
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Dan setelah menu pesanan mereka datang mereka pun segera menikmati hidangan menu yang mereka pesan. Setelah selesai Hendra segera memanggil Taksi untuk mengantar Asih dan Arya kembali ke kantor sementara Hendra dan Asih melanjutkan rencana mereka untuk menemui manager perusahaan yang akan diajak kerja sama. Dan saat saat seperti itu Hendra selalu memperkenalkan dirinya sebagai asisten Aster, sehingga sering kali membuat Aster gemas dengan tingkah Hendra tersebut.
“Abang kenapa selalu bilang Asisten Aster di depan klien sih ?” Tanya Aster ketika masuk mobil meninggalkan perusahaan kliennya.
“Gak papa kan, masak sama klien bilang kita suami istri malah dikira modus penipuan nanti !” jawab Hendra enteng.
“Ya gak gitu juga kali, kan bisa bilang sebagai pemilik saham perusahaan ?” jawab Aster.
“Gak bisa dong, dikira gak percaya sama tenaga marketing handalnya.” Ucap Hendra.
“Iih abangnyebelin banget…!” gerutu Aster.
Suasana harmonis Nampak paa ke3hidupan rumah tangga Aster dan hendra, dengan segala tingkah mereka yang bahkan kadang terlihat konyol. Namun tetap menunjukkan keserasian keduanya. Pasangan suami istri yang hamir selalu bersama dalam setiap kesempatan.
Namun tanpa mereka sadari ada beberapa karyawan yang kurang menyukai keduanya Nampak harmonis. Karena ada beberapa orang yang sebenarnya menyukai Hendra, dan berharap bisa menjadi kekasih Hendra. Setelah tahu Hendra adalah pemilik saham perusahaan tersebut. karena memang Hendra baik juga terhadap semua orang.
Begitu juga sebaliknya dengan Aster, ada beberapa orang yang menyukai dia diam diam. Dan dari sekian karyawan berpandangan miring terhadap Aster. Karena setahu mereka dari awal Aster sangat membenci Hendra, atau paling tidak Aster tidak menyukai Hendra. Tanpa tahu jika Aster begitu karena unsure balas dendam masa lalu dan akhirnya menyukai Hendra saat masih berpura pura menjadi Asisten pribadinya.
Namun beberapa karyawan berpikiran beda, mereka mengira Aster begitu tahu Hendra adalah pemilik Saham perusahaan tersebut kemudian berusaha mendekati dan merayu hendra. Sampai akhirnya Hendra bisa terpikat olehnya. Sehingga mereka secara bisik bisik menghembuskan isu tersebut. Isu bahwa selama ini Aster merayu Hendra dengan berbagai cara agar hendra dapat terpikat olehnya. Bahkan pernikahan mereka yang dianggap dadakan itu dianggap sebagai salah satu jebakan Aster dan menuduh pernikahan tersebut karena MBA ( Married By Acident ).
Begitu kejamnya sebuah Fitnah, dan begitu cepatnya fitnah itu menyebar keseluruh karyawan. Ibarat anak panah yang terlepas dari busrnya melesat dengan sangat cepat. Sehingga karyawan lain yang sebenarnya tidak mempunyai pikiran apapun akhirnya menjadi terpengaruh oleh isu tersebut.
Sehingga banyak karyawan yang selama ini menaruh hormat pada Aster secara tulus, bukan hanya karena dia istri dari pemilik saham perusahaan tersebut. sekarang ini menjadi sinis dan menggunjung di belakang. Meski mereka tetap bermanis manis jika dihadapan Aster dan hendra.
Namun di belakang mulut nyinyir mereka menebar fitnah keji, bahkan ada yang saking dengkinya sampai menyebut jika Aster adalah wanita yang bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
Sehingga sampai muncul anggapan jika Aster itu memang selalu menggunakan wajah dan bahkan tubuhnya juga dalam meloloskan kerja sama dengan perusahaan asing dahulu. Padahal mereka sebagian besar juga tahu jika owner perusahaan tersebut adalah sahabat Aster waktu masih kuliah di jepang.
Namun jika hati sudah tertutup dengan rasa dengki, maka kebenaran sejati akan kalah oleh opini yang mendukung prasangkanya semata. Sehingga mereka mengingkari kebenaran demi memperturutkan rasa dengki yang ada di hati mereka.
Tak mampu lagi mereka menerima kenyataan dan kebenaran yang sebenarnya sudah sangat jelas. Bahwa Aster bertindak secara professional dalam meloloskan kerjasama dengan peerusahaan asing dulu.
“Aster, kamu dengar tidak sih desas desus yang berkembang saaat ini, tentang tuduhan beberpa karyawan yang menuduh kita menikah karena MBA ?” Tanya Hendra kepada Aster suatu malam.
“Dengar juga sih bang, tapi ngapain yang kayak gitu diurusin. Kayak gak ada kerjaan lain saja ?” jawab Aster santai.
“Bukan begitu Aster, tapi karena mereka itu kan karyawan kita. Mengapa begitu keji menuduh kita dengan tuduhan yang tidak berdasar seperti itu ?” Tanya Hendra.
“Lah terus kenapa bang, mereka juga manusia biasa mungkin mereka menganggap Aster seperti diri mereka. Yang akan menghalalkan segala cara cara demi mencapai nafsu dan keinginan mereka.” Jawab Aster.
“Tapi mereka adalah karyawan perusahaan kita, masak gak ada hormat sama sekali dengan kita ?” sungut Hendra.
“Biarin saja bang, selama mereka masih bisa bekerja secara professional gak usah di tindak. Kecuali jika memang sampai mempengaruhi kinerja mereka baru abang boleh ambil tindakan. Karena itu menjadi urusan pekerjaan. Selama tidak memengaruhi biarin saja gak usah di tanggapin. Karena kalo di tanggapi justru kita yang kalah menanggapi masalah receh yang gak ada untungnya.” Jawab Aster.
“Aah kamu ini dikatain dan dituduh begitu masih santai santai saja…!” ucap Hendra.
“Aster hidup bukan untuk mereka dan bukan karena mereka, jadi ngapain pusing karena mereka benci Aster. Buang buang energy yang gak perlu. Biarkan waktu yang berbicara nanti, bahwa tuduhan mereka itu tidak benar dan itu justru pukulan telak bagi mereka. Kalo kita tanggapin justru mereka semakin menjadi karena tuduhan mereka kita respon.” Jawab Aster.
Memang benar juga kata Aster, jika tuduhan asal itu di tanggapi maka yang menuduh justru tepuk tangan merasa berhasil mengusik ketenangan seseorang. Tapi jika dibiarkan saja justru mereka yang menuduh akan berpikir sendiri. Karena omongan mereka seperti tak dianggap, atau hanya di anggap angin lalu yang tidak berpengaruh. Sehingga itu justru akan membuat si penuduh merasa sangat kecewa dan bingung sendiri.
Untunglah Aster sudah terdidik untuk tidak terlalu ambil pusing omongan minir seseorang, sehingga hanya mau mendengar omongan orang yang sifatnya memberikan masukan positif. Bukan mendengarkana omongan nyinyir yang tidak ada pentingnya.
__ADS_1
“Jujur aku sebagai suami kamu gak terima jika kamu di jelek jelekan oleh karyawanku sendiri. Rasanya ingin memecat mereka semua.” Kata Hendra.
“Jangan bang, itu tindakan emosional. Kasihan keluarganya yang tidak ikut bersalah menjadi korban jika mereka di pecat. Biarkan saja, jika mereka nanti sudah tahu kebenarannya maka mereka akan malu sendiri. Dan bisa jadi berbalik menjadi semakin loyal pada perusahaan.” Jawab Aster.
Hendra pun mendengarkan kata kata Aster dan mulai berpikir. Bahwa apa yang diucapkan oleh Aster itu adalah benar. Adapun yang hendra rasakan adalah sebuah ekspresi luapan emosi dan dorongan amarah serta sedikit factor merasa punya kekuasaan saja.
Sehingga Hendra semakin mengagumi dan semakin mencintai Aster istrinya.
“Kamu memang istri yang sangat baik, aku makin cinta saja.”Kata Hendra pada Aster sambil memeluk nya.
“gak usah nngegombal deh bang, berarti dulu gak cinta beneran kalo sekarang bilang makin cinta ?” gerutu Aster.
“ya gak gitu lah…!” ucap Hendra yang selalu serba salah menghadapi Aster jika mencoba merayu menunjukan Cinta dan perhatianya pada Aster.
Hendra harus banyak bersabar menghadapi Aster orang yang tidak suka berbasa basi, apa adanya dan cuek dengan komentar miring orang lain jika itu tidak benar. Bagi Aster hidup itu tidak perlu mendengar suara nyinyir orang lain, karena orang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Yang ada hanyalah opini orang yang berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Dn hl itu hanya akan membuang waktu tenaga dan pikirannya jika harus ditanggapi.
Begitulah kehidupan Aster dengan Hendra dalam berumah tangga, riak gelombang kecil justru merupakan tantangan kehidupan rumah tangganya yang selalu dapat dilalui bersama dengan rasa bahagia.
Hingga pada waktu yang telah disepakati bersama untuk mengunjungi orang tua Andi tiba. Aster mengajak Asih untuk sekalian menjenguk orang tuanya.
“Asih kita jadi menjenguk orang tua Andi, kuharap kamu juga bersedia untuk menjenguknya. Sekalian kamu tengok kedua orang tuamu.” Kata Aster kepada Asih.
“Iya Aster, Asih juga sudah rindu dengan kedua orang tua Asih.” Jawab Asih.
“kalo begitu bersiaplah kita akan berangkat sebentar lagi kamu aku jemput ya.” Kata Aster kepada Asih melalui percakapan telpon.
Maka berkemaslah lah Asih untuk berangkat menemui kedua orang tua Andi sekaligus orang tuanya juga. Asih agak gemetar memikirkan apa yang harus diucapkan kepada kedua orang tua Andin anti saat bertemu mereka. Tentulah sangat sulit bagi Asih menghadapi kedua calon mertuanya yang gagal itu. masih untung Sita sudah tidak lagi tinggal bersama kedua orang tua Andi saat itu. sehingga tidak perlu Asih bertatap muka dan bertutur sapa dengan Sita yang mungkin akan menimbulkan perdebetan dan pertengkaran.
Beberapa saat kemudian Aster dan hendra sudah datang menjemput asih. Dan Asih pun sudah siap untuk berangkat. Kemudian Asih pun berpamitan dengan Nisa sahabatnya dan juga sahabat Aster.
“Kalian hati hati ya dijalan, semoga semua baik baik saja.” Ucap Nisa kepada Asih, Aster dan hendra.
“Iya Nisa, kamu juga jaga diri dirumah ya, mungkin kami beberapa hari disana baik baik jaga diri.: kata Asih kepada Nisa.
Berabgkatlah Asih mengikuti bersama Hendra dan Aster menuju kerumah Andi dank e rumah Asih yang hanya berdampingan.
Sementara itu dirumah pak baskoro, pak baskoro yang sedang merawat istrinya yang tengah sakit sakitan sejak musibah yang menimpa Andi itu tampak semakin kurus semakin tidak bisa mengurus diri dan kesehatnnya semakin menurun.
“Bu sudahlah, jangan terlalu dipikirkan bagaimanapun Andi itu sudah besar sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Karena kita sudah mendidiknya. Adapun saat ini sedang lupa dengan jalan hidupnya, cukup kamu doakan saja agar Andi cepat kembali sadar dan hidup dengan benar.” Kata pak Baskoro.
“Tidak semudah itu pak. Bagi seorang wanita yang telah mengandungnya selama Sembilan bulan lebih. Apa lagi anak kita hanya dua Diana sudah dipanggil lebih dulu. Sementara Andi anak kita yang tinggal semata wayang sekarang jadi seperti itu.” jawab bu Halimah ibunya Andi.
“Ya bapak juga merasakan itu buk, tapi apa mau dikata semua sudah terjadi dn kita selaku orang tua juga sudah melaksanakan kewajiban mendidik Andi. Itu bukti kelemahan kita sebagai manusia yang hanya bisa merencanakan. Tapi Allah yang menentukan segalanya. Kita hanya bisa berdoa saat ini.” ucap pak Baskoro mencoba menghibur dan memberikan semangat hidup bagi bu Halimah istrinya.
Namun bu Halimah seperti sudah berputus asa saat itu. bahkan kabar tentang Andi pun kini dia sudah tidak pernah mendengarnya lagi. Meski bu Halimah tetap berharap Andi kembali dan dia tetap akan memaafkan Andi sebesar apapun kesalahan yang telah di perbuat Andi. Dan masih berharap Andi segera sadar dan kembali hidup secara wajar bersama keluarganya.
“Apa ini karena keinginan Andi untuk menikah dengan Asih dulu tidak kita penuhi ya pak ?” Tanya bu Halimah pada pak baskoro dengan tatapn mata yang pilu.
“Tidak bu, semua ini bukan slah siapa siapa memang harus begitulah jalan hidup Andi. Bapak hanya bisa berharap dengan ini semua Andi menjadi sadar dan kembali ke jalan hidup yang sesungguhnya.” Jawab pak Baskoro.
Beberapa saat setelah mereka mengobrol tiba tiba mendengar pintu diketuk dan ucapan salam Aster.
“Assalaamu ‘alaikum pak lek bulek !” sapa Aster yang datang bersama Hendra suaminya juga Asih. Asih Nampak grogi mau masuk kerumah pak Baskoro, karena semenjak peristiwa beredarnya video syur Andi dan Syasya semua keadaan menjadi berubah.
“Wa’alaikummussalaam….!” Jawab pak Baskoro sambil beranjak membukakan pintu untuk Aster dan rombongannya.
“Dan setelah pintu dibuka pak Baskoro pun sangat terkejut dengan kehadiran Asih yang tidak diduganya.
“Asih… maafkan bapak ya atas semua perilaku Andi selama ini !” ucap pak Baskoro pertama kali menyapa Asih karena rasa bersalahnya atas tingkah laku Andi anaknya yang menyakiti hati Asih.
Asih pun tak mampu menjawab apapun, kecuali hanya menangis dan menyalami pak baskoro dan mencium tangannya sebagai rasa hormat. Meski gagal untuk menjadi menantunya, namun Asih tetap menunjukkan rasa hormatnya kepada pak Baskoro.
“Sudah pak lek, bagaimana kondisi bulek saat ini ?” Tanya Aster kepada pak Baskoro.
__ADS_1
“Itu ada di kamar, kondisi kesehatanya sangat tidak baik susah sekali disuruh makan dan minum vitamin sekarang.” Jawab Pak Baskoro.
“Paklek, ijinkan saya melihat kondisi bulek dan berbicara. Siapa tahu saya bisa membantu untuk mencari Andi.” Ucap Hendra suami Aster.
“Owh iya, maaf paklek sampai lupa mempersilahkan kalian masuk.” Ucap pak Baskoro. Dan mereka bertiga pun segera masuk kerumah dan berjalan menuju kamar dimana bu Halimah berbaring lemah.
Begitu melihat disitu ada Asih bu Halimah pun tak kuasa lagi menahan tangisnya. Dia semakin teringat dengan Andi anak kesayanganya yang kini entah dimana dan bagaimana kabarnya pun bu Halimhah sudah tidak pernah mendengarnya lagi.
“Maafkan anak ibu yan Asih, pasti kamu sangat sakit hati kepada Andi. Dan terimakasih kamu masih mau menjenguk ibu saat ini.” ucap bu Halimah sambil menangis dan memeluk Asih.
Asih pun tak kuasa menahan Haru, untung saja Arya tidak jadi ikut. Tentunya dapat menambah kesedihan bu halimah dan pak Baskoro jika dia datang bersama Arya. Calon pengganti Andi yang gagal menjadi kekasih nya Asih itu.
“Bulek, mohon maaf saya dan Aster juga baru bisa datang kali ini. karena memang baru ada pekerjaan yang harus kami selesaikan lebih dahulu. Dan saat ini ijinkan kami untuk membantu bulek dan paklek mencari Andi.” Kata Hendra suami Aster.
“Gak papa nak, bulek yang minta maaf karena tidak bisa menghadiri pernikahan kalian waktu itu. karena bulek baru dirawat di rumah sakit.” Ucap bu Halimah dengan lemah.
“Bulek harus kuat, semoga saja Andi kembali sadar dan kembali ke kehidupanya yang dulu. Bulek doakan saja agar Andi cepat kembali sadar. Dan bulek harus mau berjuang agar tetap sehat bulek.” Kata Aster terisak melihat kondisi bu Halimah yang semakin kurus dan puca itu.
Bu Halima justru kembali menangis dan kemudian menceritakan kedatangan Sita yang mengaku Hamil karena Andi dan menuntut tanggung jawab Andi dan juga kepadanya sebagai orang tua Andi. Namun untungnya sekarang di suruh tinggal di rumah yang sedianya dulu akan di hadiahkan kepada Andi dan Asih sebagai hadiah pernikahannya.
Mendengar itu meledaklah tangis Aster juga Asih, bahkan Hendra pun sampai berkaca kaca mendengar kisah cinta yang berakhir pilu itu.
“Bulek ijinkan saya untuk mencari keberadaan Andi saat ini, biar nanti dibantu oleh beberapa orang teman kami. Semoga saja Andi bisa segera diajak pulang kerumah ini.” kata Hendra suami Aster.
“Gak semudah itu nak, orang kampong sini juga belum tentu mau menerima Andi atas apa yang pernah dia lakukan dulu terhadap salah satu warga sini juga.” Ucap bu Halimah.
“Saya tahu bulek, namun itu juga bukan sepenuhnya kesalahan Andi. Jika wanitanya tidak mau juga pasti tidak akan terjadi. Jadi gak adil jika kebencian mereka terhadap Andi sampai segitunya. Biar nanti saya yang akan berbicara dengan para tokoh masyarakat sini agar mau menerima Andi kembali meskipun mungkin dengan persyaratan tertentu.” Ucap Hendra kepada bu Halimah.
Dan Hendra sudah bertekad untuk mencari Andi sampai ketemu dan mengajaknya pulang kerumah untuk mengajaknya kembali ke jalan hidup yang normal. Meskipun dulu Hendra pun hampir marah saat Andi hendak menampar Aster yang waktu itu masih menjadi calon Istrinya. Namun begitu melihat keadaan orang tua Andi yang juga paman dan bibi istrinya perasaan Hendra menjadi luluh dan melupakan maslah pribadinya.
Kemudian Hendra menelpon beberapa orang untuk datang kerumah itu untuk diberi tugas mencari dimana keberadaan Andi dan diminta untuk mengajak pulang bersama ke rumah itu.
Dengan power financial dan pengaruh yang Hendra miliki tidaklah sulit menyuruh orang untuk mencari eberadaan Andi. Kemudian dalam waktu yang tidak terlalu lama. Hanya sekitar dua jam, orang orang yang dipanggil Hendra pun sudah sampai dirumah itu.
Dilihat dari penampilan orang orang itu menunjukkan bahwa mereka adalah orang orang yang biasa hidup di dunia keras. Sehingga tentu sangat mudah untuk mencari keberadaan Andi. Karena bagi mereka itu mungkin memang sudah menjadi salah satu pekerjaan mereka. Mencari orang hilang atau sejenisnya.
Asih dan Aster yang melihat penampilan mereka pun jadi agak takut, namun setelah mereka memberikan hormat kepada Hendra juga kepada semua yang ada disitu barulah mereka tahu jika orang orang itu adalah dibawah kekuasaan Hendra suami Aster.
Jadi perasaan takut pun sedikit demi sedikit mulai hilang.
“Mohon maaf bu, jangan lihat penampilan kami yang seperti ini, kami memang dulunya orang jalanan. Tapi semenjak dibantu dan ditolong pak Hendra sekarang kami sudah hidup secara wajar. Meski penampilan kami memang masih seperti ini. karena badan kami yang penuh tato ini tentu sudah sulit dihilangkan.” Ucap salah satu orang yang datang.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...