di tiga tempat. Belum sorenya ngajar anak anak dusun.” Kata Syifa dalam hati….!!!
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Â
__ADS_1
Â