Cinta Asteria

Cinta Asteria
Hazel Kritis


__ADS_3

Kemudian Astri menceritakan kesepakatan dia dengan abangnya dan rencana Astri dan mamahnya untuk mendekatkan Aster dengan abangnya Hendra. Dan Hendra yang dikenal Aster adalah Hendra abangnya Astri bukan Hendra salah satu pewaris perusahaan tersebut. Akhirnya Arya hanya memaklumi apa yang direncanakanAstri. Karena Arya juga tahu apa yang pernah dialami Hendra saat dekat dengan Elisa, yang hanya mengincar harta dari Hendra.


Akhirnya Arya dan Astri sepakat untuk menjaga apa yang selama ini dirahasiakan oleh Astri. Dan Arya sanggup membantu Astri dalam melancarkan rencana yang telah disusun bersama mamahnya.


“Tapi soal Dimas besuk, jangan sampai diketahui abang kamu dulu Astri. Takutnya Dimas masih sakit hati.” Kata Arya.


“Iya deh, meski abangku yang sekarang sudah gak seperti dulu. Dia sekarang sudah mandiri dan tidak memandang remeh terhadap orang lain lagi. Semenjak dia nyamperin Dimas itu, sebenarnya ia menyesal tapi mau minta maaf ke Dimas, Dimasnya sudah pulang ke jogja. Akhirnya bang Hendra merasa sangat bersalah pada Dimas dan Astri waktu itu. Dan itu yang membuat abang ku Hendra berubah sifatnya sekarang Arya.” Kata Astri.


“Benarkah Astri, apakah dia bersedia jika harus meminta maaf pada Dimas nanti ?” Tanya Arya.


“Sebenarnya dari dulu pun abangku sudah mau minta maaf pada Dimas. Namuan Dimasnya yang keburu pulang ke jogja dan tidak bisa dihubungi lagi.” Jawab Astri.


“Yaudah Astri suda terlalu larut sekarang, sambung besuk lagi. Kita istirahat dulu, selamat malam Astri.” Sapa Arya di chat untuk mengakhiri percakapan.


“Malam juga Arya, met Istirahat.” Jawab Astri.


Kemudian Arya tertidur beberapa sat setelahnya, dia merasa lebih lega dari sebelumnya.


Sementara Astri justru susah memejamkan mata, dia teringat kenangan saat bersama dimas. Dimana Astri sering menemani dimas saat ikut kerja diproyek sebagai petugas gudang yang harus menyediakan material yang dibutuhkan. Serta menghitung berpa kebutuhan yang harus disediakan dalam waktu seminggu. Dimas yang memang pekerja keras tak jarang ikut terjun mengangkat material bangunan yang harus dia masukkan atau dia keluarkan dari gudang selain juga melakukan stok opname setiap minggunya.


Astri sangat mengagumi kegigihan Dimas dalam bekerja yang tidak kenal rasa malu bekerja keras seperti itu. Dan untuk mengimbangi itu Astri pun rela mengaku sebagai anak pedagang kecil di pasar. Dan Astri tiap kali menemui Dimas hanya menggunakan pakain sederhana dan mengendarai motor agar tidak terkesan mewah. Meski akhirnya penyamaran Astri ketahuan juga oleh Dimas. Namun berkat keseriusanAstri menjelaskan bahwa Astri hanya tidak ingin Dimas merasa asing jika Astri berpenampilan seperti aslinya. Sampai akhirnya Dimas lah yang membantu menyelidiki siapa Elisa dan akhirnya bisa membongkar jika Elisa pacar Hendra abangbya Astri punya cowo selain Hendra, dan hanya memanfaatkan Hendra sebagai lumbung atau pundi pundi keuangan Elisa.


Sayangnya waktu itu Hendra tidaklah percaya dan justru membenci Astri juga Dimas, bahkan menuduh Dimas lah yang akan memanfaatkan Astri sebagai lahan mencari harta. Dan hal itulah yang kemudian membuat Dimas sakit hati dan lebih memilih meninggalkan Astri pulang ke jogja dan tidak memberikan no kontaknya yang baru.


Untunglah Arya masih terus berkomunikasi degan Dimas, dan mau mempertemukan Astri dengan Dimas. Semoga saja pertemuan besuk bisa sesuai dengan Harapan Astri yang masih berharap Dimas mau kembali bersamanya. Serta jangan memikirkan perbedaan strata ekonomi dan social mereka. Karena Astri tulus mencintai Dimas sebagai pribadi Dimas bukan mencintai Dimas sebagi orang yang Sukses hebat kaya dan sebagainya. Cukuplah Dimas sebagai mqna adanya Dimas dan tidak perlu menjadi orang lain, begitu pikir Astri.


Setelah cukup lama melamun akhirnya Astri pun tertidur karena lelah.


******


Dirumah Aster


Asih bangun lebih dulu, kemudian menuju kamar mandi dan berwudhu kemudian sholat lail. Setelah menyalakan kompor memasak air. Baru setelah itu Nisa ikut bangun, namun hanya cuci muka dan kemudian membuat minuman dari air yang dimasak Asih.


“Kamu gak solat dulu Nisa ?” Tanya Asih.


“Gak aku lagi libur, barusan kemarin dapet. Aster gak dibangunin kan hamper sunuh nin Asih ?” Tanya Nisa.


“Paling juga bentar lagi bangun kok.” Sahut Asih.


“Semalam itu beneran bukan saudaranya Aster kah ?” Tanya Nisa.


“Iya yang Asih tahu kataknya gak ada hubungan saudara. Bahkan mereka juga belasan tahun aja gak saling ketemu gak ada komunikasi.” Jawab Asih.


“Bisa begitu ya, tapi mereka semua orangnya baik ya Asih ?” komentar Nisa.


“Iya Nisa, mereka semua baik.” jawab asih.


“Kalo begitu ANdi pacar kamu juga pasti aik ya, kan masih saudara Aster juga.” Komentar NIsa.


“Ya pastilah kalo itu, kalo gak baik mana mau Asih jadi pacarnya Nisa.” Jawab Asih.


“Iya juga ya Asih, kalo Aku sendiri dulu pernah punya cowok sekali. Pas main kerumah dimarahin bapak. Habis itu kabur gak au dating lagi dan minta putus. Yaudah Nisa lebih milih nurut bapak dari pada cowok itu.” Kata Nisa menceritakan masa lalunya dulu.


“Asih malah gak pernah pacaran sama sekali sebelumnya, baru sama Andi ini Asih pacaran.” Kata Asih.


Obrolan mereka terhenti dengan kedatangan Aster.


“Pagi pagi dah pada ngerumpi ya ?” kata Aster sambil jalan ke kamar mandi.


“Gak kok Aster, kita Cuma ngobrol biaa aja. Buatin minum apa Aster ?” Tanya Nisa.


Aster yang sudah dikamar mandi tidak mendengar ucapan Nisa.


“Udah nanti biar bikin sendiri.” Kata Asih.


“Kalian pada minum apaan, kayaknya seger banget Aster mo bikin the tubruk saja. Kangen suasana ngeteh di jepang dulu nih.” Kata Aster.


“Mang dulu suka ngeteh juga disana Aster ?” Tanya Asih.


“Iya lah, tehnya disana bermacam macam sampai Aster aja gak hafal nama nama nya saking bamyaknya.” Jawab Aster.

__ADS_1


Kemudian bertiga mereka minum minuman hangat sambil menunggu subuh. Sampai akhirnya kumandang adzan subuh terdengar. Setelah Aster dan Asih Solat subuh Nisa bertanya pada Aster.


“Biasanya kalian pada berangkat kerja jam berapa ?” Tanya Nisa.


“Yah kita kan baru kemarin mulai masuk, kemarin berangkat jam 07.30. sampai sana kurang seperempat jam dari jam 08.00. masih keburu.” Jawab Aster.


“Owh gitu, terus kalo pagi gini kegiatan sebelum kerja ngapain biasanya.” Tanya Nisa kemudian.


“Yah kalo gak jogging yan ngobrol ajanunggu waktu.” Sahut Asih.


“Kalian gak masak buat sarapan dan bekal dikantor mungkin ?” Tanya Nisa.


“Gak Nisa, kita ini termasuk jarang masak. Masak kalo hari libur aja pas dirumah. Selebihnya paling banter masak air doing.” Kata Aster.


“Owh gitu, aku jadi bingung saja biasanya habis subuh sudah masak buat sekalian siang. Eh disini mau ngapain malah bingung.” Kata Nisa polos.


“Udah nyantai saja, gak usah mikir masak kalo libur tuh baru nanti kita bikin acara masak bareng bareng disini. Nisa masak khas jawa timur, Asih masak khas jawa barat Aster nanti masakan khas jepang, gimana seru kan ?” kata Aster.


“Wah boleh tu ide kamu Aster.” Sahut Nisa.


“Tapi Asih gak pandai masak jujur saja, bisa sih bisa tapi soal rasa gak tahu deh nanti.” Kata Asih.


“Gak papa yang penting kita coba aja nanti.” Sahut Aster.


Saat menunjukkan pukul 07.00 mereka bertiga segera bersiap untuk berangkat kerja, dan setelah sarapan tentu saja.


*****


Ditempat Hazel dirawat.


“Ndi, gimana kira kira kondisi Hazel ya ?” Tanya Wawan kepada Andi.


“Percayakan saja pada tim medis Wan. Kita bantu doa saja.” Sahut Andi.


Hazel yang tergeletak lemah tak berdaya ditungguin ayah Hazel. Kaki kanan Hazel yang mengalami patah tulang kering baru saja mendapat penanganan medis. Namun bagian kepala Hazel yang mengalami benturan keras tampaknya menyebabkan Hazel mengalami gegar otak. Harus menjalani operasi mengeluarkan darah yang menggumpal. Dan bisa jadi Hazel mengalami amnesia saat sadar nanti.


Orang tua Hazel sangat khawatir akan kondisi putrinya tersebut. Keberadaan Andi dan Wawan sedikit banyak membantu memberi semangat kepada Hazel dan orang tuanya. Sungguh kasihan nasip Hazel, baru sebentarr merasakan sedikit kebahagiaan bersama Andi sudah harus mengalami hal tragic tersebut.


“Nak Andi dan Nak Wawan, Om dan tante mau keluar sebentar bersediakah kalian menjaga Hazel selama kami pergi ?” Tanya ayah Hazel. Sementara ibu Hazel hanya terdiam sedih melihat kondisi putrinya yang belum juga sadar. Lebih lagi melihat kaki Hazel yang baru saja dioperasi pemasangan pen di kakinya. Meski nanti sembuh tentu saja butuh waktu lama untuk bisa berjalan normal pikir ibunya Hazel. Bagaimana nanti psykologiss Hazel menerima keadaan seperti itu,pikir ibunya Hazel.


“Iya, om dan tante tenang saja. Saya dan Andi akan menjaga Hazel selama om dan tante pergi.” Sambung Wawan.


“Makasih ya nak, kalian sudah mau repot repot menemani kami disini.” Kata Ayahnya Hazel.


“Iya Om, Hazel adalah sahabat baik kami, jadi kami juga ikut merasakan apa yang dirasakan Hazel.” Ucap Wawan.


“Yaudah titip Hazel ya, om dan tante mau keluar dulu sebentar saja kok nak.” Pamit ayah dan ibunya Hazel.


Sepeninggal keduanya Andi dan wawan menatap Hazel dari jendela karena memang tidak diperkenankan masuk kedalam. Kondisi Hazel masih kritis, Andi dan Wawan terlihat khawatir akan keadaan hazel saat itu.


Andi sedikit banyak merasa bersalah pada Hazel akan keputusanya memilih Asih, meski dari awal pun Hazel sudah tahu akan hal itu. Sementara Wawan mengkhawatirkan Hazel karena Wawan begitu mencintai Hazel.


Wawan dan Andi lantas sama sama duduk diruang tunggu yang disediakan, keduanya sempat terdiam lama. Masing masing sibuk dengan angan dan lamunan masing masing, andi juga teringat akan Asih yang saat ini sudah mulai bekerja disamping memikirkan keadaan Hazel. Dan Wawan berharap dalam cemas akan kesembuhan Hazel.


“Ndi, apakah Hazel nanti bisa tertolong ?” Tanya Wawan tiba tiba yang mengejutkan Andi.


“Wan, kamu jangan bilang begitu. Kita berdoa yang terbaik buat Hazel saja, jangan berpikir yang negative. Andi jelas berharap Hazel segera sadar dan segera sembuh.” Kata Andi.


“Iya Ndi, Wawan juga begitu tapi Wawan sangat khawatir karena Wawan kemarin yang lihat kondisi Hazel saat membawa kerumah sakit. Lukanya cukup parah.” Kata Wawan.


“Meskipun begitu, kita gak boleh berputus asa Wan, kita harus tetap berusaha berdoa dan berharap untuk kesembuhan Hazel.” Ucap Andi.


Saat Wawan dan Andi sedang berbicara tiba tiba dokter yang menangani Hazel keluar dan member tahu jika Hazel menyebut nyebut nama Andi dalam alam bawah sadarnya.


“Siapa diantara kalian yang bernama Andi, tadi saudari Hazel menyebut nama Andi dalam alam bawah sadarnya. Mungkin bisa member dorongan semangat pada sudari Hazel agar kesadaranya cepat pulih.” Kata dokter tersebut.


“Saya Andi pak, apakah operasi bagian kepala sudah selesai dilaksanakan ?” Tanya Andi pada dokter.


“Sudah, dan Alhamdulillah berjalan lancar tadi. Namun pasien masih belum melewati masa kritisnya. Semoga benturanya tidak menyebabkan Amnesia.” Kata dokter tersebut.


“Apakah Andi boleh menjenguk Hazel sekarang dok ?” Tanya Andi lagi.

__ADS_1


“Boleh nanti secara bergantian saja, satu orang saja yang masuk bergantian dengan menggunakan pakaian yang disediakan didalam saat menjenguk pasien di ruang ICU.” Jelas dokter tersebut.


“Baiklah dok, Andi mau masuk sekarang.” Kata Andi. Kemudian diarahkan oleh dokter tersebut untuk mengikuti standart operasional yang berlaku ketika masuk ruang ICU.


Andi mengikuti apa arahan dokter tersebut, termasuk menggunakan pakaian khusus ruang ICU. Sesampai diranjang dimana Hazel berbaring, Andi menitikkan air matanya. Melihat kondisi Hazel yang habis dioperasi kepalanya masih dibugkus kain perban. Dan tampaknya seluruh rambut Hazel pun dipotong habis demi kelancaran operasi.


Nafas Hazel keluar tampak dari dadanya yang turun naik, sekilas wajah Hazel tampak tersenyum seakan menyadari kehadiran Andi.


“Haz, jika kamu bisa mendengarkan perkataanku. Kedipkan matamu atau gerakkan jarimu aku mau bicara.” Bisik Andi disamping kepala Hazel.


Tidak diduga mata Hazel berkedip,member Isyarat bahwa dia mampu mendengar suara Andi.


“Haz, sungguhkah kamu bisa mendengarkan suaraku, cobalah berkedip sekali lagi.” Pinta Andi.


Dan hazelpun kembali berkedip menerima isyarat dari Andi.


“Alhamdulillah Hazel, kamu bisa mendengarkan suara Andi. Kamu tahu gak Hazel, kamu hari ini tampak cantik sekali. Dan jika kamu tahu Wawan tadi sangat sedih memikirkan kondisimu. Maaf aku harus bilang ini, bahwa Wawan ternyata mencintai kamu dengan tulus dari dulu. Kamu harus kuat Hazel, kamu harus berjuang agar orang orang yang mencintai kamu disekelilingmu tidak kehilangan kamu. Banyak orang yang mencintai dan menyayangi kamu Hazel. Bukankah kita sudah berjanji untuk tetap bersahabat dan menjadi saudara apapun yang terjadi. Andi tidak ingin Hazel yang aku kenal tiba tiba menjadi lemah seperti ini.” Ucap Andi disertai linangan air mata.


Hazel yang hanya terbaring tak mampu berkata itupun tampak mengulum senyuman tipis seakan mengerti apa yang dibilang Andi. Namun disamping senyumanya tampak pula tetesan air mata dikerling mata Hazel. Andi yang mengetahui itu segera mengambil tisu dan mengusap air mata Hazel.


“Hazel gak boleh menangis, air matamu terlalu berharga untuk dikeluarkan secara percuma Hazel. Tersenyumlah Hazel, masa depan indh menantimu.” Bisik Andi.


Secara samar terlihat bibir Hazel bergerak tersenyum meski belum mampu tersenyum lebar dan manis seperti sebelumnya. Namun hal itu sudah cukup menenangkan hati Andi.


“Haz, apakah kamu ingin bertemu Wawan sekarang ? Jika iya kedipkan matamu lagi.” Pinta Andi.


Hazel belum merespon ucapan Andi, dan Andipun tidak memaksakanya. Andi kembali mengambil tisu untuk mengusap peuh yang keluar dari kening Hazel. Beberapa kali Andi melakukan itu, dan tiap kali Andi melakukan Hazel berusaha tersenyum.


“Maafkan aku Hazel, Andi sadar kemarin terlalu terburu buru kita buat komitmen. Sehingga terlalu cepat pula kamu mengalami kekecewaan. Dan Andi baru sadr jika kamu suka Andi, saat kutemukan foto Andi yang jatuh dari saku jaketmu saat kamu tertidur. Jika Andi tahu dari awal, Andi juga tidak akan berani membuat komitment seperti kemarin. Karena akan berat bagimu, sama halnya Andi hanya php in kamu Hazel.” Begitulah kata hati Andi menyesali apa yang terjadi antara dirinya dan Hazel.


Jika ternyata Hazel menaruh hati pada Andi, baru diketahui Andi saat Andi sudah membuat kesepakatan menjalani hubungan mesra tanpa status dengan Hazel. Namun saat itupun ketika Andi tahu sudah terlambat untuk menganulir kesepakatan yang sudah terlanjur dibuat. Sayangnya lagi hubungan mesra tanpa status itu harus cepat berakhir ketika Asih kembali bersama Aster dan Astri. Meski mereka juga tidak bisa dipersalahkan, karena semua sudah terlanjur tahu isi hati antara Asih dan Andi yang sekian tahun saling memendam rasa suka.


“Yaah maafkan Andi Hazel, jika harus ada yang disalahkan semua adalah salah Andi sebagai laki laki tidak punya ketegasan. Sehingga masalah ini timbul dan harus membuat kamu kecewa dan sampai mengalami hal demikian.” Bisik Andi dalam hati.


“Namun  meski begitu, Andi tetap akan menyayangi Hazel sebagai saudara Hazel. Andi gak ingin lihat Hazel sedih juga, meskipun hati kecil Andi pun tak bisa dibohongi jika Andi lebih memilih Asih. Gadis yang sudah lama Andi sukai, karena dalam diri Asih Andi menemukan sosok kakak kandungku yang dulu adalah sahabat karibnya. Memang sejak kakak kandungku meninggal, satu satunya orang yang mampu menghibur Andi saat ingat adalah Asih. Dari situlah timbul ketertarikan Andi pada Asih dan akhirnya bersemi dan berkembang menjadi rasa cinta.” Andi kembali berucap dalam hatinya. Sambil terus mengusap setiap peluh ataupun air mata yang keluar dari Hazel.


Sudah cukup lama Andi menemani Hazel diruangan itu, dalam hati kecil Andi ada perasaan gak enak sama Wawan sebenarnya. Namun mengingat Hazel saat ini lebih membutuhkan Andi maka Andi tetap menjalani dengan sabar. Soal Wawan nanti bisa dijelaskan bahwa Andi melakukan itu untuk kesembuhan Hazel semata. Bukan karena hal lain,pikir Andi.


Apa yang dirasakan dan dipikirkan Andi tampaknya diketahui oleh Hazel, sehingga air mata Hazel kembali menetes. Untung Andi tanggap dan segera mengusap setiap air mata yang dikeluarkan Hazel, jangan sampai membasahi bagian tubuhnya yang lain karena masih ada bekas luka goresan saat terjatuh kemarin.


Namun tiba tiba nafas Hazel seperti memburu, dan denyut jantungnya menjadi tidak teratur. Andi menjadi panik, kemudian menekan tombol bel darurat. Karena Andi merasa jika itu sudah diluar kemampuanya. Harus dokter sendiri yang menangani. Tak lama kemudian dokterpun datang untuk memberikan tindakan kepada hazel.


Andi lebih memilih keluar karena tidak sanggup melihat keadaan hazel yang demikian. Sementara dokter yang datang itupun segera member tindakan penanganan darurat. Dan memanggil rekan sejawatnya untuk membantu dirinya.


Andi hanya bisa berharap dan mengintip dari luar ruangan, meski cukup jauh ranjang Hazel namun masih bisa melihat tindakan apa yang diambil oleh dokter tersebut. Sementara tim medis memberi pertolongan pada Hazel.


Andi dan Wawan berharap dengan cemas sambil meanjatkan doa sebisa mereka dari luar ruangan. Sesaat kemudian datanglah kedua orang tua Hazel. Rupanya dari pihak rumah sakit yang meminta keduanya datang menjenguk Hazel.


“Ndi apa yang terjadi, kenapa orang tua Hazel sampai ditelpon disuruh kesini ?” Tanya Wawan cemas.


Andi tak mampu menjawab hanya berdiam diri sambil menahan matanya yang berkaca kaca agar air matanya tidak tumpah.


“Ndi, jawab dong jangan hanya diam !” kata Wawan.


“Hazel kritis Wan.” Jawab Andi. Membuat Wawan lemas nyaris pingsan.


...bersambung...


...Jangan lupa beri dukungan...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


 


__ADS_2