
Episode 25
“ Iya sayang.” kata Andi sambil mencium kening Asih.kemudian kali ini Asih yang memulai mencium bibir Andi. Dan andi pun menyambut dengan lembut. “mmmhhh… sayang…” erangan Asih yang begitu menikmati ciuman andi. Apa lagi saat tangan Andi mulai bergerak merayap kebagian bagian tertentu.
Asih hanya menggeliat melepaskan ciumanya, menikmati kecupan bibir Andi dari mulai leher hingga menjelajah turun karena kancing baju atas Asih sudah terbuka. “aaachh Ndiiii…. Mmmhh aaaach… oouuwh… cercau Asih yang sudah tak terkendali.
Andi pun semakin bersemangat menjelajahi wajah dan tubuh bagian atas Asih yang sudah sangat pasrah dalam pelukan Andi.
Aaaaah…..sayaaaaaang,,,, Nndi…….ouuugh....
Saat Andi dan Asih baru memadu kasih, terdengaar mobil Aster datang, Asih cepat cepat membenahi diri dan masuk rumah. Maksutnya mau membuat minuman hangat buat Andi, sekaligus menghilangkan kecurigaan Aster dan Astri.
“ Ah Andi ganas juga Asih sampai hampir lupa diri tadi, apakah kemarin dengan Hazel juga begitu ya. Kok Asih jadi ngerasa cemburu begini ?” Tanya Asih Dalam hati.
Andi di teras rumah Asih melihat kedatangan Aster dan Asih, yang membawa bungkusan belanjaan masuk ke teras rumah Andi.
“ Lah pada kemana tu orang, dibawaain camilan malah pada pergi.” Seru Astri.
“ Coba lihat dirumah Asih ada gak, barang kali disana, takut dilihat orang kalo berduaan disini mungkin.” Jawab Aster.
“Eeeh bocah, baru juga jadian mang mo pada ngapain takut ketahuan segala ?” sahut Astri.
“ Ya urusan mereka lah Astri, dah pada dewasa ini. Bisa berpikir baik dan buruk.” Jawab Aster.
“ Iya mang, lihat kerumah Asih saja yuuk !” ajak Astri kepada Aster.
“ Yuk ah.” Jawab Aster.
Andi yang mendengar peercakapan mereka hanya diam, memikirkan jawaban apa yang akan diberikan jika ditanya nanti.
“ Nah benerkan ada disini.” Seru Aster.
“ Iya mbak, biar lebih keren cowok yang samperin ke rumah cewek.” Jawab Andi.
“ Bukanya lagi nyari tempat berlindung Ndi ?” gurau Astri.
“ Apaan Astri iih !” jawab Andi.
“ Ya kali aja, merasa disini lebih terlindung gak dilihat orang. Asihnya mana ?” Tanya Astri.
“ Baru kedalam sebentar, gak tahu lagi ngapain ?” jawab Andi.
“ Gak lagi ngambek lagi kan ?” Tanya Aster.
“ Gak kok mbak, semua baik baik saja.”jawab Andi.
Sesaat kemudian Asih datang bawa minuman buat Andi.
“ Eeh Aster dan Astri mau minum apa ?” Tanya Asih.
“ Udah gak usah kita bawa minuman sekalian belanja tadi.” Jawab Astri.
“ Kok pindah kesini ngobrolnya Asih ?” Tanya Aster.
“ Gak papa kok, tadi habis jalan keliling komplek terus Asih ajak kesini, ini baru Asih buatin minum.” Jawab Asih.
Rupanya Asih pun pandai bersandiwara juga, didepan Aster dan Astri.
“ Owh kirain nyari tempat yang sepi buat berduaan.” Seloroh Astri.
“ Ah Astri apaan kali.” Jawab Asih agak tersipu.
“ Kan aku bilang kirain, kenapa kamu jadi tersipu gitu Asih. Jangan jangan beneran ya ?” goda Astri membuat Andi dan Asih hanya tersenyum malu.
“ Udah dibilangin, habis jalan jalan keliling komplek aja kok, terus pindah kesini karena haus, Asih buatin minuman hangat. Itu saja kok.” Sahut Andi.
“ Yee kita juga gak Tanya ngapain aja kalian tadi, Cuma nanya kok tahu tahu pinah kesini.”
Waktu itu Andi dan Asih seperti menjadi bahan bullyan Aster dan Astri, mereka hanya terdiam dan tersenyum saja diejek sama Aster dan Asih.
Saat jam sudah menunjukkan pukul 23.30 Andi pun pamit pada Asih untuk istirahat. Diikuti Astri dan Aster yang juga beristirahat dirumah Andi.
“ Jangan cemburu ya Asih, kita yang ikutan kerumah Andi. Kamu belum boleh kalo sekarang.” Astri kembaali menggoda Asih.
Astri yang memang agak jahil, sedangkan jika Aster hanya sering menimpali kejahilan Astri.
Malam yang dudah larut membuat mereka cepat tertidur, kecualai Asih yang masih terbayang kejadian barusan di teras rumahnya. Andi kamu begitu mempesona, kamu lah orang yang pertama kali menyentuh Asih dan mencium bibir Asih.
Rupanya ciuman itu merupakan ciuman pertama bagi Asih, dan cinta Asih pada Andi pun bisa dibilang cinta pertama. Karena selama ini Asih memang tidak pernah keluar rumah selain keperluan kampus, dan dikampuspun Asih hanya berteman dengan komunitas yang mayoritas cewek.
Asih sulit memejamkan mata, karena selalu teringat apa yang dilakukan Andi tadi. Apakah Asih dan Andi akan bisa sampai ke pelaminan nanti, pikir Asih. Yang sudah berharap jauh kedepan bisa menjadi Istri Andi. Lama merenung akhirnya Asih terlelap bersama mimpi indahnya bersama Andi.
...*********...
“ Pagi Om Tante.” sapa Astri pada Bapak ibunya Andi.
“ Pagi juga Nak, Aster mana sama Andi.” Tanya bu Halimah ibu nya Andi.
“ Kalo Aster masih dikamar mandi. Sedang Andi tadi pamitnya mau joging setelah subuh tante.” Jawab Astri.
“ Astri ini kok mirip sekali dengan ponakan kami Aster ya ?” Tanya pak Baskoro pada Astri.
“ Gak tahu juga Om, tapi kata mamah Astri waktu hamil Astri. Mamah suka sekali dengan Aster bayi, waktu itu Aster umur 7 bulan mamah Astri Hamil Astri 6 bulan.” Jawab Astri.
“ Jadi kalian dulu bertetangga di daerah tangerang sana ?” Tanya pak Baskoro.
__ADS_1
“ Iya pak, saat Astri dan Aster kecil selalu bersama bahkan tidur dan makan pun harus selalu berdua. Sampai Aster dibawa ke Jepang oleh kedua orang tuanya.” Jawab Astri.
“ Owh begitu, mungkin mamah kamu pingin sekali punya Anak cewek ?” Tanya bu Halimah.
“ Iya tante, karena sudah punya anak cowok, maka pingin punya anak cewek.” Jawab Astri.
“ Jadi kamu punya kakak cowok ?” Tanya bu Halimah dan pak Baskoro barengan.
“ Eeh iya Om Tante, tapi saat ini tidak tinggal bersama kami dirumah. Baru ada sedikit masalah tapi tetap sering berkunjung kerumah kami juga. Jenguk mamah, kalo papah sudah almarhum.” Jawab Astri.
“ Owh, yang sabar nak, maaf kita gak tahu.” Ucap bu Halimah.
“ Iya tante, tidak apa apa kok, kami sudah menerima kepergian papah.” Jawab Astri.
“ Kalo kakakmu sekarang bekerja apa nak ?” Tanya pak Baskoro.
Astri agak ragu menjawab pertanyaan itu.
“ Eeeh buka usaha sih pak, tapi tidak tiap hari ditungguin hanya di pasrahkan temenya. Kakak Astri masih pingin menyendiri katanya.” Jawab Aster.
Pak Baskoro dan bu Halimah menangkap jika Astri menyembunyikan identitas kakaknya sehingga tidak melanjutkan pertanyanya.
Beberapa saat kemudian Aster datang, membawa minuman hangat dan pisang goreng untuk teman ngeteh.
“ Kamu yang buat pisang goreng ini Aster ?” Tanya pak Baskoro.
“ Iya pak lek, maaf kalo rasanya gak sesuai ya ?” jawab Aster.
“ Enak kok, pakai tepung apa ini ?” Tanya pak Baskoro lanjut.
“ Tepung khusus pisang goreng, semalam di super market belanja pingin coba tepung itu. Kebetulan tadi lihat ada pisang, yaudah Aster buat praktek saja.” Jawab Aster.
Mereka bertiga terlibat obrolan ringan pagi itu, sambil ngeteh dan menunggu Andi pulang.
...*********...
Andi POV
Sementara Andi yang lagi jogging sama Asih, masih menghabiskan waktu bersama mereka disebuah tanah lapang yang biasa dipaki nongkrong para pesepeda dan pelaku olah raga pagi.
“ Masih ingat pertama kali kamu ketemu mbak Aster disini Asih ?” Tanya Andi.
“ Masih lah, kukira dia dulu pacar kamu, aku agak cemburu waktu itu.” Kata Asih.
“ Kok Cuma agak, gak cemburu banget gitu ?” gurau Andi.
“ Yak karena waktu itu Asih merasa gak punya hak untuk cemburu Andi, kalo sekarang Asih sangat cemburu. Tapi bukan pada Aster.” Jawab Asih.
“ Terus pada siapa ?” Tanya Andi.
Andi terdiam sejenak.
“ Kok Asih nanya begitu ?” kata Andi.
“ Ya kan orang cemburu memang begitu Andi !” jawab Asih.
“ Gak ngapa ngapain kok Asih, Cuma ngobrol saja !” jawab Andi bohong.
“ Kayaknya Asih gak percaya deh, tapi asal itu jadi masa lalu gak papa kok Ndi.” Kata Asih.
“ Iya Asih, btw udah siang nih matahari sudah kelihatan. Kita pulang yuk !” ajak Andi.
“ Buru buru amat, Asih masih pingin bersama Andi nih.” Jawab Asih.
“ Ya sambil jalan pulang aja, kita lanjutin ngobrol. Nanti siang ku ajak jalan jalan lagi deh, tapi pakai motor aja.” Kata Andi.
“ Boleh, asik pakai motor malah.” Jawab Asih.
Kemudian Andi dan Asih melangkah pulang, tidak lagi berlari kecil seperti saat berangkat tapi jalan santai menikmati suasana.
Sesampai dirumah Andi langsung menuju kamar mandi, setelah mandi dang ganti baju baru ikut gabung kedua orang tuanya yang baru ngobrol dengan Aster dan Astri.
“ Dari mana Andi ?” Tanya bu Halimah.
“ Habis jogging tadi bu, bapak sama ibu hari ini mau ke kantor gak ?” Tanya Andi.
“ Ya berangkat lah, ada apa memangnya ?” Tanya pak Baskoro.
“ Andi mau minta ijin, nyari tempat buat sukuran mbak Aster, yang sudah diterima kerja.” Jawab Andi.
“ Boleh saja. Kenapa harus Tanya bapak ibu berangkat ke kantor tidak ?” kata pak Baskoro.
“ Ya kan kasihan mbak Aster dan Astri ditinggalin sendirian dirumah.” Jawab Andi.
“ Gak papa kali Ndi, kan mbak Aster juga yang minta tolong sama Andi..” sahut Aster.
“ Iya sih mbak, tapi masak kalian Andi tinggalin dirumah sementara Andi pergi bapak ibu juga kerja.” Jawab Andi.
“ Andi kayak sama siapa saja, mau berangkat jam berapa emang ? apa perlu kita rame ramen anti nyarinya ?” Tanya Aster.
“ Gak usah mbak, paling bentar lagi berangkat. Nanti Andi sekalian mau kerumah wawan kasih tahu biar ajak teman temanya kesini latihan dulu.” Kata Andi.
“ Wah Asik dong, nanti kita latihan di tempat dulu lagi aja Ndi “ kata Aster.
“ Gak usah mbak dirumah saja, hemat biaya.” Jawab Andi.
__ADS_1
Tiba tiba Astri menyahut.
“ Astri juga pingin tahu, lebih setuju di studio aja Ndi. Sedikit mengeluarkan biaya gak masalah, kan ungkapan rasa sukur kita. Bagi bagi rejeki ke pemilik Studio dan karyawanya juga.” Kata Astri.
“ Yaudah nanti, Andi sekalian mampir booking dulu biar nanti sore gak keduluan orang lain.” Jawab Andi.
“ Kalian akan bikin acara apa ?” Tanya bu Halimah.
“ Hanya pentas music private kok bulek, mengundang kerabat dekat untuk sukuran “ jawab Aster.
“ Kok gak bikin acara sukuran dirumah saja, undang tetangga kanan kiri.” Sahut bu Halimah.
“ Gak papa kok bulek, kan sambil hiburan sekalian.” Jawab Aster.
Setelah kedua orang tua Andi berangkat kerja, Astrid an Aster bertanya pada Andi.
“ Kamu nanti mau berangkat sama Asih ?” Tanya Astri lebih dulu yang dari tadi sudah menahan untuk bertanya.
“ Iya, sekalian mau menemui Hazel. Doakan Andi bisa lancar berbicara dan tidak ada masalah. “ jawab Andi.
“ Nah gitu dong Andi, jadi cowok harus Tegas, mbak gak hanya doakan tapi juga support penuh pada Andi.” Jawab Aster.
“ Iya mbak makasih suportnya, Andi baru sadar jika selama ini Andi selalu bimbang dalam menentukan sikap. Terlalu takut resiko dan bayangan Andi sendiri.” Kata Andi.
“ Ya gak papa, nanti pakai aja mobil Aster, kita pingin jalan jalan pakai motor kamu aja Ndi.” Kata Astri.
“ Tapi Asih pinginya naik motor aja mbak, katanya.” Jawab Andi.
“ Jangan Ndi, biar Asih kamu buat senang dulu takut kepanasan pakai motor nanti.” Timpal Astri.
“ Ya nanti terserah Asihnya saja Astri.” Jawab Andi.
Tak lama berselang Asih pun datang menghampiri Andi.
“ Assalaamu ‘alaikum.” Sapa Asih.
“ Wa’alaikummussalaam.” Jawab ketiganya kompak.
“ Masuk Asih, kita dah nungguin dari tadi nih.” Kata Aster.
“ Nungguin Asih, ada apa ?” Tanya Asih.
“ Katanya kamu mau jalan sama Andi sekalian menemui Hazel ?” sahut Astri.
“ Andi belum bilang ke Asih, Cuma bilang mau ngajak jalan saja kok.” Jawab Asih.
“ Iya rencana, mau bilang nanti Asih.” Jawab Andi.
“ Aduh, Asih sebenarnya gak enak kalo ikutan urusan Andi dan Hazel. Kayaknya gak usah sama Asih kalo itu Ndi.” Kata Hazel.
“ Kenapa Asih ?” Tanya Andi.
“Ya Asih gak mau disebut merebut cowok Hazel saja.” Jawab Asih.
Semua terdiam, Andi pun bingung harus bagaimana mensikapi hal itu.
“ Ada benarnya Asih Ndi, sebaiknya kamu selesaikan sendiri tanpa Asih, jaga perasaan Asih Ndi.” Sahut Astri.
Andi mengangguk mengiyakan perkataan Astri.
“ Yaudah biar Andi selesaikan sendiri nanti, maaf Asih bukan maksutku begitu.” Kata Andi menyesali.
“ Iya Ndi, gak papa maafin Asih juga kalo bikin Andi kecewa.” kata Asih.
Akhirnya Andi dan Asih setuju menggunakan mobil Aster untuk keluar, dan setelah booking Studio Andi justru berubah pikiran, malah mengajak Asih ke pantai.
“ Lah nanti kelamaan gak Ndi, Asih sih seneng aja tapi kasihan Aster dan Astri lama nunggu.” Kata Asih.
“ Gak kok Asih sebentar saja kita kepantai, sebelum jam dua kita sudah dirumah lagi.” Jawab Andi.
“ Terserah Andi deh.” Kata Asih yang saat itu berdandan beda dengan biasanya. Sehingga membuat Andi yang baru dimabuk Asmara itupun jadi semakin terpana dengan penampilan Asih.
“ Jangan lihatin Asih terus Ndi, Asih malu.” Kata Asih.
“ Kamu sangat cantik Asih, sungguh dari tadi Andi semakin mengagumi kamu dengan penampilanmu hari ini.” Kata Andi.
Sambil menyetir mobil, tangan Andi yang kiri menggenggam tangan Asih.
“Ndi konsen nyetir mobilnya dulu ah, jangan meleng.” Kata Asih.
...bersambung...
...Jangan lupa beri dukungan...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1