
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
“Apa minta tolong Herlambang? Aah bisa bisa dia gede rasa malah ngajakin Syifa begituan lagi. Tapi dia kan sekarang sudah gak beristri gak papa kali, eeh gak ah Syifa udah janji gak mau berbuat dosa seperti itu lagi !” ucap Syifa.
“Haah dosa….???? Kok aku bilang berbuat Dosa, Dosa itu apa, kan dia sudah cerai sama istrinya jadi Dosa sama siapa sebenarnya ?” kata Syifa dalam hati sehingga membuat Syifa bingung sendiri. Bahkan sampai gak menemukan apa itu Dosa, Dosa kepada siapa dan apa benar Dosa itu ada.
Lama lama membuat Syifa jadi pening sendiri dan Kahirnya dia kembali kekamar dan berangkat untuk tidur. Meski waktu masih sore, karena besuk harus mengajar Tari disekolah sekolah yang dia jadi guru ekstra kurikuler disitu.
“Aah mendingan juga aku tidur sajalah, dari pada mikirin yang belum jelas. Besuk harus ngajar tari dua di tiga tempat. Belum sorenya ngajar anak anak dusun.” Kata Syifa dalam hati….!!!
*****
Episode ini
Syifa yang merebahkan diri di kamar namun matanya enggan terpejam karena terngiang selalu apa kata pak Hamid tentang hokum Alam adalah ketetapan Allah. Apa sebenarnya maksut dari perkataan itu. apakah tidak cukup kita berbuat baik sama orang lain, toh manusia itu akan dihargai orang karena ucapan dan perbuatannya. Kalo kita baik pasti orang lain juga akan baik pada kita.
Begitulah pemikiran seorang Syifa yang tidak yakin jika Tuhan itu ada. Baginya hidup itu yang penting tidak merugikan  orang lain selebihnya adalah bebas melakukan apa saja. Asal tidak memaksa dan merugikan orang lain
Lama Syifa merenung akhirnya tertidur dalam kelelahan karena lamunannya.
*****
Sementara dirumah Andi
Sita yang kini tinggal dirumah Andi malah semakin menjadi jadi karena saat ini usia kehamilanya sudah Nampak dan perutnya sudah semakin membesar. Dan selalu manja minta sesuatu yang memberatkan bagi pak Baskoro dan ibu Halimah orang tua Andi. Dan Andi Pun sampai saat itu tak lagi menampakkan batang hidungnya di rumah.
Karena kehadiran Sita cukup menarik perhatian warga dan menjadi bahan pembicaraan warga maka pak RT setempat pun mendatangi rumah Pak Baskoro untuk menanyakan perihal kehadiran Sita di rumah itu.
“Maaf pak Baskoro, selama ini bapak adalah orang terpandang di komplek ini. dan dihormati serta disegani oleh semua warga disini. Namun sejak kasus Andi dengan ibu Syasya itu tersebar luas, dan sekarang tiba tiba ada seorang wanita di rumah ini yang dalam keadaan hamil tentu saja menimbulkan keresahan warga. Sebenarnya siapa wanita itu pak ?” Tanya pak RT.
Pak Baskoro bingung mau mengatakan apa, sehingga cukup lama beliau termenung tidak mampu menjawab.
“Saya agak kesulitan menjelaskan pak RT, dia tahu tahu datang mengaku hamil karena Andi. Kemudian memaksa ikut tinggal disini dan saya tidak dapat menolak keinginan dia.” Jawab pak Baskoro setelah lama berpikir.
“Tapi setidaknya harus ada ikatan resmi dulu pak, takutnya saat Andi pulang nanti kemarahan warga tidak bisa dibendung lagi. Kalo gais itu masih tinggal disini.” Ucap pak RT.
“Baiklah pak, nanti saya usahakan agar anak itu tidak tinggal di sini.” Jawab pak Baskoro.
Sungguh malang asip orang tua Andi yang saat ini baru mendapat ujian yang begitu besar. Dan lebih disayangkan lagi Andi pun sampai saat ini tidak tahu bagaimana keadaan orang tuanya. Bahkan rasanya tak mungkin lagi Andi menginjakkan kaki dirumah itu. lantaran semua warga sudah sangat membencinya.
Dan semua pembicaraan pak RT dengan pak Baskoro itu di dengar oleh Sita yang lagi bermalas malasan di kamar Andi.
“Gak papa gue disuruh pergi asal dicariin rumah, dan dikasih jaminan hidup. Malah lebih asik bisa senang senang dengan cowok lain.” Kata Sita dalam hati.
Dan sepeninggal pak RT pak Baskoro pun memanggil Sita dari luar kamar.
“Sita, keluarlah bapak mau bicara sekarang.” Pinta pak Baskoro pada Sita.
“Iya pak, ada apa sih pagi pagi sudah bangunin Sita “ jawab Sita.
“ini sudah siang bukan pagi..!” jawab pak Baskoro.
“Iya iya bentar lagi.” Jawab Sita dengan malas.
Kemudian Sita keluar kamar menemui pak Baskoro, sedangkan bu Halimah lebih memilih masuk ke kamar karena malas berbicara dengan Sita gak gak ada Adab sam sekali.
“Ada apa sih pak, kok kayaknya penting banget ?” Tanya Sita pada pak Baskoro.
“Ini tadi bapak didatangi pak RT, menanyakan tentang kamu. Yang intinya kamu sementara ini belum boleh tinggal di rumah ini sebelum resmi jadi istrinya Andi.” Kata pak Baskoro.
“Jadi maksut bapak mau ngusir Sita sekarang juga ?”  Tanya Sita tanpa basa basi.
__ADS_1
“Bukan begitu Sita, bapak gak bermaksut mengusir namun demi kebaikan semua. Sebelum kamu menikah dengan Andi dan sebelum menunjukkan hasil tes DNA anak kamu. Sebaiknya kamu tinggal di rumah bapak yang agak jauh dari sini. Agar tidak menimbulkan masalah baru di sini.” Kata pak baskoro.
“Lah memang cukup tinggal dirumah saja pak, Sita juga butuh Hidup butuh makan dan minum juga lainnya. Bagaimana Sita bisa hidup kalo hanya sendirian dan gak punya penghasilan ?” jawab Sita.
“Untuk itu aku sudah pikirkan, sekedar untuk menyambung hidup kamu dan menjaga kandungan kamu bapak akan kasih kamu kartu ATM dan akan mengirim tiap bulanya. Tapi sekedar untuk biaya itu saja bukan untuk yang lain.” Jawab pak Baskoro.
“Masa Sita hanya diberi buat makan saja pak, apa gak boleh Sita belanja yang lain buat kebutuhan Sita sebagai wanita ?” Tanya Sita.lama lama pak Baskoro pun jengkel dengan sikap Sita yang makin hari makin gak sopan saja.
“Kalo kamu mau ya begitu kalo hgak mau karena kamu juga belum bisa membuktikan kalo anak yang kamu kandung itu beneran anak Andi maka bapak juga gak mau tahu.” Jawab pak Baskoro tegas. Sehingga Sita pun mulai berpikir.
“Dari pada gak ada jaminan sama sekali gak papa deh terima tawaran orang tua ini. kan besuk usahanya juga bakal jadi milik Sita jika berhasil menikahi Andi. Sekarang biar Sita juga bisa senang senang dengan lelaki lain selain Andi.” Kata Sita dalam hati.
“Baiklah, tapi Sita akan tetap menuntut Andi untuk bertanggung jawab menikahi Sita nanti.” Jawab Sita.
“kita lihat bagaimana nanti apakah kamu bisa membuktikan itu anak Andi atau tidak. Kalo tidak maka aku yang akan menuntut balik kepada kamu.” Jawab pak Baskoro jengkel. Sambil menyerahkan sejumlah uang dan kartu Atm dan memberikan PIN kartu itu ke Sita. Dan meminta Sita segera pergi ke alamat yang diberikan pak Baskoro.
Sita pun menerima dan langsung pergi meninggalkan tempat itu, tanpa berterimakasih dan pamitan pada bu Halimah yang sedang ada di kamarnya.
Sita pun segera menuju ke alamat yang dituju, dan memastikan kemudian membuka pintu rumah itu dengan kunci yang dia terima dari pak Baskoro.
“Hmmm lumayan juga rumah ini, meski kurang terawat. Bisa undang temen nih kalo lagi butuh hiburan.” Kata Sita.
Kemudian Sita pun mulai masuk kerumah itu. rumah yang sedianya akan dihadiahkan untuk pernikahan Andi dan Asih. Namun semuanya kini hancur berantakan akibat ulah Andi yang menuruti hawa nafsunya.
*****
Sementara itu Syifa yang semakin merasa gelisah akan kehidupanya dan mencari tahu apa sebenarnya hidup dan apakah Tuhan itu beneran Ada. Semakin sering menemui pak Hamid, dan kembali sore itu Sita berkunjung ke rumah pak Hamid dengan pakaian dan penampilan yang sudah sedikit berbeda karena sedikit sopan dan tertutup.
“Assalaamu’Alaikum pak ?” sapa Syifa kepada pak Hamid yang sedang bersantai dengan istrinya.
“Wa’alaikummussalaam mbak Syifa, mari silahkan masuk.” Jawab pak Hamid dan Bu hamid.
Kemudian Syifa mulai duduk di kursi tamu rumah kediaman pak Hamid.
“Apa kabar mbak Syifa sudah beberapa hari tidak kesini, apakah sudah menemukan jawaban dari pertanyaan mbak Syifa sendiri ?” Tanya pak Hamid.
“Baik pak kabar Syifa, tapi sampai saat ini Syifa belum bisa menemukan jawabannya pak. Masih belum bisa Yakin apakah Tuhan itu beneran ada. Apakah pak Hamid bisa memberikan sesuatu agar Syifa bisa percaya jika Tuhan itu beneran ada pak ?” Tanya Syifa.
“Begini saja mbak Syifa, saya juga berterimakasih dengan mbak Syifa karena pertanyaan mbak Syifa membuat saya juga jadi semangat belajar lagi untuk mencari jawaban pertanyaan mbak Syifa itu.” jawab pak Hamid.
“Ya mudah mudahan saja jawaban ini bisa memberikan pencerahan bagi mbak Syifa. “ jawab pak Hamid.
Terus apa  jawaban itu pak ?” Tanya Syifa tidak sabar.
Pak Hamid melihat antusiasme Syifa jadi merasa senang, artinya memang selama ini Syifa itu dalam masa pencarian jati diri dalam mencari Tuhan. Jadi ada harapan Syifa bisa menemukan jalan yang benar.
“Jadi bapak itu sebenarnya juga masih belajar terus mbak Syifa. Dan memang kita wajib belajar tanpa terbatasi usia. Dan Alhamdulillah ada sedikit pencerahan tentang pertanyaan mbak Syifa, yang bapak dengar dari seorang ulama muda di wilayah jawa tengah.
Beliau mengatakan bahwa agar kita yakin jika Tuhan itu memang ada, maka secara logika kita bisa meyakini bahwa sesuatu yang ada itu pasti disebabkan oleh sesuatu yang juga ada. Jadi kita ada, bumi dan alam semesta ini ada pasti ada yang menyebabkan semua itu itu ada, dan itulah Tuhan.” Jawab pak Hamid.
“Tapi kalo Tuhan itu ada, kenapa tak satu manusia pun, atau satu catatan pun yang menyatakan pernah melihat Tuhan atau minimal melihat jejak tuhan misalnya atau apalah yang bisa jadi bukti kongkrit gitu pak ?” Tanya Syifa lanjut.
“Karena Tuhan itu Maha besar mbak Syifa sehingga kita tak mampu melihatnya.” Jawab pak Hamid.
“Kalo Maha Besar kan justru bisa dilihat pak, kalo gak bisa dilihat kan berarti kecil banget sampai tidak terlihat.” Tanya Syifa bingung.
“Kenyataanya tidak begitu mbak Syifa, saking besarnya pun tidak bisa dilihat kok ?” jawab pak Hamid.
“Contohnya apa itu pak ?” Tanya Syifa.
“Mbak syifa pernah lihat kucing ?” Tanya pak Hamid.
“Pernah lah pak, tapi apa hubungannya dengan ini ?” Tanya Syifa makin gak faham.
“Kucing itu punya kutu kan ?” Tanya pak Hamid lagi.
“Iya pak terus ?” lanjut Syifa.
“Kutu itu punya mata juga tapi gak pernah lihat bumi yang sangat besar sehingga dia mungkin gak percaya jika bumi itu ada. Bahkan kita juga gak pernah bisa lihat planet lain yang lebih besar dari bumi. Bahkan Matahari pun kita hanya mampu melihat sinarnya gak akan mampu melihat ujut Mataharinya. Karena keterbatasan mata kita mbak Syifa.” Jawab pak Hamid.
“Kalo kutu itu kan binatang pak, sedang kalo kita manusia bisa melihat planet dan antariksa yang luas dengan alat khusus kan jadi kita bisa percaya jika planet itu benar benar ada.?” jawab Syifa.
“Betul, dan kita juga bisa merasakan keberadaan Tuhan itu juga butuh alat khusus, yaitu IMAN.”JAwab pak Hamid.
__ADS_1
Syifa terdiam sesaat, dia merasakan jawaban pak Hamid agak muter muter kurang jelas.
“Tunggu pak, kok jawaban  bapak muter muter ya rasanya. Butuh alat untuk merasakan keberadaan Tuhan namanya IMAN. Bagaimana bisa pak, kalo sudah ada iman jelas kita sudah percaya Tuhan itu ada kan ?” protes Syifa.
“Tadi awalnya mbak Syifa nanya butuh bukti Tuhan itu ada, saya jawab Tuhan itu yang menyebabkan alam semesta ini ada. Karena sesuatu yang ada pasti di sebabkan oleh sesuatu yang juga ada. Itu dulu sepakat atau belum ?” tanya pak Hamid.
“Iya kalo itu saya sepakat pak.” Jawab Syifa.
“Ok, berarti dengan kata lain tidak mungkin sesuatu yang tidak ada menyebabkan sesuatu menjadi ada, sepakat ya ?” kata pak Hamid.
“Iya saya sepakat, juga kalo itu ?” jawab Syifa lagi.
“Alam semesta beserta isinya ada itu real kan ?” Tanya pak Hamid.
“Iya jelas itu real pak ?” jawab Syifa.
“Sesuatu yang real ada itu pasti disebabkan oleh sesuatu yang real ada, tadi sudah sepakat kan. Terus siapa yang menyebabkan alam semesta ini ada ? jawabnya harus real Sesuatu yang ada atau ujut.” Kata pak Hamid.
Syifa bingung mendapat pertanyaan seperti itu, Syifa tak mampu menjawabnya.
“Syifa gak tahu pak, dan kayaknya semua orang gak ada yang tahu yang menyebabkan alam semesta ini ada ?” jawab Syifa.
“Tapi yakin ada penyebabnya yang ujut ?” Tanya pak Hamid.
Agak lama Syifa terdiam,kemudian dia menjawab.
“Iya pak Syifa yakin ada, tapi belum yakin itu yang disebut Tuhan. Mungkin juga sesuatu yang lain yang sudah tak ada lagi atau sudah mati.” Jawab Syifa.
“Sesuatu yang ditinggal mati ole pembuatnya berarti tidak terjaga dan pasti sudah rusak. Alam semesta ini sudah berapa ribu tahun masih sama. Bumi dan planet lain masih berputar pada porosnya juga berputar mengelilingi matahari sesuai orbitnya. Berarti yang menciptakan tidak mati dan masih menjaga alam semesta ini beserta isinya. “ jawab pak Hamid.
Syifa sedikit memahami maksut pak Hamid, sehingga dia terdiam sejenak mencerna setiap kata pak Hamid.
“Apakah itu Tuhan pak ?” Tanya Syifa.
“Iya itulah tuhan, yang diyakini setiap orang yang ber agama.” Jawab pak hamid.
“Lalu kenapa kalo Tuhan itu ada tidak mau menampakkan diri-Nya dan kenapa membiarkan orang yang tidak percaya kepada-Nya ?” Tanya Syifa lagi.
“Tuhan masih member kesempatan agar orang itu menyadari, sampai ketika nyawa dicabut nanti.” Jawab Pak Hamid.
“terus tadi tentang kutu dan sebagainya tadi maksutnya apa pak ?” Tanya Syifa kemudian.
“Itu menunjukkan bahwa tidak semua yang ada itu bisa dilihat dengan mata telanjang. Entah saking kecilnya atau saking besarnya. Tapi kita harus yakin sesuatu yang ada dan menyebabkan Alam semesta dan isinya itu ada. Tidak perlu repot berusaha untuk melihat-Nya karena kita melihat Matahari ciptaan-Nya saja tidak akan mampu jika dengan mata telanjang.” Ucap Pak Hamid.
“Baiklah pak, untuk kali ini cukup dulu kalo kebanyakan Syifa malah jadi pusing. Bantu Syifa agar bisa meyakini jika Tuhan itu memang ada pak.” Jawab syifa sambil berpamitan Pulang ke rumahnya.
Pak Hamid dan istrinya pun merasa lega akhirnya ada perkembangan yang baik pada diri Syifa.
*****
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1
Â
Â