
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Kemudian Jhoni dan Armando meninggalkan tempat itu pergi mencari Syifa sesuai alamat yang diberikan Sita. Begitulah Jhoni, meski perangainya kasar dan urakan. Namun mempunyai loyalitas yang tinggi kepada orang yang dirasa sudah berbuat baik kepadanya. Tanpa merasa lelah dia langsung mencari Syifa saat itu juga.
Berdasarkan Foto Syifa dan Alamat yang diberikan Sita, Jhoni dan Armando langsung berangkat menuju ke rumah Syifa.
*****
Sementara di kediaman Sita yang berantakan akibat pesta semalam, orang orang kembali memasuki rumah Sita dan menanyakan kepada Sita. Kenapa sampai berurusan dengan Jhoni.
“Kamu salah pilih mangsa kali sampai Jhoni marah begitu, untung saja gak ada yang sampai terbunuh tadi.” Ucap salah seorang body guard yang di undang pesta oleh Sita.
“Ya mana saya tahu, awalnya juga Sita hanya nolongin dia saat mabuk berat di karaokean. Lalu sama temen temen Sita aku yang disuruh bawa dia pulang. Ah sejak saat itulah kita jadi sering ketemuan dan aku jadi hamil seperti sekarang ini.” jawab Sita.
“Lo bego sih mang gak pakai pengaman saat gituan ?” Tanya yang lain.
“Gak sih, memang sengaja agar Sita dinikahi pemuda itu soalnya ganteng dan kayaknya punya masa depan bagus juga. Jadi sayang kalo gak bisa dapetin dia.” Ucap Sita enteng.
“Dasar bego lo,mana ada yang mau menikahi orang macam kita. Mau kasih duit bulanan aja juga udah untung malah ngarep dinikahi. Jadinya begini kan ?!?’ ucap kawan Sita sesame satu profesi tersebut.
“Terus gimana dong kalo udah terlanjur begini ?” Tanya Sita.
“Ya kamu harus pinter pinter mengatur, pilih meninggalkan kesenangan hanya bersama pria idolamu itu atau meneruskan kesenangan tapi tinggalkan pemuda itu. jangan maruk pingin dia seutuhnya tapi juga mau tidur dengan banyak pria.” Ucap salah satu teman Sita.
“Gak kalo menurutku, Sita gak akan bisa menjadi istri orang itu yang katanya adik Bossnya Jhoni. Anaknya mau diakui aja udah bagus banget kok. Udah gitu di fasilitasi rumah ini meski hanya sementara. Jadi menurutku Sita gak usah aneh aneh dulu selama tinggal disini. Itu juga kalo kamu masih pingin berumur panjang. Kalo lo udah bosen hidup ya terserah lo aja Sita.” Ucap Body guard yang tadi.
Sita jadi makin ketakutan mendengar ucapan body guard itu, namun disisi lain dia belum siap meninggalkan hobinya untuk berpesta seperti semalam.
“Kalo pestanya gak dirumah ini gak papa kali bang ?” ucap Sita.
“Semua terserah kamu, cuman kalo ada apa apa aku gak ikutan jika Jhoni yang turun tangan sendiri. Kalo hanya Armando dan lainya aku masih bisa hadapi tap kalo Jhoni udah gue nyerah saja.” Jawab body guard itu.
“Iya gue juga malas berurusan dengan Jhoni, kalo gak dibunuh ya membunuh kalo sama dia. Dan kemungkinan terbesarnya adalah kita yang bakal terbunuh.” Ucap body guard yang lainya.
“Yaudah kita bubar saja sekarang, dari paa Jhoni nanti kesini lagi bisa bisa kita jadi sasaran kemarahan.” Ucap salah satu peserta Pesta.
Maka yang lain pun segera mengikuti ajakan orang tersebut meninggalkan kediaman Sita. Sehingga hanya tinggal Sita sendirian disitu.
Dan Sitapun merasa sangat kesepian di tempat itu, lantaran tidak biasa hidup sendiri siang malam. Jauh dari keramaian dan pesta pesta seperti biasanya.
Sehingga timbul niat untuk cari tempat lain sebagai pelarian. Toh orang tua Andi masih member jatah bulanan kepadanya sampai dia melahirkan nanti. Dan Sita Yakin bahwa anak yang di kandungnya adalah anak Andi. Karena jika berhubungan dengan yang lain selalu memakai pengaman.
*****
Kita ikuti perjalanan Jhoni dan Armando kerumah Syifa untuk menyelidiki keberadaan Andi.
“Ndo lo turun dari mobil, Tanya ke orang bener gak ini jalan menuju kealamat yang dimaksut.” Perintah Jhoni ke Armando.
“Siap bang.” Jawab Armando singkat dan langsung turun dari mobil mencari orang untuk bertanya.
Kemudian kembali lagi ke dalam mobil dan mengatakan bahwa benar itu jalan menuju ke rumah Syifa. Dan nanti pertigaan pertama belok kiri sampai menemukan tulisan sanggar Seni Tari dan Puisi, Itulah rumah Syifa.
“Ok jalan sekarang.” perintah Jhoni.
Kemudian mereka pun menjalankan mobil menuju alamat yang tertulis pemberian Sita tersebut.
__ADS_1
Dan sesampainya di rumah Syifa keduanya turun dan mengetuk rumah Syifa dengan Sopan.
“Selamat siang, spada Punten…!” ucap Armando sambil mengetuk pintu rumah Syifa.
Kemudian terdengar langkah kaki dari dalam rumah Syifa menuju ke pintu dan membukakan Pintu rumahnya.
“Maaf, cari siapa ya mas ?” Tanya Syifa kepada Jhoni dan Armando.
“Perkenalkan dulu nama saya Jhoni, dan ini teman saya namanya Armando. Kami adalah utusan dari keluarga Andi, tujuan kami kesini dengan maksut baik diutus orang tua Andi,” jawab Jhoni.
“Utusan keluarga Andi ? apa hubungan anda dengan Andi ?” Tanya Syifa kepada Jhoni.
“Kalo kami sebenarnya tidak ada hubungan keluarga dengan Andi. Tapi Andi itu adalah adik dari istri boss kami yang bernama Hendra dan istrinya bernama Aster.” Jawab Jhoni.
Syifa agak ragu namun mendengar Jhoni menyebut Aster yang Syifa juga pernah mendengar Andi menyebut nama Aster maka dia sedikit percaya.
“Kalo tujuan kalian baik ari silahkan masuk kita bicara di dalam saja. Namun perlu kalian ketahui jika saya tidak akan mengatakan apapun jika anda tidak terbuka dengan saya. Karena saya tidak akan takut dengan ancaman apapun…!!!” tegas Syifa.
“Iya mbak, eeh mbak apa ibu saya panggilnya ?” Tanya Jhoni.
“Terserah kalian saja.” Jawab Syifa.
“Mbak saja ya, jadi saya melihat mba Syifa saya langsung yakin mbak Syifa orangnya baik jadi gak perlu juga kita memberikan ancaman. Seperti yang saya bilang tadi bahwa kami kesini dengan tujuan baik.” jawab Jhoni.
“Terserah kalian, bagaimana nanti saja kita lihat dari hasil pembicaraan kita.” Jawab Syifa.
Kemudian Jhoni dan Armando di persilakan duduk di kursi tamu Syifa.
“Mau minum apa ?” Tanya Syifa kepada dua tamunya.
Dalam hati Jhoni  mengagumi Syifa yang sedikitpun tidak menunjukkan rasa takut kepada mereka berdua. Bahkan malah menawari minuman segala.
“Boleh banget mbak, kalo tidak keberatan kami biasa minum kopi hitam. Tapi kalo tidak ada kami nurut saja air putih juga boleh.” Jawab Jhoni tanpa basa basi.
“Sedang saja mbak, makasih sebelumnya.” Jawab Jhoni. Armando hanya diam saja melihat Sikap Syifa dan Jhoni yang kayak sudah biasa padahal baru pertama kali bertemu.
Sesaat kemudian Syifa keluar lagi membawa tiga cangkir kopi hitam, karena Syifa pun menyukai kopi juga.
“Silahkan diminum dulu setelah itu silahkan jelaskan tujuan kalian datang kemari secara jelas…!” ucap Syifa mempersilahkan keduanya minum.
“ Terimakasih mbak.” Kata Jhoni sambil menyeruput kopi yang masih panas itu.
Kemudian diikuti Armando yang masih belum mengeluarkan suara, hanya berkata dalam hatinya. “ini cewek cantik banget, adik istri boss itu juga pasti ganteng banget juga. Ini malah lebih cantik dari foto yang diberikan cewek tadi.” Kata Armando dalam hati.
Syifa sebenarnya tahu jika Armando memperhatikan dirinya ari tadi, namun Syifa masih menganggap itu hal yang wajar dan masih sopan sehingga dia biarkan saja.
“Begini mbak, jujur saja kami ini dulu juga hidup bergelimang dosa dan mencari uang dari jalan yang gak bener. Sampai kami akhirnya ditangkap polisi kemudian diselamatkan oleh boss kami sehingga kami berjanji untuk siap membantu apapun urusan boss kami yang sekarang menjadi suami dari kakak sepupunya Andi. Dan kami kemarin di panggil untuk dimintai tolong dimana Andi berada dan disuruh membawa Andi pulang ke rumah orang tuanya.” Jhoni menjelaskan dengan panjang lebar.
“Dengan apa saya harus percaya dengan kalian, kalo soal kalian dulu bagaimana itu tidak ngaruh bagiku. Karena seperti ku bilang tadi. Aku gak takut ancaman apapun juga.” Jawab Syifa Tegas, tanpa rasa takut sedikitpun.
“Mbak Syifa sudah bertemu bu Aster atau kedua orang tua Andi ?” Tanya Jhoni kepada Syifa.
“Aku belum pernah bertemu Aster, kalo orang tua Andi aku sudah pernah bertemu dan aku juga sudah pernah kesana.” Jawab Syifa.
“Apakah mbak Syifa ingin kita bicara dihadapan orang tua Andi sekarang juga ?” Tanya Jhoni kepada Syifa.
“Uhhuuuk gak semudah itu juga mas saya percaya, coba hubungkan aku dengan orang tua Andi dulu biar aku bicara dengan beliau baru saya pwercaya jika kalian benar utusan keluarga Andi.” Jawab Syifa.
Kemudian Jhoni mengambil ponselnya dan menelepon Hendra.
Tuut…tuuut…tuut…
Kemudian terdengar suara hendra di telpon.
“Iya ada apa ?” Tanya Hendraa di telpon.
__ADS_1
“Ini pak, saya sudah bertemu seseorang yang mungkin tahu dimana Andi, namun mbak nya pingin memastikan jika saya adalah utusan keluarga Andi, jadi dia pingin bicara dengan bapak atau ibuknya mas Andi ?” kata Jhoni.
“Boleh saja, sebentar aku cari dulu bapak dan ibu.” Ucap hendra.
Kemudian Hendra mencari orang tua Andi, tapi Aster bilang orang tua Andi baru Sholat maghrib dilanjutkan berdoa.
“Sepuluh menit lagi saja kamu telpon lagi, atau biar nanti aku yang telpon saja.” Kata Hendra kepada Jhoni melalui telepon.
Kemudian Jhoni pun menyampaikan kepada Syifa bahwa orang tua Andi baru Sholat, dan akan di telpon balik sekitar sepuluh menit kemudian.
“Tunggu sebentar mbak, sepuluh menit lagi akan di telpon balik orang tua Andi baru menjalankan Sholat.” Kata Jhoni kepada Syifa.
Syifa juga mendengar pembicaraan Jhoni dengan Hendra di telpn jadi Syifa cukup mempercayai ucapan Jhoni. Meski tidak seratus persen percaya, namun cukup untuk sekedar member rasa tenang.
“Baiklah aku tunggu, sebenarnya bagaimana keadaan orang tua Andi sekarang ?” Tanya Syifa sekaligus meyakinkan jika orang orang itu beneran utusan keluarga Andi. Tentunya dia tahu kondisi orang tua Andi.
“Menurut informasi pak Hendra sebelum kami datang dan menyatakan sanggup mencari keberadaan Andi. Ibunya Andi sakit dan makin kurus serta tidak mau makan. Tapi setelah kami datang tadi lumayan agak semangat dan mau makan juga mau keluar dari kamar juga. Akibat di bujuk pak Hendra dan istrinya.” Kata Jhoni menggambarkan kondisi orang tua Andi.
“Kasihan sekali orang tua Andi, pak Baskoro dan bu Halimah, Syifa harus datang kesana dan bicara langsung dengan beliau berdua.” Ucap Syifa seperti untuk dirinya sendiri. Namun di dengar juga oleh Jhoni.
“Jika mbak Syifa percaya, silahkan ikut kami sekarang juga saya akan antar kerumah Andi. Agar orang tua Andi lepas dari rong rongan orang yang bernama Sita.” Ucap Jhoni.
“Jadi kalian juga sudah mengenal Sita ?” Tanya Syifa kaget.
“Iya, karena Sita pernah tinggal dirumah Andi menuntut kepada orang tua Andi karena Sita mengaku hamil karena Andi.” Jawab Jhoni.
“Apa Sita Hamil ?” Tanya Syifa lanjut.
“Iya, apa mbak Syifa gak tahu kalo Sita Hamil.” Tanya Jhoni ikut bingung.
“Tidak, itu pasti jebakan Sita untuk mendapatkan Andi saja ?” ucap Syifa.
“Memang hamil, tadi saja aku lihat perut Sita membuncit layaknya orang Hamil.” Jawab Jhoni.
“Itu tidak boleh terjadi, jangan sampai Andi masuk perangkap Sita, sekarang juga antarkan aku menemui orang tua Andi. Syifa akan beberkan semua tentang Sita dan Andi.” Ucap Syifa kepada Jhoni.
“Baik ayo kita berangkat sekarang.” Jawab Jhoni.
Maka berangkatlah mereka menemui orang tua Andi, Syifa tidak mengira jika disana juga akan bertemu Asih sahabat Diana adik kelasnya. Dan Asih pun cukup kenal dengan Syifa sewaktu masih bersekolah bersama almarhumah Diana kakak kandung Andi.
Sebuah rahasia besar akan terbongkar dan Syifa juga harus siap mengakui kesalahannya selama ini, mau gak mau dia harus mengakui jika dia yang membuat Andi sampai seperti itu
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1