Cinta Asteria

Cinta Asteria
Pertemuan Astri dan Arya


__ADS_3

Episode 36


Belum sempat minuman yang dipesan diminum tiba tiba Aster


dikejutkan dengan kedatangan seorang laki laki yang langsung menepuk pundaknya.


“Hai apa kabar, maaf aku dulu terus pulang ke bandung jadi


gak sempat nyari kamu. Dan sekarang aku bru sempat kembali kesini mau mencri


kamu, eeh malah ketemu disini.” Ucap laki laki itu tanpa member kesempatan


Aster ngomong.


Aster yang paling tidak suka dicolek lelaki jadi spontan


marah.


“Kamu jadi orang sopan dikit bisa gak sih, mang siapa kamu


berani berani nyolek gue. Lo pikir gue cewek murahan, haa….” Kata Aster sambil


melotot.


Laki laki itu jdi bingung mendengar jawaban Aster yang


sangat marah dan melotot memandang mukanya tanpa berkedip.


Bahkan seisi penghuni warung pun kaget melihat kemarahan


Aster, termasuk Nisa sahabat barunya.


“maaf mbak, sungguh saya salah duga saya kira mbak adalah


Astri teman saya dulu. Wajah mbak agak mirip, jika mbak gak bicara saya tidak


tahu kalo mbak bukan Astri.” Kata pemuda itu ketakutan.


Sementara Aster jadi mereda emosinya setelah tahu duduk


persoalanya.


“Owh jadi kamu teman Astri, lain kali jangan asal nyolek


orang dong. Maaf Aster juga salah sangka, kirain kamu mau kurang ajar.” Jawab Aster.


Sementara Asih dan Nisa jadi tersenyum lega melihat Aster


tak lagi emosi seperti sebelumnya.


“Iya mbak,saya mengaku saya salah mbak, jadi mbak kenal


dengan Astri juga ?” Tanya pemuda itu.


Suasana warung yang sempat tegang sekarang kembali biasa lagi


setelah Aster reda Emosinya.


“Iya Astri adalah sahabat saya, jika yang kamu maksut Astria


yang ini.” Kata Aster menunjukkan foto Astri di pp wa nya.


“Iya mbak, itu Astri sahabat saya, boleh saya minta no wa


nya mbak ?” pinta pemuda itu.


“Maaf, saya gak berani kasih nomer orang tanpa ijin yang


bersangkutan.” Jawab Aster.


“Owh iya mbak, gak papa tapi boleh gak saya minta tolong


mbak kasih no seseorang kepada Astri ?” sahut pemuda itu.


“Nomer siapa itu ?” Tanya Aster.


“Nomer seseorang yang dulu sangat berarti bagi Astri, gak


tahu kalo sekarang mbak.” Jawab pemuda itu.


Aster terdiam sejenak dan berbisik pada Asih sebelum


menjawab perkataan pemuda itu.


“Kamu ingat gak, nama cowoknya Astri yang menghilang waktu


itu ?” Tanya Aster pada Asih setengah berbisik.


“Kalo gak salah namanya Dimas, Aster.” Jawab Asih berbisik juga


pada Aster.


“Tunggu, apakah yang kamu maksut orang itu yang bernama


Dimas ?” Tanya Aster pada pemuda itu.


“Iya bener mbak, saya mau kasih nomer Dimas pada Astri,


sudah dua tahun mereka kehilangan komunikasi. Padahal keduanya saling mencintai


dulunya.” Jawab pemuda itu.


Asih berbisik pada Aster,”gak papa Aster, terima saja


tawaranya siapa tahu Astri juga masih berharap bisa menghubungi Dimas. Bukankah


Astri juga pernah ceritakan Dimas pada kita.” Ucap Asih berbisik.


“Iya juga sih, tapi kita tetap harus waspada beneran begitu


apa tidak. Kita Tanya Astri dulu aja lah.” Jawab Aster berbisik ke Asih.


“Gini saja mas, kebetulan kan Astri tinggalnya juga gak jauh


dari sini. Gimana kalo kita panggil sekarang suruh kesini. Kemudian mas bicara


langsung sama Astri, beneran Astri yang dimaksut atau bukan.” Jawab Aster.


“Baiklah mbak, saya tunggu saya senang sekali jika bisa


bertemu langsung dengan Astri.” Jawab pemuda itu.


“Ok, mas namanya siapa biar saya telponkan Astri.” Kata Aster.


“Sebut saja Arya mbak, Astri pasti sudah tahu jika mbak


sebutin nama Arya.” Sahut pemuda itu yang ternyata adalah Arya sahabat Dimas


pacar Astri dulu.


Aster lantas menelpon Astri,


“Assalaamu ‘alaikum Aster. Ada apa tumben jam segini telpon


?” Tanya Astri.


“Wa’alaikummussalaam Astri, apakah kamu kenal dengan orang


yang bernama Arya. Katanya mau kasih no Dimas ke kamu. Ini orangnya ada


dihadapanku, kalo kamu kenal sekarang juga kamu kesini Astri.” Jawab Aster.


“Owh iya Aster, aku kenal dia sahabat dekat Dimas, kamu


sharelok aku segera kesana sekarang.” Jawab Astri.


Aster langsung menutup telponya dan mengirimkan lokasi dia


berada.


“Sudah mas, mas tunggu disini saja sambil pesan makanan


sebentar lagi Astri datang kok.” Kata Aster.


“Makasih mbak, atas bantuanya. Soalnya saya mau kerumahnya


masih malas ketemu abangnya mbak.” Sahut Arya.


Kemudian Arya pun memesan makanan dan minum. Beberapa saat


setelah mereka menikmati menu makanan yang sudah dihidangkan, datanglah Astri


ketempat itu.


“Hai Arya,,, Beneran kamu Arya sahabat Dimas ?” Tanya Astri


langsung menyapa Arya.


“Ya Allah Astri, aku hamper saja salah orang. Mbak ini aku


kira kamu wajah dan penampilanya mirip banget sama kamu. Aku jadi malu tadi,


maaf ya mbak !” kata Arya.


“Wkakaka… kamu bukan korban pertama kok. Abangku aja pernah


salah sangka dia dikira aku.” Sahut Astri sambil tertawa.


“Udh jangan diungkit yang itu Astri, pesen makan dulu gih.” Kata


aster pada Astri.


“Gak lah, Astri masih kenyang, minum saja kali. Pesen jeruk


hangat satu pak, maaf gak ikut makan masih kenyang nih.” Kata Astri pada


pelayan warung makan itu.


Kemudian Astri dan Arya terlibat obrolan seputar masa lalu Astri dan


Dimas hingga datangnya Hendra abangnya Astri ke kos an Dimas. Yang menghina Dimas


habis habisan sampai Dimas sakit hati dan pergi meninggalkan Astri tanpa


pamitan. Dan Arya sendiri kebingungan mau memberikan no Dimas pada Astri,


karena tahu tahu Atri juga mengganti nomer kontaknya. Sementara mau kerumah


stri enggan bertemu dengan Hendra abangnya Astri yang sombong. untung saja Aster tidak mendengarkan.


“Owh begitu, sekarang posisi Dimas masih berada di jogja kah

__ADS_1


Arya ?” Tanya Astri pada Arya.


“Iya Astri, Dimas masih dijogja bersama kedua orang tuanya.


Dimas gak tahu kalo aku berencana mau memberikan no dia ke kamu. Tapi aku sebagai sahabat


kamu dan dia merasa harus member tahu kamu. Gak tahu Dimas marah apa gak, aku


gak peduli Astri.” Kata Arya.


“Yaudah, nanti biar Astri yang bilang ke Dimas, maksutnya apa


pergi tanpa meninggalkan pesan begitu.” Jawab Astri. Kemudian Arya memberikan


nomer Dimas kepada Astri, dan meninggalkan tempat itu setelah membayar semua pesanan


yang disajiakan bagi mereka.


“Udah gak usah mas, kebetulan kami sedang sukuran biar saya


aja yang bayar.” Kata Aster.


“Gak papa mbak Aster, kebetulan juga saya baru senang bisa


bertemu dengan Astri. Jadi anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya atas


kejadian tadi.” Kata Arya sambil tersenyum.


“Owh yaudah, makasih kalo begitu maafkan Aster juga tadi


sempat marahin kamu ya !” ucap Aster.


Setelah Arya pergi, tak lama kemudian rombongan Asterpun menyusul


meninggalkan warung itu diikuti Astri. Astri mengikuti Aster di belakang, masih


ada yang harus dibicarakan dengan Aster terkait Dimas.


Sesampai di rumah Aster, mereka segera turun dan memasuki


rumah Aster. Nisa tampak kikuk, melihat rumah Aster yang cukup megah, jauh


dibandingkan kos yang ditempatinya, yang hanya ada satu kamar dan kamar


mandinya berada diluar.


“Owh iya, Astri perkenalkan dulu ini rekan kerja Aster


namanya Nisa. Dia staf marketing di bagian filing System. Jadi dia yang mencatat


semua progrees report laju perkembangan usaha di perusahaan.” Kata Aster


memperkenalkan Nisa.


“Wah hebat dong Nisa, kenalin namaku Astri, aku sahabat


Aster waktu anak anak dulu. Meski banyak orang mengatakan kami seperti anak


kembar, tapi sebenarnya tidak ada hubungan darah diantara kami. Meski hubungan


kami justru lebih dari saudara.” Kata Astri pada Nisa.


“Iya, kalian mirip sekilas memang seperti kembar. Namun kalo


diperhatikan betul sih memang beda ya ?” sahut Nisa.


Aster dan Astri hanya tersenyum mendengar ungkapan Nisa.


“Udahlah Nisa, kamu tinggal disini saja bersama kami. Maaf biar


kamu gak perlu mikirin uang kos, agar bisa mengirim biaya sekolah adik adik


kamu yang dirumah.” Kata Aster.


“Wah Nisa gak enak kalo begitu, jadi merepotkan kamu Aster.”


Jawab Nisa.


“Gak lah Nisa, kan Aster juga butuh teman disini.” Jawab Aster.


“Iya Nisa, lebih baik kamu disini sama Aster dan Asih juga,


mereka biar gak kesepian kalo Cuma berdua.” Sahut Astri. Dalam hati Astri


membatin, mungkin Nisa ini bisa dijadikan sahabat untuk ikut membantu


mendekatkan Aster dengan abangnya Hendra.


“Tapi apakah aku gak bikin kalian terganggu jika ikut


numpang tinggal disini ?” Tanya Nisa.


“Jangan bilang numpang begitu Nisa, kedengaranya gak enak


banget. Kita tinggal bersama saja disini, jangan ada istilah numapang lagi.” Protes


Aster.


“Owh iya maaf Aster, maklum Nisaa kan berasal dari kampong jadi


gak ngerti harus bilang gimana.” Jawab Nisa polos.


“Sama aja Nisa kampong maupun kota tidak ada bedanya. Malah Aster


“Maaf ya Asih dan Nisa, Astri mau bicara empat mata dengan


Aster boleh ya. Jangan tersinggung. Nisa sama Asih ngobrol berdua dulu. Astri


dan Aster mau bicara dikamar.” Ucap Astri mohon ijin berdua dengan Aster.


“Iya gak papa kok Astri, silahkan. Biar Nisa ngobrol sama


Asih dulu, sekalian mau belajar bahasa Sunda.” Kata Nisa.


“Duuh yang mau jadi pacar orang Sunda, sudah persiapan


belajar bahasa Sunda ya ?” goda Aster.


“Eeh tunggu Nisa, Asih memang suku Sunda, tapi gak berani


ajarin kamu bahasa Sunda, karena pacarmu kan orang bandung. Asih orang


tangerang, sundanya kasar. Asih sendiri gak berani ngomong sunda sama orang bandung.”


Sahut Asih.


“Masa begitu ?” Tanya Nisa   pada Asih.


“Ya kalian bicarakan saja berdua ya, Astri mau bicar sebentar


saja sama Aster dikamar.” Kata Astri.


Kemudian Aster dan Astri masuk ke kamar Aster yang cukup


luas. Sementara Nisa melanjutkan pembicaraan dengan Asih diruang depan.


“Masa beda Sundanya Tangerang sama Bandung Asih ?” Tanya Nisa


ke Asih.


“Jauh banget lah Nisa, Asih aja kalo ketemu orang bandung


lebih memilih pakai bahasa Indonesia.” Jawab Asih.


“Owh begitu ya, baru tahu Nisa, kirain sama aja hanya beda


penggunaan katanya saja.” Kata Nisa.


“Gak Nisa, beda jauh banget. Owh iya mang Nisa serius


pacaran sama orang bandung ?” Tanya Asih.


“Gak tahu juga, status kita juga belum pacaran kok Asih. Hanya


saling sapa saja, dan jujur Nisa suka sama dia anaknya sopan gak kurang ajar


sama cewek.” Ucap Nisa.


“Owh begitu ya.” Sahut Asih.


“Maaf Asih, boleh Nisa Tanya gak ?” kata Nisa agak berbisik


takut kedengaran Astri atau Aster.


“Mau Tanya apa Nisa ?” seru Asih.


“Ini rumah orang tua Aster, terus orang tua Aster sekarang


dimana ?” Tanya Nisa.


“Owh itu, jadi Aster itu dulu ikut orang tuanya di jepang


kemudian sekolah dan kuliah disana sampai lulus. Kemudian Aster kembali ke


Indonesia sementara orang tuanya masih dinas disana.” Jawab Asih.


Nisa mendengarkan dengan serius tiap kata yang diucapkan


Asih. Dia tidak mengira jika orang tua Aster masih dinas di kedutaan besar


Indonesi di Jepang.


“Kalo persahabatanya dengan Astri, gimana ?” Tanya Nisa


lanjut.


Kemudian Asih menjelaskan, bahwa dirinya pun tidak tahu


pasti dan belum lama juga kenal Aster. Itupun secara kebetulan, karena saat


Aster pulang ke Indonesia tidak langsung menuju kerumah ini. Tapi transit


beberapa hari di rumah pamanya yang kebetulan berdekatan dengan rumah Asih. Dan


dari situlah Asih mengenal dan bersahabat dengan Aster. Kemudian Aster mencari


Astri sahabatnya itu dirumahnya dulu, namun ternyata rumah itu sudah berpindah


tangan, sehingga Aster menjadi sedih tidak bisa menemui Astri sahabat kecilnya


itu.

__ADS_1


Barulah saat di Jakarta mereka bertemu secara tidak sengaja,


sampai sekarang ini hanya itulah yang Asih ketahui tentang Aster dan Astri,


kata Asih menjelaskan kepada Nisa.


“Maa Syaa Allah,, begitu erat persahabatan mereka ya Asih.


Nisa sampai haru mendengarnya.” Kata Nisa.


“Iya Nisa, sama Asih pun haru waktu itu. Apa lagi saat Aster


nangis ketika sedang sama sama nyanyaikan lagu tentang sahabat. Pada saat itu


sedang nyanyi bareng dengan sepupunya Aster yang namanya Andi.” Kata Asih.


“Owh yang jadi pacar kamu itu ya Asih ?” Tanya Nisa.


“Aduh keceplosan, tadi udah nyebutin nama Andi ya waktu


ditempat kamu Nisa ?” kata Asih malu.


“Iya, kan tadi Aster juga bilang kalo Asih itu cowoknya


adalah sepupu Aster. Kemudian Asih sendiri yang nyebut nama Andi. Jadi Andi itu


musisi ya Asih ?” Tanya Nisa.


“Bukan, Cuma hoby main music saja kok, dia masih kuliah


Nisa.” Kata Asih.


“Hah masih kuliah, masih berondong dong Asih ?” ucap Nisa.


“Aah jadi malu nih Asih, gak sih dia mang dua tahun lebih


muda dari Asih. Tapi kita sudah saling suka sejak lama, hanya sama sama malu


untuk mengatakanya. Kalo bukan dibantu Aster dan Astri kemarin mungkin kita


belum resmi berstatus pacar.” Kata Asih.


“Berarti kamu sama Andi berstatus pacar belum lama dong Asih


?” Tanya lanjut Nisa.


“Bukan hanya belum lama, baru beberapa hari yang lalu Nisa.”


Kata Asih malu malu.


“Wah kok bisa begitu Asih, bukanya kalian sudah lama saling


suka. Kenapa resmi pacaranya baru beberapa hari yang lalu ?” komentar Nisa.


Kemudian Asih menceritakan perjalanan kisah cintanya dengan


Andi yang awalnya saling malu malu menyatakan karena awalnya mereka adalah


seperti kakak adik saja. Hingga sama sama memendam rasa dan hamper sama sama


putus asa. Untung Aster dapat membuka rahasia perasaan mereka berdua tanpa


sengaja. Sehingga Aster lah yang mendorong keduanya untuk berani mengungkapkan


perasaan mereka masing masing. Dan akhirnya Asih dan Andi resmi berpacaran


sejak beberapa hari yang lalu. Dan saat ini mereka menjalin cinta dengan LDR


saja.


Nisa samapi geleng geleng kepala mendengar penjelasan Asih,


dirinya tak menyangka ada kisah cinta yang unik seperti kisah cintanya Asih.


*******


Dikamar Aster


Sementara Asih dan Nisa ngobrol berdua, Astri mengungkapkan


perasaan hatinya selama ini pada Dimas. Betapa sedihnya ketika Dimas tiba tiba


menghilang tanpa jejak, sehingga Astri hamper putus asa mencari Dimas. Dan baru


tadi berhasil mendapatkan no kontaknya Dimas, Astri sampai menitikan air


matanya dihadapan Aster.


“Tenang Astri, kamu hubungi saja Dimas, kamu pastikan apakah


dia masih menganggapmu sebagai pacar atau sudah melupakan kamu saat ini.” Kata Aster.


“Astri pingin begitu Aster, tapi Astri gak kuat mendengar


berita yang mengecewakan.” Jawab Astri.


“Lebih baik kecewa sekarang, lebih baik sakit sekarang


meskipun sakit sekali. Dri pada ditahan sampai besuk besuk malah akan jauh


lebih sakit lagi Astri.” Kata Aster.


Astri yang hanya menceritakan Dimas meninggalkan Astri tanpa


mengatakan apa penyebabnya, membuat Aster sedikit curiga jika Dimas punya wanita lain. Astri


dapat menangkap dari komentar Aster, namun tidak mungkin menceritakan kejadian


yang sebenarnya. Karena sedang menutupi identitas Hendra dan dirinya sebagai


pewaris perusahaan dimana Aster bekerja disana.


“Mungkin besuk Aster, Astri akan menghubungi Dimas, kalo


sekarang sudah terlalu malam.” Kata Astri.


“Iya gak papa, yang jelas Astri harus kuat apapun keputusan


Dimas besuk.” Kata Aster.


“Iya Aster, Astri akan persiapkan mental biar gak kaget


dengan keputusan Dimas nanti.” Kata Astri.


“Kalo Aster boleh tahu, dulu penyebabnya apa sampai dia


meninggalkan Astri tanpa member tahu Astri ?” Tanya Aster.


Inilah sebenarnya pertanyaan yang ditakutkan Astri, karena


bingung harus menjawab bagaimana.


“Astri juga bingung Aster, gak tahu pasti. Kalo tertarik


dengn wanita lain kayakny gak juga. Dimas bukan type mata keranjang dan tidak  berorientasi berlebihan pada cewek. Hanya memang sangat mudah tersinggung jika harga dirinya tersentuh.” Jawab Astri.


“Memang ada yang menyinggung harga dirinya ?” Tanya Aster lebih lanjut.


Astri terdiam sesaat, memikirkan cara menjawab agar Aster


justru tidak makin benci sama Hendra Abangnya.


“Astri kasih tahu, tapi jangan lantas kamu makin membenci


abangku ya Aster ?” pinta Astri.


“Loh ini ada hubunganya dengan abang kamu yang so.. eh maaf


abangmu Hendra maksut Aster.” Kata Aster.


“Janji dulu, gak boleh jadi makin benci nanti kalian ribut


lagi..!?” kata Astri.


“Iya Aster janji, toh gak berhubungan langsung sama Aster. Jadi


Aster gak akan marah deh sama abang kamu.” Kata Aster.


“Jadi begini Aster, Dimas itu anak orang gak mampu. Dia kuliah


saja sambil cari biaya sendiri dengan kerja serabutan. Kadang ngojek kadang juga


ikut proyek apa aja lah yang penting dia bisa membiayai dirinya sendiri. Nah dari


situ abangku khawatir jika Dimas itu hanya mau mempermainkan Astri. Kemudian bang


Hendra nyamperin Dimas, dan melarang Dimas berhubungan dengan Astri. Dari situlah


Dimas tersinggung dan menjauhi Astri. Sampai Dimas ganti nomer kontak dan


pulang ke jogja tanpa kasih kabar.” Kata Astri menjelaskan.


“Nahkan, abang kamu tu mang reseh gak boleh lihat adiknya


bahagia. Selalu saja bikin adiknya sedih dan menangis. Harusnya dia tanggung


jawab dan minta maaf sama Dimas bukan malah ngumpet kayak gitu.” Kata Aster


dengan luapan kemarahan kepada Hendra abangnya Astri sahabatnya.


“Kan udah janji gak boleh benci sama abang aku Aster.” Kata Astri.


“Ya tapi kalo begini gak bisa dibiarin Astri, abang kamu


harus diberi tahu biar dia tanggung jawab gak sembarangan saja kalo bertindak.”


Kata Aster makin keras bicaranya hingga didengar oleh Asih dan Nisa diruang


depan.


                                                                Bersambung


                                                            Mohon dukungan


                                                                        Like


                                                                        Komen


                                                                        Dan


                                                                        Vote nya

__ADS_1


                                                                         Terimakasih.


__ADS_2