
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
...Selamat membaca...
Hubungan Wawan dan Andi pun kembali menjadi baik setelah sempat lama Renggang karena berbagai peristiwa yang bahkan membubarkan Grup Band mereka. Dan nyaris tidak pernah ada lagi komunikasi diantara mereka. Bahkan Wawan pun mendapatkan nomor baru Andi baru pada Saat pernikahan Andi dengan Asih dulu.
Andi menyampaikan apa permintaan Wawan kepada Asih, Asih terkejut mendengar penjelasan Andi tersebut. antara rasa kasihan kepada Hazel bercampur dengan rasa cemburu juga.
“Terus Aa’ mau ke tempat Hazel ?” Tanya Asih.
“Iya bersama kamu tapi gak sendirian.” Jawab Andi.
“Tapi kan Asih kerja a’ bagaimana bisa menemani aa’ ke tempat Hazel ?” tanya Asih.
“Sebisanya kamu saja kapan Aku ngikut.” Jawab Andi.
Asih terdiam agak lama bingung mau menjawab apa kepada Andi.
“Asih, jika memang kamu harus ijin sebentar tidak papa, bukankah yang diutus untuk menui Ana adalah Nisa dan Aku.” Sahut Astri.
“Tapi….?” Asih mau menjawab tapi langsung dipotong oleh Aster.
“Asih, kamu bantu adikku Andi ya, biarkan Andi berbuat baik pada Hazel. Urusan pekerjaan kan sudah ada yang menghandle nanti.” Kata Aster sambil menimang anaknya.
“Tapi Aster,,,, perusahaan kan saat ini baru butuh banyak tenaga untuk mengembalikan seperti semula.” Jawab Asih.
“Tidak papa Asih, nanti Aster juga akan segera bisa kerja kembali setelah anak ini bisa ditinggalkan.” Jawab Aster.
“Tapi mbak Aster tetap harus konsentrasi merawat anak saja mbak, bagaimana jika nanti Andi ikut bantu mbak Aster saja sementara mbak Aster belum bisa bekerja. Biar Andi yang menggantikan tugas Marketing.” Ucap Andi.
“Memang Andi mau bantu kerja di perusahaan ?” Tanya Hendra yang dari tadi hanya diam saja.
“Mau bang, kalau Marketing kan gak melulu did lam kantor jadi Andi bisa betah. Soalnya kalau seharian di dalam ruangan memang Andi gak betah bang.” Jawab Andi.
“Boleh juga, kalau begitu kamu bisa ikut aku sekalian aku mau lihat cara komunikasi kamu kepada calon partner kerja kita.” Ucap Hendra.
“Boleh banget bang, Andi suka kalau bertemu orang orang baru nanti.” Jawab Andi.
“Bukannya Aa’ selama ini banyak mengurung diri saja a’ ?” Tanya Asih.
__ADS_1
“Itukan karena kemarin Aku ada masalah Asih, sebelumnya aku kan selalu banyak keluar rumah.” Jawab Andi.
Asih jadi ingat jika dulu sebelum Andi terkena Kasus memang aktif dalam semua kegiatan. Dan cukup pandai bicara bahkan punya kepercayaan diri tampil dipanggung. Berani bicara di depan umum, sehingga mudah untuk diajari presentasi nantinya.
“Iya ya, Asih sampai lupa boleh tuh bang Hendra, biar suamiku dikasih kesempatan untuk mencoba.” Kata Asih.
“Bener banget tu bang, setahuku Andi dulu banyak bergaul juga bahkan cukup punya kemampuan komunikasi tinggal dibenahi sedikit. Mungkin Aster bisa bantu dalam hal tekhnik komunikasi dan closingnya. Asal Andi beneran niat mau belajar.” Ucap Aster.
“Baiklah Asih mau temani Aa’ besok ke tempat Hazel, Asih juga prihatin dengan apa yang menimpa Hazel.” Akhirnya Asih menyetujui bertemu Hazel.
“Alhamdulillah,,, kamu memang istriku yang sangat baik Asih.” Ucap Andi samblil memeluk bahu Asih.
Asih hanya tersenyum mendengaer sanjunganAndi, meski masih merasakan sedikit rasa khawatir Andi akan kembali tertarik kepada Hazel.
Malam itu Aster ditemani kerabat dekatnya hingga menjelang pagi hari karena bayi Aster yang belum diberi nama itu bentar bentar bangun.
Dan pada pagi harinya Aster pun dibyong kerumah kedua orang tuanya, disambut para tetangga yang memberikan ucapan selamat kepada Aster. Aster pun sangat bergembira dengan bayi laki lakinya yang sehat dan tampan tersebut. Serasa lengkap kebahagiaan Aster sebagi seorang Istri dan seorang ibu rumah tangga sekarang.
Sementara Hendra sibuk mencari nama yang tepat bagi anak laki lakinya tersebut. sampai kedua orang tua Aster pun ikut membantu memilihkan beberapa nama bagi cucunya. Namun belum satu nama pun yang dirasa pas oleh Hendra.
….
…..
…..
“Pah kayaknya Hazel sudah semakin parah sepresinya, bagaimana ini ?” Tanya mamanya Hazel.
“Iya mah, kita tunggu kabar dari Wawan bagaimana hasil pembicaraan Wawan dengan Andi sampai besok. Jika belum ada kepastian terpaksa kita bawa ke psikiater mah.” Jawab papanya Hazel.
“Tapi mama khawatir pah, image orang jika Hazel dibawa ke psykiater kan….?” Kata kata mamanya Hazel terhenti.
Sebagian orang memang masih menganggap jika seseorang dibawa ke psykiater atau dokter kejiwaan maka langsung divonis ‘Gila’. Padahal ke psykiater hanya sekedar konsultasi atau untuk relaksai saja. Namun begitulah namanya opini public.
Waktu sudah cukup larut, kedua orang tua Hazel pun bersiap untuk tidur secara bergantian. Karena Hazel harus ada yang menjaganya. Jika tidak Hazel bisa keluar sendiri dan duduk melamun di depan rumahnya. Dimana hal itu akan lebih mnyakitkan hati kedua orang tua Hazel.
Namun saat mamanya Hazel mau merebahkan diri tiba tiba mendengar suara mobil Wawan yang datang setelah tadi berpamitan menemui Andi. kedua orang tua Hazel pun segera bangkit membukakan pintu untuk Wawan.
“Eeeh Wawan, mama kira kamu langsung pulang istirahat Wan.” Kata Mamanya Hazel.
“Gak ma, Wawan tetap mau menemani Hazel mama dan papa istirahat saja.” Ucap Wawan.
“Syukurlah kalau Wawan mau menemani Hazel, biar nanti papanya Hazel yang menemani Wawan ya. Mama mau istirahta sebentar.” Kata mamanya Hazel.
__ADS_1
“Iya mah, gak papa kok Wawan sendirian juga.” Jawab Wawan.
Wawan pun segera menuju ke kamar Hazael bersama papanya Hazel.
“Wan, Papa berbarig juga ya disini Kalau ada apa apa bangunin saja kalau papa ketiduran.” Kata papanya Hazel.
“Iya pa, kalau ada apa apa Wawan bangunuin nanti.” Jawab Wawan.
Wawan duduk di sisi Hazel mencoba mengajak bicara dengan Hazel.
“Haz, udah gak usah terlalu sedih begitu, Wawan siap menjadi tempat mengadu bagi Hazel. Apapun yang Hazel Rasakan Wawanjuga ikut merasakan. Kalau HazelSedih Wawan juga sedih, kalau Hazel gembira Wawan juga bahagia. Bilang saja apa yang bisa buat Hazel gembira lagi seperti dulu…?” Tanya Wawan ke Hazel.
“Hazel hanya diam saja namun terlihat air mata Hazel menetes menangisi nasib yang dia alami.
“Jangan sedih dan menangis Haz, bicaralah pada Wawan atau meangislah yang keras asal bisa melegakan hati Hazel.” Ucap Wawan.
Tiba tiba Hazel pun mencoba untuk membuka mulut.
“w…Wa Wawan…?” suara Hazel keluar namun akhirnya yang keluar adalah tangis pilu Hazel. Sampai papanya Hazel terkejut mendengar suara tangis Hazel Karena sebelumnya Hazel tidak pernah mengeluarkan suara bahkan suara tangis sekalipun.
“Hazel,,, bicaralah nak, jika papa perlu keluar maka papa akan keluar jika Hazel hanya mau bicara dengan Wawan saja.” Kata papanya Hazel.
Hezelpun mengangguk dalam tangisannya, member iSyarat jika Hazel hanya mau bicara dengan Wawan saja. Dan Papanya Hazel pun keluar kamae membiarkan Hazel putrinya berdua dengan wawan sementara papanya Hazel berada di depa pintu kamar Hazel…???
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Reader semuanya.
Komentar reader semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Reader semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...