
Wajah Andi yang begitu lekat dengan Hazel tiba tiba dihujani ciuman oleh hazel, Andi menahan karena kepala Hazel masih luka bekas operasi. Andi melarang Hazel banyak bergerak dulu, agar tidak membuat luka bekas operasi hazel kembali berdarah.
“Iya deh Ndi, tapi Hazel minta kecupan bentar aja Ndi, please kecup bibirku Andi.” Pinta Hazel kemudian.
Andi pun memenuhi permintaan Hazel, meski kali ini Andi justru membayangkan sedang mencium bibir Asih kekasihnya. Baru sekejap andi mendaratkan bibirnya mengecup bibir Hazel tiba tiba terdengar suara kedua orang tua Hazel datang.
“Ehhmm Hazel kenapa nak Andi ?” Tanya mamahnya Hazel.
“eeh ini om Andi lagi benerin selimut Hazel dan batal Hazel.” Jawab Andi gelagapan berharap orang tua Hazel tidak melihat yang sebenarnya terjadi.
“owh gitu, emm ya sukurlah, kamu peduli sekali sama Hazel.” Kata papahnya Hazel bikin Andi salting.
“Iya om, Andi bersukur Hazel sudah ingat semuanya sekarang om.” Kata Andi.
“Kamu serius Hazel sudah pulih ingatanya ?” Tanya papahnya Hazel.
“Iya pah, sekarang Hazel sudah ingat semuanya berkat ketelatenan Andi mengembalikan memori Hazel.” Jawab Hazel.
Saat mereka sedang bergembira karena Hazel sudah sembuh dari amnesia datanglah perawat yang hendak memandikan Hazel. Dan membawakan Hazel sarapan pagi, yang ditaruh di meja kamar rawat Hazel.
“Permisi, mohon maaf non Hazel mau saya bersihkan dulu sebelum sarapan. Mohon mas nya keluar dulu ya.” Kata perawat itu.
Kemudian Andi dan papahnya Hazel keluar kamar melanjutkan pembicaraan mereka. Sementara mamahnya Hazel menunggui Hazel yang sedang di bersihkan badanya kalo belum mampu berdiri sendiri dan kemudian digantikan dengan baju pasien yang baru.
“Nah sekarang mbak Hazel sudah wangi dan segar, makan pagi terus obatnya diminum ya mbak ?” ucap perawat itu sambil keluar kamar.
Diluar kamar rawat Hazel perawat itu berkata pada Andi dan papahnya Hazel.
“Sudah selesai di mandikan, silakan masuk lagi, jangan lupa diingatkan minum obat setelah makan pagi nanti.” Kata perawat pada Andi.
“Iya makasih, dan tolong sampaikan ke dokter jika pasien sudah sembuh dri amnesianya !” pinta Andi.
“Baik nanti saya sampaikan, semoga luka luka dan penyambungan tulangnya juga segera sembuh dan bisa pulang kumpul keluarga lagi.” Jawab perawat itu.
“Aamiin, makasih doanya.” Kata Andi sambil berjalan masuk kamar rawat Hazel bersama papahnya Hazel.
“Hazel anak mamah, sarapan dulu terus minum obatnya yah, mau disuapin mamah atau siapa ?” Tanya mamahnya Hazel. Membuat Andi merasa tersindir, dalam hati Andi berkata “apakah mamah dan papahnya Hazel tadi tahu kalo Andi mencium Hazel.” Bisik Andi dalam hati.
“Mau mah, suapin mamah saja.” Kata Hazel.
“Yakin gak mau disuapin yang lain ?” Tanya mamah Hazel.
“Iih Mamah apaan sih, kan biasanya juga mamah yang suapin kalo Hazel lagi sakit.” Jawab Hazel malu.
“Ya kan sekarang ada Andi yang juga jagain kamu barang kali pingin disuapin Andi juga gak papa kok.” Jawab mamahnya Hazel membuat Hazel semakin memerah wajahnya.
“Gak kok mah, Andi tut u sahabat baik Hazel saja bukan pacar Hazel, Iya kan Ndi ?” kata Hazel.
“Iya kok tante, kami hanya bersahabat baik tante. Hazel itu orangnya baik dan peduli sama temen jadi kami semua sedih saat Hazel sakit.” Jawab Andi tergagap.
“Iya deh terserah kalian saja, mamah dan papah sih gak keberatan kok.” Kata mamah Hazel. Yang mengetahui perubahan wajah Hazel putrinya saat dia menyebut nama Andi. Sebagai orang yag sudah banyak pengalaman tentunya, bisa membaca perubahan wajah Hazel anaknya mendengar nama orang yang dicintainya disebut.
__ADS_1
berbeda ketika yang disebut nama cowok yang lain, tiap kali mamah dan papahnya menyebut nama Andi Hazel selalu menunjukkan perubahan wajahnya, hal itu sudah diketahui dari semenjak Hazel belum mengalami kecelakaan. Sehingga kedua orang tua Hazel memaklumi ketika Andi merasa kikuk saat tadi pagi mau mencoba membuka memori ingatan Hazel saat masih amnesia. Sehingga keduanya member kesempatan Andi dan Hazel berduaan.
Hal itu bagi Andi tentu saja menjadi beban apa bila kedua orang tua Hazel tahu apa yag sebenarnya terjadi antara Hazel dan dirinya. Mungkin juga akan balik membenci Andi karena merasa Andi mempermainkan anaknya. Andi pun merasakan perasaan bersalah menghinggapi hatinya. Namun tak banyak yang dapat diperbuat oleh dirinya.
“Papah gak maksa kamu Hazel, kamu sudah cukup umur untuk mempunyai pacar. Apa lagi papah tahu sejak kamu putus dengan Bram kamu selalu melamun.” Sambung papahnya Hazel.
“Gak kok pah, Hazel hanya sakit hati dikhianati oleh Bram. Makanya Hazel memilih untuk sendiri dulu sebelum menemukan lelaki yang bener bener bisa dipercaya. Hazel gak mau dikhiananti untuk yang kedua kalinya. Hazel memilih bebas bersama siapapun saat ini. Hazel lebih suka orang yang jujur dari pada dibohongi lagi.” Jawab Hazel.
Kata kata Hazel itu justru membuat Andi merasa tersinggung juga, karena dirinya juga merasa telah meninggalkan Hazel saat Hazel sedang merasa nyaman bersamanya. Meskipun dari awal Andi sudah terbuka jika hatinya memang sudah dipersembahkan kepada gadis lain. Atau mungkin itulah yang dimaksut Hazel lebih suka yang “Jujur”. Andi memang jujur dari awal jika hatinya milik orang lain, Hazel tahu itu jadi Hazel pun tidak punya alas an untuk membenci Andi.
Meski begitu Andi tetap merasa bersalah pada Hazel, karena tanpa sengaja memberikan harapan palsu pada Hazel yang ternyata sudah lama memendam rasa pada dirinya.
“Maaf Hazel, Andi doakan kamu nanti dapat pengganti Bram yang lebih baik dan lebih setia kepadamu.” Ucap Andi.
“Udahlah Ndi, gak usah sebut sebut nama Bram lagi. Bagi Hazel Bram itu sudah mati, gak au dengar namanya disebut sebut lagi.” Jawab Hazel sambil menitikan air matanya.
Andi menangkap arti tangisan Hazel bukan untuk Bram mantan pacarnya, tapi air mata Hazel adalah untuk dirinya yang lebih memilihg orang lain bukan Hazel. Kini giliran kedua orang tua Hazel yang terdiam, mungkin mereka juga bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi antara Andi dengan Hazel putrinya. Dan merasa tidak enak hati untuk menanyakan lebih lanjut tentang urusan kedua anak muda tersebut. Mereka hanya berharap Hazel segera sembuh dan kembali bisa beraktifitas seperti semula.
*****
Kita kembali kepada kehidupan Aster, Astri dan Asih di Jakarta
Pagi itu Astri berangkat kerumah kos an Dika, untuk menemui Dimas, yang baru datang dari Yogyakarta.
Hari masih pagi, matahari belum terlalu tinggi, ketika Arya mengabarkan jika Dimas sudah sampai di tempat Dika. Namun Dika sendiri sudah berangkat kerja, sehingga hanya Dimas dan Arya yang ada disitu.
Astri segera berpamitan pada mamahnya untuk berangkat menemui Dimas, dan juga mengabarkan kepada Hendra untuk bersiap menuju kerumah Dika dan akan diberikan lokasinya jika Astri sudah sampai dirumah kos an Dika.
Sampailah Astri di rumah Kos an Dika, dengan hati berdebar debar stri turun dari mobilnya. Setelah lebih dulu mengirimkan lokasi kepada Hendra abangnya.
“Bismillah, beri Astri kekuatan Ya Allah.” Bisik Astri sebelum turun dar mobilnya.
Dengan langkah mantap Astri menuju kerumah kos yang ada di hadapanya. Hatinya semakin berdebar mana kala tampak sosok Dimas di dalam rumah itu yang kelihatan dari pintunya yang terbuka.
“Assalaamu’alaikum.” Sapa salam Astri setelah sampai didepan pintu.
“Wa’alaikummussalaam.” Arya yang menjawab, sementara Dimas hanya terdiam sambil memandang wajah Astri kemudian kembali tertunduk seperti menahan sedih.
Kemudian Astri duduk setelah dipersilahkan duduk oleh Arya. Beberapa saat suasana berubah menjadi hening, kaku dan sedikit tegang. Ketiganya hanya terdiam tanpa ada yang mengucapkan sepatah katapun. Arya mau membuka obrolan pun tidak tahu harus mulai dari mana. Sementara Dimas seperti terkunci mulutnya tak mampu menggerakkan lidah dan bibirnya. Dan Astri juga masih berusaha keras untuk memilih kata apa yang akan dimulai membuka pembicaraan pada Dimas. Ada perasaan rindu yang sangat, ada perasaan marah dan kecewa pada Dimas juga. Entah perasaan apa lagi yang dirasakan Astri saat itu, yang jelas tangan Astri sampai gemetaran menahan gejolak perasaan yang tiada menentu pada dirinya.
“Jadi begitu ya sikapmu terhadap wanita yang secara tulus mencintai kamu. Kamu pergi tanpa memberikan alasan, tanpa member kabar. Ternyata kamu kejam ya, gak mau tahu perasaan wanita. Apakah hatimu terbuat dari batu sehingga tidak mempunyai rasa dan perasaan. Sehingga kamu seenaknya mempermainkan hatiku yang tulus mencintai kamu selama ini. apakah aku berbuat salah yang begitu besar padamu, sehingga kamu tidak bisa memaafkan salahku dan meninggalkanku begitu saja seperti kamu membuang sampah kemudian kamu tinggalkan. Dan kamu merasa tak perlu lagi mempedulikan Astri, apakah kamu gak tahu jika hati Astri itu bukan terbuat dari batu yang tidak punya rasa dan perasaan sepertimu. Astri kecewa sama kamu Dimas, Astri menyesal menyerahkan hati astri padamu yang ternyata tidak punya perasaan. Astri sangat…..?” kata kata Astri terpotong oleh Dimas.
“Cukup Astri, kamu tiak tahu apa yang aku rasakan. Akupun sakit ketika harus mengambil keputusan itu Astri. Kamu mau marah atau benci itu hak kamu, asal kamu tahu selama ini pun aku selalu memikirkan dan merindukan kamu. Tapi apalah dayaku yang tiak pantas untuk mencintai kamu. Memang benar apa yang dikatakan abang kamu Hendra, aku hanya orang…!” gentian Astri yang memotong perkataan Dimas.
“Cukup Dimas, kamu gak usah mengulang ulang kata itu. Kamu pikir Astri wanita seperti itu ? Wanita yang mengejar kemewahan dan kesenangan dunia saja ? berarti selama ini kamu menganggap Astri adalah Wanita seperti itu sehingga kamu berkata begitu ?” seru Astri dengan mata yang mulai sembab.
“Maaf, sebentar aku lupa ambilkan minum buat Astri. Astri mau minum apa, biar aku pesankan sebentar.” Kata Arya.
“Makasih Arya, Astri minta air mineral saja.” Jawab Astri.
“Kemudian Arya keluar mencarikan air mineral, tak lama kemudian datang orang membawa air mineral dan beberapa camilan namun tidak bersama Arya. Arya sengaja member kesempatan bagi Astri dan Dimas untuk bicara berdua, sehingga dia tidak kembali kerumah itu.
__ADS_1
“Maafkan aku Astri, aku mengaku bersalah karena lebih mengikuti emosiku dari pada kata hati nuraniku.” Kata Dimas setelah pengantar pesanan Arya itu pergi.
“Maksut kamu apa, lebih menuruti emosi dari pada kata hati nurani ? Apa kamu masih memiliki hati Nurani ?” kata Astri dengan mimic wajah yang masih marah pada Dimas.
“Jangan begitu Astri, aku juga tukus mencintai kamu. Hati nuraniku berkata aku harus memperjuangkan cinta kita namun emosiku mengatakan aku harus jauhi kamu karena sakit hati dengan kata kata abang kamu yang mnenuduh aku hanya mengincar harta kamu. Padahal awal kita kenal dan berpacaran saat itu aku tahunya kamu anak pedagang pasar seperti pengakuanmu. Jika aku tahu siapa kamu dari awal mungkin aku juga tidak akan berani menyatakan perasaan cintaku padamu. Karena aku juga harus tahu diri dengan keadaanku Astri.” Kata Dimas.
“Kata kata terakhir kamu itu yang buat Astri gak suka Dimas. Kenapa kamu selalu mengukur dengan kaca mata materi, jangan jangan jika kamu yang ada diposisiku kamu juga akan punya sikap seperti abangku Hendra waktu itu ?” kata Astri.
“Maksut kamu apa Astri ?” Tanya Dimas.
“Sekarang kamu merasa tidak pantas mencintai aku, karena kamu anak orang miskin dan aku anak pengusaha. Jika yang terjadi sebaliknya, aku yang anak orang miskin dan kamu anak pengusaha pasti kamu juga akan merasa tidk pantas mencintai aku yang hanya anak orang miskin, bukankah begitu logikanya Dimas ?” jawab Astri membalas perkataan Dimas.
“Gak begitu Astri, maksutku aku mencintai kamu tulus. Mau kamu anak pengusaha ataupun anak pedagang kecil tidak ada pengaruhnya bagiku Astri.” Kilah Dimas.
“Jadi kamu Pikir yang begitu itu Cuma kamu saja ? Kamu pikir kalo Astri mencintai kamu gak tulus, kamu pikir Astri mencintai kamu karena sesuatu atau karena ada maksut maksut tertentu ?” jawab Astri menyudutkan Dimas.
“Bukan begitu Astri, sejujurnya Aku tahu kamu wanita yang tulus. Udah deh aku mengaku salah meninggalkan kamu, aku berusaha melupakan kamu tapi ternyata tidak bisa. Jadi aku saat ini ingin kembali menjalin hubungan kita seperti dulu Astri. Jika kamu bersedia, apapun resikonya aku akan hadapi.” Kata Dimas.
Astri tidak langsung menjawab, malah sibuk dengan ponselnya lebih dahulu. Beberapa saat kemudian Astri baru berkata.
“Apa kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan itu Dimas ?” Tanya Astri.
“Iya aku yakin Astri, aku merasa bodoh jika aku harus kalah karena ucapan abangmu dulu. Karena gak mudah mendapatkan wanita yang tulus seperti kamu.” Jawab Dimas.
“Masalahnya Astri belum yakin Dimas, apakah kamu cukup kuat menghadapi ujian cinta kita. Sedangkan baru ucapan abangku saja sudah membuat kamu menyerah. Jangan jangan ketika ada ujian yang lebih berat kamu juga bakalan menyerah lagi. Jujur saja Astri gak suka lelaki yang cepat menyerah, Astri suka lelaki yang pantang menyerah. Jadi Astri gak mau kecewa untuk yang kedua kalinya, saat ini Astri juga masih sangat mencintai kamu. Namun jangan sampai Astri kecewa lagi dengan sifat kamu yang menyerah karena sekedar ucapan orang lain meski itu abangku sendiri.” Kata Astri.
“Tidak Astri, aku berjanji aku tidak akan menyerah sekedar dihalangi abang kamu atau dihina abang kamu seperti dulu. Aku gak peduli jika abang kamu menuduhku hanya sekedar mengincar harta kamu kek, atau sekedar memanfaatkan kamu atau dia mau menuduh aku hanya mau mempermainkan kamu. Bahkan aku akan buktikan jika aku sama sekali tidak tertarik dengan harta kamu. Jika perlu kamu akan aku ajak ke jogja hidup bersama di jogja dengan segala kesederhanaan di jogja. Tanpa menikmati atau mengambil sedikitpun harta keluargamu.” Kata Dimas meyakinkan Astri.
“Kalo kamu mau hidup susah di jogja, hidup saja sendiri tidak usah mengajak adikku untuk hidup susah bersamamu. Kamu pikir hidup cukup dengan cinta saja,kamu pikir rumah tangga gak butuh biaya. Kamu pikir merawat anak gak butuh dana. Udah sana kamu balik lagi ke jogja sendiri, gak usah bikin susah atau mengajak susah adikku. Susah saja sendiri kamu. ” Tiba tiba Hendra muncul dan langsung memarahi Dimas.
...***bersambung...
Terimakasih atas semua bentuk suport yang diberikan.
Jangan sungkan untuk memberikan saran dan kritik yang membangun.
...Juga suport nya berupa...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...🙏🙏🙏...
...Terima kasih***...
__ADS_1