
🌷🌷🌷
Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode sebelumnya
Begitulah malam itu mereka berbahagia terutama Asih dan Andi yang akan melakukan proses tunangan esuk siangnya.
Sebuah kejutan besar bagi Asih yang sebelumnya sudah sedih dan menangis karena salah sangka. Kini tangisan Asih adalah tangisaan bahagia. Meski sebenarnya perjalanan berikutnya tidak semulus yang Asih inginkan. Karena salah satu kelemahan Andi adalah kurang tegasnya Andi dalam bersikap masih berpotensi tergoda oleh Hazel. Yang mungkin memancing permasaalahan baru.
@@@@>>>>???
*****
Episode ini
“Andi kamu jahaat banget sudah bikn Asih menangis, seperti langit runtuh saja. Lagian kamu juga gak jelasin ke Asih kenapa sih Ndi…!?” ucap Asih gemas pada Andi diteras rumah Asih selagi berdua.
“Itu karena Andi juga pingin tahu apakah kamu beneran sayang sama Andi. Jadi pingin tahu reaksi kamu jika Andi pergi.” Ucap Andi. Meski sebenarnya Andi pun meras gak tega dan bersalah pada Hazel juga kedua orang tuanya Hazel.
Alam hati Andi berkata, ‘maafkan Andi Asih, meski kita resmi dijodohkan tapi Andi belum tega melepas Hazel yang masih kesakitan.” Kata hati Andi. Begitulah seorang Andi yang tidak bisa bersikap tegas selalu mencari aman saja. Yang pada akhirnya justru berakibat merugikan, bagi dirinya dan orang lain.
“Kok kamu bengong Ndi, apa kamu kurang suka hubungan kita diikat secara resmi dengan tali pertunangan ?” Tanya Asih.
“Bukan itu Asih, jangan salah paham. Jelas Andi bahagia hubungan kita diresmikan bukan itu yang Andi pikirkan.” Jawab Andi.
“Terus apa lagi Andi ?” Tanya Asih.
“Andi berpikir kamu sudh kerja sementara Andi masih belum selesai sekolah. Apakah tidak membebani kamu jika punya pacar yang belum berpenghasilan. Jujur saja Andi juga pingin cepet kerja dan bisa segera menikahi kamu Asih.” Jawab Andi berbohong.
“Gak usah buru buru juga Andi, Asih siap menunggu kamu sampai siap. Toh kita sudah ditunangkan besuk. Jadi Asih sudah merasa tenang, jika ditempat kerja Asih sudah memakai cincin. Artinya orang akan tahu bahwa Asih sudah ada yang punya.” Kata Asih.
Asih dan Andi membicarakan acara pertunangan besuk, sementara Aster Astri dan Nisa juga ikut sibuk menata ruangan besuk. Meski acara hanya dihadiri kerabat Andi dan Asih serta tetangga dekat termasuk RT dan RW,namun karena acara itu cukup sacral maka perlu persiapan yang matang.
Semua ikut merasa senang pada malam itu, sampai cukup larut mereka mempersiapkan tempat untuk acara tersebut. Di dalam Rumah Andi, pak Baskoro dan bu halimah terlibat percakapan internal di dalam kamar mereka.
“Pak, bapak sudah yakin dengan keputusan ini ?” Tanya bu Halimah pada suaminya.
“Ini yang terbaik saat ini bu, dari pada Andi harus ditunangkan dengan Hazel. Ibu tahu sendiri bagaimana Hazel waktu itu ?” kata pak baskoro.
Kemudian bu Halimah ingat ketika suatu hari saat mereka pulang mendapati Andi sedang menunggui Hazel yang berada dikamar mandi. Saat itu bu Halimah dan pak baskoro kaget karena Andi daan Hazel berada dirumah hanya berdua dan Hazel keluar dar kamar mandi dalam kondisi seperti habis mandi basah. Ditambah penampilan hazel yang menggunakan baju yang sedikit terbuka dan berbahan tipis hampir tembus pandang. Karena jaket penutupnya tidak di kenakan tertinggal di ruang tamu.
Ada penilaian yang kurang baik terhadap diri hazel pada waktu itu. sehingga ketika Andi menyampaikan apa yang diajukan orang tua Hazel pak Baskoro dan bu Halimah pun berusaha keras menghalangi. Meskipun Andi sendiri saat itu dalam kebingungan tidak dapat memutuskan. Bingung antara menerima tawaran papahnya Hazel atau mempertahankan hubunganya dengan Asih.
Jika menerima menyakiti Asih, namun jika menolak tidak tega dengan Hazel dan tidak enak dengan orang tua Hazel. Hampir saja Andi mengiyakan tawaran orang tua Hazel jika tidak dicegah oleh ayah dan ibunya Andi.
Jadi yang sebenarnya terjadi pertunanangan ini hanya menghindari agar Andi tidak dekat dengan Hazel. Meski orang tua Andi tidak membenci Hazel, namun juga tidak bisa menerima jika Hazel menjadi menantunya. Demikian juga dengan Asih, sebenarnya orang tua Andi lebih menerima Asih itu seperti anak yang posisinya menggantikan Diana kakak kandung Andi yang sudah alamarhumah.
Namun dalam kondisi seperti ini dan memang Andi sendiri mencintai Asih, maka orang tua Andi lebih memilih Asih dari pada Hazel untuk ditunangkan dengan Andi. Soal nanti bagaimana nanti saja, pikir orang tua Andi. Pertunangan ini adalah tindkan penyelamatan sementara saja. Agar Andi tak ditunangkan dengan Hazel. Apakah akan sampai pada jenjang pernikahan atau tidak itu tidak terlalu dipikirkan oleh orang tua Andi.
Jika hanya ada dua pilihan maka orang tua Andi lebih memilih Asih yang jadi istri Andi kelak,, dari pada Andi harus beristrikan Hazel. Itulah alasan sebenarnya orang tua Andi buru buru meresmikan perjodohaan Andi dan Asih.
Sungguh kasihan Asih, dalam hal ini dia hanya selalu menjadi sebuah alternative tanpa Asih sadari. Bahwa dirinya hanya dijadikan alat untuk menghindari dari Hazel.
“Iya sih pak, memang kalo harus memilih diantara dua itu ibu juga lebih memilih Asih dari pada Hazel.” Kata bu Halimah, dalam hati bu Halimah berkata, “sebenarnya ibu lebih suka jika Andi dijodohkan dengan Aster, meskipun secara Nasab dia adalah kakak sepupu Andi, namun bukan termasuk mahrom. Dan ibu lebih sreg dengan Aster dari pada Asih. Aku kira Andi dulu naksir Aster, tapi kenapa kok sekarang malah pacaranya sama Asih. Aah gak tahu anak muda jaman sekarang, antara teman dan pacar hampir tidak bisa dibedakan. Dikira teman biasa ternyata pacaran, dikira pacaran ternyata teman biasa.” Kata hati bu Halimah.
“Bu kenapa jadi melamun begitu, yang pentingkan Andi bisa lepas daari hasel. Meskipun Andi kita tunangkan dengan Asih pun belum tentu kelak akan jadi suami Istrikan ?” kata pak Baskoro.
“Iya pak, yaudah ibu juga sebenarnya sayang Asih juga kok. Lihat Asih kayak lihat Diana kakanya Andi.” Jawab bu Halimah.
Memang Asih juga cukup dekat dan cukup lekat dengan orang tua Andi bahkan semasa Diana kakak kandung Andi masih hidup. Asih sudah dekat dan dianggap anak sendiri oleh orang tua Andi karena kedekatanya dengan Diana anak kandungnya kakak Andi yang sudah meninggal dunia.
Hanya saja tidak menyangka dalam perkembanganya Status Asih akan menjadi pacar Andi. Begitulah pikiran yang berkecamuk pada diri bu Halimah. Sayang dengan Asih tapi menganggap sebagai anak, untuk menerima sebagi pacar Andi masih setengah hati bisa menerima. Penuh keraguan dan sifat itu menurun pada Andi yang juga penuh keraguan sulit mengambil keputusan. Apalagi memilih satu diantara dua pilihan yang sama sama mengandung resiko. Andi akan kesulitan dalam mengambil sikap dan keputusan, satu sisi terlalu perasa tidak sampai hati mengecewakan orang. Tidak menyadari jika dengan sikapnya yang begitu justru akan mengecewakan lebih banyak orang.
__ADS_1
Akhirnya pak Baskoro dan Bu Halimah tertidur saat itu, sampai pagi saat subuh mereka baru bangun.
*****
*****
Keesokan harinya kembali terlihat aktifitas dirumah Andi dan Asih yang hanya berdampingan. Orang tua Asih pun tampak sibuk dan agak terkejut akan berita bahwa Asih akan dilamar oleh Andi. Karena sampai saat itupun orang tua Asih sendiri mengira antara Andi dan Asih hanya sebatas hubungan kakak beradik karena Asih adalah teman dekat Diana kakak kandung Andi dulunya.
Namun justru orang tua Asih lebih cepat menerima kenyataan bahwa antara Asih anaknya dan Andi ternyata selama ini saling memendam rasa. Dan orang tua Asih menerima apapapun yang sudah menjadi keputusan berdua antara Asih dan Andi.
“Bapak mah, terserah kamu jang kalo kamu memang berniat mempersunting Asih dan Asih bersedia mah bapak sebagi orang tuanya setuju ajah. Kalian yang bakal menjalani kelak, bapak doaken kalian bisa bahagia selamanya.” Ucap ayahnya Asih.
“Aamiin…!” jawab Asih dan Andi bersamaan.
Dalam diri Andi bertambah mantab dalam menjalani proses perjodohan ini, disamping dia memang mencintai Asih Andi berpikir memang aku harus belajar tegas, agar tidak ragu dalam bersikap, kata Andi dalam hati. Meskipun masih terjadi perang batin dalam dirinya yang memang mempunyai sikap peragu.
Sampai pada waktu yang telah dijadwalkan akhirnya proses Khitbah atau lamaran selesai. Kemudian Andi dan Asih saling memasangkan cincin ke jari pasanganya. Andi memasang cincin ke jari Asih dan sebaliknya. Cincin Andi bertiliskan Asih, dan cincin Asih bertuliskan Andi.
Proses khitbahpun selesai, dilanjutkan dengan acara makan bersama. Dan setelah dhuhur Aster dan rombongan harus kembali lagi ke Jakarta. Termasuk juga Asih harus ikut juga pergi ke Jakarta untuk kembali bekerja.
Setelah berpamitan dengan semuanya, mereka pun segera berangkat ke Jakarta. Asih agak sedih berpamitan dengan Andi calon suaminya. Karena sekarang Asih sudah dikhitbah Andi jadi statusnya bukan sekedar pacar tapi sudah calon suami istri. Meskipun belum resmi sebagai suami istri, baru calon.
“Asih harus panggil Aak atau mas padamu Andi ?” Tanya Asih.
“saat ini panggil nama sja biar gak canggung, kecuali kalo sudah resmi menikah,mu panggil aak atau mas terserah Asih nanti.” Jawab Andi.
“sih pamit dulu ya calon suamiku.” Ucap Asih sambil menyalami Andi dan mencium tangan Andi layaknya sduah menjadi istrinya saja.
Meski Andi agak kikuk juga mendpat perlakuan seperti itu dari Asih, apa lagi didepan banyak orang yang memperhatikan mereka berdua. Sebagai orang yang baru saja melakukan proses tunangan.
Asih kemudian masuk ke mobil Aster, dan Nisa masuk ke mobil Astri. Mereka berangkat kembali ke Jakarta.
Dalam Mobil Asih masih menampakan senyum kebahagiaan karena sekarang hubunganya dengan Andi sudah mendapat restu dari kedua orang tuanya dan orang tua Andi juga.
“Eehheem yang baru bahagia senyum senyum sendiri sekarang, gak kayak waktu berangkat kemarin. Manyun sepanjang jalan sampai sampai Aster disampingnya di cuekin.” Goda Aster pada Asih.
“Maaf Aster, jujur Asih saat ini memang sangat bahagia. Sampai lupa jika saat ini sedang disampaing saudara Ipar.” Balas Asih menggoda Aster.
“Kan memang harusnya Asih panggil Aster mbak, teteh atau Cecek.” Canda Asih.
“Ogah ah, tetp panggil Aster saja risih gue dipanggil mbak sama kamu sekarang. Kecuali kalo kamu dah nikah punya anak, anak kamu panggil gue bude dong, yaah makin tua aja gue Asih.” Gurau Aster.
Dalam perjalanan Aster dan Asih saling bercanda dan saling ejek penuh dengan suka cita.
Sementara di mobil Astri, astri juga sedang membicarakan masalah lain dengan Nisa.
“Bagaimana menurut kamu Nisa ?” Tanya Astri.
“Apanya Boss ?” kata Nisa menggoda Astri.
“Dibilang Astri gak suka dipanggil begitu juga, Astri melarang keras semua yang ikut bergabung di perusahaan memanggil dengan sebutan itu Nisa.” Kata Astri serius.
“Iya maaf, Nisa hanya bercanda saja kok. Berani sebut itu juga mumpung lagi berdua aja bisa bercanda. Maksutku gimana apanya Astri ?” ucap Nisa.
“Nah begitu kan enak di dengernya Nisa, maksut Astri bagaimana pendapatmu tentang pertunangan Asih dan Andi tadi.” Tanya Astri.
“Menurutku baik baik saja sih, keduanya sudah saling cinta dan orang tua masing masing sudah mrestui udah cukup.” Jawab Nisa.
“Wah kamu kurang jeli Nisa !” sahut Astri.
“Kurang jeli ? memangnya menurut Astri bagaimana ?” Tanya Nisa.
“Menurutku, orang tua Andi dan Andi sendiri masih setengh hati.” Kata Astri.
”Kok Astri bisa bilang begitu, tahu dari mana Astri ?” Tanya Nisa.
“Astri tu belajar psykologi Nisa, jadi tahu senyum tulus dan senyum yang dipaksakan atau dibuat buat dan senyum yang setengah hati.” Sahut Astri.
“Aah Nisa gak ngerti soal itu Astri. Nisa tahunya mereka semua bahagia waktu itu.” komentar Nisa.
“Menurut Astri, berdasarkan psykologi dan ilmu komunikasi gak begitu Nisa. Pertama, dari penyampaian ibunya Andi semalam bahasanya menunjukkan bahwa ibunya Andi itu sebenarnya menganggap Asih sebagai kakanya Andi saja. Jadi pertunangan tadi hanya menyelamatkan Andi dijodohkan dengan Hazel. Mungkin dalam hal ini pikiran ibu Andi dari pada dengan Hazel mending dengan Asih saja. Kedua senyum kedua orang tua Andi saat perjodohan tadi kurang tulus seperti dipaksakan atau setengah hati. Berbeda dengan senyum orang tua Asih yang lepas dan tulus. Ketiga, Andi sendiri masih tampak setengah hati melakukan perjodohan ini, terlihat dari reaksi dan mimic wajahnya yang tidak menunjukkan kebahagiaan sepenuhnya saat perjodohan.” Kata Astri menjelaskan pengamatanya.
__ADS_1
“Hebat kamu Astri, bisa menilai sejauh itu.” Ucap Nisa.
“Karena Astri memang mempelajari itu Nisa, sebagai modal kita untuk merekrut orang yang akan kita ajak kerja sama.” Jawab Astri.
“Terus apa yang harus kita lakukan sekarang ?” Tanya Nisa kemudiaan.
“Kit harus support Asih, apapun yang terjdi dan ikut mengawasi Andi jaangan samapai dia kecewkan Asih. O iya aku mau hubungi bang Hendra dan lainya untuk dtang kerumah Aster, biar mereka siapkan kejutan kecil untuk hadiah pertunangan Asih dengan Andi.” Ucap Astri.
“Tunggu kejuta seperti apa, jangan sampai membuat Aster mencurigai kamu kalo kejutanya nanti kesanya mewah.” Ucap Nisa.
“Tenang saja, hanya kejutan Kecil gak akan Aster curiga.” Kata Astri.
Kemudian Astri menelpon Hendra untuk mempersiapkan hadiah kecil sebagai kejutan bagi Asih.
“Owh iya Nisa, besuk Hendra sudah mulai masuk kerja. Dia akan jadi assisten Aster, yang nantinya akan mendampingi Aster ke new Zeland. Arya akan menjadi pendamping Asih dan Dimas akan mendampingi kamu. Kuharap kamu bisa bekerja sama dengan baik, serta kamu harus ingat jika Dimas itu cowokku jangan macam macam sama dia.” Goda Astri pada Nisa.
“Ya gak lah, mana beran Nisa macam macam sama cowok kamu. Bisa bisa Nisa kamu pecat, wkakaka…!” jawab Nisa.
“Ya gak gitu juga kali Nisa, Astri hanya bercanda kok.” Ucap Astri.
Begitulah suasana percapan dalam perjalanan kerumah Aster, antara Aster dengan Aih dan Astri dengan Nisa. Sesampai di rumah Aster mereka terkejut karena hendra Arya dan Dimas sudah menunggu disana membawa Rangakian bunga ucapan “SELAMAT ATAS PERTUNANGAN ASIH & ANDI” .
“Wah ini pasti ulah Astri, gak mungkin gak.” kata Aster.
“Lah emangnya kamu gak suka atas pertunangan ini Aster ?” jawab Astri.
“Astri ada ada saja bikin Asih malu nih.” Sahut Astri.
“Sudah sudah, kami dengan tulus mengucapkan selamat kepada ibu Asih atas pertunanganya.” Ucap Hendra dengan mimic wajah Serius.
“Tumben lo Hendra, kesambet apa lo hari ini bisa sopan gitu ?” ucap Asterberharap Hendra marah
“Iya bu Aster, ini sebagai ucapan tulus dari kami. Karena mulai beesuk kami bertiga akan bekerja dikantor yang sama dengan bu Aster, bu Asih dan bu Nisa. Terimakasih juga atas rekomendasi yang ibu berikan sehingga kami bertiga dengan mudah di terima diperusahaan tersebut,” Kata Hendra.
“Haaah apa lo bilang, kamu besuk sudah mulai kerja ?” Tanya Aster memastikan ucapan Hendra.
“Betu bu Aster, saya akan menjadi asisten bu Aster kemudian Arya jadi Asisten bu Asih dan Dimas jadi Asisten bu Nisa. Agar dalam membantu tugas bu Aster lebih mudah dan lebih cepat selesai.” Ucap Hendra.
“Gak bisa, Aster gak mau dikasih Asisten kamu, besuk Aster akan minta diganti yang lain saja.” Ucap Aster dongkol dengan ucapan Hendra.
@@@@@****>>>>????
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1