
🌷🌷🌷
Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Gak aku udah mau akhiri kehidupan gue yang kayak gitu. Kalo lo mau nikah gue mau lo tidurin tapi kalo lo Cuma mau temen tidur cari wanita yang bisa dibayar sono. Gue amang bukan lagi perawan, gue juga gak sok suci tapi gue dah niat mau berhenti begitu dan hidup normal. Kalo lomasih mau lanjut sana cari perempuan lain saja.” Jawab Rina Waktu itu.
“Serius lo mo insaf Rin ?” Tanya Bram, setengah gak percaya.
Karena Rina yang Bram kenal adalah Rina yang hoby party dan dugem bahkan boleh dibilang tiada hari tanpa minum alcohol.
“Gue Serius Bram, meski gue bukan orang baik baik. Gue sadar hidup gue bergelimang dosa Bram, tapi gue udah niat hidup normal saja. Hidup wajar saja, yang penting usaha hidup sewajarnya manusia biasa Bram.” Jawab Rina.
“Mang kita saat ini bukan manusia biasa Rin, bukanya manusiawi saja apa yang kita pernah lakukan kemarin kemarin tuh. Yang penting gak merugikan orang lain kan ? kita beli minuman pakai uang kita sendiiri, aku beli perempuan pakai uang aku sendiri dan tanpa ada paksaan juga. Begitu juga kamu tidur sama lelaki lain juga atas dasar suka sama suka gak ada paksaan kan. Aku juga sekarang gak maksa kamu, hanya kalo mau saja. Kalo gak mau juga aku gak maksa kok.” Kata Bram.
“Iya gue tahu Bram, lo gak maksa gue. Tapi gue juga Cuma ngomong jujur kalo gue mau hentikan kebiasaan buruk gue. Kalolo masih ma uterus itu juga hak kamu, mau cari wanita buat kamu ajak tidur itu juga hak kamu. Aku gak melarang, karena aku gak punya hak untuk melarang kamu. Tapi kamu juga gak punya hak mengatur hidup gue, yang mau hentikan semua itu.” kata Rina.
“Yakin lo bisa Rin, apakah kamu berharap didatangi seorang pangeran baik hati yang mau mengajak kamu menikah dan hidup bahagia dan menerima keadaan kamu yang sudah gak suci lagi, apakah kamu gak merasa kalo itu hanya seperti mimpi disiang bolong ?” kata Bram.
“Gue gak lagi tidur Bram, jadi gue gak mimpi. Gak ada bayangan sedikitpun seperti yang kamu bilang itu. gue juga tahu diri lah, masa iya wanita kayak gue berharap begitu bram. Bahkan bicara cinta aja gue rasa gak pantes, karena selama ini gue dan lo juga gak pernah mencintai dan dicintai mungkin. Yang ada kan hanya Nafsu sebagai lawan jenis, having fun saja. Sama sama pingin sama sama mau habis itu bubar jalan masing masing sama sama mencari pasangan lain. Gak ada ikatan gak ada komitment, hanya saling melepaskan hasrat yang timbul saja.” Kata Rina.
“Gak lah Rin, kalo gue dulu pernah punya orang yang kucinta dan juga mencintai gue. Hanya saja, kita terpaksa putus ditengah jalan karena gue ketahuan lagi. Semenjak itulah aku kemudian menjadi petualang karena frustasi diputuskan pacar yang gue cintai.” Kata Bram setengah curhat.
“Lo curhat sama gue Bram, mending juga lo cari tu wanita yang lo cintai sapa tahu dia dah gak marah sama kamu. Masih menaruh harapan padamu, kamu nikahinn dan lo hidup secara wajar, kamu lebih beruntung pernah mencintai dan di cintai Bram. Kalo gue jujur gak pernah mencintai dan dicintai. Sejak dulu yang ada hanya merasa butuh itu dan melakukan dengan siapa yang kurasa cocok. Mau sama mau dan tanpa perasaan, habis itu yaudah jalan masing masing.” Kata Rina dengan enteng.
“Wah parah juga hidup lo Rina, sampai segitunya ternyata.” Kata Bram.
“Halah kayak hidup lo gak parah aja, sampai beli perempuan buat melampiaskan nafsu itu kan bukti kamu juga gak bener. Mendingan gue, gak pernah beli dan gak mau dibeli meski lagi hasrat juga ogah sama sembarang orang.” Jawab Rina.
“Iya sih, ada benernya juga omongan lo Rin. Terus apa rencana kamu selanjutnya nanti Rin, apa kamu gak punya hasrat dengan lelaki lagi ?” Tanya Bram.
“Lo bego amat sih Bram, ya pastinya masih punya Hasrat lah. Cuma gak mau mengumbar lagi, gue mikirnya cari orang yang mau jadi pasangan hidup gue. Dan hidup sewajarnya seperti kebanyakan orang, kalo seperti kemarin kayaknya gak sewajarnya orang Bram.” Jawab Rina.
“Maksut lo, lo pingin cari suami yang mau nikahin kamu dan hidup seperti pasangan suami istri pada umumnya orang berumah tangga ?” Tanya Bram memastikan.
“Iya, emang kenapa aneh, atau yang salah jika Gue punya keinginan begitu Bram ?” Tanya balik Rina.
“Gak salah sih Rin, Cuma maaf nih mana ada orang baik baik yang mau nerima kita yang udah rusak begini ?” Tanya Bram.
“Ya itu berarti kamu yang mimpi, udah sadar rusak mau mencari orang baik baik. kalo aku sadar siapa diriku jadi standart gue biasa saja. Asal orangnya mau pegang komitment untuk jadi pasangan hidup yang normal gak peduli masa launya seburuk apapun. Bahkan Rina gak terlalu mentingin penampilan atau face orang tersebut. Karena Lelaki seperti apapum pernah Rina coba, wkakaka…!” jawab Rina dengan santainya.
Bram yang mendengar ungkapan jujur Rina jadi tertegun dengan Rina, kemudian Bram mulai berpikir. Semenjak dia putus dengan Hazel dia memang gak pernah serius mencintai cewek hanya sekedar mencari pemuas nafsu birahinya saja. Bahkan jika nafsu sudah tidak terbendung dia tak ragu membeli wanita penghibur. Bahkan pernah juga Bram yang justru dibeli tante girang yang kaya raya, dan menjadi lelaki simpanan tante tante itu selama beberapa bulan. Hingga wanita itu harus pindah ke kota lain atas permintaan suaminya yang seorang pelayar.
“Kok lo jadi bengong Bram, percuma kalo mau bujuk gue sekarang gak akan mempan.” Kata Rina kepada Bram.
“Gak kok, gue gak akan bujuk apa lagi maksa kamu. Justru gue juga jadi berpikir tentang masa depan gue Rin. Bener juga katamu, semua ini harus dihentikan sekarang. Gimana kalo kita married saja Rin ?” kata Bram pada Rina.
“Gue sih ok saja, kalo lo beneran mau serius hidup wajar. Kita dah sama sama tahu kehidupan kita masing masing. Asal kita komitmen meninggalkan masa lalu gue mau nikah sama kamu. Hue rasa kita bisa hidup wajar dalam berumah tangga nanti.” Kata Rina.
“Dari mana lo yakin kita bisa hidup wajar nanti ?” Tanya Bram pada Rina.
“Simple aja bram, gue tahu lo dan lo tahu gue, bahkan kita juga pernah ngelakuin hubungan badan yang tanpa ikatan. Atas dasar suka sama suka tanpa paksaan. Lo juga cukup tampan, dan gue kira gue juga cukup menarik gak ngecewain cowok. Dalam urusan ranjang pun lo juga udah tahu gue, gue juga udah tahu lo. Tinggal komitmen kita saja mo hidup normal apa nikah sekedar cari pengesahan hidup bareng.” Kata Rina.
“Iya juga sih Rin, gue setuju pendapat lo gue juga mau bikin komitmen dengan lo dan hidup wajar dalam berumah tangga seperti layaknya orang berumah tangga Rin. Ok gue serius gue mau melamar kamu Rin.” Ucap Bram yang dengan serius mengaak RIna Saraswati menikah. Meski awalnya Bram hanya berniat mengajak Rina kencan tanpa ikatan seperti sebelum sebelumnya. Tapi akhirnya Bram jadi terpengaruh keputusan Rina yang berniat untuk hidup wajar ditengah masyarakat yang masih menjunjujg tinggi Norma Norma Sosial budaya dan agama.
Akhirnya menikahlah mereka dan membuat sebuah komitment, meninggalkan kebiasaan lama dari minum alcohol sampai dengan berganti pasangan tidur secara bebas. Dan selama mereka menikah mereka bisa memegang komitment itu.
“Heeh papah, kok malah bengong,mamah sudah siap nih kita mau makan dimana sekarang.” Tanya Rina Saraswati yang mengagetkan bram yang baru mengingat masa lalu. Bram teringat saat mau mengajak Rina kencan tanpa ikatan dan ditolak sehingga akhirnya berujung pernikahan mereka.
“Aah gak kok mah, papah hanya inget masa lalu saat kita akhirnya memutuskan menikah. Ternyata kita juga bisa hidup normal ya mah ?” kata Bram.
“Udah gak usah diinget inget lagi masa lalu nnanti malah jadi pingin yang aneh aneh. Jujur kemarin mamah aja khawatir papah jadi pingin mabuk lagi, terus jadi liar lagi. Saat di skors perusahaan.” Kata Rina.
“Jujur memang kemarin papah stress tapi papah gak nyangka jika kamu gak kecewa dan malah mensuport papah sampai papah akhirnya tumbuh semangat hidup lagi mah. Jadi makin sayang sama mamah nih.” Ucap bram.
“Udah aah gak usah ngegombal begitu, kayak gak hafal tingkah masing masing saja pah. Kita bisa hidup wajar saja mamah udah seneng gak perlu sanjungan ataupun rayuan begitu. Malah geli dengernya pah.” Jawab RIna, meski dalam hatinya juga ada rasa bangga Bram bilang begitu.
“Ok deh, maaf tadi keceplosan pingin ngomong begitu saja gak bermaksut ngegombal.” Kata Bram yang justru membuat hati Rina semakin berbunga tanpa diketahui dan disadari Bram. Apa yang diucapkan Bram itu justru membuat hati Rina tersanjung sampai melayang.
__ADS_1
Mungkin mereka memang sudah mulai memiliki rasa cinta setelah beberapa saat menjadi pasangan suami istri dan menjalin hubungan berumah tangga dan membuat komitment meninggalkan kebiasaan masa lalu yang buruk.
“Yaudah yuk berangkat sekarang saja, mamah juga sudah laper nih ?” kata Rina.
Berangkatlah mereka kemudian mencari rumah makan dan sekaligus merayakan atas berjalanya usaha Bram yang baru saja dirintais. Dan mereka menghabiskan waktu sore hari itu dengan bersenang senang sampai malam hari.
*****
Suasana rumah Astri bersama keluarga.
“Gimana Astri, apakah Arya dan Dimas jadi datang kerumah ini nanti malam ?” Tanya mamahnya Astri.
“Jadi dong mah, perusahaan butuh segera karyawan baru jadi harus cepat ereka masuk. Nanti juga bang Hendra akan ikut kesini, buat menentukan rencana besok pagi.” Ucap Astri.
“Yaudah kamu aja yang atur Astri, mamah ikut saja yang penting semua berjalan lancer.” Kata mamahnya Astri.
“Iya mah, mamah bantu doa saja. Selebihnya biar Astri dan bang Hendra yang mengerjakan.” Jawab Astri.
Jarum jam berjalan detik berganti menit dan berganti jam sehingga tanpa terasa waktu sudah malam. Sekitar jam 20.00WIB datanglah rombongan Arya dan Dimas yang langsung disambut oleh mamahnya Astri.
“Owh ini yang namanya nak Dimas, dan ini yang namanya nak Arya. Silahkan duduk dulu, Astri masih diluar, tadi pamitnya mau kewarung sebentar.” Kata mamahnya Astri.
“Iya bu, makasih.” Jawab Arya dan Dimas serempak.
Kemudian mamahnya Astri pergi kebelakang menyuruh pembantunya untuk membuatkan minuman bagi Arya dan Dimas.
Dan beberapa menit kemudian datanglah Astri yang sudh bersama hendra abangnya.
“Eeh maaf, habis jemput abanku dulu nih. Udah lama kalian datang ?” Tanya Astri pada mereka.
“Belum kok Astri.” Jawab Dimas agak nervous. Melihat kondisi rumah Astri yang terlalu mewah bagi Dimas.
“Kok lo agak pucat begitu Dimas, apa kamu sakit atau kurang enak badan ?” Tanya Hendra pada Dimas.
“Enggak kok bang, Dimas sehat sehat saja kok.” Jawab Dimas tergagap.
“Yakinn gak papa ?” Tanya ulang Hendra.
“Iya bang Dimas yakin sehat saja kok, mungkin sekedar capek sehingga agak kurang bergaairah.” Jawab Dimas berbohong.
“Iya bang.” Jawab Dimas singkat.
Sementara Astri sudah menduga apa yang sbenarnya terjadi pada Dimas. Namun Astri lebih memilih diam karena menjaga perasaan Dimas agar tidak kabur lagi.
“Dimas, sudah siap untuk persyaratan besuk pagi ?” Tanya stri mengalihkan pembicaraan
“Owh sudah Astri, semua sudah aku siapkan dan tinggal membawa besuk pagi.” Jawab Dimas.
“Baguslah kalo begitu, jadi besuk kalian siap siap ke perusahaan dan yang pasti sembunyikan identitas kami dari Aster. Terutama bang Hendra, karena bang Hendra akan menjadi stafnya Aster atau pembantunya Aster. Biar mereka bisa saling kenal sehingga bisa saling memahami karakter masing masing.” Ucap Astri.
“Sebenarnya aku agak berat menjalankan peran ini Astri, karena Aster teman kamu itu begitu bencinya denganku. Bahkan gak sekali dua kali dia main fisik padaku.” Keluh Hendra pada Astri adiknya.
“Dicoba dulu bang, Astri yakin kalo kalian sering interaksi maka image Aster pada abang akan berubah. Karena Aster begitu yang dilihat Aster adalah abang yang dulu yang selalu jahil terhadap kami.” Jawaab Astri meyakinkan Hendra.
“Iya deh, meski aku juga gak yakin betul dengan ucapanmu iytu Astri.” Jawab hendra agak pesimis bisa mendekati Aster.
Astri kemudian membagi job kepada mereka bertiga, Hendra, Arya dan Dimas. Baik job sesungguhnya dikantor sebagai karyawan perusahaan maupun job diluar itu sebagai mak comblangnya Hendra dengan Aster. Masin masing diberi peran yang sudah direncanakan oleh Astri yang bertindak sebagai sutradara dalam permainan tersebut.
Bahkan Hendra kakaknyapun tidak mampu membantah Astri karena mengakui kejelian dan kecerdasan Astri selama ini. Sehingga dia hanya mengikuti apa yang sudah direncanakan Astri kepadanya. Hal yang paling dikhawatirkan Astri adalah bagaimana reaksi Aster nanti, jika suatu saat dia tahu bahwa perusahaan tempat dia bekerja adalah perusahaan papahnya Astri dan Hendra. Bisa jadi dia akan ngomel habis habisan pada Astri yang dianggap mempermainkan Aster. Meskipun Astri juga Yakin jika Aster tidak akan marah beneran melainkan hanya merasa sebel selama ini Astri menyembunyikan identitas diri yang sesungguhnya.
Meskipun sebenarnya Aster pun sudah merasakan ada hal hal yang dia rasakan aneh dalam dia bekerja. Dari mulai interview sampai dengan penempatan dirinya dengan Asih serta penunjukan Nisa dan Asih yang menjadi team Aster dalam mempersiapkan kerja sama dengan perusahaan Asing milik Jessy sahabatnya. Sangat mustahil jika itu hanya kebetulan semata,seperti sudah ada yang merencanakan semuanya itu, begitu pemikiran Aster.
*****
Dirumah Aster
Sepulang bekerja, Aster Asih dan Nisa mempersiapkan semua keperluan yang akan digunakan Aster dalam melaksanakan tugasnya untuk negosiasi dengan perusahaan jessy. Meskipun jessy adalah sahabat Aster, namun Aster tidak mau jika dinilai tidak professional dalam menjalankan tugas tersebut. Aster merasa harus tetap professional harus membedakan hubungan persahabatan dan hubungan bisnis yang akan dijalankan. Karena Asterpun yakin Jessy juga akan bersikap sama dengan Aster,bersikap professional.
“Nisa, progrees penjualan enam bulan terakhir terhitung naik stagnan atau turun ?” Tanya Aster kepada Nisa.
“Di dua bulan pertama cenderung stagnan, tapi bulan ketiga dan keempat ada sedikit kenaikan dan dibulan ke lima dan enam juga ada kenaikan dari sebelumnya meskipun tidak signifikan juga kenaikanya.” Jawab Nisa.
“Owh ok, gak masalah yang penting gak stagnan apa lagi turun grafiknya. Kalo neraca perusahaan gimana Asih di semester akhir ?” Tanya Aster kepada Asih.
“Hampir tidak ada kenaikan dan penurunan profit. Masih dalam range yang sama, tidak ada penurunan maupun peningkatan level.” Jawab Asih.
__ADS_1
“menurut kamu itu masih wajar tidak Asih, jika tidak ada pergerakan naik level begitu. Maksutku secara managemen perusahaan ?” Tanya Aster kemudian kepada Asih.
“Sebenarnya juga kurang bagus progressnya, namun karena Asih lihat itu disebabkan oleh pembukaan cabang baru yang masih dalam taraf berkembang belum menghasilkan Profit sama sekali maka itu masih sehat. Karena kantor pusat yang masih mensubsidi cabang tidak sampai menurunkan level perusahaan. Juga dalam memberikan subsidi operasional ke cabang mengalami penurunan. Artinya cabang tersebut juga mengalami progress yang naik sehingga diharpkan kedepanya nanti tidak perlu disubsidi lagi. Bahkan bisa menambah profit perusahaan.” Jelas Asih.
“Nah itu yang Aster butuhkan keterangan itu, sehingga dengan demikian perusaan ini tergolong perusahaan yang sehat bisa berkembang. Sehingga perusahaan lain yang akan menjalin kerja sama tidak ada keraguan untuk membuat MoU dengan kita.” Jawab Aster menjelaskan kebutuhan dia dalam melakukan negosiasi dan dan menjalin kerja sama dengan perusahaan Asing nanti.
“Owh iya Aster, tadi kamu sempat dipanggil personalia ada apa, kok kayaknya kamu tadi agak sedih gitu setelah keluar dari ruang Personalia.” Tanya Asih hati hati.
“Iya Asih, tadi aku dipertemukan dengan orang yang kemarin membenci aku dan memfitnah aku. Ternyata dia di PHK sama perusahaan, Aster juga jadi gak tega melihatnya. Meskipun kemarin dia itu sangat menyebalkan. Tapi tetap saja Aster merasaa Kasihan melihat dia kehilangan pekerjaan begitu karena Aster.” Jawab Aster.
“Itu sih bukan karena kamu Aster, tapi karena ulah dia sendiri. Meskipun Nisa juga kasihan sebenarnya Aster. Karena sebelumnya pak Bram itu orangnya biasa saja gak kayak gitu.” Kata Nisa menghibur Aster. Sementara Asih mendengar nama Bram disebut dia jadi kepo, apakah itu Bram yang pernah ketemu denganya saat dia dengan Andi dan Hazel dengan cowoknya yang bernama Bram. Meskipun waktu itu Andi memperkenalkan Asih sebagai tetehnya. Bukan atau belum sebagai pacarnya, Asih jadi penasaran apakah itu bram yang sama, atau sekedar nama yang sama.
“Iya sih Nisa, tapi kasihan juga katanya dia sudah beristri begitu. Tapi tadi sih udah clear dia udah minta maaf dan mengakui kesalahan dia. Bahkan dia menerima keputusan perusahaan dan dia bercerita jika sekarang menjalankan usahanya yang dulu dia jalankan. Yaitu menyediakan spare part motor dan mobil sport, dan Asterpun tadi sempat diberikan no hp nya. Serta dia mengatakan, sebagai permintaan maaf dia ke kami, dia akan memberikan discount besar untuk order pertama ke deia.” Kata Aster.
“Owh sukurlah, kalo tidak sampai terjadi pertengkaran. Berarti kamu tadi sempat bicara banyak dengan pak Bram juga seputar kegiatan dia sekarang. Karena sebenarnya pak Bram itu kabaranya adalah marketing handal selama ini. sudah banyak memberikan kontribusi ke perusahaan juga, mungkin dia merasa sakit hati karena Aster yang ditunjuk dalam melakukan job ini.: kata Nisa.
“Iya mungkin begitu, Aster juga berpikirnya seperti itu. tapi gak seharusnya dia bersikap seperti kemarin. Tapi sudahlah, kita sudah saling memaafkan, dan Aster juga mau memesan assesoris mobil sama dia. Kayaknya dia memang sudah punya pengalaman banyak juga dibidang spare prt mobil dan motor sport.” Ujar Aster.
‘Tunggu Aster, namanya Bram ? dulu pernah usaha Menyediakan Spare part Motor dan Mobil Sport ?” Tanya Asih semakin penasaran mungkin itu adalah Bram yang sama yang dulu pernah ketemu dia.
“Kenapa Asih, kok kayaknya kamu penasaran, apakah kamu kenal dengan Bram ?” Tanya Aster.
“Bram yang kalian bicarakan sepertinya adalah Bram yang aku kenal dulu ?” jawab Asih.
“Bram yang kamu kenal, maksutnya kenal bagaimana Asih ?” Tanya Aster, sementara Nisa hanya diam mendengarkan pembicaraan Aster dan Asih karena tidak faham yang mereka bicarakan.
“Dulu aku pernah diajak Andi, saat itu aku dikenalkan sebagai tetehnya Andi pada Hazel. Dan Hazel memperkenalkan pacarnya yang bernama Bram. Dan Bram pacarnya Hazel adalah Supliyer spare part Motor dan Mobil Sport. Jadi Bram yang kalian bicarakan mirip dengan Bram mantan pacarnya Hazel.” Kata Asih kepada Aster.
“Terus apa hubunganya dengan kita Asih ?” Tanya Aster yang tidak faham arah pembicaraan Asih kemana.
“Secara langsung tidak ada hubunganya Aster, namun bagi Asih itu ada hubunganya karena menyangkut Hazel dan Andi juga.” Jawab Asih.
Aster baru faham maksut Asih, jika itu adalah benar Bram mantan Hazel dulu berarti bisa minta informasi bagaimana Hazel. Karena saat ini Hazel sedang terbaring dirumah sakit, akibat kecelakaan setelah mendengar Andi memutuskan untuk memilih Asih dari pada Hazel. Sehingga membuat Hazel nekat mengendarai motor yang menyebabkan dia kecelakaan dan menurut informasi Andi kondisinya parah. Setidaknya bisa mengetahui kondisi kejiwaan Hazel, apakah dia mengalami traumatic dengan bram sehingga merasa terpukul dan kemudian kecewa dengan Andi dan menyebabkan dia menjadi nekat seperti itu.
“Iya ya Asih, ini menyangkut Andi sepupuku juga. Karena Hazel sempat dekat dengan Andi. Dan Hazel kemarin mengalami kecelakaan. Terus bagaimana kondisi hazel sekarang Asih ?” Tanya Aster.
Sehingga pembicaraan mereka sekarang ganti topic bukan masalah pekerjaan lagi. Melainkan membicarakan Hazel, Andi dan Bram. Terutama membicarakan kondisi Hazel yang masih sakit, karena meski Aster baru sekali bertemu namun karena Hazel pernah masuk dalam kehidupan Andi sepupunya dan Asih yang kini jadi sahabatnya. Maka Asterpun menjadi kepikiran akan keadaan Hazel sekarang bagaimana.
Singkat cerita Aster berencana untuk menjenguk Andi dan Hazel melihat keadaan mereka pada akhir pecan nanti. Meskipun waktunya juga sangat terbatas. Mungkin mereka akan berangkat sabtu sore dan kembali hari minggu siangnya. Sekedar ingin mengetahui kondisi Hazel, dan Andi terutama bagi Asih. Sedangkan soal Bram, mungkin Asih masih ingat wajahnya jika bertemu langsung.
“Yaudah kita besuk sabtu berangkat kerumah Andi, kita kasih tahu Andi saat sudah mau berangkat saja. Atau tidak usah kita bikin surprise buat Andi.” Kata Aster.
“Asih ikut saja Aster, jangan lupa ajak nisa dan Astri juga tentunya.” Jawab Asih.
“Boleh, kalo Nisa bisa saja sekalian jalan jalan. Selama disini Nisa gak pernah kemana mana. Selain karena waktu juga gak berani pergi jauh sendirian.” Kata Nisa polos.
“Baik, kita bicarakan lagi besuk sekarang kita istirahat saja dulu. Biar besuk kita bisa vit saat bekerja dan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Agar dihari sabtu nanti kita bisa pulang lebih awal, sehingga bisa sampai ke tempat andi agak sore gak kemaleman.” Jawab Aster.
Kemudian mereka segera nerangkat tidur dikamar masing masing.
Sementara Asih justru gak bisa tidur, karena begitu dia dengar nama Bram jadi ingat Haze juga Andi. Ada perasaan cemburu dan curiga dalam hati Asih. Asih merasa khawatir jika Andi yang menemani Hazel kemudian merasa tidak tega dengan Hazel kemudian kembali mendekati Hazel dan seterusnya jadi meninggalkan Asih.
Pikiran Asih jauh menerawang mengikuti alur kecurigaan dan kecemburuanya karena takut kehilangan Andi. Sementara dirinya sendiri jauh dari Andi dan disamping Andi ada Hazel yang pernah masuk dalam kehidupan Andi. Perasaan manusiawai seorang wanita pada orang yang dicintainya memang.
Apa lagi bagi Asih Andi itu adalah lelaki yang sudah lama dia idamkan meski hanya sebatas angan, jika saja bukan karena bantuan Aster dan Astri maka Andi mungkin tidak akan pernah menjadi kekasih Asih. Begitulah perasaan Asih yang membuatnya susah memejamkan mata sehingga tak terasa air matanya pun menetes.
...bersambung...
Terimakasih atas semua bentuk suport yang diberikan.
Jangan sungkan untuk memberikan saran dan kritik yang membangun.
...Juga suport nya berupa...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...🙏🙏🙏...
...Terima kasih...
__ADS_1