Cinta Asteria

Cinta Asteria
Bram di skors


__ADS_3

Karena kegaduhan yang terjadi telah di dengar oleh semua bagian sampai kepada pihak direksi dan semua petinggi perusahaan pun hadir disitu, termasuk manager personalia yang merupakan tangan kanan dan penyambung lidah owner yaitu mamahnya Astri dan Hendra.


“Ada apa ini ribut ribut ?” Tanya manager personalia yang mengejutkan semua yang ada di situ.


Semua terdiamtak ada yang berani membantah manager personalia tersebut. Kemudian manager marketing itu menjelaskan apa yang terjadi, kemudian manager personalia meminta manager marketing dan beberapa perwakilan karyawan untuk masuk keruangan dia. Permasalahan yang ada akan diselesaikan di ruangan manager personalia.


Kemudian Bram diikuti dua orang lainya masuk kedalam ruangan manager personalia. Dan Aster pun ikut diundang sebagai orang yang  dituduh ada skandal dengan manager marketing itu.


Diruang Personalia yang cukup luas.


“Saya harap semua bisa berakhir dengan damai tidak ada masalah setelah ini.” Ucapan manager personalia membuka pembicaraan.


“Silahkan dari wakil karyawan yang merasa ada keputusan perusahaan yang dianggap tidak adil. Silahkan menyampaikan pendapatnya, barang kali bisa menjadi masukan.


“Bram yang sebelumnya tampak gigih dan tegas didepan manager personalia nyalinya tampak menjadi ciut. Bahkan untuk bicarapun tampak gugup tidak ada wibawa sama sekali.


Namun apa yang dia sampaikan sudah ditangkap isinya oleh manager personalia dan juga Aster.


“Ibu Aster sendiri bagaimana menghadapi keberatan dari pak Bram seperti itu. apakah ada sesuatu yang akan disampaikan.


“Begini pak, jadi dari awal saya memang menyatakan sanggup untuk diberi tugas ini, bukan mengajukan diri tanpa pertimbangan yang masak. Aster sadar masih baru bekerja disin, tapi sebagai bentuk loyalitas saya pada perusahaan makanya saya menyatakan sanggup. Karena kebetulan saya mengenal owner dan anaknya adalah teman kuliah saya saat masih di jepang dan sampai sekarang kami masih saling berhubungan. Bahkan sudah ada pembicaraan dengan teman saya itu terkait dengan rencana perusahaan ini yang akan join dengan perusahaanya. Karena sekarang Saham sudah diserahkan kepada teman saya tersebutt.” Jawab Aster.


Mendengar kata kata Aster tersebut Bram dan lainya menjadi tak berkutik karena mengakui tidak akan mampu menandingi apa yang sudah dapat dilakukan Aster.


“Maaf bu Aster atas kesalah pahaman ini, saya akan coba redakan kesalah pahaman temen temen yang lain.” Kata Bram.


“Ya haruslah, dan Aster gak mau persoalan ini merembet ke hal lain artinya tidak mau lagi dikemudian hari ada kejadian kejadian seperti ini.” kata Aster.


Maka bubarlah pertemuan itu, yang akhirnya Bram dan kawan kawan tak berkuitik dihadapan Aster. Namun masih ada dendam pribadi manager marketing yang dituduh ada hubungan khusus dengan Aster. Tapi tidak diungkap di depan Aster tadi, mengingat takut Aster marah besar. Sementara ada pesan dari Astri dan mamahnya jika tidak ada yang boleh memarahi Aster dan Asih kecuali Astri sendiri.


“Aku harus selesaikan ini sendiri dengan Bram, aku tahu jika dia mengincar kursi jabatan manager marketing yang aku duduki ini. Tanpa tahu bahwa untuk menduduki jabatan ini dulu aku harus berjuang keras mencapai target perusahaan bahkan bisa ocer target.” Kata manager Marketing itu dalamn hati.


Sesampai diruanganya manager marketing itu, kemudian memanggil OB untuk memanggilkan Bram agar menghadapnya. Dan OB pun segera mencari Bram dan menyampaikan pesan tersebut. Bram yang sudah merasa ketakutan langsung bersiap menuju keruamgan manager tersebut dengan perasaan takut dimarahi dan terbongkar jika semua itu tadi adalah ulahnya.


“Selamat siang pak, ada perintah apa memanggil saya ?” ucap Bram yang tak langsung dijawab oleh manager marketing tersebut.


“Duduk dulu kamu, ada beberapa hal yang harus aku tanyakan seputar kejadian tadi.” Kata manager marketing tersebut.


Bram semakin pucat dan berkeringat dingin, perihal apakah yang akan ditanyakan kepadanya. Apakah seputar tuduhan skandal atau apa,pikir Bram yang semakin nervous.


*****


 


Kita tinggalkan Bram yang sedang disidang sang manager, kita kembali melihat keadaan Hazel yang sedang bersama Andi.


“Ndi. Maaf ya jika aku mengganggu waktumu saat ini.” Ucap Hazel sambil menerima suapan dari Andi.


“Iya Hazel gak papa kok.” Jawab Andi berbohong.


“Nak Andi, om dan tante mau lihat suasana rimah dulu ya. Dah lama gak dilihat mau kan nak Andi nemenin Hazel dulu ?” pinta orang tua Hazel yang akan melihat keadaan rumahnya setelah beberapa hari di tinggal.


“Lah kan ada pengurus rumah kan mah, pah. Ngapain papah dan mamah repot repot harus pulang kerumah ?” kata Hazel.


“Ya mamah pingin saja lihat rumah, kan beberapa hari gak pulang dan sekarang kamu juga sudah baikan dan sudah kembali memori kamu !” jawab mamah Hazel.


“Iya sih, tapi jangan lama lama ya mah pah, nanti tetep kesini jangan nginep dirumah dulu.” Pinta Hazel manja pada orang tuanya.


“Iya sayang, iih gakmalu apa manja gitu didepan nak Andi ?” kata Papahnya Hazel.


“Biarin aja pah, Andi juga kalo dirumah juga suka manja kok, ya gak Ndi !?” kata Hazel sambil senyum memperlihatkan gigi gingsulnya yang menambah manis saat tersenyum.


“Iya lah terserah Hazel saja mo ngatain Andi manja anak mami atau apapun terserah  yang penting Hazel seneng dan cepet sembuh.” Jawab Andi enteng. Disambut tawa kedua orang tuanya.


“Yaudah nak, Andi titip Hazel dulu kalo Hazel nakal boleh kok dicubit tapi pelan saja ya ?” goda mamah Hazel.


Giliran Andi dan Hazel yang jadi tersipu sipu malu, mendengar ucapan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Maka tinggalah Hazel bersama Andi saja diruangan itu.


“Ndi, mamah sama papah tadi tahu gak ya saat kamu cium Hazel ?” Tanya Hazel.


“Gak ngerti aku Haz, lagian kamu masih sakit juga mikirnya yang gak gak mana minta dicium lagi kan malu tadi Andi azel ?” jawab Andi.


“Gak papa lah Andi, kita kan sudah dewasa jadi wajar kan sekedar ciuman aja, lagian Hazel memang kangen banget sama kamu Andi. Rasanya susah mau ninggalin kamu Ndi ?” ucap Hazel yang tiba tiba menangis sambil menggenggam tangan Andi.


Andi menjadi semakin bingung dengan sikap Hazel, ternyata hati Hazel begitu rapuh. Dulu saat hazel mengatakan jika Andi lebih memilih Asih Hazel akan tetap menganggap Andi sebagi sahabat, Andi menganggap hazel adalah Gadis yang tegar dan kuat. Tapi saat ini begitu melihat dampak dari Andi berpacaran dengan Asih menjadi begitu maka barulah Andi tahu jika hati Hazel itu rapuh. Andipun menjadi serba salah dengan sikap Hazel yang begitu.


Jika Andi tetap bersama Hazel maka Andi akan menyaksikan Hazel yang terguncang hatinya. Namun jika Andi keudian memilih Hazel, selain mengingkari hati nuraninya maka Asihpun bukan tidak mungkin akan sama seperti Hazel. Andi yang pada dasarnya kurang tegas dalam mengambil sikap itupun menjadi semakin bimbang dalam mengambil sikap. Andi benar benar dihadapkan dengan kondisi yang sulit, harus memilih salah satu dari dua pilihan yang sama beratnya bagi Andi.


Andi hanya bisa berharap, jika Hazel bisa cepat move on darinya dan segera mendapatkan seseorang yang mampu mengisi hatinya. Dan yang Andi tahu saat ini, orang yang mengejar Hazel adalah Wawan sahabatnya. Oleh karena itu Andi begitu berharap Wawan mampu meluluhkan hati hazel, namun dalam hal inipun Andi tak sanggup berbuat apapun. Karena Andi sendiripun tidak dapat memberikan saran apapun kepada Wawan agar mampu meluluhkan hati Hazel.


Andi sendiri merasa bukan orang yang bisa membuat hati seorang wanita menjadi luluh. Bahkan dia sendiri dalam mendapatkan Asih kekasihnya harus ada campur tangan Aster dan Astri yang membantu menyatukan mereka, jika tidak mungkin dia saat ini masih berstatus pacar Hazel. Dan itulah yang justru menjadi sumber permasalahan hazel sampai mengalami kecelakaan.


Yang tidak diketahui Andi adalah bahwa saat inipun baik Aster, maupun Astri sedang mmenghadapi permasalahan yang cukup rumit. Disamping urusan pekerjaan, Aster juga sedang mengalami kegalauan yang hanya Aster sendiri yang merasakan. Betapa hati Asterpun gelisah karena sampai saat inipun dia belum dapat merasakan getaran cinta terhadap seorang lelaki. Aster ingin bisa measakan jatuh cinta dan mencitai laki laki,namun entah kenapa sampai sekarang Aster belum juga dapat merasakan itu. kegelisahan hati yang hanya Aster sendiri yang dapat merasakan.


Meski Aster merasa dirinya masih normal dan menyukai lelaki yang tampan dan ganteng, tapi sejauh ini semua itu hanya sebatas rasa suka biasa saja. Aster tak dapat merasakan getaran cinta pada lelaki yang mampu membuatnya merasa selalu ingin bertemu atau memandang wajah seseorang. Atau merasa rindu pada seseorang yang bila beberapa hari tidak bertemu. Seperti yang Aster dengar dari teman temanya yang selalu menceritakan perasaan hatinya ketika sedang jatuh cinta pada seseorang.


Andi yang dalam kondisi kebingungan dalam mengambil sikap itu berpikir untuk meminta bantuan Aster. Namun ada keraguan dalam hatinya, takut apa bila Aster sendiri sedang sibuk dalam pekerjaanya, karena Aster baru saja masuk kerja dan belum genap sebulan. Andi mencoba mencari seseorang yang dapat membantunya dalam menyelesaikan masalah ini.


Sambil membuka buka phone book di hp nya siapa tahu menemukan orang yang dapat dihubungi untuk membantu Andi, atau minimal bisa dimintai pendapat atau sekedar menjadi pendengar yang mau menampung curahan perasaanya yang sedang kalut.


“Ndi kamu mau telpon siapa, kok sibuk banget membuka ponsel dari tadi. Apakah kamu kangen Asih, kalo mau telpon Asih gak papa kok Ndi hazel maklum.” Kata Hazel membuat hati Andi semakin terasa perih.


“Gak kok Haz, Andi pingin hubungi Wawan mengabarkan kalo kamu sudah ingat semuanya. Tapi Andi ragu, karena hari ini dia mau kekampus katanya. Jadi Andi takut mengganggu jika menghubungi dia sekarang.” Jawab Andi berbohong.


“Owh, Hazel boleh cerita nggak ndi soal Wawan ?” ucap Hazel.


“Boleh Hazel, cerita saja Andi akan siap mendengarkan cerita kamu.” Jawab Andi.


Kemudian Hazel menceritakan saat Hazel mau pulang dari acara konser private nya Andi dalam acara sukuranya Aster dan Asih saat itu. dimana Wawan mengejar Hazel dan menyatakan keinginanya untuk menjadi kekasih Hazel. Kemudian Hazel pun menyampaikan pada Wawan jika saat ini hati Hazel masih tertutup bagi lelaki. Namun Wawan katanya sanggup menunggu Hazel sampai mau membuka Hatinya untuk Wawan. Dan Hazelpun merasa kasihan pada wawan jika ternyata Hazel tak mampu memberikan hatinya pada Wawan.


Andi yang mendengar cerita Hazel itupun membatin, bahwa itu pula yang dirasakan Andi saat ini pada Hazel. Atau justru Hazel yag sedang menyindir Andi,pikir Andi.


“Eeh gak salah sih Haz, tapi bagaimana nanti nasip Wawan jika terlalu berharap padamu ?” tanya balik Andi.


“Gak tahu juga Ndi, bahkan Hazel sendiri juga gak tahu nasip Hazel kedepan bagaimana ?” jawab Hazel.


Andi menjadi pucat mendengar jawaban Hazel yang sengaja atau tidak itu telah menyindir Andi yang saat ini Hazelpun berharap cinta Andi. Seperti halnya Wawan yang mengharapkan cinta Hazel, sehingga membuat Andi jadi terdiam.


“Maaf ya Ndi, kalo kata kataku membuat kamu tersinggung. Tapi memang begitulah kenyataanya, awalnya Hazel juga yang salah memupuk cinta Hazel. Sementara yang Hazel cintai hatinya sudah tergadaikan pada orang lain. Sehingga saat cinta di hati Hazel tumbuh semakin subur justru harus layu seketika.” Ucap Hazel lirih dan dengan linangan air matanya.


“Cinta itu memang unik Hazel, seperti juga jodoh juga unik dan penuh misteri. Kita boleh mencintai siapapun namun Tuhan telah menuliskan takdir kita nanti akan menikah dengan siapa. Kita gak pernah tahu Haz, itu sudah rahasia Tuhan.” Jawab Andi dengan asal sekedar menjawab perkataan Hazel.


“Owh iya Haz, saat ini sebaiknya kamu berpikir agar kamu segera sehat dulu saja. Gak usah berpikir yang lain. Nanti kalo sudah benar benar sehat baru boleh mikirin yang lain.” Jawab Andi.


“Sulit Ndi, karena Hazel sakit penyebabnya masalah itu jadi sulit melupakan itu Ndi. Jadi Hazel gak bisa begitu saja melupakan sumber masalah Hazel Ndi.” Jawab Hazel.


Andi celingukan mendengar perkataan Hazel yang secara tersirat namun jelas mengatakan bahwa Hazel saat ini tidak mau ditinggalkan Andi begitu saja.


“Terus mantan kamu yang bernama Bram itu sekarang bagaimana kabarnya Hazel.” Tanya ndi mengalihkan pembicaraan.


“Hazel gak mau denger namanya lagi Andi, dia tega berkhianat selingkuh di depan mataku dengan pacar teman dia sendiri. Dan itu yang membuat Hazel memilih putus denganya.” Jawab Hazel.


“Apakah dia sekarang sudah menikah dengan gadis itu Hazel ?” Tanya Andi kemudian.


“Sejak peristiwa itu Hazel sudah tidak mau mendengar kabar tentang dia lagi dan langsung mengganti no ponselku. Agar tak lagi dihubungi olehnya, dia mau menikah dengan siapapun sudah gak Hazel pikirin sekarang.” Jawab Hazel.


“Kalo misalnya kalian kemudian bertemu apa yang akan Hazel katakana padanya ?” Tanya Andi.


“Hazel akan menghindar bertemu denganya, kalo misalnya bertemu pun Hazel akan memilih tidak mengenali dia lagi.’ Jawab Hazel.


Tanpa diketahui oleh Hazel dan Andi bahwa Bram yang mereka bicarakan saat ini sedang menjadi musuh Aster dan sedang menyusun rencana untuk menjatuhkan Aster. Dan berharap Aster dikeluarkan dari perusahaan, karena Bram beranggapan bahwa Aster adalah batu sandungan dalam usahanya meniti karir di perusahaan tersebut. Namun sayangnya justru Bram lah yag sekarang posisinya ternacam karena gagal memfitnah Aster dan manager marketing. Sehingga dia terpaksa haru menahan malu didepan semua rekan kerjanya dan terpaksa meminta maaf kepad Aster. Dan saat ini sedang berhadapan langsungg dengan Manager Marketing yang dia fitnah dann akan digulingkan sebelumnya.


*****

__ADS_1


 


Kembali kita lihat nasib Bram yang sedang di interogasi oleh manager marketing.


“Apa maksut Bapak Bram mengkoordinir karyawan untuk berontak dan mengatakan kalo keputusan itu adalah keputusan sepihak dariku. Sehingga ada yang beranggapan jika Ku dan bu Aster ada hubungan khusus, atau dengan kata lain menuduh ada skandal ?” Tanya manager marketing pada Bram.


“Maaf pak, semua itu memang hanya salah faham saja. Kami semua tidak tahu bahwa itu adalah keputusan seluruh dewan direksi. Dan kami juga tidak tahu jika ternyata bu Aster meiliki akses yang kuat ke perusahaan asing tersebut.” Jawab Bram sambil tertunduk.


“Bukankah sudah dri awal sudah isampaikan seperti itu, tapi kalian yang tidak mau tahu bahkan malah menuduh aku membuat keputusan sepihak dan menuduh aku dan bu Aster ada skandal. Kemudia kamu memprovokasi karyawan lain agar berontak. Nah sekarang ini kalo kasus ini aku perpanjang, tuduhan terhadapku dan bu Aster aku ungkap maka habislah riwayat kamu disini.” Kata Manager marketing itu.


Bram tak mamou lagi menjawab hanya diam tertunduk, karena semua yang ia tuduhkan tak satupun yang mengarah kepada kebenaran. Tak satu pun bukti penguat tuduhanya, baik tuduhan itu keoutusan sepihak sampai dengan tuduhan adanya skandal antar a manager marketing dengan Aster.


“Untuk itu aku akan membicarakan dengan manager personalia, dan sementara waktu kamu aku kasih waktu untuk istirahat. Sampai batas waktu yang belum ditentukan menunggu keputusan dari dewan direksi.” Kata manager marketing tersebut.


“Apakah maksutnya saya dipecat pak ?” tanya Bram dengan muka merah karena takut juga marah. Karena merasa sudah banyak berkontribusi pada perusahaan tersebut.


“Belum tentu begitu juga, tapi bisa jadi juga begitu tergantung hasil musawarah dewan direksi nanti. Karena saat ini memang baru ada rencana pembersihan karyawan yang tidak atau kurang baik.” jawab manager marketing tersebut.


“Tolong pak jangan pecat saya, saya mengaku salah tapi jangan pecat saya saya masih pengantin baru yang butuh pekerjaan ini pak.” Pinta Bram.


“Saya juga tidak akan pecat kamu, karena itu bukan kewenanganku. Banyak banyaklah berdoa saja. Karena rapat direksi yang akan menentukan sangsi kamu nanti. Sekarang silahkan kamu berkemas dulu dan beristirahat dirumah serta banyak berdoa agar sangsi kamu tidak sampai di PHK.” Jawab manager marketing mempersilahkan Bram meninggalkan ruanganya dan menyuruhnya pulang.


Bram pun berlalu dengan muka sedih, meninggalkan ruangan itu dan berkemas untuk pulang. Bahkan ketika ditanya teman temanya pun Bram tidak menjawab sepatah katapun. Dia hanya berlalu dan pergi meninggalkan kantor itu pulang menuju ke kediamanya.


Sesampai dirumahnya Bram hanya mampu menyesali dan merenungi atas tindakan yang diakukan tadi. Sebuah penyesalan yang terlambat karena sudah berdampak luas, dampak akibat dari pemikiran dangkal yang dia perbuat.


Akhirnya Bram tertidur dan pada sore hari di bangunkan istrinya, sepulang dia bekerja.


“Pah, tumben sudah sampai dirumah biasanya malam baru sampai rumah. Apa lagi gak enak badan, perlu mamah pijitin atau mamah anter periksa ke dokter ?” Tanya istri Bram.


“Gak kok mah, paph gak sakit tapi papah di skors mungkin juga akan di PHK nunggu hasil rapat dewan direksi. Maaf ya mah, kalo papah saat ini jadi pengangguran.” Kata Bram lesu.


“Lah memang papah salah apa kok sampai di skors ?” Tanya istri Bram yang bernama Rina Saraswati. Seorang yang berhati lembut sebenarnya, dn tidak banyak menuntut kepada suaminya.


“Iya ada masalah dikantor dan papah protes dengan teman teman tapi malah papah di skors.” Jawab Bram menutupi kejadian yang sebenarnya.


“Yaudah pah gak papa, kalo terpaksanya di PHK ya cari kerjaan lain atau buka usaha sendiri saja malah lebih bebas.” Hibur Rina Saraswati istri Bram.


“mamah gak kecewa kalo misalnya papah jadi pengangguran terus terpaksa buka usaha kecil kecilan. Biasanya terima gaji tiap bulan kemudia tidak bisa memberikan gaji bulanan papah ke mamah ?” Tanya Bram ke istrinya.


“Papah pikir yang mamah cari uang papah, kan kita menikah dulu bukan karena uang pah. Jadi mau papah punya gaji bulanan atau sekedar pendpatan harian dengan jumlah kecil sekalipun bagi mamah gak ada masalah. Asal papah sudah berusaha berapapun mamah terima. Toh mamah juga bisa bantu bantu cari uang kan sekarang ini.” kata Rina istri bram yang membuat hati Bram menjadi lebih tenang.


Begitulah kestiaan seorang istri yang sedng diuji mana kala suaminya sedang jatuh terpuruk, kehilangan pekerjaan tidak punya penghasilan tetap lagi. Dan istri Bram menunjukkan kesetiaanya dengan menyembunyikan kekecewaanya. Rina saraswati tetap berpura pura tegar dan menyemangati suaminya agar tidak down. Meski hati kecilnya juga merasa sedih dan kecewa, namun semua itu tidak ia tampakkan dihadapan suaminya. Bahkan dia memberi support pada suaminya agar tetap semangat dan berusaha mencari pekerjaan lain atau membuka usaha sendiri. Kesetiaan seorang Rina saraswati memang patut mendapat acungan jempol. Namun apakah Bram juga akan bersikap setia ketika kesetiaan dia yang nanti akan diuji ?


...bersambung...


Terimakasih atas semua bentuk suport yang diberikan.


Jangan sungkan untuk memberikan saran dan kritik yang membangun.


...Juga suport nya berupa...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...🙏🙏🙏...


...Terima kasih...


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2