Cinta Asteria

Cinta Asteria
Perubahan karakter Hendra


__ADS_3

Episode 35


Manager itu menceritakan bagaimana beraninya seoarang


karyawan baru bernama Aster yang dengan lantang menyatakan sanggup mengemban


tugas dari perusahaan untuk negoisasi dengan perusahaan asing. Dengan alasa dia


sangat kenal perusahaan itu dan mengenal anak dari owner tersebut. Karena anak


dari owner tersebut adalah teman kuliahnya dijepang.


Hal itu membuat beberapa karyawan yang merasa senior protes


dengan manager marketing. Sehingga manager marketing  juga bingung, satu sisi menganggap apa yang


disampaiakan Aster itu benar. Tapi disisi lain akan menimbulkan masalah bagi


karyawan lain. Karena Aster yang baru masuk langsung diberi job mega proyek.


“Apa perlu karyawan baru yang namanya Aster itu kita


panggil,   kita kasih tahu untuk jangan


terlalu vocal dengan orang orang tertentu yang sok senior.” Tanya manager


marketing itu.


“Jangaaaan,,,,!” jawab semua kompak dan bersamaan.


Membuat manager marketing itu semakin bingung.


“Kenapa ?” Tanya manager marketing itu bingung.


“Udah nurut aja, sama sekalian saya beri tahu bahwa karyawan


baru yang bernama Aster dan Asih adalah rekomendasi dari owner. Tapi mereka


sendiri tidak tahu hal ini. Jadi jangan ada yang membuat masalah dengan mereka.


Jika ada kerjaan yang kurang bagus cukup dikasih tahu saja jangan sampai memarahi.


Itu semua jadi urusan Putri owner mbak Astri.” Kata manager personalia.


Semua menjadi giduh dengan berbagai isi pikiran yang berbeda


beda. Dan ada yang bertanya.


“Apakah ibu Aster itu saudara dari ibu Astri, kok wajahnya


juga agak agak mirip ?” Tanya seorang Staf.


“Gak tahu pasti juga, yang penting kita ikuti saja perintah


mereka. Toh selama ini kita diperlakukan dengan baik tidak sekedar hubungan


karyawan dengan owner saja. Tapi sudah dianggap keluarga bagi mereka. Jadi kalo


ada hal yang mereka anggap rahasia dan kita tidak boleh tahu ya gak usah sok


kepo.” Ujar manager personalia.


Akhirnya semua diam dan hanya mengikuti apa yang menjadi


perintah dari owner melalui manager personalia tersebut.


Begitulah hasil pertemuan para petinggi perusahaan yang sebenarnya


itu semua hanyalah sebuah scenario Astri dalam mendekatkan Hendra dan Aster.


Karena baik Astri adik Hendra maupun mamahnya sangat tidak setuju apa bila


Hendra berhubungan dengan Elisa cewek matre yang hanya mengincar kekayaan


Hendra.


Untung saja pada saat yang limit itu muncul Aster yang juga


kebetulan masih menjomblo, bahkan belum pernah dekat secara khusus dengan laki


laki. Hal itulah yang mendorong Astri dan mamahnya untuk mendekatkan Aster


dengan Hendra. Meski sebenarnya mamah Astri sudah lama menanti kedatangan dan


kehadiran Aster, namun kedatangan Aster dan pertemuan dengan Astri yang tanpa


disengaja itu semakin membuat Astri dan mamahnya punya keyakinan kuat, inilah


jodoh yang tepat buat Hendra.


********


Flashback beberapa waktu sebelumnya.


Saat Hendra masih berhubungan dengan Elisa waktu itu


kehidupan Hendra dan mamahnya selalu diwarnai keributan. Satu sisi Hendra


merasa mamahnya tidak menghargai kekasihnya, disisi lain Astri dan mamahnya


tahu siapa dan bagaimana Elisa sebenarnya.


“Mah kenapa mamah tidak suka jika hendra mengajak Elisa


datang kerumah ini mah ?” Tanya Hendra suatu pagi.


“Mamah tidak melarang hendra bergaul dengan siapapun, tapi


jika itu menyangkut pasangan hidup Hendra mamah harus selektif. Karena kamu


yang akan menjadi tulang punggung keluarga meneruskan perusahaan papa kamu


nanti Hendra.” Kata mamahnya Hendra.


“Memangnya Elisa kenapa mah, diakan sangat menghormati mamah


dan menyayangi Astri juga. Tapi mamah dan Astri yang selalu pasang muka masam


pada Elisa.” Kata Hendra.


“Bang, Astri tahu siapa Elisa, dia adalah teman dari sahabat


kuliah Astri. Dan Astri pernah diajak melihat sendiri Elisa itu jalan bareng


dengan cowok lain selain bang Hendra. Jadi bang Hendra ini hanya dimanfaatkan


Elisa saja.” Ucap Astri menyadarkan Hendra abangnya. Namun justru makian Hendra


yang didapatkan.


“Halah paling kamu mau bilang kalo kamu diberi tahu Dimas


cowok kamu yang miskin itu kan ?” bentak Hendra pada Astri.


“Memang Dimas itu miskin mas, kuliah saja cari biaya sendiri


tapi dia gak matre seperti Elisa yang selalu mengukur semuanya dengan uang.”


Balas Astri pada Hendra.


“Kamu juga gak tahu saja, kalo Dimas itu hanya mengincar


harta kan ?” sungut Hendra.


“Gak bang, Dimas awal kenal dengan Astri, tahunya Astri


adalah anak seorang pedagang kecil yang hidup pas pas an. Jadi gak mungkin


Dimas seperti itu, berbeda dengan Elisa.” Sanggah Astri.


Kejadian seperti itu hamper tiap hari mewarnai kehidupan


keluarga Astri, hingga suatu hari karena kejengkelan Hendra terhadap Astri. Dia


mendatangi Dimas Pacar Astri dan melabraknya serta melarang Dimas berhubungan


dengan Astri. Dengan tuduhan Dimas hanya akan memanfaatkan Astri sebagai pundi


pindi penghasil uang untuk mencukupi kebutuhan hidup Dimas.


Hal itu tentu saja membuat Dimas marah dan tersinggung


dengan ucapan Hendra, dan hamper saja terjadi keributan antara Hendra dan


Dimas. Untung saja teman teman Dimas satu kos melerai mereka.


“Bang Hendra, abang boleh benci Dimas karena Dimas


miskin.  Tapi jangan tuduh Dimas memanfaatkan


adik abang untuk mengambil harta keluarga abang. Itu sangat menyinggung


perasaan Dimas sebagai lelaki bang.” Kata Dimas yang sudah tidak bisa menahan


amarahnya menghadapi Hendra yang dengan sombongnya menghina Dimas habis


habisan.


“Ok, kalo kamu benar tidak mengincar harta. Sekarang juga


kamu jauhin adikku, dan tinggalkan kota ini. Butuh biaya pindah kuliah dan


segala sesuatunya kamu sebutin saja berapa, nanti aku ganti tiga kali lipat


atau berapa kali lipat yang kamu mau.” Kata Hendra yang sangat menyinggung


perasaan Dimas.


“Makaish bang, tapi gak perlu repot repot. Sebentar lagi


juga Dimas sudah wisuda, dan setelah itu Dimas akan balik ke jogja serta tidak


akan bilang ke Astri adik abang. Percayalah, tak sepeserpun Dimas mau terima


sesuatu dari Astri selama ini. Dan Dimas juga tetap menjaga Astri, tidak pernah


berbuat yang kurang ajar kepadanya. Sumpah demi apapun Astri sampai sekarang


adalah Astri yang seperti aku pertama kali kenal dulu.” Kata Dimas kepada


Hendra.


Hendra yang mendengar kata kata Dimas pun sebenarnya merasa


bersalah, namun itu dia lakukan karena dendam kepada Astri yang ia anggap jai


penghalang cintanya kepada Elisa. Namun demi menutupi keangkuhanya waktu itu,


Hendra tetap bersikap keras dan kasar kepada Dimas.


“Baik, aku pegang kata kata kamu. Jauhi adikku Astri. Jika


kamu berubah pikiran maka, aku masih member kesempatan kepadamu untuk mengganti


semua biaya mengurus pulang kamu ke jodja, meninggalkan kota Jakarta ini.” Kata

__ADS_1


Dimas menutupi penyesalanya tapi dengan kesombongan dan keangkuhanya.


“Tidak perlu bang, Dimas tidak menginginkan harta abang.


Meski Dimas hanya seorang anak petani miskin, namun jiwa Dimas bukanlah jiwa


pengemis bang. Sebaiknya abang pulang saja sebelum Dimas juga berubah pikiran


mendengar kata kata abang yang sombong dengan kekayaan abang. Seakan mampu


membeli jiwa manusia.” Bentak Dimas kepada hendra.


Hal itu membuat Hendra sangat murka, baru kali itu dia bertemu


orang yang berani menghinanya. Hendra memukul Dimas, untunglah Dimas cepat


tanggap danmenghindari serangan Hendra. Dan teman teman Dimas segera melerai


mereka, sehingga tidak terjadi baku hantam waktu itu.


Sejak saat itulah Dimas selalu menghindar jika bertemu


dengan Astri, bahkan Dimas mengganti nomor ponselnya untuk menghindari kontak


dengan Astri. Meskipun dalam hati Dimas juga sangat merindukan Astri, namun


demi menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya Dimas memilih untuk menjauhi


Astri.


“Kamu beneran mau menjauhi Astri Dim ?” Tanya Arya sahabat


dekat Dimas.


“Bagaimana lagi Ar, harga diriku habis diinjak injak


abangnya Astri.” Jawab Dimas.


“Iya aku tahu Dim,tapi itu kan abangnya bukan Astri. Kenapa


kamu balaskan sakit hatimu ke Astri. Kasihan Astri hamper tiap saat nyari kamu


kesini, telpon kamu gak pernah nyambung. Sampai telpon aku, tapi aku gak berani


kasih no kamu. Aku juga ikut bingung dan kasihan sama Astri Dim ?” kata Arya.


“Aku juga sebenarnya gak enak Ar, tapi bagaimana lagi. Toh


sebentar lagi aku juga sudah wisuda dan harus balik ke jogja dulu. Gak tahu


nanti mau cari kerja disini atau dijogja Dimas juga gak tahu. Mudah mudahan


waktu nanti yang akan membuat Astri bisa melupakan Dimas.” Sahut Dimas.


Arya yang mendengar itu justru marah pada Dimas.


“Kamu enteng banget ngomongnya Dim,yang aku liht Atri tu


tulus mencintai kamu. Tapi keras kepalamu itu tidak jauh berbeda dengan


kesombongan Hendra abangnya Astri. Kalian sama saja hanya berbeda posisi saja.


Hendra sombong karena dia kaya, sementara kamu angkuh dengan kemiskinan dan


harga diri kamu.” Ucap Arya jengkel sambil melangkah keluar kamar.


Dimas hanya terbengong melihat respon Arya sahabatnya yang


dianggap malah lebih membela keluarga Hendra.


“Bodo ah, kamu gak tahu apa yang aku rasakan Ar.” Gerutu


Dimas waktu itu.


Arya melangkah keluar dengan membawa kedongkolan pada Dimas,


Arya merasa tidak enak dengan Astri. Dan Arya berniat menemui Hendra untuk


menjelaskan permasalahan yang terjadi antara Dimas dan Astri. Meskipun Arya


merasa itu bukan masalahnya, tetapi Arya merasa kasihan dengan Astri yang


begitu merasa kehilangan Dimas. Dan sebulan lagi Dimas harus kembali ke jogja


karena sudah lulus kuliah.


Dalam sebuah kesempatan Arya akhirnya berhasil menemui


Hendra, meskipun awalnya Hendra merasa keberatan. Tapi akhirnya Hendra pun mau


menemui Arya yang terus membujuk Hendra.


“Maaf bang, bukan maksutku mau ikut campur urusan pribadi


abang dan adik abang. Tapi karena ini menyangkut Astri sahabat saya dan


kebetulan adik abang, maka saya tidak bisa tinggal diam.” Ucap Arya memulai pembicaraan.


“Sekarang mau kamu apa, bilang saja terus terang gak usah


muter muter tidak jelas.” Jawab Hendra dengan ketus.


“Apa yang dikatakan Astri adik abang tentang Elisa itu benar


adanya. Dan Dimas juga tidak bermaksut mengadu domba antara abang dan Astri.


Bukan Arya membela mereka. Tapi itulah kenyataan yang sebenarnya.” Sambung Arya.


“Dengan apa aku harus percaya keoada ucaoanmu, sementara


“Sekarang begini saja bang, abang buktikan saja sendiri,


abang pura pura usaha keluarga abang bangkrut, apakah Elisa masih mau dengan


abang atau tidak. Tapi harus dengan meyakinkan, agar terkesan abang benar benar


bangkrut.” Ucap Arya.


“Caranya bagainana agar Elisa percaya aku bangkrut, dan jika


omonganmu salah apa konsekuensinya ?” Tanya hendra.


“Abang pura pura jual Aset, agar Elisa yakin abang bangkrut.


Jika saya dan Astri salah terserah abang aku mau diapakan. Saya begini hanya


kasihan sama Astri. Dia sangat sedih kehilangan Dimas yang tidak mau lagi


menemui Astri, bahkan mengganti no ponselnya karena tidak mau kontak dengan


Astri.” Kata Arya.


“Baiklah, aku akan coba ikuti apa yang kamu bilang. Tapi jika  apa yang kamu bilang itu salah maka jangan


salahkan aku jika aku buat perhitungan khusu kepadamu.” Ucap Hendra sambil


melangkah pulang.


Sampai dirumah, Hendra disambut mamahnya dengan muka yang


kesal, karena Astri seharian tidak mau keluar kamar. Dan mamahnya tahu jika itu


semua akibat ulah Hendra yang memisahkan Astri dengan Dimas, kekasihnya.


“Dari mana saja kamu, masih berhubungan dengan Elisa lagi


atau justru masih berusaha memisahkan Dimas dan Astri ?” Tanya mamah nya


Hendra.


“Dari menemui temanya Astri mah, Hendra mau buktiin jika


tuduhan kalian semua terhadap Elisa itu salah.” Ucap Hendra kepada mamahnya.


“Baguslah, kalo kamu mau buktiin tapi harus tahu resikonya


jika itu semua benar. Dan dengan apa Hendra akan buktiin itu semua ?” Tanya mamahnya


Hendra.


“Hendra akan pura pura perusahaan kita bangkrut, kita lihat


respon Elisa nanti bagaimana. Kalo tuduhan kalian salah maka mamah harus


merestui hubungan kami.” Kata Hendra.


“Ok, tapi jika itu benar maka Hendra yang harus meninggalkan


Elisa selamanya.” Jawab mamahnya Hendra.


“Iya mah, kita buktikan saja nanti. Sekarang Astri mana,


biar adil kita harus bikin perjanjian bersama.” Uvcap Hendra.


Kemudian Astri dipanggil mamahnya keluar, untuk berbicara


dengan Hendra.


“Bang, Astri gak nyangka deh bang Hendra tega menghina Dimas


seperti itu, sampai dia sangat sakit hati dan meninggalkan Astri !” kata Astri.


“Sama abang juga gak nyangka kamu tega fitnah Elisa seperti


itu.” Jawab Hendra.


“Tapia pa yang Astri bilang itukan fakta bang, sementara


abang nuduh Dimas memanfaatkan Astri tanpa bukti sama sekali. Belum pernah


sekalipun Dimas manfaatin Astri, dan Astripun gak merasa pernah ngasih apapun


ke Dimas. Sementara abang. Hamper semua kebutuhan sampai uang jajan Elisa semua


abang yang kasih, dan justru Elisa menggunakan untuk senang senang dengan pria


lain tanpa Abang tahu.” Protes Astri ke abangnya.


“Cukup, tuduhanmu juga tidak terbukti stri. Jangan bikin


Fitnah lagi.. ayo kita sama sama buktikan mana yang benar dan mana yang salah.”


Kata Hendra.


“Sudah, kalian jangan ribut terus, cape mamah kalo kalian


tiap bertemu selaluberantem. Sekarang apa rencanamu Hendra untuk buktiin jika


Elisa bukan cewek matre.” Kata mamahnya Hendra.


“Hendra akan bilang ke Elisa jika perusahaan keluarga kita


sudah di take over orang lain. Dan kita mengalami kebangkrutan.” Kata Hendra.


“Gak cukup kalo begitu, bisa saja Elisa mengira itu hanya

__ADS_1


sandiwara bang.” Seru Astri menimpali kata kata Hendra.


“Terus dengan apa menurutmu biar, Elisa percaya ?” Tanya Hendra.


“Abang pasang iklan jual tanah kita yang di tangerang,


disitu abang cantumkan butuh uang cepat untuk menutupi hutang perusahaan biar


dibaca Elisa. Dan selama itu abang gak usah nemuin Elisa, takut abang gak jujur


bocorkan ini pada Elisa.” Kaata Astri.


“Baik, aku ikutin kata katamu. Tapi jika kamu salah kamu


juga harus janji jauhin Dimas karena kamu begitu pasti karena pengaruh Dima.” Ucap


hendra.


“Baik, tapi jika Astri benar apakah abang sanggup minta maaf


ke Dimas dan meninggalkan Elisa ?” Tanya balik Astri.


“Ok,kita deal atas kesepakatan ini. Besuk aku urus iklanya.”


Kata Hendra.


“Gak perlu bang, biar stri yang pasang Iklan atas nama


abang. Dan stri akan pasang di beberapa media biar Elisa bisa segera baca.” Kata


Astri.


“Ok, silahkan buktikan ucapanmu.?” Kata Dimas.


“Mamah menambahkan, untuksementara hp kalian mamah sita


sehingga tidak bisa member kabar pada siapapun. Agar rahasia ini hanya kita


yang tahu. Termasuk semua karyawan perusahaan tidak boleh tahu.” Kata mamahnya


Astri dan Hendra.


Mereka berdua menyetujui, dan sementara waktu mereka


berhenti bertengkar sampai ada bukti mana yang benar. Apakah Hendra atau Astri,


dan semua siap menanggung resiko sesuai kesepakatan mereka.


Maka setelah Astri berhasil memasang iklan sesuai rencana


maka mereka menunggu hasil atau respon dari Elisa. Apakah dia akan menghubungi


no Hendra atau tidak, sementara itu Astri menunggu dan berharap dengan cemas.


Satu hari dari iklan belum ada respon dari Elisa.


Dua Hari…


Tiga hari…


…..


Belum ada respon, membuat Astri sedikit gelisah, sementara


Hendra measa hamir saja menang.


Sampai dengan dua minggu dari iklan belum ada respon dari


Elisa, yang menanyakan perihal iklan tersebut.


Hanya sebatas wsay hello pada Hendra dan dijawab mamahnya


Hendra layaknya Hendra yang menjawab.


Meamsuki minggu ketiga, barulah ada jawaban atas teka teki


yang mereka tunggu.


Mamah nya Hendra menunjukkan, chat terakhir dari Elisa


kepada Hendra dan Astri.


“Owh pantesan kama sekali gak ada kabar bang Hendraa,


rupanya perusahaan papahmu gulung tikar ya ? kok bisa begitu sih, kalo


perusahaan gulung tikar, dengan apa bang Hendra mau menghidupi Elisa nanti…? Mending


juga abang konsen ngurus perusahaan yang hamper kolap, biar Elisa cari yang


lain saja buat pengganti Abang. Bye bye bang Hendra…


gak usah cari Elisa lagi sekarang.


Begitulah Chat dari Elisa yang terakhir setelah membaca


iklan palsu buatan Astri.


Hendra sampai down tidak mampu berkata, ternyata apa yang


dikatakan Astri dan mamahnya selama ini benar. Elisa itu hanya mengincar harta


Hendra bukan cintanya Hendra. Akhirnya Hendra menyadari meski sudah agak


terlambat. Sudah ada korban Dimas pacar Astri yang sakit hati terhadap ucapan


Hendra dulu. Hendra menangis mohon maaf pada mamahnya dan juga Astri, dan dia


berjanji juga akan mencari Dimas untuk meminta maaf atas ucapanya dulu.


Akhirnya keesokan harinya Dimas beraangkat ke kos kosan


Dimas, namun sayang Dimas sudah kembali ke jogja. Sehingga Hendra tidak sempat


meminta maaf pada Dimas, dan Dimas sudah pergi membawa rasa sakit hati. Tidak hanya


itu, Astri pun menjadi semakin sedih mendgar jika Dimas sudah kembali ke jogja


tanpa ada kabar terlebih dahulu.


“Semua ini salah abang, terlalu terburu buru menuduh Dimas


begitu tanpa ada bukti. Kalo sudah begini terus mau apa sekarang ?” Tanya Astri.


“Iya abang salah, abang minta maaf. Abang akan tetap mencari


keberadaan Dimas, dan jika ketemu abang akanmintamaaf padanya.” Kata Hendra.


“Udah terlambat bang, jogja tu luas mau kemana abang


mencari. Astri juga belum tahu alamat lengkap Dimas yang di jogja.” Sahut Astri.


Hendra menyesali semua kesalahanya, namun sudah terlambat


untuk meneui Dimas. Akhirnya hendra memutuskan untuk merubah sikapnya selama


ini. Dia menjadi lebih sabar dan lebih lembut terhadap semua orang. Kesalahan yang


dia lakukan terhadap Dimas sudah cukup untuk menjadi sebuah pembelajaran


baginya.


Suatu pagi, saat keluarga hendra berkumpul.


“Mah, dan Astri adikkku Hendra mau ngomong sesuatu.” Ucap


Hendra.


“Mau bilang apa Hendra ?” Tanya mamahnya.


“Hendra mau mencoba hidup mandiri sekarang, mau hidup


sederhana dan tinggal dirumah sederhana saja. Agar orang kenal Hendra sebagai


Hendra bukan sebagai pewaris perusahaan.” Ucap Hendra.


“Maksut kamu gimana ?” Tanya lanjut mamahnya.


“Hendra mau keluar dari rumah ini sementara waktu, sambil


menenagkan diri. Juga mau belajar mandiri mah.” Jawab Hendra.


“Terus soal perusahaan bagaimana ?” Tanya mamahnya lagi.


“Biar mamah saja yang awasin sama Astri, sampai Hendra siap


nanti. Mungkin butuh beberapa waktu mah. Bisa setahun bisa juga lebih mah.” Ucap


hendra.


“terus hendra mau kemana dan mau ngapain ?” mamahnya Hendra


mulai khawatir.


“Gak jauh jauh amat kok mah. Hendra mau cari rumah


sederhana, buat belajar hidup mandiri. Sampai hendra merasa siap untuk kembali


kerumah ini.” Ucap Hendra.


“Bang Hendra marah sama Astri ?” Tanya Astri.


“Tidak Astri, abang gak marah, justru abang berterimakasih


sama Astri. Sudah mengingatkan abang. Abang pergi sementara biar ada kangen


sama Astri, biar kalo ketemu gak berantem terus.” Kata hendra.


“Bang, meski kita tiap hari berantem tapi Astri kan tetep


sayang sama abang. Kenapa harus tinggalkan rumah ?” Tanya Astri. Yang merasa


keberatan ditinggal Hendra abangnya. Walau bagaimanapun Hendra adalah satu


satunya lelaki dikeluarga itu yang bisa menjadi tulang punggung keluarga.


“Tenang adikku, abang akan segera pulang dan tinggal dirumah


ini lagi jika sudah ada wanita yang mencintai abangmu apa adanaya, bukan


mencintai abangmu karena pewaris perusahaan.” Jawab Hendra.


Meski berat akhirnya mereka merelakan kepergian hendra demi


untuk mencari ketenangan atas kekecewaanya terhadap Elisa.


Ditempat lain, Arya kebingungan mencoba menghubungi Astri


yang saat itu juga ganti nomer hp. Karena ingin melupakan Dimas, padahal Arya


ingin memberikan no Dimas pada Astri. Arya sudah siap dimarahi Dimas, toh dia


sudah dijogja ini,pikirnya. Namun sayang Astri juga sudah ganti no kontaaknya. Sementara


Arya pun harus kembali ke kot a Bandung, karena juga sudah selesai wisuda.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2