
Andi,,, aku seperti pernah denger namanya tapi belum mampu mengingatnya. Siapa Andi itu, apakah aku juga mengenal dia ?” Tanya Hazel.
Wawan jadi merasa agak kikuk, karena dengan orang tuanya saja Hazel tidak ingat tapi begitu mendengar nama Andi Hazel bilang pernah denger namanya. Apakah Hazel benar benar tidak bisa melupakan Andi, kata Wawan dalam hati. Namun Wawan juga tidak berani bicara lebih takut orang tua Hazel tahu permasalahan Hazel dengan Andi.
“Nak Wawan, coba minta tolong nak Andi suruh kesini barang kali bisa mengembalikan ingatan Haze. Tadi dia bilang pernah mendengar nama Andi.” Pinta orang tua Hazel.
Wawan menjadi semakin gelisah, apakah memang seharusnya orang tua Hazel tahu masalah yang sebenarnya tentang putrinya Hazel ? bisik Wawan dalam hati.
“Baik tante, Om Wawan akan minta Andi datang sekarang.” Jawab Wawan.
Kemudian Wawan keluar dan menelponn Andi, dalam telpon Andi sanggup untuk datang segera. Kemudian Wawan segera kembali menemui orang tua Hazel dan mengabarkan jika Andi siap datang menemui Hazel.
...*****...
Di Jakarta di rumah Astri
“Mah besuk Astri mau menemui Dimas, mohon doanya ya mah agar apapun keputusan Dimas Astri tetap kuat.” Kata Astri mohon doa ke ibunya agar diberi kekuatan menghadapi Dimas.
“Apakah besuk Hendra abangmu juga akan ikut bersamamu ?” Tanya mamahnya Astri.
“Sementara gak usah dulu mah, nanti jika diperlukan kehadiranya akan Astri hubungi. Sekalian bang Hendra agar meminta maaf pada Dimas. Apapun yang akan diputuskan Dimas nanti bang Hendra haruslah minta maaf atas ucapanya yang menyakiti hati Dimas.” Jawab Astri.
“Iya Astri, mamah bersukur sekali punya putrid seperti kamu yang bisa membedakan urusan pribadi dengan kurusan lainya. Soal apa keputusan Dimas nanti memang tidak ada hubunganya dengan permohonan maaf Hendra pada Dimas.” Tiba tiba mamah Astri memeluk Astri putrinya dengan penuh haru. Sehingga membuat Astri pun larut dalam keharuan dan mennitikkan air matanya.
“Astri bisa begini juga karena didikan dan kasih sayang mamah dan papah selama ini. Papah dan mamah adalah teladan bagi Astri panutan bahkab pahlawan bagi Astri.” Jawab Astri yang tak kalah menyentuh dengan kata kata mamahnya. Sehingga ibu dan anak itupun semakin larut dalam tangis keharuan dan kebahagiana. Mereka mensukuri nikmat dan karunia-Nya diberikan keluarga yang damai dan sejahtera.
Setelah larut dalam keharuan cukup lama, Astri dan mamahnyapun kembali melanjutkan obrolan ringan mereka seputar rencana Astri menemui Dimas, serta sejauh mana usaha mendekatkan Hendra dengan Aster.
“Jadi apa yang Astri alami dulu dengan Dimas itu tetap ada hikmahnya mah. Dengan kejadian itu membuat bang Hendra menyadari kesalahanya yang sebelumnya angkuh, egois dan tinggi hati. Kemudian berubah menjadi peduli dan care terhadap orang lain. Ditambah dengan bukti penghianatta Elisa pacarnya yang abang rasakan sendiri.” Kata Astri menceritakan kembali kisah lamanya pada ibunya yang berkaitan dengan abangnya Hendra. Mamahnya Astri hanya mendengarkan sambil sesekali member komentar yang menyemangati Astri.
“Itulah Astri, yang membuat mamah sangat bersukur, meski kita diberi kehidupan yang cukup tapi tidak membuat kamu sombong. Bahkan abangmu Hendra pun akhirnya berubah menjadi anak yang baik sekarang.” Kata mamahnya Astri.
“Iya mah, perubahan pada abang sudah cukup membuat Astri terhibur, meski selama ini merasa ada yang hilang sejak Dimas pergi begitu saja meninggalkan Astri.” Jawab Astri pada mamahnya.
“Semoga saja Dimas mau kembali lagi dengan kamu Astri. Mendengar ceritamu itu mamah juga yakin jika Dimas itu anak yang baik yang tidak sekedar mencari kesenangan dengan jalan pintas saja.” Jawab mamahnya.
“Aamiin mah, tapi Astri akan menerima apapun keputusan Dimas nanti. Meski menurut Arya sahabat Astri dan Dimas juga, Dimas pun sebenarnya masih suka mengingat Astri. Namun Astri gak mau terlalu berharap. Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk move on. Bisa jadi juga Dimas sudah move on, ingat Astri juga mungkin hanya sebatas mengingat masa lalu saja sebagai nostalgia.” Jawab Astri.
“Tapi kamu jangan pesimis juga nak, meski tetap harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.” Kata mamah Astri member dorongan semangat kepada Astri.
Mamah Astri dalam hati berkata,” itu juga yang dulu pernah mamah alami saat memilih papah kamu yang juga secara strata ekonomi jauh dibawah mamah nak.” Batin mamahnya Astri. Jadi pada saat itu mamah Astri seperti melihat dirinya dimasa lalu saat masih berstatus pacaran dengan ayahnya Hendra dan Astri. Hanya orang tua Aster yang tahu bagaimana awal perjuangan papah dan mamahnya Astri saat masih susah hidup serba pas pasan.
Dan hanya orang tua Aster juga waktu itu yang banyak menolong orang tua Hendra dan Astri bila mana mereka mengalami kesusuhan dalam hal financial. Maka tidaklah mengherankan jika mamahnya Astri begitu menyayangi Aster. Tapi hanya mamahnya Astri dan kedua orang tua Aster saat ini yang mengetahui itu. Bahkan kedua orang tua Asterpun saat ini tidak mengira jika papahnya Astri sudah mewariskan sebuah perusahaan yang cukup besar.
__ADS_1
]karena hal itulah mamahnya Astri ingin sekali Hendra berjodoh dengan Aster disamping ada permintaan terakhir dari mendiang suaminya dulu yang juga berharap Hendra anak sulungnya berjodoh dengan Aster.
Dan saat ini tantanganya adalah, hubungan Hendra dan Aster yang dimasa kecilnya tidak pernah akur terbawa samppai sekarang. Dan terutama Aster sendiri seperti masih menyimpan dendam lama dengan Hendra, karena kejahilan Hendra dimasa kecilnya yang selalu membuat Aster dan Astri kecil menangis.
Walaupun dulu yang Hendra rasakan adalah kecemburuan karena adik semata wayangnya lebih dekat dengan Aster hamper tidak pernah bermain berdua dengan Hendra yang kakak kandungnya. Sehingga Hendra merasa Aster itu merebut adiknya. Sehingga Hendra kecilpun menaruh benci kepada Aster, dank arena Hendra yang selalu dimarahi kedua orang tuanya. Membuat karakter Hendra menjadi keras dan mudah tersinggung. Sehingga ketika orang tuanya merangkak naik dalam ekonomi Hendra seperti menumpahkan dendam masa lalunya saat orang tuanya masih susah. Sehingga sering berlaku sombong, untuk balas dendam atas masa lalu. Sampai akhirnya kasus pacarnya Elisa dan kisah Astri dengan Dimas menyadarkan Hendra. Sehingga Hendra dapat kembali menemukan jati dirinya sebagai Hendra yang sekarang ini.
...*****...
Dikantor Aster, Asih dan Nisa
“Asih, nati kita pulang barengan saja dengan Nisa. Sekaligus barang barang Nisa kita bawa ke rumah, biar nanti sekalian Nisa pamitan dengan ibu kostnya. Ya Nisa, kita bertiga saat ini harus lebih sering koordinasi. Jadi kita dirumahpun masih bisa melakukan koordinasi nanti.” Usul Aster pada Nisa dsan Asih.
“Apakah gak terburu buru Aster, kalo Nisan anti langsung pamitan pada ibu kost Nisa. Takutanya nanti dikira ada masalah ?” jawab Nisa.
“Gak lah, nanti kita bantu bicara kalo perlu, karena kita butuh sering berkoordinasi juga dan juga ini adalah perintah perusahaan. Jadi Aster kira ibu kost kamu juga pasti akan maklum nanti.” Jawab Aster.
“Iya Nisa, Asih setuju dengan pendapat Aster. Asih kira sudah saatnya kita harus lebih sering koordinasi. Karena Aster bisa saja disuruh berangkat sewaktu waktu.” Jawab Asih.
“Iya deh, demi kesuksesan pekerjaan juga gak papa nanti Nisa bicara dengan ibu kost Nisa.” Jawab Nisa singkat.
Setelah waktu pulang tiba maka mereka bertiga segera berkemas untuk pulang dengan terlebih dahulu ke kost an Nisa mengambil barang dan sekaligus berpamitan dengan ibu kost Nisa.
Awalanya ibu kost Nisa menahan, karena Nisa tergolong penghuni yang baik yang tidak pernah aneh aneh. Namun setelah dijelaskan ibu kost Nisa pun tak bisa menahan lagi, karena itu sduah menjadi tuntutan perusahaan dimana Nisa bekerja.
“Ini pedasnya sedang saja Aster sudah merasakan pedees banget apa lagi yang kalian makan, wah Aster gak bisa bayangin deh.” Ucap Aster dengan menahan rasa pedas dimulutnya.
“Masa aih Aster, Bagi NIsa ini sih masih kurang pedas. Ini aja masih ditambah sambal lagi.” Jawab Nisa.
“Hati hati Nisa, lambung kamu nanti yang gak kuat !” kata Asih menimpali.
“Aku tuh makan pedas kalo bibir gak sampai merasakan efek pedasnya gak puas rasanya kaya hambar gitu. Jadinya harus bener bener kerasa sampai merasakan sensasi pedas di bibir hingga keluarin suara seperti mendesis begi, heeeehhhh huuaaaahh…!” ucap nisa sambil mengeluarkan desisan menahan rasa sensasi pedasnya.
Aster dan Asih hanya memandang wajah Nisa yang sampai mengeluarkan peluh dengan Heran.
“Waduh kalo Aster gak tahan Nisa, masakan kamu sih enak banget tapi pedasnya yang gak nahan.” Kata Aster.
“Iya Aster, Asih kira Asih sudah doyan Pedas ternyata masih kalah jauh sama Nisa, iihh.” Kata Asih sambil menyeka air matanya yang tak kuat menahan pedasnya maskan NIsa.
“Asik kan tapi, besuk kapan kapan giliran Asih yang masak dengan cirri khas masakan Sunda. Nisa suka Sayur Asem dengan lauk teri dan sambalnya.” Kata Nisa.
“Boleh, kapan kapan Asih masak buat kalian.” Kata Asih.
“Iya Aster juga mau masak khas olahan jepang nanti.” Kata Aster.
__ADS_1
Mereka bertiga terlibat obrolab santai, dan tak terasa malam semakin larut. Saat mereka hendak berangkat tidur, tiba tiba hp Aster bergetar tanda adanya pesan masuk. Kemudian Aster membuka pesan dari sebuah nomor yang tidak ada namanya.
...“Hai Aster karyawan baru yang sok pinter, kamu jangan bangga dulu saat ini. Karena sebentar lagi kamu akan tersingkir dari perusahaan ini.” Chat yang berisi ancaman dari seseorang yang ditujukan ke Aster....
...Bersambung...
Mohon maaf, karena kesibukan untuk upnya novel ini agak terlambat. Dan mungkin akan up lagi setelah lebaran. Mohon maaf dan mohon pengertian dari semuanya.
Terimakasih.
Dalam kehodupan nyata, banyak hal terjadi tidak sesuai dengan praduga kita.
Begitupun yang namanya jodoh, tak satupun dari kita yang dapat memastikan.
Melalui cerita ini, Author ingin menggambarkan refleksi kehidupan nyata dalam sebuah cerita.
Di ilhami kisah kisah yang pernah Author dengar lihat dan saksikan.
Tentu saja dikemas dalam bentuk cerita fiktif, baik nama maupun tempat kejadianya.
Karena ini hanya bersifat hiburan semata. Kesamaan nama dan tempat serta kejadian hanyalah sebuah kebetulan semata.
...Semoga terhibur...
...🙏🙏🙏***...
...bersambung...
...Jangan lupa beri dukungan...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1