
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
“Gak usah dipikirin Andi, yaudah Syifa mau pulang dulu. Baik baik kamu disini ya Andi, sampai kondisi aman. Tapi jangan marah kalo kemarin aku bilang ke om ku, jika kamu adalah tunangan aku.” Kata Syifa berpamitan.
“Iya gak papa Syifa, yang penting aku dapat tempat berteduh dan sembunyi sementara waktu.” Ucap Andi yang kini tinggal di wilayah pedesaan di tempat omnya Syifa. Di rumah kosong yang tidak dihuni, disitulah Andi bersembunyi dan menenangkan diri. Bahkan ponselpun andi belum berani pegang, untung Syifa rajin mengunjungi setiap seminggu sekali. Untuk memberikan suplay uang jajan dan juga kebutuhan hidup Andi.
Kini hidup Andi pun ditanggung oleh Syifa, bahkan untuk sekedar makan dan minumnya Andi.
Begitulah nasib malang Andi saat ini yang begitu terpuruk akibat ulahnya sendiri….!!!
*****
Episode ini
“Tunggu Syifa,,, bisakah aku minta tolong kamu lihat kondis bapak ibuku di rumah ?” Tanya Andi pada Syifa.
“Kalo Syifa sendiri yang ke sana kayaknya gak mungkin Andi. Karena herlambang suami Syasya juga masih tinggal disana. Tapi coba Syifa minta tolong orang lain nanti, yang sekiranya bisa di percaya.” Jawab Syifa.
“Ok makasih banyak ya Syifa.” Ucap Andi yang menjadi terharu dengan ketulusan Syifa membantunya.
“Sama sama Andi, yang tabah ya Ndi. Anggap saja ini pelajaran bagi kita semuanya.” Jawab Syifa.
Kemudian Syifa segera berangkat pulang, Syifa selalu berhati hati agar tidak diketahui oleh orang lain. Jika dia menyembunyikan Andi di tempat pamannya. Dan Syifa juga mulai merubah gaya hidupnya yang kemarin dengan berusaha membatasi hubungan dengan lawan jenis. Peristiwa yang menimpa Andi menjadikan Syifa mengalami Trauma dengan kehidupan masa lalunya kemarin.
Sesampai di rumah Syifa, Syifa kaget karena di rumahnya sudah menunggu Herlambang mantan suami Syasya.
“Ngapain kamu kesini ?” tanya Syifa kepada Herlambang.
“Jangan sinis begitu lah, aku gak berniat jahat kok. Aku datang baik baik dan dengan niat baik.” Jawab Herlambang.
“Niat baik seperti apa yang kamu maksutkan ?” Tanya Syifa pada herlambang.
“Aku gak akan nyakitin kamu kok, aku hanya pingin tahu dimana keberadaan Andi sekarang yang sudah merusak rumah tanggaku ?” Tanya Herlambang kepada Syifa.
__ADS_1
“Kalo itu sebaiknya kamu Tanya kepada Sita, karena kemarin kemarin Andi lebih sering bersama Sita. Bahkan menginap di rumah kos Sita, pastinya dia yang lebih tahu.” Jawab Syifa.
“Serius kamu gak tahu dimana Andi ?” Tanya Herlambang lebih lanjut.
“Iya aku gak tahu dimana Andi sekarang.” Jawab Syifa.
“Yang aku dengar Sita juga mencari keberadaan Andi karena Sita Hamil dan meminta Andi yang bertanggung jawab.” Kata Herlambang.
“Soal itu aku gak tahu dan gak mau tahu, itu bukan urusan Syifa. Syifa dan Andi dari dulu gak ada ikatan apapun dan gak pernah buat janji apapun. Jadi tidak saling mengurusi urusan pribadi masing masing.” Jawab Syifa.
“Baiklah kali ini aku percaya, tapi apakah kamu masih mau jika aku ajak jalan berdua lagi ?” Tanya Herlambang.
“Maaf,,, apa yang menimpa istrimu dan Andi sudah membuat aku jera. Dan aku sudah berniat menghentikan semuanya. Syifa mau hidup normal saja, berumah tangga dan hidup seperti layaknya orang yang berumah tangga lainya.” Jawab Syifa.
“Waah mengharukan sekali ucapan kamu, tapi perlu kamu tahu. Yang hidup berumah tangga saja bisa hancur seperti aku. Sampai ditinggalkan anak istriku sekarang. So ngapain kamu justru pingin berumah tangga ?” kata Herlambang.
“Itu masalah kamu bukan maslah aku, karena kamu sudah ber anak istri masih suka cari yang lain. Kalo aku kemarin begitu kan gak merusak rumah tangga orang. Aku cari yang masih bujang statusnya gak punya bini. Hanya kamu saja yang kemarin maksa.” Jawab Syifa.
“Maka dari itu aku mau mencari Andi karena sudah merusak rumah tanggaku. Kenapa gak cari yang tidak bersuami saja…!” ucap Herlambang.
“Owh jadi kamu sakit hati sama Andi, apa kamu gak berpikir ketika kamu mengancam Andi untuk diperkenalkan aku karena mengetahui Aku dan Andi sedang di kamar waktu itu ? apa kamu gak berpikir jika Andi juga marah kepadamu namun tak berani karena ancaman kamu ?” jawab Syifa.
“Lah kok kamu malah belain Andi, kalo kamu sama Andi kan memang gak ada ikatan pernikahan jadi wajar lah kalo aku bilang begitu.” Kata Herlambang.
“Terserah kamu sajalah mau ngomong apa, itu urusan kamu sama Andi. Namun yang perlu kamu tahu mungkin saja istrimu juga tahu kamu begitu dan sakit hati. Kemudian mau balas dendam denganmu dengan caranya sendiri. Kemudian melampiaskan dendamnya kepada Andi.” Jawab Syifa. Yang membuta Herlambang menjadi hampir kalap dan mau menampar Syifa.
Maka Herlambang pun menurunkan kembali tangannya dan melangkah pergi meninggalkan Syifa.
Meskipun para tetangga Syifa tahu Syifa sering gonta ganti pasangan kencannya, namun dalam hal bersosial dia cukup baik. dan satu hal lagi Syifa tidak pernah mengganggu kehidupan rumah tangga orang, tidak pernah berkencan dengan para suami di komplek itu. sehingga kekurangan Syifa itu sedikit dimaklumi oleh orang orang di situ, sebagai sisi gelapnya Syifa. Dan selama tidak menjadi permasalahan yang besar dan melibatkan rumah tangga orang lain maka dibiarkan saja.
Karena Syifa juga banyak membantu anak anak disitu dalam belajar Seni, dan dikenal tetap sopan dengan para tetangga. Sehingga para tetangga pun sungkan ketika mau member masukan dengan masuk ke ranah privasi Syifa. Intinya dalam diri Syifa masih ada kebaikan disamping sifat tidak baiknya dalam hal berhubungan dengan lawan jenis yang menganut faham bebas asal suka sama suka dan tidak mengganggu rumah tangga orang lain. Begitulah prinsip hidup Syifa kemarin sebelum kasus Syasya dan Andi meledak.
Maka dengan meledaknya kasus Andi dan Syasya justru membuat Syifa bersukur akhirnya bisa menyadari kesalahannya. Dan itu pula lah yang membuat Syifa memutuskan untuk menghentikan kesalahannya selama ini. Serta berniat untuk merubah dirinya agar bisa hidup lebih baik, dan berusaha menjadi wanita baik baik. “biarlah terlambat dari pada tidak berubah sama sekali.” Kata Syifa dalam Hatinya.
*****
Sore hari menjelang Maghrib Syifa mengunjungi salah satu tetua kampong tersebut untuk berkonsultasi tentang apa yang sedang Dia Hadapi. Syifa mendatangi seorang mubaligh yang sering memberikan tausiyah di masjid kampong tersebut.
“Maaf pak bu, kalo kehadiran saya mengganggu.” Ucap Syifa kepada tuan rumah.
Adalah bapak Hamid dan ibu Saodah sepasang suami istri yang sederhana dan bersahaja. Kehidupannya biasa biasa saja, tidak ada yang menonjol. Secara ekonomi tidak berlebih juga tidak kekurangan. Dalam kemasyarakatan juga standar saja, tidak terlalu aktif namun juga bukan orang yang pasif ataupun tidak pernah bergaul.
 “Ada apa nak, tumben main kerumah kami.” Tanya pak Hamid.
“Bolehkah saya berkonsultasi dengan ibu dan juga bapak ?” Tanya Syifa.
__ADS_1
“Boleh saja, mau berkonsultasi tentang apa nak ?” kalo bapak dan ibu tahu tentu tidak akan keberatan untuk menjawab.” Kata pak Hamid.
Kemudian bu Saodah pun ikut menyahut.
“Justru kami merasa tersanjung kalo nak Syifa mau ngajak kami ngobrol. Kami kan hanya orang biasa, berbeda dengan nak Syifa yang seorang guru. Udah gitu terkenal berjiwa social memberikan pelajaran gratis bagi warga kampong sini.” Ucap bu Saodah.
“Aah itu sih hanya sekedar menyalurkan hobby saja bu, toh Syifa juga gak ngeluarin biaya apapun. Hanya sekedar ngajarin anak anak yang mau belajar saja kok, gak ada istimewanya.” Jawab Syifa.
“Apa yang bisa saya bantu nak Syifa ? barang kali kami bisa membantu, tentunya sangat senang membantu sesama nak. Apa lagi nak Syifa juga oran yang baik.” ucap pak Hamid pada Syifa.
“Kalo saya berkata dan bertanya secara jujur apakah bapak dan ibu nanti tidak marah pada saya. Karena mungkin pertanyaan saya ini dianggap tidak umum. Atau bahkan dianggap pelecehan agama atau apalah namanya pak/bu. Tapi jujur memang Syifa hanya butuh kejelasan saja tidak bermaksut apapun sebenarnya.” Ucap Syifa membuka dialog dengan bapak hamid dan ibu Saodah.
“Lah kalo niatnya bertanya tidak ada yang akan menuduh demikian nak, karena orang bertanya karena tidak tahu. Berbeda dengan orang yang sok tahu kemudian menyalahkan sesuatu tanpa dasar yang jelas.” Jawab pak Hamid.
“Baiklah pak, sesuatu yang membuat Syifa mengganjal selama ini adalah keraguan Syifa semata. Jadi Syifa mau bertanya jika kurang berkenan mohon maaf sebelumnya.” Ucap Syifa.
“Iya gak jadi maslah ?” silahkan saja bertanya langsung, bapak dan ibu akan menjaga kerahasiaan nak Syifa.” Ucap pak Hamid. Penasaran dengan apa yang akan ditanyakan Syifa kepadanya.
“Apakah Tuhan itu bener bener ada pak, dan apakah kehidupan setelah mati itu juga beneran ada, ataukah hanya sebuah cara agar orang itu takut untuk berbuat jahat saja. Karena menurut Syifa nih, orang berbuat baik itu karena naluri manusia saja. Sementara orang kebanyakan berbuat baik mengatas namakan Agama demi pahala, memang pahala itu apa pak ? apa memang benar ada ?” Tanya Syifa. Sebuah pertanyaan yang membuat pak Hamid dan bu Saodah sampai mengernyitkan keningnya.”Apakah Syifa ini orang yang tidak percaya Tuhan itu ada ( Atheis ) atau termasuk Agnostik ( percaya Tuhan itu ada tapi bingung pilih Agama ).” Kata ibu Saodah dalam hati.
“Dari mana aku harus menjelaskan ini.” kata pak Hamid dalam hati bingung mau mengatakan apa…???
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1
Â