Cinta Asteria

Cinta Asteria
Pembicaraan Daniel dan Mr. X


__ADS_3

🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Daniel pun hanya tersenyum merasa bangga dengan sanjungan Palsu yang diberikan oleh orang yang mengaku bernama Haryanto tersebut. Daniel yang mabuk sanjungan, Daniel yang lupa diri akan masuk ke perangkap setan dank an dipaksa untuk menjadi penghianat perusahaan. Bahkan itu bisa menghancurkan karir Daniel bahkan Jiwa Daniel sendiri, tanpa dia sadari. Dengan semangat Daniel mempersiapkan diri untuk memenuhi undangan malam nanti…!!!


Malamnya Daniel pun bersiap berangkat menuju ke tempat yang tertulis di undangan tersebut. Dengan dandanan yang rapi Daniel segera melangkah keluar dan berpamitan kepada istrinya.


“Ma papa mau menghadiri undangan mewakili perusahaan, doakan saja urusanya lancar. Dan juga bisa memberikan kemajuan bagi perusahaan pak Hendra.” Pamit Daniel kepada istrinya.


“iya pa hati hati, kalau bisa jangan pulang terlalu malam kan besok harus berangkat pagi.” Jawab istri Daniel.


“Iya ma, papa usahakan pulang secepatnya.” Kata Daniel sambil mencium kening istrinya sebelum berangkat. Meski hal itu sekarang tidak pernah lagi didapatkan istri Daniel, semenjak itu.


Berangkatlah Daniel ke sebuah tempat , dan sudah ditunggu beberapa orang di sana. Dan ternyata orang orang itu memang hanya menunggu Daniel saja.


“Silahkan pak Daniel, kami sudah cukup lama menunggu kehadiran pak Daniel. Karena tanpa kehadiran pak Daniel acara mala mini tidak mungkin bisa terlaksana dengan baik.” Ucaap salah seorang yang berada di situ.


“Aah bapak bapak terlalu berlebihan, saya kan hanya karyawan pak. Dan kalau boleh tahu bapak bapak ini siapa dan dari perusahaaan mana saja ya ?” tanya Daniel yang mulai merasa ada yang aneh.


“Itu nanti pak, ada sesi perkenalan sendiri. Yang jelas kami sangat menunggu kedatangan pak Daniel mala mini.” Ucap rangtersebut mengalihkan pembicaraan. Dan Daniel pun yang masih mabuk pujian itu akhirnya hanya mengikuti  arahan dari orang orang yang ada di situ tanpa mengenak nama dan asal perusahaan mereka.


Pikiran Daniel seperti sudah tercuci dengan sanjungan sanjungan yang sengaja dibuat sedemikian rupa agar Daniel merasa melayang. Sebelum rencana asli mereka yang licik di sampaikan.


“Begini pak Daniel, kita masih menunggu nara Sumber kita dulu untuk menyampaikan visi misi pertemuan mala mini. Agar kita semua paham dan bisa sdaling bekerja sama.” Ucap salah seorang di antaranya. Daniel yang melihat di situ hanya ada tiga orang itu sebenarnya merasa agak aneh atau curiga. Namun seperti orang yang sedang terbuai olehsanjungan sehingga akal jernihnya tidak dapat bekerja dengan baik.


“Tapi, tanpa tahu nama kayaknya saya gak bisa bicara secara plong, seperti ada jarak yang jauh dengan bapak bapak semuanya.” Ucap Daniel dalam kondisi sedikit merasa aneh.


“Baiklah, panggil saja saya Jeremy, dan yang di samping saya ini Adlan dan yang itu adalah Charles. Kami mau menjalin kerja sama dengan pak Daniel, tapi lebih jelasnya kita menunggu kehadiran satu orang lagi yang akan menjelaskan.” Ucap Jeremy.


Owh bapak Jeremy, bapak Adlan dan Bapak Thomas nah kalau begini kan enak. Apa bapak dari satu perusahaan atau beda perusahaan pak ?” tanya Daniel. Kemudian Thomas yang menjawab pertanyaan Danie.


“Owh kami ini beda kantor atau perusahaan namun masih dalam naungan satu perusahaan Induk pak Daniel. Nanti pak Daniel akan tahu sendiri kalau acara sudah dimulai.” Ucap Thomas.


Harap harap cemas juga Daniel sebenarnya, masih belum bisa mencari apa sebenarnya tujuan mereka mengundang Daniel ke tempat ini. Suasananya memang Asri dan indah, tapi Daniel justru merasakan sesuatu yang agak ganjil.


“Hmmm… perusahaan apa itu pak ?” tanya Daniel pada Thomas.


“Tenang pak Daniel, pak Daniel nanti pasti akan tertarik . karena selain menguntungkan juga akan menjadikan pak Daniel bisa menjadi seorang yang lebih berperan dalam sebuah perusahaan.” Jawab Thomas. Sementara Adlan hanya banyak diam saja, tidak banyak bicara seperti dua orang lainya.


Daniel sendiri bingung dengan keterangan Thomas. Namun Daniel masih tetap sabar menunggu, orang yang di maksud.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian datanglah orang yang berpenampilan rapi dan dengan pengawalan ketat bodyguard. Orang itulah yang di tunggu tunggu dan disebut Mr. X.


Daniel kaget melihat orang tersebut, karena Daniel tahu jika orang tersebut adalah 'Rival' Hendra dalam bisnis.


"Jadi dia yang kalian maksud ?" Tanya Daniel.


"Tenang saudara Daniel, saya bermaksud baik padamu. Jadi jangan gugup begitu, kita akan kerjasama demi mencari keuntungan bersama dalam usaha." Ucap orang itu sambil menghisap cerutu.


"Tapi bapak kan bermusuhan dengan Pak Hendra bos kamu ?" Jawab Daniel.


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, kalau kita bisa saling menguntungkan kenapa tidak kerjasama saja." Sahut orang itu.


"Kerjasama seperti apa maksud nya ?" Tanya Daniel.


"Banyak sekali bentuk kerjasama itu, intinya yang saling menguntungkan saja." Jawab orang itu.


"Susah dipercaya kerjasama dengan bapak." Ucap Daniel.


"Saudara Daniel hanya terpengaruh penilaian Hendra, ya maklum dia masih terlalu muda untuk memegang sebuah perusaan." ucap Mr. X tersebut.


Daniel mulai terpengaruh, ucapan Mr. X tersebut membuat Daniel jadi agak luluh.


"Maksud Mr. X bagaimana?" Tanya Daniel.


"Hendra itu masih muda, belum pantas pimpin perusahaan. Perusahaan bisa bertahan dan maju itu karena disitu ada peran saudara Daniel, coba kalau tidak ?" kata Mr. X.


"Nah itulah, kenapa saudara yang aku undang bukan yang lain. " kata Mr. X.


"Terus kerjasama bagaimana maksudnya?" Daniel sudah mulai luluh.


"Kita rayakan dulu pertemuan ini, soal bisnis itu mudah." Ucap Mr. X.


"Baiklah, asal tidak berusaha menjebak aku saja." Ucap Daniel.


Mereka pun kemudian minum bersama dan segera memanggil waiters untuk pesan menu makan. Daniel seperti terkena sihir mendadak luluh dan hanya menuruti apa kata Mr. X.


"Begini kan lebih santai saudara Daniel ?" kata Mr. X.


"Iya bos, baru kali ini Daniel merasa santai dalam berbicara bisnis." jawab Daniel setengah mabuk.


"Selain gaji, fasilitas apa yang anda peroleh dari Hendra ?" Tanya Mr. X memancing.


"Tidak ada bos, hiks... hanya diberi ucapan makasih saat Pak Hendra belum aktif ngantor. " Jawab Daniel mulai masuk perangkap Mr. X.


"Wah itu keterlaluan namanya, harusnya diberi saham karena membantu selama Hendra gak aktif." ucap Mr. X memanas manasi Daniel.


Daniel yang memang sedang terpengaruh alkohol pun jadi tidak bisa berpikir panjang.


"Iya ya bos ?" ucap Daniel.

__ADS_1


"Harusnya begitu, kayaknya kalau perusahaan masih di pegang Hendra aku agak ragu kerjasama dengan nya." Kata Mr. X mengompori Daniel.


"Tapi bagaimana lagi bos sebenarnya memang cakap Astri adiknya memang." kata Daniel yang makin gak kontrol.


"Kenapa harus Adiknya, bukan Daniel saja ?" kata Mr. X.


"Kan saya hanya pegawai bos, jadi gak mungkin." jawab Daniel.


"Lah bukanya kamu dulu punya surat kuasa memegang perusahaan dari ayahnya Hendra?" tanya Mr. X.


Daniel mulai berpikir sesuai dengan kemauan Mr. X.


"Iya juga ya, tapi itu hanya Sementara bos dalam surat kuasa itu ada pasal demikian." kata Daniel.


"Tertulis sampai kapan?" tanya Mr. X


"Sampai batas waktu tertentu, ketika Pak Hendra sudah sido." jawab Daniel.


"Kalau kamu mau, surat kuasa itu bisa kok kita ganti agar kamu bisa menjadi penguasa di perusahaan tersebut." kata Mr. X.


Daniel yang sudah cukup kehilangan kesadaran itu tidak dapat lagi menggunakan akalnya. Dia jadi muncul serakahnya, dan berpikir menguasai perusahaan Hendra.


"Yang benar bos?" tanya Daniel penasaran???


...Bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Reader semuanya.


Komentar reader semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Reader semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


__ADS_2