
Episode 26
Akhirnya Andi dan Asih setuju menggunakan mobil Aster untuk keluar, dan setelah booking Studio Andi justru berubah pikiran, malah mengajak Asih ke pantai.
“ Lah nanti kelamaan gak Ndi, Asih sih seneng aja tapi kasihan Aster dan Astri lama nunggu.” Kata Asih.
“ Gak kok Asih sebentar saja kita kepantai, sebelum jam dua kita sudah dirumah lagi.” Jawab Andi.
“ Terserah Andi deh.” Kata Asih yang saat itu berdandan beda dengan biasanya. Sehingga membuat Andi yang baru dimabuk Asmara itupun jadi semakin terpana dengan penampilan Asih.
“ Jangan lihatin Asih terus Ndi, Asih malu.” Kata Asih.
“ Kamu sangat cantik Asih, sungguh dari tadi Andi semakin mengagumi kamu dengan penampilanmu hari ini.” Kata Andi.
Sambil menyetir mobil, tangan Andi yang kiri menggenggam tangan Asih.
“Ndi konsen nyetir mobilnya dulu ah, jangan meleng.” Kata Asih.
“ Iya Asih tenang saja. Andi tetap konsen kok.” Seahut Andi.
“ Ndi…?” Asih menahan kalimatnya.
“ Iya ada apa sayang ?” ucap Andi dengan menyebut Asih dengan kata Sayang.
“ benerankah kamu sayang dan Cinta Asih, atau Asih hanya jadi pelampiasan Andi saja ?” Tanya Asih.
“ Kenapa Asih bertanya seperti itu, apakah kurang yakin dengan apa yang sudah dibilang mbak Aster tentang Rahasia perasaan Andi terhadap Asih selama ini ?” Tanya balik Andi.
“ Entahlah Ndi, tiba tiba Asih jadi agak ragu begini, mungkin Asih baru sadar jika Asih sebenarnya…!” kalimat Asih kembali tertahan, seakan keraguan menyelimuti hatinya untuk mengatakan secara jujur.
“ Katakan saja Asih, selain Asih adalah pacar Andi. Kita adalah tetangga dekat yang dari dulu selalu bersama. Jadi tidak perlu Asih ragu ragu begitu..” kata Andi mendorong Asih untuk bicara jujur.Asih menghela nafas panjang, sementara Andi memperkuat genggaman tanganya pada Asih agar Asih mendapat keberanian untuk bicara.
“ Ada baiknya, nanti setelah sampai tujuan saja Asih bicara Andi, agar Andi bisa tetap konsen dalam mengendarai mobil.” Kata Asih.
“ Baiklah, kalo begitu Andi bawa agak cepat gak papa ya, biar segera sampai dan Asih bisa segera cerita apa yang akan diceritakan Asih ?” kata Andi.
“ Asal tidak ngebut saja Ndi, karena dijalur lambat dan padat begini.” Jawab Asih.
“ Iya Asih, Andi juga gak mau sampai kamu celaka.” Jawab Andi.
Andi mempercepat laju kendaraan tapi tetap dengan kewaspadaan tinggi dan konsentrasi pada lalu lalang kendaraan lainya. Sampai mereka memasuki gerbang tall. Dan saat dijalan Tall Andi kembali mempercepat jalan kendaraanya tanpa berbibicara sedikitpun pada Asih. Dan sihpun tak mau mengganggu konsentrasi Andi dalam mengendarai mobil, karena Asih tahu jika Andi masih jarang mengendarai mobil.
Singkat cerita sampailah Asih dan Andi di pantai tanjung kait di wilayah Tangerang utara.
“ Kita cukup bersantai sejenak saja, sambil melihat deburan ombak. Nanti Asih bisa cerita, apa yang Asih ingin ceritakan.” Ucap Andi.
“ Iya Ndi, kita cari tempat yang nyaman buat bicara.” Jawab Asih yang masih agak tegang.
Kemudian Andi mengajak Asih mencari tempat yang dirasa cukup nyaman, dan membeli bekal minuman dan camilan sebagai teman ngobrol.
“ Disini Andi rasa cukup nyaman Asih, tempatnya juga cukup sejuk dan teduh. Kiranya cocok untuk kita
“ Bolehlah Andi, kita mulai bicara disini.” Jawab Asih.
“ Yaudah Asih mau bicara apa ?” Tanya Andi.
Kembali Asih menghela nafas untuk menghilangkan keraguanya. Dan kembali Andi pun menggenggam kedua tangan Asih agar bisa memberikan dorongan semangat bagi Asih.
“ Begini Ndi, jujur saja Asih agak kaget dengan apa yang Asih alami semalam. Maksut Asih, Asih gak ngira Andi seganas itu. Hamper saja Asih lepas kendali semalam Ndi.” Ucap Asih membuka pembicaraan.
“ Maksut Asih bagaimana, Andi gak faham dengan maksut Asih ?” Tanya Andi.
“ Asih mengira tadinya Andi itu anaknya polos dan lugu, tapi Asih semalam kaget Andi sangat Agresif begitu. Sehingga Asih jadi kepikiran, apakah Andi sudah banyak pengalaman dengan gadis lain dan itu membuat Asih jadi agak cemburu dan khawatir Andi ?” kata Asih.
“ Khawatir gimana Asih ?” Tanya Andi.
“ Khawatir jika ternyata Andi hanya menjadikan Asih pelampiasan saja. Dan ada juga kekhawatiran jika Andi sudah terlalu jauh berhubungan dengan Hazel, sehingga Hazel tak mau lepas dari Andi. Secara di daerah kita, yang namanya virginitas itu adalah sesuatu yang sangat dijaga.” Kata Asih.
“ Asih gak usah khawatir begitu, Andi dan Hazel tidak sampai kearah yang Asih khawatirkan, Andi juga masih tahu batas juga Andi sangat menjunjung tinggi kehormatan wanita.” Kata Andi.
“ Sungguhkah begitu Ndi ?” Tanya Asih.
__ADS_1
“ Iya lah Asih, kalopun Andi itu jahat, tentunya gak mungkin berbuat jahat sama Asih. Karena kita kenal dari kecil dan rumahpun berdampingan. Mana berani Andi berbuat kurang ajar menjadikan Asih pelampiasan saja. Kalo soal semalam, itu karena Andi memang sudah lama menahan perasaan. Sehingga semalam seperti mendapat durian runtuh ketika kita punya kesmpatan berdua dan tahu saling mencintai.” Jawab Andi.
“ Iya sih, Asihpun begitu Ndi. Tapi Asih gak mau lebih dari itu dan Asih tetap ingin kita tetap menjaga batas batas umum saja Ndi. Meski jujur Asih pun sangat menikmati, tapi Asih gak mau sampai larut dan lupa diri.” Kata Asih
“ Iya Asih sayaaang, tapi kalo sekedar cium boleh kan ?” kata Andi.
“ Iya sayang, tapi jangan berlebih ya, Asih gak mau kayak yang semalam, Asih hamper lupa diri. Untung Aster dan Astri segera datang, kalo tidak pasti kita sudah lepas kendali Andi.” Kata Asih.
“ Iya deh, Andi juga gak ingin sampai merenggut kehormatan Asih, sebelum Asih resmi jadi istriku kelak.” Ucap Andi.
“ Tapi Ndi..?” kembali Asih tertahan kalimatnya.
“ Tapi apa lagi sayang ?” kata Andi sambil menarik Asih biar bersandar kepada Andi.
“ Apa orang tua Andi besuk menyetujui, jika tahu kita menjalin hubungan begini ?” Tanya Asih.
“ Atas dasar apa orang tuaku tidak menyetujui hubungan kita Asih ?” Tanya balik Andi.
“ Maaf Ndi, hanya seandainya saja kok.” Jawab Asih.
“ Iya, tapi Asih bertanya begitu seperti ada kekhawatiran kan. Nah kekhawatiran Asih itu berdasarkan apa ?” Tanya lanjut Andi.
“ Ya bisa saja, mengingat usia Andi kan masih 2th lebih muda dari Asih. Dan mungkin kalo diperhitungkan, strata social kita jauh berbeda Andi.” Kata Asih.
“ Ah itu perasaan Asih saja, soal umur beda dua tahun saja kok. Yg beda belasan tahun juga banyak Asih. Kemudian soal strata social juga gak ada dalam kamus keluarga Andi itu jadi penilaian.” Jawab Andi.
“ Ya itu kan Andi, mungkin juga Aster tapi keluarga yang lain ?” kata Asih.
“ Udah lah gak usah bahas itu, yang Andi pikirkan justru jika Asih sukses dalam pekerjaan nanti kemudian merasa sukses tak lagi mau sama Andi yang saat ini masih pengangguran.” Kata Andi.
“ Ya gak lah Andi sayaang, Asih gak akan begitu. Kalo Asih sukses disitu juga ada peran Andi dan Aster juga. Tanpa itu pun Asih akan tetap mencintai Andi. Sekalipun Andi bekerja sebagai apapun, atau usaha apapun. Asal masih mau usaha tidak bermalas malasan.” Kata Asih.
“ Memang Asih sudah pingin berumah tangga secepatnya ?” Tanya Andi.
“ Jujur saja sih iya Ndi, asih sudah 22 th kan, takut jadi perawan tua. Kalo Andi sendiri gimana ?” Tanya Asih.
“ Kalo Andi kan, lulus kuliah saja belum, kerja apa lagi. Kalo nikah mau kasih makan anak istri paki apa nanti ?” jawab Andi.
“ Paling gak ya usia 25 lah Asih !” jawab Andi.
“ Ya kalo segitu sih gak papa, berarti asih umur 27, tapi sebenarnya kelamaan Ndi. Asih nunggu 5 tahun dong ?” ucap Asih.
“ ya kan masih jauh Asih, kita jalani saja, jika kita memang jodoh jangankan 5th 10th atau 15th pun gak masalah bagi Andi.” Jawab Andi.
“ Ya bagi Asih masalah dong Ndi, kalo terlalu tua gak bisa kasih keturunan pada Andi.” Sahut Asih.
“ Iya juga ya, aah Andi belum sampai mikirnya kesitu ah.bagaimana besuk aja Asih. Lagian kita juga baru resmi jadian kemarin, masak bahasnya sampai kearah situ.” Ucap Andi.
“ Ya, namanya pembahasan kan boleh. Karena Asih maunya kita serius Andi, bukan main main saja. Disamping usia Asih yg sudah 22th.” Jawab Asih.
“ Iya sih, memang bener tapi ya gak harus sekarang juga kita bicarakan itu.” Ucap Andi.
“ Iya ya Andi sayang, yuk kita pulang saja kan mau pada latihan nanti. Takut Andi kecapaian saat latihan nanti.” Kata Asih.
“ Baiklah, menurut Asih perlu gak hubungan kita diekspose ke temen temen Band Andi ?” Tanya Andi.
“ Itu sih terserah Andi saja, kalo Asih ngikut saja apa kata Andi.” Jawab Asih.
“ Yaudah, bagaimana nanti saja, yuk kita pulang sekarang !” ajak Andi.
Mereka pun segera menuju ke mobil dan pulang kerumah.
Dalam perjalanan pulang Asih tak henti hentinya tersenyum, dan tangan Andi selalu menggenggam tangan Asih. Akhirnya Sampailah mereka berdua, dan tak lama kemudian rombongan Wawan pun datang untuk melakukan latihan.
“ Wah semua personil sudah komplit rupanya, bisa langsung berangkat atau mau pada minum minum dulu nih.” Sapa Aster.
“ Wawan dan kawan kawan sudah habis minum mbak Aster, owh iya ini yang namanya Mbak Astri ya ?” Tanya Wawan pada Astri.
“ Lah kok Astri jadi kayak selebritis saja nih, udah pada tahu nama Astri.” Jawab Astri.
“ Ha ha ha mbak Astri pandai juga bercanda, ya tahu lah mbak. Kita dulu pernah bantuin mbak Aster nyari mbak Astri keruah yang dulu, tapi gak ketemu.” Kata Wawan.
__ADS_1
“ Owh begitu, jadi kaliyan semua pernah kerumah Astri yang dulu ?” Tanya Astri ke Wawan.
“ Gak mbak, Cuma Wawan aja, bareng mbak Aster, Andi dan the Asih.” Jawab Wawan.
“ Owh kirain semua crew band ikut.” Sahut Astri.
“ Ngomong ngomong, mbak Astri sama mbak Aster sama ya ?” seru Wawan.
“ sama apanya Wan ?” Tanya Astri.
“ Sama sama cantik !” gurau Wawan.
“ Haddewh kamu Wan, tahu aja kalo sama yang bening bening.” Sahut Asih mengomentari Wawan.
“ Ya iya lah Teh Asih, Bening itu menyegarkan.” Ucap Wawan disambut tawa yang lainya.
“ Dasar kamu ini Wan, baru ketemu sekali sama Astri udah ngerayu gitu. Tar cewek kamu marah loh ?” ujar Astri.
“ Wawan belum punya pacar kok Mbak Astri.” Ucap Wawan dengan mimic serius.
“ Terus kenapa lapor ke Astri kalo belum punya pacar, mang Astri biro jodoh apa ?” jawab Astri sambil tertawa.
“ Yah kirain tadi mau bilang yang bener Wan, gitu…!” gura Wawan.
“ Yaaah ngarep lo Wan.” Timpal Andi ikut mengejek Wawan.
“ Gak papa lah Ndi, kan namanya juga usaha. Sapa tahu gak dapet mbak Aster dapet mbak Astri, yang bagai pinang dibelah dua, he he he…!” gurau Andi.
“ Iya deh Wan, terserah kamu, mau pilih Aster atau Astri ?” jawab Astri.
“ Emang boleh mbak ?” Tanya Wawan.
“ Boleh saja lah cuman milih ini, keputusan kan ada pada yang dipilih mau apa Gak.” Jawab Astri.
“ Yaelaaaah… kena lagi deh Wawan.” Gerutu Wawan. Disambut tawa yang lainya.
Rupanya Astri sengaja menggoda Wawan yang dipandang cukup supel dalam bergaul.
“ Jadi gimana nih, mau langsung berangkat atau istirahat sebentar.” Tanya Aster.
“ Wawan ikut saja lah, mau langsung hayuuk mau istirahat dulu silahkan.” Sahut Wawan.
“ Tanyain pada pasangan kekasih yang baru saja pulang dong Aster ?” jawab Astri.
“ Pasangan kekasih, siapa mbak Astri ?” Tanya Wawan penasaran.
Sementara Andi agak kikuk dan sedikit pucat, karena setahu Wawan dan kawan kawan pacar Andi adalah Hazel.
“ Siapa lagi kalo bukan Andi dan Asih, yang sudah resmi pacaran sekarang.” Jawab Astri dengan santai. Karena tidak tahu apa yang dipikiran Wawan dan kawan kawanya.
“ Serius lo Ndi ?” Tanya Wawan dengan mata agak melotot, sehingga membuat Astri jadi bingung. Tidak menyadari apa yang terjadi. Dan tidak mengetahui apa yang membuat Wawan jadi berubah garang memandang Andi.
“ Jawab dong Ndi, lo beneran pacaran sama the Asih ?” Tanya ulang Wawan kepada Andi.
...bersambung...
...Jangan lupa beri dukungan...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1