
“Bang, meski kita tiap hari berantem tapi Astri kan tetep
sayang sama abang. Kenapa harus tinggalkan rumah ?” Tanya Astri. Yang merasa
keberatan ditinggal Hendra abangnya. Walau bagaimanapun Hendra adalah satu
satunya lelaki dikeluarga itu yang bisa menjadi tulang punggung keluarga.
“Tenang adikku, abang akan segera pulang dan tinggal dirumah
ini lagi jika sudah ada wanita yang mencintai abangmu apa adanaya, bukan
mencintai abangmu karena pewaris perusahaan.” Jawab Hendra.
Meski berat akhirnya mereka merelakan kepergian hendra demi
untuk mencari ketenangan atas kekecewaanya terhadap Elisa.
Ditempat lain, Arya kebingungan mencoba menghubungi Astri
yang saat itu juga ganti nomer hp. Karena ingin melupakan Dimas, padahal Arya
ingin memberikan no Dimas pada Astri. Arya sudah siap dimarahi Dimas, toh dia
sudah dijogja ini,pikirnya. Namun sayang Astri juga sudah ganti no kontaknya.
Sementara Arya pun harus kembali ke kot a Bandung, karena juga sudah selesai wisuda.
“Gak mungkin juga aku ke rumah Astri, males ketemu abangnya
yang songong.” Gerutu Arya.
Entah berap cangkir kopi yang sudah dihabiskan Arya waktu
itu. Yang jelas dalam asbaknya sudah penuh dengan punting rokok. Sudah hamper dua
bungkus Arya menghabiskan rokok, saat sedang menulis Arya memang seperti
lokomotif yang selalu mengepilkan Asap. Dilihatnya jam di dinding sudah
enunjukkan pukul 02.30. mata Aryapun sudah menyempit seakan sudah tak mampu
membuka mata sempurna.
Arya kemudian mematikan layar monitor lap topnya, sambil
menyalakan rokok terakhir menjelang tidur. Pikiranya justru jauh melayang,
bingung menghadapi sikap Dimas,Hendra dan Astri. Kepulan asap rokok dari mulut
Arya seakan membawa angan Arya kea lam lamunanya. Sungguh kasihan Astri, aku
sahabatnya tapi tak bisa berbuat apa apa.
Memang abangnya keterlaluan menilai Dimas dan menghina Dimas
seperti itu. Namun tak seharusnya juga Dimas mengambil keputusan sepihak
begitu. Yang tentu saja sangat melukai Astri sahabatnya. Arya jadi ingat jasa
Astri saat mendamaikan kesalah pahaman Arya dan kekasihnya ifah, siti Nafiah
yang biasa dipanggil Ifah. Betapa gigihnya Astri menjelaskan pada Ifah, jika
dirinya dengan Arya tidak ada hubungan lebih dari sekedar teman.
Sampai akhirnya Astri mengaakui Dimas sebagai pacarnya untuk
meyakinkan Ifah. Meski akhirnya Dimas dan Astri pun akhirnya saling jatuh cinta,
dan mereka jadi pacar beneran. Namun saat Astri yang membutuhkan bantuan, apa
yang kamu lakukan Dimas ? kamu hanya pasif saja tanpa melakukan tindakan
apapun.
“Maafkan aku Astri, otakku buntu menghadapi kesombongan
abang kamu dan keangkuhan Dimas pacar kamu.” Bisik hati Arya.
Jadi beneran nih, kamu akan diam saja tanpa melakukan upaya
membantu Astri, dan kamu besuk akan kembali ke bandung dengan membiarkan Astri
menyimpan luka ? kata hati Arya. Pada akhirnya sama saja, Arya pun sama
angkuhnya tidak mau kerumah Astri hanya karena malas ketemu Hendra abangnya.
Arya berangkat tidur setelah hisapan terakhir rokok
ditanganya, mata yang sudah tak kuat lagi serta badan yang juga cape membuat
arya langsung tertidur dikamar kosnya.
Esuk pagi saat bangun pun Arya langsung berkemas, berangkat
pulang ke bandung tanpa menemui Astri sahabatnya yang membutuhkan bantuanya
lebih dulu. Sejak saat itupun Arya tak lagi pernah bertemu dengan Astri maupun
Dimas. Persahabatan yang dulu begitu dekat sekarang seakan lenyap ditelan waktu
dan perubahan.
Flashback off
********
Saat jam pulang kantor, Asih masih berada dimeja kerjanya
untuk mempelajari format laporan yang menjadi tugasnya. Tiap hari dia harus
mengirimkan progress report keuangan perusahaan berdasarkan laporan masuk tiap
hari. Dan cut off laporan masuk jam 15.00 jadi setelah jam itu Asih baru bisa
melakukan rekapitulasi dan melaporkan via email setelah melakukan ricek.
Sementara Aster yang dihari pertama kerja sudah membuat
heboh, sekarang mempunya sahabat baru Anisa. Karyawan yang pro dengan Aster. Tapi
yang kontra dengan Aster justru jumlahnya lebih banyak. Ya begitulah dunia
kerja bagi yang tidak bisa berisikap dewasa, bersaing dengan cara tidak sehat. Saling
menjatuhkan lawan untuk mengangkat dirinya sendiri. Bukan dengan menunjukkan
hasil atau prestasi dirinya.
Untunglah Aster sudah terbiasa hidup di lingkungan orang
orang yang workaholic sehingga semua omongan nyinyir tidak dia tanggapi. Yang penting
berusaha keras untuk memberikan hasil yang terbaik, tidak perduli omongan orang
orang yang hasut, prinsip Aster.
“Aster, kamu mau pulang ke mana ?” Tanya Anisa.
“Eem aku ke daerah cempaka putih deket sini kok Nisa, kamu kemana ?” Tanya balik
Aster.
“Owh, aku kos di dekat perusahaan ini aja, jalan kaki juga
sampai kok.” Sahut Anisa.
“Wah enak dong, mang kamu asli mana nisa ?” Tanya Aster.
“Aku Asli dari jawa timur, belum lama juga bekerja disini. Jadi
cari kos yang deket perusahaan saja biar deket.” Jawab Anisa.
“Ikut gabung sama aku saja yuk, kita tinggal bertiga nanti,
aku kamu dan Asih. Karyawan baru masuk tadi juga barengan Aster, tapi dia di
bagian Administrasi.” Kata Asih.
“Gampang besuk kalo udah terima gajian baru mikir pindah
kos, gak enak juga terlalu dekat.dirumahpun keingat pekerjaan terus.” Kata Nisa.
Aster jadi terdiam, mau bilang itu rumah bokapnya juga gak enak tapi gak bilang
merasa kasihan juga sama Nisa. Tinggal sendirian seorang cewek lagi.
“mang kamu berapa bulan kerja disini ?” Tanya Aster.
“Baru enam bulan jalan, dan sewa rumah kos, enam bulan
juaga. Jadi memang bulan ini habis rencana mau cari tempat lain, tapi waktunya
agak susah jarang liburnya.” Jawab Anisa.
“udah pindah tempatku aja besuk gak usah mikir yang lain
lain.” Kata Aster.
“gimana besuk aja Aster, kita lihat situasi dan kondisi ?”
jawab Nisa.
“Maksutnya gimana ?” Tanya Aster gak faham maksut Nisa.
“Ya aku kan anak pertama, adik adik aku masih sekolah, jadi
sebagian hasil kukirimkan buat tambah biaya sekolah adik ku.” Jawab Nisa.
Aster semakin takjub dengan Nisa, selain tutur katanya halus
dia kagum dengan Nisa yang rela menyisihkan uang gajianya untuk membantu orang
tuanya membiyayai adiknya.
“Maaf Nisa, jangan tersinggung ya Aster mau nawarin kamu
tinggal sama Aster. Bukan kos di tempat lain, tapi Aster minta tolong ditemeni
karena Aster tinggal hanya berdua dengan Asih dirumah orang tua Aster.” Kata Aster
__ADS_1
hati hati.
“Owh gitu, gak enak ah malah ngrepotin kalian nanti.” Jawab Nisa.
“Gak lah, kan aku yang minta tolong, soalnya kalo malem
hanya berdua suka takut.” Kata Aster berbohong demi kebaikan.
“Lah mango rang tuamu kemana Aster ?” Tanya Nisa.
“Orang tuaku masih, ada tugas diluar kota jadi gak tinggal
di situ.” Jawab Aster, berbohong lagi gak mau mengatakan orang tuanya diluar
Negeri.
“Serius kah kamu Aster, kan kita ini baru saja kenal. Masa kamu
langsun percaya begitu saja ?” kata Nisa.
“Ya emang sih kita baru kenal, tapi kita kan bekerja
dikantor yang sama. Kalo kamu jahat data diri kamu ka nada di perusahaan ini. Jadi
Aster bisa cari kamu kemanapun.” Jawab Aster sambil tersenyum.
“Ya gak gitu juga maksutku, biasanya kalo baru kenal kan
masih cuek masa bodo. Kok kamu baru kenal sehari sudah nawarin aku tinggal
dirumah kamu, itu maskutnya.” Jawab Nisa.
“Ya feeling saja sih kalo itu, yang jelas aku salut sama
kamu yang mau bantu orang tuamu biayayai sekolah adik adikmua.” Jawab Aster.
“Eeh mendingan kita lanjutkaan ngbrolnya di kos aku yuk,
lebih bebas. Kan sudah selesai kerjaan kita, dan sudah waktunya jam pulang
kantor.” Ajak Nisa.
“Wah gimana ya, kan aku nunggu Asih juga, kasihan alo
ditinggal sendiri nati.” Awab Aster menolak halus.
“Tungguin di kos aku saja, kan berhadapan langsung dengan pintu
keluar masuk perusahaan ini. Nanti kalo Asih pulang juga pasti kelihatan kok.” Bujuk
Nisa.
“Hmm boleh juga, tapi bilangin asih dulu yuk, sekalian
kalian kenalan biar makin akrab nanti.” Ajak Aster.
“Boleh, ayuk !” jawab Nisa.
Aster dan Nisa menuju ke ruangan Asih, dan Aster
memperkenalkan Nisa serta bilang kalo Aster nunggu didepan pintu gerbang
bersama Nisa.
“Asih sebentar lagi juga selesai kok, paling gak sampai
20menit lagi. Gak papa kalin tunggu di depan.” Kata Asih.
Aster dan Nisa berjalan keluar, dan menuju ke kos an Nisa. Sesampai
di kos an Nisa Aster dan nisa mencuci muka dulu sebelum melanjutkan ngobrol.
“Kasihan nisa, tinggal sendirian apa apa sendirian. Kalo pas
gak enak badan gimana nanti.” Bisik Aster ketika dikamar mandi. Saat Aster
keluar nisa sudah menghindangkan teh manis dan beberapa camilan.
“Kamu gak takut tinggal sendirian begini Nisa ?” Tanya Aster.
“Takut apa Aster ?” Tanya Nisa balik.
“Ya bukan takut yang aneh aneh, takut kalo pas lagi gak enak badan apa apa
sendiri kalo mau kedokter misalnya kan jadi repot Nisa ?” jawab Aster.
“Ya habis bagaimana lagi Aster, namanya hidup diperantauan
seorang diri ya apa apa kan harus mandiri.” Jawab Nisa.
“Makanya udah temenin Aster saja yuk, mala mini juga kamu
ikut Aster aja.” Desak aster.
Sementara nisa masih terdiam bingung antara menerima atau
menolak. Kalo menerima takut merepotkan Aster kalo menolak juga gak enak.
“Gimana Nisa, mau gak nenmenin Aster, biar kita ada teman
ngobrol nanti.” Kata Aster.
“Ya tapi jangan malam ini juga Aster, masak mendadak begitu.”
“Maksut Aster malam ini bukan pindahanya, tapi kamu ikut
saja dulu. Pindahan mah gampang kapan saja bisa.” Sahut Aster.
“Iya deh, nanti Nisa ikut Aster.” Jawab Nisa tak lagi dapat
mengelak.
“Btw, kamu ada foto keluarga gak, katanya punya adik. Cowok
apa cewek Nisa ?” Tanya Aster.
Kemudian Nisa menunjukan foto bapak ibunya juga kedua
adiknya.
“Wah adikmu cakep cakep ya, yang cewek cantik kayak kamu
yang cowok juga ganteng. Udah kelas berapa dia Nisa ?” Tanya Aster.
“Yang cowok baru masuk kuliah, sedang adiknya baru kelas Satu
SMA.” Jawab Nisa.
“Wah hebat ya orang tuamu pasti bangga punya anak anak
seperti kalian Nisa.” Sanjung Aster.
“Ah gak juga Aster, aku hanya orang biasa, ya begitulah
kehidupan kami di dusun. Bapakku kerja di perusahaan swasta, ibuk jualan dipasar.
Kalo aku gak ikut nbantuin biaya adik adik kan kasihan orang tuaku. Memang Aster
gak punya adik ya ?” Tanya Nisa.
“Owh gak punya Nisa, Aster gak punya saudara kandung.” Jawab
Aster.
“Owh anak tunggal, ya wajarlah, pasti dimanja sama orang
tuanya.” Sahut Nisa.
“Gak juga kok Nisa, Aster malah terbiasa dididik mandiri
dari dulu. Sewaktu masih kecil ya mang dimanja, tapi ketika sudah remaja mulai
didik mandiri sama orang tua Aster, meski anak tunggal juga.” Jawab Aster.
“Btw Aster dah punya pacar belum ?” Tanya Nisa.
“Belum Nisa, masih pingin Fokus mengejar karir dulu. Kalo Nisa
sendiri sudah punya pacar ?” Tanya balik Aster pada Nisa.
“Gimana ya, ada sih yang deket tapi belum lama kenal juga,
sama sama karyawan perusahaan tempat kita bekerja. Tapi belum ada komitmen
apapun. Hanya sering say hello lewat chat atau kadang orangnya main kesini.” Jawab
Nisa.
“Ya gak papalha, kan wajar cowok cewek saling suka Nisa. Berarti
lagi nunggu di tembak nih ?” goda Aster.
“Ya gak begitu juga sih, tapi yang aku takutkan kalo aku
ikut kamu nanti dia jadi gak boleh dating dong Aster.” Kata Nisa.
“Siapa yag bakal melarang, asal tahu waktu dan tahu batas
kalo dia mau main silahkan saja.” Jawab Aster.
“Ya kalo itu pasti lah Aster, Nisa juga harus tahu batas,
main kesinipun Nisa ijinin kalo gak lewat jam 21.00 lewat itu harus pulang. Dan
juga ketemunya diluar gak boleh masuk. Sesuai aturan kos begitu.” Jawab Nisa.
“Owh jadi kos juga ada aturanya ya ?” Tanya Aster.
“Ya harus lah, kalo gak jadi pergaulan bebas kan bahaya
Aster.” Jawab Nisa.
Saat mereka sedang ngoborol, tampak Asih keluar dari pintu
gerbang perusahaan.
“Itu Asih, ajak sini dulu Aster.” Ucap Nisa.
“Owh iya, biar Aster samperin dulu.” Kata Aster.
Kemudian ster meminta Asih untuk menunggu sebentar di kos an
__ADS_1
Nisa, sementara Aster mengambil kendaraanya dibawa keluar dari perusahaan
diparkir agak jauh dari kos an Nisa.
“Lah Aster mana Asih, kok kamu sendirian ?” Tanya Nisa.
“Aster baru mengambil kendaraanya Nisa, wah Asih jadi
ngerepotin Nisa nih ?” ucap Asih.
“Gak papa asih, Cuma air aja kok. Eeh Asih ni pasti dari
sunda ya dari logatnya kelihatan banget, Asih ?” ucap Nisa.
“Ah masa sih, mang Nisa tahu dari mana ?” Tanya Asih.
“Nisa ada kenalan orang Sunda juga, dari bandung katanya. Teman
satu kerja juga.” Jawab Nisa.
“Ehmm cocok kamu ya Nisa ?” Tanya Asih.
“Ehmm belum sih baru pedekate aja.” Jawab Nisa.
“Owh jadi cowok yang kamu ceritakan tadi dari bandung ?” Tanya
Aster mengejutkan Asih dan Nisa.
“Iih Aster kebiasaan datang datang langsung nyahut, bikin
kaget aja.” Kata Asih.
“Nisa gak kaget kok, apa Asih juga lagi inget cowoknya jadi
kaget sama kedatangan Aster ?” goda Nisa.
“Ya bisa jadi sih, tapi nisa perlu tahu Asih ini cowoknya
adalah sepupu aku. Jadi kalo dia macam macam disini bisa aku kick nanti.” Canda
Aster.
“Emangnya Aih cewek apaan kali Aster, Andi aja dah cukup
bagi Asih. Gak aka nada yang lain !” jawab Asih.
“Owh jadi nama cowok Asih itu Andi ya, wah kalian bakalan
jadi suadara dong nanti. Asih panggil Aster kakak atau adik nanti ?” gurau Nisa
yang langsung bisa akrab dengan Asih juga.
“Andi tu adik sepeupu Aster, jadi Asih nanti panggil aku
Kakak Nisa.” Jawab Aster.
“Wah kayaknya harus belajar dari sekarang nih, Asih panggil
Aster kakak biar nanti gak canggung Asih.” Kata Nisa.
“Nisa iih bisa aja, tambah deh orang yang ngejahilin Asih
sekarang,” kata Asih.
“bercanda Asih, eeh kalian pingin makan apa ? Kan belum pada
makan kan, mau aku masakin mie instan atau masak nasi goreng aja ?” Tanya Nisa.
“Emm kayaknya gak usah lah, yuk jadi ikut ketempatku
sekarang saja Nisa. Soal makan nanti gampanglah kita cari sambil jalan saja.”
Ucap Aster.
“Diih disini saja makan nya, biar agak irit kalo jajan kan
boros Aster.” Ucap Nisa.
“Aah gak tiap hari kok, hitung hitung sukuran Aster dan Asih
sudah mulai kerja hari ini Nisa.” Kata Aster.
“Yaudah tapi aku pamit ibu kos dulu, biar gak kena marah
nanti.” Ucap Nisa, kemudian berjalan menuju sebuah rumah untuk berpamitan.
Setelah itu mereka berangkat kerumah Aster, Nisa sempat
kaget tahu Aster mengendarai mobil yang masih baru. Nisa jadi berpikir, jangan
jangan Nisa ini anak orang kaya. Padahal bapaknya berpesan jangan deket deket
orang kaya nanti kamu jadi berubah pola pikirnya. Ya begitulah orang dusun yang
saking berhati hatinya kadang dalam menasehati anak sukka berlebiahn begitu.
Tapi setidaknya, itu sangat berpengruh juga bagi Nisa,
sehingga Nisa tampak menjadi agak kaku dengan Aster dan Asih.
“Mau cari makan apa sekarang ?” Tanya Aster.
“Apa aja deh, Asih ma apa aja ok.” Jawab Asih.
“Nisa ada usul apa nih ?” Tanya Nisa.
“Ah aku mah tadi udah makan dikantor masih kenyang.” Jawab Nisa.
“Ah Nisa gak Asik kalo gitu, bantu pilih menu dong biar
rame.” Pinta Aster.
“Nisa kan jarang jajan keluar disini jadi gak tahu menu
jajan disini.” Jawab Nisa.
“Yaudah Aster lagi pingin makan nasi goreng kambing, gak ada
yang pantang kan ?” Tanya Aster.
“Mang ada sekitar sini Aster ?” Tanya Asih.
“Ya nyari lah gak harus sekitar sinijauhhan dikit gak papa
nanti pulang langsung tidur kan enak.” Jawab Aster.
“Yaudah cari lewat aplikasi sja yg paling deket mana ?” kata
Aster sambil pegang kemudi.
Biar Asih yang cari kamu pegang kemudi saja Aster. Biar dibantuin
Nisa nyari.” Kata Asih.
“Owh iya, bagus dah ingetin Aster lagi pegang kemudi.” Jawab
Aster.
Nisa hanya diam, dlam hatinya gelisah, berpikir berapa uang
yang harus dikeluarkan untuk makan sementara dia harus menghemat untuk bisa
mengirim rumah agak banyak, biar aiknya bisa beli buku.
“Udah dapet belum Asih ?” Tanya Aster.
“Belum nih, Nisa udah dapet belum ?” Tanya Asih.
“Belum juga, ni kayaknya servernya error dari tadi belum
masuk.” Ucap NIsa.
“Ah ini sudh ada Aster, ni denahnya gak jauh kok.” Kata Asih.
“Ok kita cabut kesana yuk.” Ucap Aster membalikkan arah
kendaraanya menuju lokasi.
Sesaat kemudian sampailah mereka kelokasi yang dituju,
sampai disana cukup banyak yang antri pesananan.
“Kayaknya memang enak nih laris banget, gak papa antri
sebentar sambil pesan minuman dulu gih, pesan sendiri sendiri. Ayuk nisa jangan
sungkan, anggp kali ini Aster dan Asih sukuran karena diterima kerja. Jadi mala
mini ster traktir deh.” Kata Aster seakan mampu melihat kegelisahan Nisa. Mungkin
jug karena sudah mendengr perjuangan nisa untuk membiayai aik adiknya.
Belum sempat minuman yang dipesan diminum tiba tiba Aster
dikejutkan dengan kedatangan seorang laki laki yang langsung menepuk pundaknya.
“Hai apa kabar, maaf aku dulu terus pulang ke bandung jadi
gak sempat nyari kamu. Dan sekarang aku bru sempat kembali kesini mau mencri
kamu, eeh malah ketemu disini.” Ucap laki laki itu tanpa member kesempatan
Aster ngomong.
Aster yang paling tidak suka dicolek lelaki jadi spontan
marah.
“Kamu jadi orang sopan dikit bisa gak sih, mang siapa kamu
berani berani nyolek gue. Lo pikir gue cewek murahan, haa….” Kata Aster sambil
melotot.
Laki laki itu jdi bingung mendengar jawaban Aster yang
sangat marah dan melotot memandang mukanya tanpa berkedip.
Bahkan seisis penghuni warung pun kaget melihat kearahan
Aster, termasuk Nisa sahabat barunya.
__ADS_1
Bersambung.