
Episode 36
Belum sempat minuman yang dipesan diminum tiba tiba Aster
dikejutkan dengan kedatangan seorang laki laki yang langsung menepuk pundaknya.
“Hai apa kabar, maaf aku dulu terus pulang ke bandung jadi
gak sempat nyari kamu. Dan sekarang aku bru sempat kembali kesini mau mencri
kamu, eeh malah ketemu disini.” Ucap laki laki itu tanpa member kesempatan
Aster ngomong.
Aster yang paling tidak suka dicolek lelaki jadi spontan
marah.
“Kamu jadi orang sopan dikit bisa gak sih, mang siapa kamu
berani berani nyolek gue. Lo pikir gue cewek murahan, haa….” Kata Aster sambil
melotot.
Laki laki itu jdi bingung mendengar jawaban Aster yang
sangat marah dan melotot memandang mukanya tanpa berkedip.
Bahkan seisi penghuni warung pun kaget melihat kemarahan
Aster, termasuk Nisa sahabat barunya.
“maaf mbak, sungguh saya salah duga saya kira mbak adalah
Astri teman saya dulu. Wajah mbak agak mirip, jika mbak gak bicara saya tidak
tahu kalo mbak bukan Astri.” Kata pemuda itu ketakutan.
Sementara Aster jadi mereda emosinya setelah tahu duduk
persoalanya.
“Owh jadi kamu teman Astri, lain kali jangan asal nyolek
orang dong. Maaf Aster juga salah sangka, kirain kamu mau kurang ajar.” Jawab Aster.
Sementara Asih dan Nisa jadi tersenyum lega melihat Aster
tak lagi emosi seperti sebelumnya.
“Iya mbak,saya mengaku saya salah mbak, jadi mbak kenal
dengan Astri juga ?” Tanya pemuda itu.
Suasana warung yang sempat tegang sekarang kembali biasa lagi
setelah Aster reda Emosinya.
“Iya Astri adalah sahabat saya, jika yang kamu maksut Astria
yang ini.” Kata Aster menunjukkan foto Astri di pp wa nya.
“Iya mbak, itu Astri sahabat saya, boleh saya minta no wa
nya mbak ?” pinta pemuda itu.
“Maaf, saya gak berani kasih nomer orang tanpa ijin yang
bersangkutan.” Jawab Aster.
“Owh iya mbak, gak papa tapi boleh gak saya minta tolong
mbak kasih no seseorang kepada Astri ?” sahut pemuda itu.
“Nomer siapa itu ?” Tanya Aster.
“Nomer seseorang yang dulu sangat berarti bagi Astri, gak
tahu kalo sekarang mbak.” Jawab pemuda itu.
Aster terdiam sejenak dan berbisik pada Asih sebelum
menjawab perkataan pemuda itu.
“Kamu ingat gak, nama cowoknya Astri yang menghilang waktu
itu ?” Tanya Aster pada Asih setengah berbisik.
“Kalo gak salah namanya Dimas, Aster.” Jawab Asih berbisik juga
pada Aster.
“Tunggu, apakah yang kamu maksut orang itu yang bernama
Dimas ?” Tanya Aster pada pemuda itu.
“Iya bener mbak, saya mau kasih nomer Dimas pada Astri,
sudah dua tahun mereka kehilangan komunikasi. Padahal keduanya saling mencintai
dulunya.” Jawab pemuda itu.
Asih berbisik pada Aster,”gak papa Aster, terima saja
tawaranya siapa tahu Astri juga masih berharap bisa menghubungi Dimas. Bukankah
Astri juga pernah ceritakan Dimas pada kita.” Ucap Asih berbisik.
“Iya juga sih, tapi kita tetap harus waspada beneran begitu
apa tidak. Kita Tanya Astri dulu aja lah.” Jawab Aster berbisik ke Asih.
“Gini saja mas, kebetulan kan Astri tinggalnya juga gak jauh
dari sini. Gimana kalo kita panggil sekarang suruh kesini. Kemudian mas bicara
langsung sama Astri, beneran Astri yang dimaksut atau bukan.” Jawab Aster.
“Baiklah mbak, saya tunggu saya senang sekali jika bisa
bertemu langsung dengan Astri.” Jawab pemuda itu.
“Ok, mas namanya siapa biar saya telponkan Astri.” Kata Aster.
“Sebut saja Arya mbak, Astri pasti sudah tahu jika mbak
sebutin nama Arya.” Sahut pemuda itu yang ternyata adalah Arya sahabat Dimas
pacar Astri dulu.
Aster lantas menelpon Astri,
“Assalaamu ‘alaikum Aster. Ada apa tumben jam segini telpon
?” Tanya Astri.
“Wa’alaikummussalaam Astri, apakah kamu kenal dengan orang
yang bernama Arya. Katanya mau kasih no Dimas ke kamu. Ini orangnya ada
dihadapanku, kalo kamu kenal sekarang juga kamu kesini Astri.” Jawab Aster.
“Owh iya Aster, aku kenal dia sahabat dekat Dimas, kamu
sharelok aku segera kesana sekarang.” Jawab Astri.
Aster langsung menutup telponya dan mengirimkan lokasi dia
berada.
“Sudah mas, mas tunggu disini saja sambil pesan makanan
sebentar lagi Astri datang kok.” Kata Aster.
“Makasih mbak, atas bantuanya. Soalnya saya mau kerumahnya
masih malas ketemu abangnya mbak.” Sahut Arya.
Kemudian Arya pun memesan makanan dan minum. Beberapa saat
setelah mereka menikmati menu makanan yang sudah dihidangkan, datanglah Astri
ketempat itu.
“Hai Arya,,, Beneran kamu Arya sahabat Dimas ?” Tanya Astri
langsung menyapa Arya.
“Ya Allah Astri, aku hamper saja salah orang. Mbak ini aku
kira kamu wajah dan penampilanya mirip banget sama kamu. Aku jadi malu tadi,
maaf ya mbak !” kata Arya.
“Wkakaka… kamu bukan korban pertama kok. Abangku aja pernah
salah sangka dia dikira aku.” Sahut Astri sambil tertawa.
“Udh jangan diungkit yang itu Astri, pesen makan dulu gih.” Kata
aster pada Astri.
“Gak lah, Astri masih kenyang, minum saja kali. Pesen jeruk
hangat satu pak, maaf gak ikut makan masih kenyang nih.” Kata Astri pada
pelayan warung makan itu.
Kemudian Astri dan Arya terlibat obrolan seputar masa lalu Astri dan
Dimas hingga datangnya Hendra abangnya Astri ke kos an Dimas. Yang menghina Dimas
habis habisan sampai Dimas sakit hati dan pergi meninggalkan Astri tanpa
pamitan. Dan Arya sendiri kebingungan mau memberikan no Dimas pada Astri,
karena tahu tahu Atri juga mengganti nomer kontaknya. Sementara mau kerumah
stri enggan bertemu dengan Hendra abangnya Astri yang sombong. untung saja Aster tidak mendengarkan.
“Owh begitu, sekarang posisi Dimas masih berada di jogja kah
__ADS_1
Arya ?” Tanya Astri pada Arya.
“Iya Astri, Dimas masih dijogja bersama kedua orang tuanya.
Dimas gak tahu kalo aku berencana mau memberikan no dia ke kamu. Tapi aku sebagai sahabat
kamu dan dia merasa harus member tahu kamu. Gak tahu Dimas marah apa gak, aku
gak peduli Astri.” Kata Arya.
“Yaudah, nanti biar Astri yang bilang ke Dimas, maksutnya apa
pergi tanpa meninggalkan pesan begitu.” Jawab Astri. Kemudian Arya memberikan
nomer Dimas kepada Astri, dan meninggalkan tempat itu setelah membayar semua pesanan
yang disajiakan bagi mereka.
“Udah gak usah mas, kebetulan kami sedang sukuran biar saya
aja yang bayar.” Kata Aster.
“Gak papa mbak Aster, kebetulan juga saya baru senang bisa
bertemu dengan Astri. Jadi anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya atas
kejadian tadi.” Kata Arya sambil tersenyum.
“Owh yaudah, makasih kalo begitu maafkan Aster juga tadi
sempat marahin kamu ya !” ucap Aster.
Setelah Arya pergi, tak lama kemudian rombongan Asterpun menyusul
meninggalkan warung itu diikuti Astri. Astri mengikuti Aster di belakang, masih
ada yang harus dibicarakan dengan Aster terkait Dimas.
Sesampai di rumah Aster, mereka segera turun dan memasuki
rumah Aster. Nisa tampak kikuk, melihat rumah Aster yang cukup megah, jauh
dibandingkan kos yang ditempatinya, yang hanya ada satu kamar dan kamar
mandinya berada diluar.
“Owh iya, Astri perkenalkan dulu ini rekan kerja Aster
namanya Nisa. Dia staf marketing di bagian filing System. Jadi dia yang mencatat
semua progrees report laju perkembangan usaha di perusahaan.” Kata Aster
memperkenalkan Nisa.
“Wah hebat dong Nisa, kenalin namaku Astri, aku sahabat
Aster waktu anak anak dulu. Meski banyak orang mengatakan kami seperti anak
kembar, tapi sebenarnya tidak ada hubungan darah diantara kami. Meski hubungan
kami justru lebih dari saudara.” Kata Astri pada Nisa.
“Iya, kalian mirip sekilas memang seperti kembar. Namun kalo
diperhatikan betul sih memang beda ya ?” sahut Nisa.
Aster dan Astri hanya tersenyum mendengar ungkapan Nisa.
“Udahlah Nisa, kamu tinggal disini saja bersama kami. Maaf biar
kamu gak perlu mikirin uang kos, agar bisa mengirim biaya sekolah adik adik
kamu yang dirumah.” Kata Aster.
“Wah Nisa gak enak kalo begitu, jadi merepotkan kamu Aster.”
Jawab Nisa.
“Gak lah Nisa, kan Aster juga butuh teman disini.” Jawab Aster.
“Iya Nisa, lebih baik kamu disini sama Aster dan Asih juga,
mereka biar gak kesepian kalo Cuma berdua.” Sahut Astri. Dalam hati Astri
membatin, mungkin Nisa ini bisa dijadikan sahabat untuk ikut membantu
mendekatkan Aster dengan abangnya Hendra.
“Tapi apakah aku gak bikin kalian terganggu jika ikut
numpang tinggal disini ?” Tanya Nisa.
“Jangan bilang numpang begitu Nisa, kedengaranya gak enak
banget. Kita tinggal bersama saja disini, jangan ada istilah numapang lagi.” Protes
Aster.
“Owh iya maaf Aster, maklum Nisaa kan berasal dari kampong jadi
gak ngerti harus bilang gimana.” Jawab Nisa polos.
“Sama aja Nisa kampong maupun kota tidak ada bedanya. Malah Aster
“Maaf ya Asih dan Nisa, Astri mau bicara empat mata dengan
Aster boleh ya. Jangan tersinggung. Nisa sama Asih ngobrol berdua dulu. Astri
dan Aster mau bicara dikamar.” Ucap Astri mohon ijin berdua dengan Aster.
“Iya gak papa kok Astri, silahkan. Biar Nisa ngobrol sama
Asih dulu, sekalian mau belajar bahasa Sunda.” Kata Nisa.
“Duuh yang mau jadi pacar orang Sunda, sudah persiapan
belajar bahasa Sunda ya ?” goda Aster.
“Eeh tunggu Nisa, Asih memang suku Sunda, tapi gak berani
ajarin kamu bahasa Sunda, karena pacarmu kan orang bandung. Asih orang
tangerang, sundanya kasar. Asih sendiri gak berani ngomong sunda sama orang bandung.”
Sahut Asih.
“Masa begitu ?” Tanya Nisa pada Asih.
“Ya kalian bicarakan saja berdua ya, Astri mau bicar sebentar
saja sama Aster dikamar.” Kata Astri.
Kemudian Aster dan Astri masuk ke kamar Aster yang cukup
luas. Sementara Nisa melanjutkan pembicaraan dengan Asih diruang depan.
“Masa beda Sundanya Tangerang sama Bandung Asih ?” Tanya Nisa
ke Asih.
“Jauh banget lah Nisa, Asih aja kalo ketemu orang bandung
lebih memilih pakai bahasa Indonesia.” Jawab Asih.
“Owh begitu ya, baru tahu Nisa, kirain sama aja hanya beda
penggunaan katanya saja.” Kata Nisa.
“Gak Nisa, beda jauh banget. Owh iya mang Nisa serius
pacaran sama orang bandung ?” Tanya Asih.
“Gak tahu juga, status kita juga belum pacaran kok Asih. Hanya
saling sapa saja, dan jujur Nisa suka sama dia anaknya sopan gak kurang ajar
sama cewek.” Ucap Nisa.
“Owh begitu ya.” Sahut Asih.
“Maaf Asih, boleh Nisa Tanya gak ?” kata Nisa agak berbisik
takut kedengaran Astri atau Aster.
“Mau Tanya apa Nisa ?” seru Asih.
“Ini rumah orang tua Aster, terus orang tua Aster sekarang
dimana ?” Tanya Nisa.
“Owh itu, jadi Aster itu dulu ikut orang tuanya di jepang
kemudian sekolah dan kuliah disana sampai lulus. Kemudian Aster kembali ke
Indonesia sementara orang tuanya masih dinas disana.” Jawab Asih.
Nisa mendengarkan dengan serius tiap kata yang diucapkan
Asih. Dia tidak mengira jika orang tua Aster masih dinas di kedutaan besar
Indonesi di Jepang.
“Kalo persahabatanya dengan Astri, gimana ?” Tanya Nisa
lanjut.
Kemudian Asih menjelaskan, bahwa dirinya pun tidak tahu
pasti dan belum lama juga kenal Aster. Itupun secara kebetulan, karena saat
Aster pulang ke Indonesia tidak langsung menuju kerumah ini. Tapi transit
beberapa hari di rumah pamanya yang kebetulan berdekatan dengan rumah Asih. Dan
dari situlah Asih mengenal dan bersahabat dengan Aster. Kemudian Aster mencari
Astri sahabatnya itu dirumahnya dulu, namun ternyata rumah itu sudah berpindah
tangan, sehingga Aster menjadi sedih tidak bisa menemui Astri sahabat kecilnya
itu.
__ADS_1
Barulah saat di Jakarta mereka bertemu secara tidak sengaja,
sampai sekarang ini hanya itulah yang Asih ketahui tentang Aster dan Astri,
kata Asih menjelaskan kepada Nisa.
“Maa Syaa Allah,, begitu erat persahabatan mereka ya Asih.
Nisa sampai haru mendengarnya.” Kata Nisa.
“Iya Nisa, sama Asih pun haru waktu itu. Apa lagi saat Aster
nangis ketika sedang sama sama nyanyaikan lagu tentang sahabat. Pada saat itu
sedang nyanyi bareng dengan sepupunya Aster yang namanya Andi.” Kata Asih.
“Owh yang jadi pacar kamu itu ya Asih ?” Tanya Nisa.
“Aduh keceplosan, tadi udah nyebutin nama Andi ya waktu
ditempat kamu Nisa ?” kata Asih malu.
“Iya, kan tadi Aster juga bilang kalo Asih itu cowoknya
adalah sepupu Aster. Kemudian Asih sendiri yang nyebut nama Andi. Jadi Andi itu
musisi ya Asih ?” Tanya Nisa.
“Bukan, Cuma hoby main music saja kok, dia masih kuliah
Nisa.” Kata Asih.
“Hah masih kuliah, masih berondong dong Asih ?” ucap Nisa.
“Aah jadi malu nih Asih, gak sih dia mang dua tahun lebih
muda dari Asih. Tapi kita sudah saling suka sejak lama, hanya sama sama malu
untuk mengatakanya. Kalo bukan dibantu Aster dan Astri kemarin mungkin kita
belum resmi berstatus pacar.” Kata Asih.
“Berarti kamu sama Andi berstatus pacar belum lama dong Asih
?” Tanya lanjut Nisa.
“Bukan hanya belum lama, baru beberapa hari yang lalu Nisa.”
Kata Asih malu malu.
“Wah kok bisa begitu Asih, bukanya kalian sudah lama saling
suka. Kenapa resmi pacaranya baru beberapa hari yang lalu ?” komentar Nisa.
Kemudian Asih menceritakan perjalanan kisah cintanya dengan
Andi yang awalnya saling malu malu menyatakan karena awalnya mereka adalah
seperti kakak adik saja. Hingga sama sama memendam rasa dan hamper sama sama
putus asa. Untung Aster dapat membuka rahasia perasaan mereka berdua tanpa
sengaja. Sehingga Aster lah yang mendorong keduanya untuk berani mengungkapkan
perasaan mereka masing masing. Dan akhirnya Asih dan Andi resmi berpacaran
sejak beberapa hari yang lalu. Dan saat ini mereka menjalin cinta dengan LDR
saja.
Nisa samapi geleng geleng kepala mendengar penjelasan Asih,
dirinya tak menyangka ada kisah cinta yang unik seperti kisah cintanya Asih.
*******
Dikamar Aster
Sementara Asih dan Nisa ngobrol berdua, Astri mengungkapkan
perasaan hatinya selama ini pada Dimas. Betapa sedihnya ketika Dimas tiba tiba
menghilang tanpa jejak, sehingga Astri hamper putus asa mencari Dimas. Dan baru
tadi berhasil mendapatkan no kontaknya Dimas, Astri sampai menitikan air
matanya dihadapan Aster.
“Tenang Astri, kamu hubungi saja Dimas, kamu pastikan apakah
dia masih menganggapmu sebagai pacar atau sudah melupakan kamu saat ini.” Kata Aster.
“Astri pingin begitu Aster, tapi Astri gak kuat mendengar
berita yang mengecewakan.” Jawab Astri.
“Lebih baik kecewa sekarang, lebih baik sakit sekarang
meskipun sakit sekali. Dri pada ditahan sampai besuk besuk malah akan jauh
lebih sakit lagi Astri.” Kata Aster.
Astri yang hanya menceritakan Dimas meninggalkan Astri tanpa
mengatakan apa penyebabnya, membuat Aster sedikit curiga jika Dimas punya wanita lain. Astri
dapat menangkap dari komentar Aster, namun tidak mungkin menceritakan kejadian
yang sebenarnya. Karena sedang menutupi identitas Hendra dan dirinya sebagai
pewaris perusahaan dimana Aster bekerja disana.
“Mungkin besuk Aster, Astri akan menghubungi Dimas, kalo
sekarang sudah terlalu malam.” Kata Astri.
“Iya gak papa, yang jelas Astri harus kuat apapun keputusan
Dimas besuk.” Kata Aster.
“Iya Aster, Astri akan persiapkan mental biar gak kaget
dengan keputusan Dimas nanti.” Kata Astri.
“Kalo Aster boleh tahu, dulu penyebabnya apa sampai dia
meninggalkan Astri tanpa member tahu Astri ?” Tanya Aster.
Inilah sebenarnya pertanyaan yang ditakutkan Astri, karena
bingung harus menjawab bagaimana.
“Astri juga bingung Aster, gak tahu pasti. Kalo tertarik
dengn wanita lain kayakny gak juga. Dimas bukan type mata keranjang dan tidak berorientasi berlebihan pada cewek. Hanya memang sangat mudah tersinggung jika harga dirinya tersentuh.” Jawab Astri.
“Memang ada yang menyinggung harga dirinya ?” Tanya Aster lebih lanjut.
Astri terdiam sesaat, memikirkan cara menjawab agar Aster
justru tidak makin benci sama Hendra Abangnya.
“Astri kasih tahu, tapi jangan lantas kamu makin membenci
abangku ya Aster ?” pinta Astri.
“Loh ini ada hubunganya dengan abang kamu yang so.. eh maaf
abangmu Hendra maksut Aster.” Kata Aster.
“Janji dulu, gak boleh jadi makin benci nanti kalian ribut
lagi..!?” kata Astri.
“Iya Aster janji, toh gak berhubungan langsung sama Aster. Jadi
Aster gak akan marah deh sama abang kamu.” Kata Aster.
“Jadi begini Aster, Dimas itu anak orang gak mampu. Dia kuliah
saja sambil cari biaya sendiri dengan kerja serabutan. Kadang ngojek kadang juga
ikut proyek apa aja lah yang penting dia bisa membiayai dirinya sendiri. Nah dari
situ abangku khawatir jika Dimas itu hanya mau mempermainkan Astri. Kemudian bang
Hendra nyamperin Dimas, dan melarang Dimas berhubungan dengan Astri. Dari situlah
Dimas tersinggung dan menjauhi Astri. Sampai Dimas ganti nomer kontak dan
pulang ke jogja tanpa kasih kabar.” Kata Astri menjelaskan.
“Nahkan, abang kamu tu mang reseh gak boleh lihat adiknya
bahagia. Selalu saja bikin adiknya sedih dan menangis. Harusnya dia tanggung
jawab dan minta maaf sama Dimas bukan malah ngumpet kayak gitu.” Kata Aster
dengan luapan kemarahan kepada Hendra abangnya Astri sahabatnya.
“Kan udah janji gak boleh benci sama abang aku Aster.” Kata Astri.
“Ya tapi kalo begini gak bisa dibiarin Astri, abang kamu
harus diberi tahu biar dia tanggung jawab gak sembarangan saja kalo bertindak.”
Kata Aster makin keras bicaranya hingga didengar oleh Asih dan Nisa diruang
depan.
Bersambung
Mohon dukungan
Like
Komen
Dan
Vote nya
__ADS_1
Terimakasih.