
Episode 33
Saat pagi sebelum
mereka berangkat kerja, setelah sarapan pagi tiba tiba asih mendapat telepon
dari Andi.
“Assalaamu’alaikum
Andi, Asih mau berangkat bekerja dulu ya sayang.” Ucap Asih menjawap telpon dar
Andi.
“Wa’alaikummmussalam Asih sayangku, maaf Andi mengganngu pagi pagi, ini ada
berita jika Hazel semalam kecelakaan. Dan Wawan mengajak Andi jenguk Hazel,
Asih keberatan tidak ?” Tanya Andi.
Asih agak terdiam lama
sebelum angkat bicara.
“Andi jenguk deh
anterin Wawan juga, mudah mudahan Hazel gak papa.” Ucap Hazel.
“Itullah masalahnya
Asih, Hazel koma saat ini.” Ucap Andi.
“Apa, dia koma, parahkah lukanya ?” Tanya Asih.
“Iya begitulah, sudah dilarang bawa motor, karena Hazel
memang jarang bawa motor sendiri. Tapi dia nekat bahkan ngebut hingga menabrak
pembatas jalan.” Jelas ndi pada Asih.
“Yudah Ndi, kamu jenguk dia ya, jika dia sadar dan bisa
diajak bicara sampaikan salam dari kami. Juga permohonan maaf khusus dari
Asih.” Ucap Asih.
Akhirnya Andi pun menutup telpon setelah saling member
salam.
Sementara Asih yang baru bersiap berangkat kerja dihari
pertama malah sudah dihadapkan dengan kondisi atau berita yang tidak
menyenangkan.
Asih kemudian menceritakan pad aster tentang pembicaraan
padaa Andi barusan. Dan Aster hanya bisa member support agar Asih focus dulu
dengan pekerjaan, soal hazel biar ditangani Andi dan Wawan. Serta jangan
terlalu merasa bersalah pada Hael. Bagaimanapun itu adalah keputusan Andi yang
tanpa intervensi. Bahkan menurut Andi Hazel pun sudah dari awal tahu jika Andi
tidak pernah mencintai Hazel.
Asih pun sedikit tenang mendengar penjelasan dari Aster, dan
kembalibersiapberanglkat kerja. Meski masih agak terlihat kesedihan dan
kegelisahan diwajah Asih, anmun tidaklah terlalu Nampak. Sih masih bisa
menutupi dengan senyumnya yang manis. Meskipun dalam hatinya sedang agak galau.
Hingga sesampai dikantor setelah meeting pagi.
“Pengumuman, hari ini seluruh dewan direksi dan personalia
aka nada rapat khusus diluar. Jadi mohon semuanya bisa bekerja seoptimal
mungkin, tanpa perlu ditunggui. Ingat kerja keras kalian adalah demi kemajuan
kita semua, hargai waktu dan jangan buang waktu dengan hal hal yang tidak ada
manfaatnya.” Begitu sebuah pengumuman yang disampaikan secara mendaak.
Tiba tiba Aster mengajukan pertanyaan.
“Mohon maaf pak, saya mewakili karyawan baru yang baru masuk
hari ini. Tentu saja kami masih harus adaptasi dengan lingkungan dan pekerjaan
kami disini. Dengan siapa kami bisa bertanya apa bila nanti menemukan
kesulitan.” Ucap Aster yang disambut komentar pelan para karyawan baru.
Yang membenarkan ucapan Aster, sehingga sempat menimbulkan
kegaduhan jika semua staff penting pergi.
Akhirnya dengan pertimbangan tertentu, maka beberapa orang
yang berhubungan dengan operasional harin ditinggal dikantor dan tidak ikut
meeting diluar. Yang sebenarnya mereka semua dipanggil oleh mamahnya Astri dan
Hendra sebagai Owner perusahaan tersebut. Namun sampai saat ini Aster dan Asih
tidaklah mengetahui hal tersebut.
“Baiklah, beberapa orang kami tinggalkan dikantor, khusus
yang menangani masalah operasional harian. Akan tetapai yang lain semua ikut.
Dan jangan ada yang menggunakan kesempatan ini justru bersantai santai ya ?”
ucap manager personalia. Yang sudah sedikit tahu tentang Aster dan Asih dari Astri.
Sehingga tidak berani membantah begitu saja apa yang diucapkan Aster. Karena
memang yang dia sampaikan adalah masuk akal.
Maka berangkatlah tim khusus yang diminta breafing di rumah
Astri. Smentara yang lain kembali bekerja. Sih yang berbeda divisi dengan Aster
memasuki rungan staff administrasi dan berkonsultasi dengan senior disana.
Sementar Aster memasuki rungan divisi Marketing dan langsung
mengikuti meeting khusus divisi marketing yang berencana akan mengadakan
kontrak kerja dengan perusahaan Asing dan sedang mencari orang yang tepat untuk
melakukan tugas tersebut.
Dan Aster dengan percaya menyatakan bahwa, jika dikehendaki
dirinya siap melakukan negosiasi dengan perusahaan tersebut. Dengan di damping
ataupun tidak didampingi oleh seniornya.
Hal itu tentu saja membuat orang orag yang merasa senior
kaget dengan berbagai ekspresi yang berbeda. Ada yang merasa kagum dengan
keberanian Aster, tapi banyak juga yang malah mencibir dan menganggap remeh
Aster. “baru masuk saja sudah berlagu begitu mang bisa apa dia.” Bisik beberapa
orang yang lain.
Aster sempat mendengar itu namun tidak dia anggap, bahkan
dengan lantang ster berani angkat bicara.
__ADS_1
“Maaf, saya memang masih baru disini. Bahkan saya baru mulai
masuk kerja hari ini. Belum ada pengalaman apapun. Tapi kenapa saya berani
mengatakan siap untuk menjadi duta ke perusahaan itu, karena saya sangat
mengenal perusahaan itu berikut juga sangat kenal dengan owner perusahaan itu.
Karena putrid dari owner perusahaan itu adalah teman saya waktu kuliah di jepang.”
Ucap Aster selanjutnya.
Begitu mendengar penjelasan Aster orang orang yang
sebelumnya mencibir menjadi ciut, tak berani mengangkat muka. Mereka tidak
menyangka jika gadis yang mereka sepelekan itu bukan hanya sekedar berani tapi
juga mempunyai perhitungan serta posisi tawar yang tidak bisa dianggap remeh.
Namun begitu, namanya manusia tetap saja ada yang tidak
terima dan mencari celah agar job itu tidak diserahkan ke Aster.
“Interupsi, bukan saya meragukan kemampuan karyawan baru
yang bernama Aster tadi. Namun mengingat job ini dianggap cukup besar,
sebaiknya kita menunggu keputusan dewan direksi juga.” Kata orang tersebut.
“Lah kan kita sudah diberikan mandate, dan ini urusan
marketing adalah urusan eksternal dengan perusahaan lain. Dimana dalam jobdesccriptionya
itu menjadi tanggung jawab divisi marketing. Kita hanya bertanggung jawab
member laporan saja, bukan meminta pendapat.” Jawab pemimpin rapat.
“tapi apakah tidak akan menjadi pertanyaan dewan dirireksi,
jika anggota baru langsung mendapatkan job untuk menangani mega proyek ?”
sanggah orang yang tadi. Aster hany a diam sambil menahan senyum, sambil
memngamati respon orang orang yang ada. Mana yang punya usul berbobot dan mana
yang sekedar usul dengan dasar sentiment bukan dengan dasar argument.
“Lumayan bisa meetakan oran yang punya potensi dan orang
yang sekedar punya ambisi.” Bisik Aster dalam hati.
“Yang sudah memutuskan menunjuk anggota baru itu siapa, saya hanya tidak sepakat jika dalam membuat
keputusan yang seharusnya kita bisa putuskan sendiri harus minta pendapat dewan
direksi.” Bantah pemimpin Rapat.
“Terus menurut bapak siapa yang akan didelegasikan mengemban
job itu ?” Tanya orang itu lagi.
“Ya ini kita baru bicarakan belum sampai pada membuat
keputusan.” Kata pemimpin rapat.
“Usul pak, bagaimana jika kita buat lomba membuat makalah
untuk presentasi dan yang terbaik biar nanti yang didelegasikan mengemban job
itu.” Usul seorang anggota rapat.
“Saya rasa itu ide yang bagus, tidak peduli dia baru atau
lama jika bisa memberikan bahan presentasi yang bagus maka dia akan menjadi
wakil perusahaan untuk melakukan negosiasi.” Kata pimpinan rapat.
“Makalahnya pakai bahasa Indonesia atau apa pak ?” Tanya
orang yang tadi ngotot.
adalah perusahaan Asing.” Jawab pimpinan rapat.
Yang lain pun tertawa, termasuk Aster ikut tertawa mendengar
kekonyolan orang tersebut. Sehingga Aster dapat mengetahui jika orang tersebut
mempunyai kelemahan dalam penguasaan bahasa Asing. Tapi dia ingin dominan dan
ingin mendapatkan job itu. Sebenarnya Aster gak tahu apa motivasi orang
tersebut begitu ambisi dengan job tersebut.
Baru setelah keluar dari ruangan rapat Aster faham, bahwa
orang tersebut hanya mengincar uang saku yang cukup besar dan bonus jika
berhasil yang menggiuarkan..
Hari pertama bekerja Aster sudah memberikan sebuah kejutan
besar dilingkungan pekerjaanya.
Sementara Asih damai damai saja dengan rekan kerjanya, yang
mayoritas cewek. Adapun Aster yang di divisinya juga banyak cowoknya sudah
mendapatkan rival bahkan orang yang memusuhinya.
Namun bukan Aster kalo lantas menjadi kecil hati karena hal
tersebut, dia justru merasa tertantang untuk membuktikan bahwa dirinya juga
mampu. Tidak takut dengan orang yang sudah dianggap senior sekalipun. Meski itu
tidak lantas menjadi sebuah kesombongan, Aster hanya akan meladeni orang
merendahkan dirinya, tapi Aster sendiri tidak mau merendahkan orang lain.
Begitulah gambaran suasana kerja hari pertama antara Aster
dan Asih, dikantor perusahaan yang sama.
**********
**********
Dirumah Astri.
“ Selamat siang bapak hendra, Ibu Astri dan Nyonya.
Sebelumnya mohon maaf, kami diundang kesini apakah kami membuat sebuah
kesalahan besar. Ataukah ada info penting yang harus kami kerjakan ?” Tanya
pimpinan personalia.
“Kalian kami undang kesini bukan karena kesalahan, tapi kami
akan meminta kerjasama kalian. Perusahaan akan melakukan pembersihan dari para pengutil
atau tikus tikus kantor. Yang hanya merongrong perusahaan, tapi kinerja dan
hasilkerjanya jelek.” Jawab mamahnya Hendra.
Semua terdiam dan saling sibuk dengan bayanganya sendiri.
Siapakah yang dimaksut oleh mamahnya Hendra tersebut.
“Apakah sudah cukup parah nyonya, sehingga nyonya harus
turun tanga sendiri demi hal ini ?” Tanya manager personalia yang memang biasa
menjadi penyambung lidah para staff kantor dengan keluarga Hendra.
“Bukan Aku yang akan turun tangan langsung, dan bukan karena
parah atau belum. Tapi hanya sebatas usaha pembersihan, jika memang semua
__ADS_1
bersih berarti gak ada masalah. Tapi jika terbukti ada yang tidak bersih maka
dia akan de depak sesuai aturan yang berlaku.” Ucap mamahnya Hendra.
“Kemudian rencana Nyonya bagaimana ?” Tanya manager
personalia lagi.
“Anakku Hendra akan aku masukkan ke perusahaan sebagi
karyawan biasa. Jika sampai ada yang tahu dia adalah pewaris perusahaan itu
maka diantara kalian yang yang membocorkan. Dan imbasnya adalah pada kalian
semuanya. Kerena jika ada yang membocorkan maka berarti kalian tidak becus
bekerja sama. Buat apa jika kalian bekerja sama saja tidak becus, pasti gak akan mampu memajukan perusahaan.”
Kata mamahnya Hendra dengan intonasi nada yang dibuat tinggi.
“Kemudia langkah berikutnya bagaimana nyonya, dan posisi apa
yang akan diberikan pada pak Hendra untuk bisa mengawasi secara diam diam nanti
?” ucap manager personalia.
“Posisi yang paling pas, nanti biar anakku Astri yang
menyampaikan.” Ucap mamahnya Hendra.
“Iya, jadi begini bapak bapak. Rencana kami bang Hendra akan
saya tempatkan di staff marketing, agar dapat mengetahui siklus dan progress
report perusahaan dibidang marketing. Sementara dibidang Administrasi saya
sudah bisa awasi langsung dengan sysyem laporan online dari bagian ADM. dan diluar kantor panggil Astri jangan ibu, mbak aja.” Kata Astri.
“Masa marketing sih Astri, yang lain kenapa ?” protes hendra.
“Gak bisa bang, itu adalah posisi yang paling strategis. Ucap Astri.
“Aah terserah kamu lah, susah bicara sama kamu tuh.” Gerutu Hendra.
“Satu hal yang paling penting, dikantor nanti kalian tidak
boleh berbuat dan bersikap yang bisa menimbulkan kecurigaan terhadap bang
Hendra. Jadi dikantor bang Hendra adalah bawahan kalian, mengerti !” ucap Astri.
“Tapi mbak Astri…?” ucapan manager personalia dihentikan Astri.
“Demi sebuah misi, apa susahnya bersandiwara sebntar.
Sanggup apa tidak, kalo gak sanggup bilang saja.” Bentak Astri.
“Iya mbak Astri, sanggup.” Jawab semuanya.
“Nah gitu dong, ingaat sampai rahasia bocor kalian semua
kena dampaknya.” Kata Astri
“Iya mbak.” Sahut semua kompak.
“Satu hal lagi, karyawan baru yang namanya Aster dan Asih
tidak ada yang berhak memecat kecuali kami. Dan mereka juga tidak boleh tahu
semua ini, faham ?” Tanya Astri.
“Faham mbak !” jawab semua kompak.
“yaudah kalo begitu kalian boleh kembali ke kantor, kasih
tahu orang orang yang sudah tahu bang hendra. Samapai bocor kalian sudah tahu
resikonya kan ?’ucap Astri mengakhiri pembicaraan.
“Baik mbak Astri,Kami laksanakan sebaik mungkin.”
Merekapun akhirnya kembali ke kantor mereka.
*********
Sesaat setelah semua kembali ke kantor kepala personalia
segera emanggil orang orang khusus termasuk manager marketing yang tadi
memimpin rapat divisi. Semua diberi pengarahan akan adanya sebuah misi rahasia
yang harus dijaga dan harus benar benar menjadi sebuah rahasia.
Akhirnya semua mengetahui, apa yang dibicarakan oleh owner
perusahaan tadi dengan para staf pilihan. Semua terdiam bingung harus bersikap
bagaimana jika Hendra masuk menyamar sebagai karyawan biasa. Mau hormat buka rahasia, mau berlaku wajar
ada rasa sungkan. Akhirnya mereka berembuk, sebisa mungkin menghindari kontak
dan komunikasi dengan hendra besuk dari pada salah ucap.
Dan kesepakatan itu disetujui semua, jika harus member tugas
pun jangan sampai yang diberi langsung adalah Hendra. Mending orang lain yang
tidak tahu siapa Hendra. Begitulah kesepakatan semua staff yang berkumpul saat
itu.
Mereka dibuat pusing oleh keisengan seorang Astri, padahal
tujuan aslinya hanya mendekatkan Hendra dengan Aster. Tetapi berpura pura
pembersihan kantor, sehingga membuat beberapa orang terutama yang suka sedikit
curang jadi was was.
Tapi memang begitulah sebuah scenario memang harus totalitas
dalam berperan. Dari pada banyak yang bertanya mendingan bikin isu pembersihan
kantor. Dampak positifnya juga semua akan jadi lebih berhati hati. Begitulah
pemikiran seorang Astri.
Tiba tiba manager marketing membuka pembicaraan tentang
perdebatan didalam ruang meeting khusus divisi marketing.
Manager itu menceritakan bagaimana beraninya seoarang
karyawan baru bernama Aster yang dengan lantang menyatakan sanggup mengemban
tugas dari perusahaan untuk negoisasi dengan perusahaan asing. Dengan alasa dia
sangat kenal perusahaan itu dan mengenal anak dari owner tersebut. Karena anak
dari owner tersebut adalah teman kuliahnya dijepang.
Hal itu membuat beberapa karyawan yang merasa senior protes
dengan manager marketing. Sehingga manager marketing juga bingung, satu sisi menganggap apa yang
disampaiakan Aster itu benar. Tapi disisi lain akan menimbulkan masalah bagi
karyawan lain. Karena Aster yang baru masuk langsung diberi job mega proyek.
“Apa perlu karyawan baru yang namanya Aster itu kita
panggil, kita kasih tahu untuk jangan
terlalu vocal dengan orang orang tertentu yang sok senior.” Tanya manager
marketing itu.
“Jangaaaan,,,,!” jawab semua kompak dan bersamaan.
Membuat manager marketing itu semakin bingung.
__ADS_1
bersambung