Cinta Asteria

Cinta Asteria
tambah satu sahabat Aster


__ADS_3

“Bang, meski kita tiap hari berantem tapi Astri kan tetep


sayang sama abang. Kenapa harus tinggalkan rumah ?” Tanya Astri. Yang merasa


keberatan ditinggal Hendra abangnya. Walau bagaimanapun Hendra adalah satu


satunya lelaki dikeluarga itu yang bisa menjadi tulang punggung keluarga.


“Tenang adikku, abang akan segera pulang dan tinggal dirumah


ini lagi jika sudah ada wanita yang mencintai abangmu apa adanaya, bukan


mencintai abangmu karena pewaris perusahaan.” Jawab Hendra.


Meski berat akhirnya mereka merelakan kepergian hendra demi


untuk mencari ketenangan atas kekecewaanya terhadap Elisa.


Ditempat lain, Arya kebingungan mencoba menghubungi Astri


yang saat itu juga ganti nomer hp. Karena ingin melupakan Dimas, padahal Arya


ingin memberikan no Dimas pada Astri. Arya sudah siap dimarahi Dimas, toh dia


sudah dijogja ini,pikirnya. Namun sayang Astri juga sudah ganti no kontaknya.


Sementara Arya pun harus kembali ke kot a Bandung, karena juga sudah selesai wisuda.


“Gak mungkin juga aku ke rumah Astri, males ketemu abangnya


yang songong.” Gerutu Arya.


Entah berap cangkir kopi yang sudah dihabiskan Arya waktu


itu. Yang jelas dalam asbaknya sudah penuh dengan punting rokok. Sudah hamper dua


bungkus Arya menghabiskan rokok, saat sedang menulis Arya memang seperti


lokomotif yang selalu mengepilkan Asap. Dilihatnya jam di dinding sudah


enunjukkan pukul 02.30. mata Aryapun sudah menyempit seakan sudah tak mampu


membuka mata sempurna.


Arya kemudian mematikan layar monitor lap topnya, sambil


menyalakan rokok terakhir menjelang tidur. Pikiranya justru jauh melayang,


bingung menghadapi sikap Dimas,Hendra dan Astri. Kepulan asap rokok dari mulut


Arya seakan membawa angan Arya kea lam lamunanya. Sungguh kasihan Astri, aku


sahabatnya tapi tak bisa berbuat apa apa.


Memang abangnya keterlaluan menilai Dimas dan menghina Dimas


seperti itu. Namun tak seharusnya juga Dimas mengambil keputusan sepihak


begitu. Yang tentu saja sangat melukai Astri sahabatnya. Arya jadi ingat jasa


Astri saat mendamaikan kesalah pahaman Arya dan kekasihnya ifah, siti Nafiah


yang biasa dipanggil Ifah. Betapa gigihnya Astri menjelaskan pada Ifah, jika


dirinya dengan Arya tidak ada hubungan lebih dari sekedar teman.


Sampai akhirnya Astri mengaakui Dimas sebagai pacarnya untuk


meyakinkan Ifah. Meski akhirnya Dimas dan Astri pun akhirnya saling jatuh cinta,


dan mereka jadi pacar beneran. Namun saat Astri yang membutuhkan bantuan, apa


yang kamu lakukan Dimas ? kamu hanya pasif saja tanpa melakukan tindakan


apapun.


“Maafkan aku Astri, otakku buntu menghadapi kesombongan


abang kamu dan keangkuhan Dimas pacar kamu.” Bisik hati Arya.


Jadi beneran nih, kamu akan diam saja tanpa melakukan upaya


membantu Astri, dan kamu besuk akan kembali ke bandung dengan membiarkan Astri


menyimpan luka ? kata hati Arya. Pada akhirnya sama saja, Arya pun sama


angkuhnya tidak mau kerumah Astri hanya karena malas ketemu Hendra abangnya.


Arya berangkat tidur setelah hisapan terakhir rokok


ditanganya, mata yang sudah tak kuat lagi serta badan yang juga cape membuat


arya langsung tertidur dikamar kosnya.


Esuk pagi saat bangun pun Arya langsung berkemas, berangkat


pulang ke bandung tanpa menemui Astri sahabatnya yang membutuhkan bantuanya


lebih dulu. Sejak saat itupun Arya tak lagi pernah bertemu dengan Astri maupun


Dimas. Persahabatan yang dulu begitu dekat sekarang seakan lenyap ditelan waktu


dan perubahan.


Flashback off


********


Saat jam pulang kantor, Asih masih berada dimeja kerjanya


untuk mempelajari format laporan yang menjadi tugasnya. Tiap hari dia harus


mengirimkan progress report keuangan perusahaan berdasarkan laporan masuk tiap


hari. Dan cut off laporan masuk jam 15.00 jadi setelah jam itu Asih baru bisa


melakukan rekapitulasi dan melaporkan via email setelah melakukan ricek.


Sementara Aster yang dihari pertama kerja sudah membuat


heboh, sekarang mempunya sahabat baru Anisa. Karyawan yang pro dengan Aster. Tapi


yang kontra dengan Aster justru jumlahnya lebih banyak. Ya begitulah dunia


kerja bagi yang tidak bisa berisikap dewasa, bersaing dengan cara tidak sehat. Saling


menjatuhkan lawan untuk mengangkat dirinya sendiri. Bukan dengan menunjukkan


hasil atau prestasi dirinya.


Untunglah Aster sudah terbiasa hidup di lingkungan orang


orang yang workaholic sehingga semua omongan nyinyir tidak dia tanggapi. Yang penting


berusaha keras untuk memberikan hasil yang terbaik, tidak perduli omongan orang


orang yang hasut, prinsip Aster.


“Aster, kamu mau pulang ke mana ?” Tanya Anisa.


“Eem aku ke daerah cempaka putih deket sini kok Nisa, kamu kemana ?” Tanya balik


Aster.


“Owh, aku kos di dekat perusahaan ini aja, jalan kaki juga


sampai kok.” Sahut Anisa.


“Wah enak dong, mang kamu asli mana nisa ?” Tanya Aster.


“Aku Asli dari jawa timur, belum lama juga bekerja disini. Jadi


cari kos yang deket perusahaan saja biar deket.” Jawab Anisa.


“Ikut gabung sama aku saja yuk, kita tinggal bertiga nanti,


aku kamu dan Asih. Karyawan baru masuk tadi juga barengan Aster, tapi dia di


bagian Administrasi.” Kata Asih.


“Gampang besuk kalo udah terima gajian baru mikir pindah


kos, gak enak juga terlalu dekat.dirumahpun keingat pekerjaan terus.” Kata Nisa.


Aster jadi terdiam, mau bilang itu rumah bokapnya juga gak enak tapi gak bilang


merasa kasihan juga sama Nisa. Tinggal sendirian seorang cewek lagi.


“mang kamu berapa bulan kerja disini ?” Tanya Aster.


“Baru enam bulan jalan, dan sewa rumah kos, enam bulan


juaga. Jadi memang bulan ini habis rencana mau cari tempat lain, tapi waktunya


agak susah jarang liburnya.” Jawab Anisa.


“udah pindah tempatku aja besuk gak usah mikir yang lain


lain.” Kata Aster.


“gimana besuk aja Aster, kita lihat situasi dan kondisi ?”


jawab Nisa.


“Maksutnya gimana ?” Tanya Aster gak faham maksut Nisa.


“Ya aku kan anak pertama, adik adik aku masih sekolah, jadi


sebagian hasil kukirimkan buat tambah biaya sekolah adik ku.” Jawab Nisa.


Aster semakin takjub dengan Nisa, selain tutur katanya halus


dia kagum dengan Nisa yang rela menyisihkan uang gajianya untuk membantu orang


tuanya membiyayai adiknya.


“Maaf Nisa, jangan tersinggung ya Aster mau nawarin kamu


tinggal sama Aster. Bukan kos di tempat lain, tapi Aster minta tolong ditemeni


karena Aster tinggal hanya berdua dengan Asih dirumah orang tua Aster.” Kata Aster

__ADS_1


hati hati.


“Owh gitu, gak enak ah malah ngrepotin kalian nanti.” Jawab Nisa.


“Gak lah, kan aku yang minta tolong, soalnya kalo malem


hanya berdua suka takut.” Kata Aster berbohong demi kebaikan.


“Lah mango rang tuamu kemana Aster ?” Tanya Nisa.


“Orang tuaku masih, ada tugas diluar kota jadi gak tinggal


di situ.” Jawab Aster, berbohong lagi gak mau mengatakan orang tuanya diluar


Negeri.


“Serius kah kamu Aster, kan kita ini baru saja kenal. Masa kamu


langsun percaya begitu saja ?” kata Nisa.


“Ya emang sih kita baru kenal, tapi kita kan bekerja


dikantor yang sama. Kalo kamu jahat data diri kamu ka nada di perusahaan ini. Jadi


Aster bisa cari kamu kemanapun.” Jawab Aster sambil tersenyum.


“Ya gak gitu juga maksutku, biasanya kalo baru kenal kan


masih cuek masa bodo. Kok kamu baru kenal sehari sudah nawarin aku tinggal


dirumah kamu, itu maskutnya.” Jawab Nisa.


“Ya feeling saja sih kalo itu, yang jelas aku salut sama


kamu yang mau bantu orang tuamu biayayai sekolah adik adikmua.” Jawab Aster.


“Eeh mendingan kita lanjutkaan ngbrolnya di kos aku yuk,


lebih bebas. Kan sudah selesai kerjaan kita, dan sudah waktunya jam pulang


kantor.” Ajak Nisa.


“Wah gimana ya, kan aku nunggu Asih juga, kasihan alo


ditinggal sendiri nati.” Awab Aster menolak halus.


“Tungguin di kos aku saja, kan berhadapan langsung dengan pintu


keluar masuk perusahaan ini. Nanti kalo Asih pulang juga pasti kelihatan kok.” Bujuk


Nisa.


“Hmm boleh juga, tapi bilangin asih dulu yuk, sekalian


kalian kenalan biar makin akrab nanti.” Ajak Aster.


“Boleh, ayuk !” jawab Nisa.


Aster dan Nisa menuju ke ruangan Asih, dan Aster


memperkenalkan Nisa serta bilang kalo Aster nunggu didepan pintu gerbang


bersama Nisa.


“Asih sebentar lagi juga selesai kok, paling gak sampai


20menit lagi. Gak papa kalin tunggu di depan.” Kata Asih.


Aster dan Nisa berjalan keluar, dan menuju ke kos an Nisa. Sesampai


di kos an Nisa Aster dan nisa mencuci muka dulu sebelum melanjutkan ngobrol.


“Kasihan nisa, tinggal sendirian apa apa sendirian. Kalo pas


gak enak badan gimana nanti.” Bisik Aster ketika dikamar mandi. Saat Aster


keluar nisa sudah menghindangkan teh manis dan beberapa camilan.


“Kamu gak takut tinggal sendirian begini Nisa ?” Tanya Aster.


“Takut apa Aster ?” Tanya Nisa balik.


“Ya bukan takut yang aneh aneh, takut kalo pas lagi gak enak badan apa apa


sendiri kalo mau kedokter misalnya kan jadi repot Nisa ?” jawab Aster.


“Ya habis bagaimana lagi Aster, namanya hidup diperantauan


seorang diri ya apa apa kan harus mandiri.” Jawab Nisa.


“Makanya udah temenin Aster saja yuk, mala mini juga kamu


ikut Aster aja.” Desak aster.


Sementara nisa masih terdiam bingung antara menerima atau


menolak. Kalo menerima takut merepotkan Aster kalo menolak juga gak enak.


“Gimana Nisa, mau gak nenmenin Aster, biar kita ada teman


ngobrol nanti.” Kata Aster.


“Ya tapi jangan malam ini juga Aster, masak mendadak begitu.”


“Maksut Aster malam ini bukan pindahanya, tapi kamu ikut


saja dulu. Pindahan mah gampang kapan saja bisa.” Sahut Aster.


“Iya deh, nanti Nisa ikut Aster.” Jawab Nisa tak lagi dapat


mengelak.


“Btw, kamu ada foto keluarga gak, katanya punya adik. Cowok


apa cewek Nisa ?” Tanya Aster.


Kemudian Nisa menunjukan foto bapak ibunya juga kedua


adiknya.


“Wah adikmu cakep cakep ya, yang cewek cantik kayak kamu


yang cowok juga ganteng. Udah kelas berapa dia Nisa ?” Tanya Aster.


“Yang cowok baru masuk kuliah, sedang adiknya baru kelas Satu


SMA.” Jawab Nisa.


“Wah hebat ya orang tuamu pasti bangga punya anak anak


seperti kalian Nisa.” Sanjung Aster.


“Ah gak juga Aster, aku hanya orang biasa, ya begitulah


kehidupan kami di dusun. Bapakku kerja di perusahaan swasta, ibuk jualan dipasar.


Kalo aku gak ikut nbantuin biaya adik adik kan kasihan orang tuaku. Memang Aster


gak punya adik ya ?” Tanya Nisa.


“Owh gak punya Nisa, Aster gak punya saudara kandung.” Jawab


Aster.


“Owh anak tunggal, ya wajarlah, pasti dimanja sama orang


tuanya.” Sahut Nisa.


“Gak juga kok Nisa, Aster malah terbiasa dididik mandiri


dari dulu. Sewaktu masih kecil ya mang dimanja, tapi ketika sudah remaja mulai


didik mandiri sama orang tua Aster, meski anak tunggal juga.” Jawab Aster.


“Btw Aster dah punya pacar belum ?” Tanya Nisa.


“Belum Nisa, masih pingin Fokus mengejar karir dulu. Kalo Nisa


sendiri sudah punya pacar ?” Tanya balik Aster pada Nisa.


“Gimana ya, ada sih yang deket tapi belum lama kenal juga,


sama sama karyawan perusahaan tempat kita bekerja. Tapi belum ada komitmen


apapun. Hanya sering say hello lewat chat atau kadang orangnya main kesini.” Jawab


Nisa.


“Ya gak papalha, kan wajar cowok cewek saling suka Nisa. Berarti


lagi nunggu di tembak nih ?” goda Aster.


“Ya gak begitu juga sih, tapi yang aku takutkan kalo aku


ikut kamu nanti dia jadi gak boleh dating dong Aster.” Kata Nisa.


“Siapa yag bakal melarang, asal tahu waktu dan tahu batas


kalo dia mau main silahkan saja.” Jawab Aster.


“Ya kalo itu pasti lah Aster, Nisa juga harus tahu batas,


main kesinipun Nisa ijinin kalo gak lewat jam 21.00 lewat itu harus pulang. Dan


juga ketemunya diluar gak boleh masuk. Sesuai aturan kos begitu.” Jawab Nisa.


“Owh jadi kos juga ada aturanya ya ?” Tanya Aster.


“Ya harus lah, kalo gak jadi pergaulan bebas kan bahaya


Aster.” Jawab Nisa.


Saat mereka sedang ngoborol, tampak Asih keluar dari pintu


gerbang perusahaan.


“Itu Asih, ajak sini dulu Aster.” Ucap Nisa.


“Owh iya, biar Aster samperin dulu.” Kata Aster.


Kemudian ster meminta Asih untuk menunggu sebentar di kos an

__ADS_1


Nisa, sementara Aster mengambil kendaraanya dibawa keluar dari perusahaan


diparkir agak jauh dari kos an Nisa.


“Lah Aster mana Asih, kok kamu sendirian ?” Tanya Nisa.


“Aster baru mengambil kendaraanya Nisa, wah Asih jadi


ngerepotin Nisa nih ?” ucap Asih.


“Gak papa asih, Cuma air aja kok. Eeh Asih ni pasti dari


sunda ya dari logatnya kelihatan banget, Asih ?” ucap Nisa.


“Ah masa sih, mang Nisa tahu dari mana ?” Tanya Asih.


“Nisa ada kenalan orang Sunda juga, dari bandung katanya. Teman


satu kerja juga.” Jawab Nisa.


“Ehmm cocok kamu ya Nisa ?” Tanya Asih.


“Ehmm belum sih baru pedekate aja.” Jawab Nisa.


“Owh jadi cowok yang kamu ceritakan tadi dari bandung ?” Tanya


Aster mengejutkan Asih dan Nisa.


“Iih Aster kebiasaan datang datang langsung nyahut, bikin


kaget aja.” Kata Asih.


“Nisa gak kaget kok, apa Asih juga lagi inget cowoknya jadi


kaget sama kedatangan Aster ?” goda Nisa.


“Ya bisa jadi sih, tapi nisa perlu tahu Asih ini cowoknya


adalah sepupu aku. Jadi kalo dia macam macam disini bisa aku kick nanti.” Canda


Aster.


“Emangnya Aih cewek apaan kali Aster, Andi aja dah cukup


bagi Asih. Gak aka nada yang lain !” jawab Asih.


“Owh jadi nama cowok Asih itu Andi ya, wah kalian bakalan


jadi suadara dong nanti. Asih panggil Aster kakak atau adik nanti ?” gurau Nisa


yang langsung bisa akrab dengan Asih juga.


“Andi tu adik sepeupu Aster, jadi Asih nanti panggil aku


Kakak Nisa.” Jawab Aster.


“Wah kayaknya harus belajar dari sekarang nih, Asih panggil


Aster kakak biar nanti gak canggung Asih.” Kata Nisa.


“Nisa iih bisa aja, tambah deh orang yang ngejahilin Asih


sekarang,” kata Asih.


“bercanda Asih, eeh kalian pingin makan apa ? Kan belum pada


makan kan, mau aku masakin mie instan atau masak nasi goreng aja ?” Tanya Nisa.


“Emm kayaknya gak usah lah, yuk jadi ikut ketempatku


sekarang saja Nisa. Soal makan nanti gampanglah kita cari sambil jalan saja.”


Ucap Aster.


“Diih disini saja makan nya, biar agak irit kalo jajan kan


boros Aster.” Ucap Nisa.


“Aah gak tiap hari kok, hitung hitung sukuran Aster dan Asih


sudah mulai kerja hari ini Nisa.” Kata Aster.


“Yaudah tapi aku pamit ibu kos dulu, biar gak kena marah


nanti.” Ucap Nisa, kemudian berjalan menuju sebuah rumah untuk berpamitan.


Setelah itu mereka berangkat kerumah Aster, Nisa sempat


kaget tahu Aster mengendarai mobil yang masih baru. Nisa jadi berpikir, jangan


jangan Nisa ini anak orang kaya. Padahal bapaknya berpesan jangan deket deket


orang kaya nanti kamu jadi berubah pola pikirnya. Ya begitulah orang dusun yang


saking berhati hatinya kadang dalam menasehati anak sukka berlebiahn begitu.


Tapi setidaknya, itu sangat berpengruh juga bagi Nisa,


sehingga Nisa tampak menjadi agak kaku dengan Aster dan Asih.


“Mau cari makan apa sekarang ?” Tanya Aster.


“Apa aja deh, Asih ma apa aja ok.” Jawab Asih.


“Nisa ada usul apa nih ?” Tanya Nisa.


“Ah aku mah tadi udah makan dikantor masih kenyang.” Jawab Nisa.


“Ah Nisa gak Asik kalo gitu, bantu pilih menu dong biar


rame.” Pinta Aster.


“Nisa kan jarang jajan keluar disini jadi gak tahu menu


jajan disini.” Jawab Nisa.


“Yaudah Aster lagi pingin makan nasi goreng kambing, gak ada


yang pantang kan ?” Tanya Aster.


“Mang ada sekitar sini Aster ?” Tanya Asih.


“Ya nyari lah gak harus sekitar sinijauhhan dikit gak papa


nanti pulang langsung tidur kan enak.” Jawab Aster.


“Yaudah cari lewat aplikasi sja yg paling deket mana ?” kata


Aster sambil pegang kemudi.


Biar Asih yang cari kamu pegang kemudi saja Aster. Biar dibantuin


Nisa nyari.” Kata Asih.


“Owh iya, bagus dah ingetin Aster lagi pegang kemudi.” Jawab


Aster.


Nisa hanya diam, dlam hatinya gelisah, berpikir berapa uang


yang harus dikeluarkan untuk makan sementara dia harus menghemat untuk bisa


mengirim rumah agak banyak, biar aiknya bisa beli buku.


“Udah dapet belum Asih ?” Tanya Aster.


“Belum nih, Nisa udah dapet belum ?” Tanya Asih.


“Belum juga, ni kayaknya servernya error dari tadi belum


masuk.” Ucap NIsa.


“Ah ini sudh ada Aster, ni denahnya gak jauh kok.” Kata Asih.


“Ok kita cabut kesana yuk.” Ucap Aster membalikkan arah


kendaraanya menuju lokasi.


Sesaat kemudian sampailah mereka kelokasi yang dituju,


sampai disana cukup banyak yang antri pesananan.


“Kayaknya memang enak nih laris banget, gak papa antri


sebentar sambil pesan minuman dulu gih, pesan sendiri sendiri. Ayuk nisa jangan


sungkan, anggp kali ini Aster dan Asih sukuran karena diterima kerja. Jadi mala


mini ster traktir deh.” Kata Aster seakan mampu melihat kegelisahan Nisa. Mungkin


jug karena sudah mendengr perjuangan nisa untuk membiayai aik adiknya.


Belum sempat minuman yang dipesan diminum tiba tiba Aster


dikejutkan dengan kedatangan seorang laki laki yang langsung menepuk pundaknya.


“Hai apa kabar, maaf aku dulu terus pulang ke bandung jadi


gak sempat nyari kamu. Dan sekarang aku bru sempat kembali kesini mau mencri


kamu, eeh malah ketemu disini.” Ucap laki laki itu tanpa member kesempatan


Aster ngomong.


Aster yang paling tidak suka dicolek lelaki jadi spontan


marah.


“Kamu jadi orang sopan dikit bisa gak sih, mang siapa kamu


berani berani nyolek gue. Lo pikir gue cewek murahan, haa….” Kata Aster sambil


melotot.


Laki laki itu jdi bingung mendengar jawaban Aster yang


sangat marah dan melotot memandang mukanya tanpa berkedip.


Bahkan seisis penghuni warung pun kaget melihat kearahan


Aster, termasuk Nisa sahabat barunya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2