
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
Ditengah pentas tari erotis yang sudah hampir mencapai klimaks adegan, dan hampir mengeluarkan gerakan penutup tersebut. Tiba tiba keduanya dikejutkan suara gedoran pintu rumah Syifa yang ternyata di kunci.
Tok tok tok….
Suara pintu di gedor dengan keras.
“Syifa…..!” suara seseorang memanggil Syifa dengan lantang.
@@@@@*****>>>>>????  Â
*****
Episode ini
Mendengar pintu digedor keras seketika membuat Andi dan Syifa yang tengah melayang seperti terjatuh dan kaget. Spontan jadi saling pandang dengan perasaan takut khawatir dan bermacam macam. Segera Andi menghentikaan aktifitas yang hampir tuntas itu dan kembali mengenakan pakainya dalam kebingungan dan ketakutan.
 Berbeda dengan Syifa yang cepat menguasai keadaan, dengan santai bangkit dari ranjang masuk kamar mandi dan keluar lagi dengan pakaian layaknya orang habis mandi dengan meilitkan handuk di kepalanya. Kemudian melangkah ke pintu depan dengan tenang dan membukakan pintu.
Cklek
Suara kunci pintu dibuka.
“Ada apa pak RT, maaf Syifa baru mandi.” Tanya Syifa dengan santai.
“Itu motor siapa di depan ?” Tanya orang yang dipanggil pak RT oleh Syifa.
Andi yang masih sembunyi dikamar Syifa semakin ciut nyalinya, takut jadi masalah dan ada penyesalan juga atas apa yang telah dilakukan dengan Syifa. Kareana Andi merasa telah mengkhiananti Asih kekasihnya.
“Owh itu motor Temen Syifa, ada apa ya pak kok nanyain motor temen Syifa.” Tanya Syifa tenang seakan tidak terjadi sesuatu.
“Bilangin ke temen kamu itu, kalo naruh motor kuncinya dicabut jangan di tinggal dimotor. Baru banyak kejadian pencurian motor. Jangan sampai diwilayahku ini ada kejadian, bikin cemar namaku sebagai RT saja.” Ucap RT itu.
“Owh iya maaf pak Rt, mungkin temen Syifa tadi buru buru kewarung cari sesuatu sehingga lupa mengambil kunci kontaknya. Biar Syifa ambil dulu, saya simpanya pak.” Ucap Syifa.
“Ini sudah Bapak amankan, kamu terima saja lain kali gak boleh begitu lagi. Namanya ceroboh kalo sampai ada yang lihat kemudian ambil motor itu pak RT juga kan yang malu nanti.” Seru pak RT.
“Iya pak, maaf pak soalnya tadi Syifa juga buru buru masuk ke kamar mandi.” Kata Syifa.
“Yaudah, baik baik ya kamu jangan terlalu sering ninggalin rumah kosong. Makanya cepet nikah saja biar dirumah ada temenya.” Kata pak RT.
“iya pak, makasih sarannya Pak RT.” Jawab Syifa.
“Yaudah pak RT mau pulang dulu, jaga diri baik baik Syifa.” Kata pak RT sambil pergi meninggalkan Syifa.
__ADS_1
Dikamar Syifa Andi merasa lega karena pak Rt tersebut percaya saja dengan omongn Syifa.
Sesaat kemudian Syifa kembali ke kamarnya dan melihat Andi yang duduk di tepi ranjang sambil melamun.
“Kok melamun mas, kenapa ? menyesalkah dengan apa yang kita lakukan tadi ?” Tanya Syifa pada Andi.
“Aku baru kali ini melakukan, dan hampir saja copot jantungku tadi begitu pintu di gedor.” Jawab Andi.
“Ah masa sih mas, cowok seganteng kamu baru pertama kali melakukan ini. apa lagi tadi aja Syifa lihat banyak siswi murid Syifa pada terpesona sama kamu mas. Kayaknya gak mungkin deh kalo belum pernah. ?” Tanya Syifa sambil senyum.
“Aku serius belum pernah begituan kok, bru kali ini entah kenapa tadi kok gak bisa nahan rasanya.” Jawab Andi.
Syifa memang agak curiga dengan Andi yang masih kaku dalam berduet denganya tadi, sehingga timbul rasa penasaran pada diri Syifa pada Andi. Karena setahu Syifa, orang yang dikenalnya yang terjun di dunia hiburan ( Musik ) apa lagi sudah mempunyai fans meskipun local. Hampir semua pernah bahkan hoby begitu termasuk Syifa sendiri.
“Sulit diprcaya mas, karena Fans kamu saja cewek cewek cantik yang mungkin saja satu diantaranya juga mau kamu tidurin.” Kata Syifa.
“Jujur aku gak bisa On kalo sama anak anak usia segitu Syifa, aku lebih sreg dengan yang sedikit lebih tua dari aku usianya.” Ucap Andi yang mulai memanggil Syifa dengan namanya saja. Tanpa embel embel mbak lagi.
“Kok bisa, bukanya mereka lebih seger dan lebih menarik dibandingkan dengan Syifa yang sudah muali menua ini ?” Tanya Syifa.
“Gak tahu lah, kenyatanya memang begitu. Pacar Andi saja juga lebih tua dari Andi.” Kata Andi jujur.
“Nah itu udahpunya pacar juga, masak gak pernah melakukan. Kalo Syifa punya pacar seperti Andi pasti tiap hari minta jatah deh.” Ucap Syifa menggoda. Sehingga Andi yang tadi hasratnya sudah sempat  down kini seperti di upgrade ke level diatasnya. Sehingga perbuatan terlarang yang tadi sempat terhenti itu sekarang di review kembali dengan melanjutkan adegan yang terpotong sebelumnya. Bahkan dengan kepiawaian syifa dalam menservices  Andi. Membuat Andi pun merasa mendapatkan sebuah permainan baru yang membuatnya ingin lagi dan lagi. Sampai akhirnya keduanya merasa kelelahan dan tertidur dengan posisi yang sama sama apa adanya tanpa ada yang di tutup tutupi.
Hingga Andi terbangun dan kaget ketika sadar dirinya tidur buka dikamarnya dan ingat apa yang barusan dilakukan. Andi melihat syifa udaah tidak ada sampingnya,kemudian Andi pun bangkit dari ranjang dan bersiap menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai Andi pun berpamitan kepada Syifa karena memang sudah sore. Dengan membawa tas berisi gitar yang ditaruh dibelakang punggungnya Andi melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi. Berbeda dengan berangkatnya selain karena bersama Syifa, Andi juga agak kerepotan dengan menjinjing tas gitarnya di depan.
Perasaan Andi campur aduk antara senang setelah mendapatkan sesuatu dari Syifa namun juga ada perasaan bersalah terhadap Asih kekasihnya. Perang batin dalam diri Andi antara Nurani/kesetiaan dengan birahi/nafsu. Begitulah ketika orang melakukan sebuah kesalahan pertamakalinya, berbeda denga orang yang sudah terbiasa dengan kesalahanya itu. peran Nurani sudah hampir tidak ada karena semua sudah dikendalikan oleh nafsunya.
Sesampai dirumah, andi sudah ditunggui oleh kedua orang tuanya dan disana juga ada  Yasinta.
“Gak kok, tadi diminta ngajarin murid murid di sanggarnya untuk bermain gitar saja. Terus keasikan sampai lupa waktu.” Jawab Andi berbohong. Kebohongan yang antinya akan mellahirkan kebohongan baru berikutnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
“Andi, katanya kamu tadi sempat ketemu Hazel dan sempat menyanyi bareng di panggung itu ?” Tanya ibuknya Andi.
Andi terkejut mendapat pertanyaan dari ibunya seperti itu. wah ini pasti Sinta yang cerita, dasar anak anak gak perlu diceritakan juga diceritakan, batin Andi.
“Iya bu, Andi gak bisa menolak karena tahu tahu Hazel naik ke panggung dan meminta Andi mengiringi dia menyanyi.” Jawab Andi.
“Cuma begitu saja ?” Tanya lanjut Ibunya Andi.
“Iya bu, Cuma begitu saja kok.” Jawab Andi seperti gelisah.
“Jujur ibu khawatir jika kamu bersama Hazel, bukan ibu benci Hazel Andi. Tapi ibu khawatir karena Hazel itu dari cara berpakainya kayak orang yang bebas bergaul begitu. Ibu jadi khawatir, karena kamu laki laki sehingga mudah terbawa dan terjerumus melakukan perbuatan dengan wanita yang belum sah menjadi istrimu.” Ucap ibunya Andi.
Andi yang mendengarkan nasehat ibunya tertunduk sedih, karena apa yangdi khawatirkan ibunya sudah terjadi tetapi bukan dengan Hazel. Melainkan dengan Syifa wanita yang sudah berpengalaman banyak dalm hal itu. dan kepada Syifa lah Andi menyerahkan keperjakaanya. Andi menjadi kalut dengan apa yang telah dia lakukan tadi. Antara merasa ketagihan dan ketakutan kini berperang dalam hati Andi.
Perubahan wajah Andipun terbaca oleh ibunya, sebagai orang yang sudah Sembilan bulan lebih mengandungnya dan membesarkanya hingga sekarang. Tentu saja bu Halimah ibunya Andi sangat hafal dengan perubahan sikap Andi.
“Andi jawablah jujur, apakah kamu sudah kebablasan dengan Hazel kok kamu jadi murung begitu ?” Tanya ibunya Andi.
“Gak kok bu, Andi sama Hazel gak pernah sampai kebablasan.” Jawab andi dengan gugup dan berkeringat dingin.
Yasinta yang tadi dipanggil karena Andi belum sampai rumah hanya bengong mendengar percakapan Andi dan ibunya. Tidak terlalu paham dengan permasalahan yang dibicarakan.
“Yaudah masuk dulu sana, mandi ganti baju terus kesini lagi.” Ucap ibunya Andi.
__ADS_1
Andi pun segera bergegas masuk kerumah ingin segera menenangkan dirinya, serta berbaring sejenak.
Sementara ibu dan bapaknya Andi masih menunggu di teras rumah di temani Yasinta gadis ABG yang masih polos dan belum begitu mengenal dunia dewasa. Karena meskipun dia berstatus punya pacarpun sekedar jalan atau berboncengan kesekolahatau pulang sekolah saja.
“Yasinta, tadi Andi bareng guru Sinta tinggalnya dimana dan dia ngajar apa kok punya sanggar ?” Tanya ibunya Andi.
“Owh bu Syifa namanya, kalo tinggalnya dimana Syifa juga gak tahu tante, tapi memang bu Syifa ngajar seni tari, baca puisi kadang juga Nyanyi.” Jawab Yasinta polos.
“Sukurlah kalo begitu, berarti kemungkinan Andi memang disana ngajarin anak anak sanggar main gitar.” Ucap bu Halimah ibunya Andi.
“Iya tante, memang bu Syifa itu punya sanggar kok.” Kata Yasinta.
“Kalo orangnya bagaimana Sinta ?” Tanya bu Halimah.
“Bu Syifa tu orangnya baik dan cantik juga kok bu. Bahkan suka digodain temen temen Sinta yag cowok karena pakainya seksi bu.” Jawab Sinta dengan polosnya. Bapak dan ibunya Andi jadi saling berpandangan.
“Tunggu tunggu, apa yang namanya bu Syifa itu orangnya juga masih muda dan usianya paling tiga tahunan lebih tua dari Andi Sinta ?” Tanya bapaknya Andi yang dari tadi hanya diam saja.
“Iya Om, memang maih muda, tapi kalo usianya Sinta gak ngerti Om.” Jawab Sinta.
“Bapak kenal dia ?” Tanya bu halimah sedikit salah paham.
“Bapak khawatir dia itu kakak kelas Diana anak kita yang sering kesini dulu. Yang memang terjerumus dlam pergaulan bebas dari sejak masa sekolahnya dulu.” Jawab pak Baskoro.
“Maksut bapak Syifa yang dulu pernah…..!” ucapan bu halimah terhenti karena sadar di situ ada Sinta yang masih kecil. Hampir saja bu halimah keceplosan mengucapkan Syifa yang pernah kepergok warga sedang mabuk dan tertangkab basah sedang bercinta di taman terbuka dekat rawa yang sekarang jadi tempat kunjungan para pesepeda dan olah ragawan pagi.
“Iya bapak hanya khawatir saja tapi, bukan menuduh atau yakin itu dia.” Jawab pak Baskoro.
“Andi kemana pak, kok belum selesai mandinya cepat suruh kesini saja. Kita harus bicarakan ini secara serius sekaranga juga.” Kata bu Halimah ibuya Andi cemas.
@@@@@*****>>>?????
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Â
__ADS_1
Â