
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode Lalu
“Maksut bapak Syifa yang dulu pernah…..!” ucapan bu halimah terhenti karena sadar di situ ada Sinta yang masih kecil. Hampir saja bu halimah keceplosan mengucapkan Syifa yang pernah kepergok warga sedang mabuk dan tertangkab basah sedang bercinta di taman terbuka dekat rawa yang sekarang jadi tempat kunjungan para pesepeda dan olah ragawan pagi.
“Iya bapak hanya khawatir saja tapi, bukan menuduh atau yakin itu dia.” Jawab pak Baskoro.
“Andi kemana pak, kok belum selesai mandinya cepat suruh kesini saja. Kita harus bicarakan ini secara serius sekaranga juga.” Kata bu Halimah ibuya Andi cemas.
*****
Episode ini
Ibunya Andi yang sangat protek dengan Andi dalam hal hubungan antara Lelaki dan perempuan itu sangat cemas dengan keterangan Sinta. Bahkan ibu Andi bisa dibilang over protected kepada Andi, dan hal itu yang justru membuat Andi jadi anak yang sulit memutuskan sesuatu. Karena hampir tidak pernah memutuskan sesuatu sendiri. Selalu minta pertimbangan orang lain untuk memutuskan.
Pak Baskoro segera memanggil Andi yang ternyata hanya tiduran dikamar saja. Andi masih mengingat pengalan barusan bersama Syifa.
“Andi kamu ditungguin malah tiduran di kamar, ayo cepat temui ibumu !” perintah pak baskoro bapaknya Andi.
“Ada apa sih pak, kan Andi masih cape.” Jawab Andi.
“Udah keluar dulu saja jangan kecewakan ibumu.”perintah pakBaskoro.
Dengan agak malas Andi bangkit dari ranjang keluar ke teras mengikuti pak baskoro bapaknya.
Sesampai di teras ibu nya Andi langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
“Andi, kamu tadi pamitnya Cuma ke sekolah Sinta. Kenapa sampai sore begini, terus kamu bilang ke rumah Syifa. Syifa itu siapa kamu kenal dimana. Apakah Syifa yang dulu pernah ada masalah dengan warga kampong kita dulu ?” Tanya bu Halimah beruntun pada Andi.
“Apa sih bu, kan Andi sudah bilang diminta ngajarin main gitar anak anak sanggarnya Syifa. Dan Syifa yang pernah punya masalah atau bukan Andi gak ngerti bu. Andi hanya ketemu disekolah Yasinta tadi, kemudian habis pentas diminta mengajari anak sanggarnya Syifa.” Jawab Andi berbohong.
“Andi mungkin gak ingat waktu itu bu, kan andi masih kecil masih SMP waktu itu.” jawab pak Baskoro.
“Ibu gak suka kamu dekat dekat dengan bu guru seksi itu Andi. Kamu harus bisa menjaga jarak dengannya.” Ucap bu Halimah ibunya Andi.
“Ibu,,, Andi kan sudah besar, sudah tahu mana yang baik mana yang gak gak perlu diatur terus bu.” Jawqb Andi.
Baik pak Baskoro maupun buHalimah kaget Andi bicara seperti itu, karena baru kali ini Andi bicara seperti itu. berani membantah ibunya sendiri.
“Kamu kok sekarang berubah Andi ? berani melawan Ibu sekarang.” Tanya bu Halimah.
“maaf bu, bukan maksut Andi membantah, tapi Andi juga pingin menentukan langkah Andi sendiri. Andi juga pingin agar bisa berteman dengan banyak orang, itu saja.” Jawab Andi.
“Ibu juga gak ngelarang kamu berteman dengan siapapun hanya membatasi saja pada orang orang tertentu jangan terlalu deket.” Jawab bu Halimah.
“Iya bu, tanyain ke Sinta tuh tadi sama temen temen Sinta saja Andi hanya biasa saja ketika pada minta foto bareng.” Jawab Andi beralibi.
“Iya kok Tante, kak Andi gak ganjen ke temen Sinta yang cantik cantik juga.” Ucap Sinta polos. Karena Yasintta gak tahu jika Andi ada sedikit masalah tentang orientasi sexnya. Yang lebih menyukai wanita yang lebih dewasa dari pada yang lebih muda.
“Iya Sinta, kalo sama temen temenmu yang seusiamu ibu gaqk khawatir nak. Tapi sama ibu gurumu itu yang ibu khawatir.” Jawab bu Halimah.
__ADS_1
“Sudahlah bu, nanti saja kita bicarakan lagi soal Andi. Biar Andi juga tenang dulu, dan Sinta juga kalo mau pulang dulu biar pulang dulu. Takut mamahnya Sinta juga khawatir.” Ucap pak Baskoro.
Akhirnya Yasinta pun pulang kerumahnya, sementara bu Halimah dan pak Baskoro berkemas pergi ke masjid.
“Kamu gak ikut ke masjid Andi ?” Tanya Ibunya Andi.
“Maaf bu, Andi masih agak cape dirumah saja bu.”jawab Andi.
“Yaudah bapak ibu tinggal dulu ya.” Kata ibunya Andi.
“Iya bu.” Jawab Andi singkat.
Kedua orang tua Andi segera pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Sementara Andi diam saja dirumah, ada semacam perasaan gundah. Merasa berdosa telah melakukan hal yang dilarang Agama. Sehingga karena gundah dan gelisahnya Andi tidak melaksanakan kewajiban sholat seperti biasanya. “apakah aku mau sholat kalo habis melakukan perbuatan dosa besar seperti tadi ?” kata Andi dalam hati.
Kemudian Andi masuk ke kamrnya untuk merenungkan apa yang sudah terjadi, ada penyesalan tapi juga ada rasa ketagihan. Perang batin antara mau bertaubat atau mau nekat, antara berhenti berhubungan dengan Syifa atau melanjutkan karena nafsunya.
Ditengah kegelisahan Andi, tiba tiba Syifa mengirimkan sebuah pesan di ponsel Andi.
“Sore sayang, lagi apa nih ?
Lagi mikirin Syifa gak ? Syifa udah kangen aja nih, padahal juga baru tadi ya ? qiqiqi….
emot tertawa kecil.
Andi membaca sambil tersenyum, begitu membaca chatnya Syifa hilanglah sementara penyesalan Andi atas dosanya. Karena yang terbayang kemudian adalah nikmat nafsu duniawinya. Bahkan Andi sampai lupa menyapa Asih kekasihnya seperti biasanya.
Andi sekarang benar benar sedang kasmaran dengan Syifa, meskipun Syifa bukan siapa siapa Andi. Mereka juga tidak membuat sebuah komitmen apapun, just having fun sama sama mau.
“Lagi ngebayangin yang tadi nih Andi, rasanya masih kurang.” Balasan Chat Andi ke Syifa.
“Masa sih,,, tapi emang sekali mencoba pingin selamanya. Syifa juga begitu, maunya tiap hari bercinta.
Andi berpikir sejenak maksut Syifa bagaimana, maklum Andi memang masih sangat polos dalam hal itu.
“Maksutnya bagaimana Say.” Tanya Andi dengan sebtan Sayang pada Syifa. Rupanya Andi benar benar sudah terpikat dengan apa yang dimilik Syifa dan sudah dirasakanya.
“Chek in Hotel lah, masak gak paham. Kalo iya aku tunjukin hotel yang murah tapi nyaman. Kamu kan habis dapet uang dari pentas tadi, buat senang senang saja sayang, jika perlu semalam suntuk kita bisa senang senang kok.” Chat Syifa ke Andi.
“Bukan masalah uangnya sih say, tapi gimana caranya aku keluar rumah. Bokap nyokpku pasti gak ngijinin nanti.” Chat balasan Andi ke Syifa.
“Mang bokap nyokap kamu ada dirumah sekarang ?” chat dari Syifa.
“Baru keluar sih.” jawab Andi.
“Yaudah mumpung lagi keluar kamu juga keluar saja sekarang. Nanti Syifa tunjukin hotelnya. Andi langsung menuju kesana aja.” Chat Syifa.
Perang batin kembali terjadi pada diri Andi, pemuda yang selam ini lurus lurus saja sekarang baru terbuai godaan seorang wanita yang telah memerinya racun dengan bungkus kenikmatan duniawi semata.
Akhirnya Andi dapat dikalahkan oleh bisikan Iblis yang mengajaknya segera menenmui syifa di hotel.
“Kapan lagi kamu akan dapat kenikmatan gratis seperti ini, Syifa itu cantik dan hot kurang apa lagi. Yang penting kan jangan sampai orang tuamu dan Asih Tahu. Laki laki ini berbuat berapa kalipun gak meninggalkan bekas, sedang wanita saja banyak yang berani masa kamu laki laki gak berani Andi.” Bisika iblis di hati Andi.
Andipun segera keluar rumah menggunakan motornya. Setelah membalas Chat Syifa.
“Ok sayang, Andi meluncur kamu kesaana duluan terus Sharelok ya.” Balasan Chat Andi kepada Syifa.
Andi sekarang sudah berubah seratus delapan puluh derajat, tak lagi penurut, tak lagi rajin ke masjid dan tak lagi perhatian sama Asih. Waktu dan pikiranya sekarang banyak dihabiskan untuk Syifa kekasih gelapnya. Andi pun tidak mentadari jika Syifa hanyalah mengejar kesenangan semata.
Maka bertemulah Andi dan Syifa disebuah kamar hotel kelas melati.
“Sayang aku sudah dikamar no 36, langsung masuk saja Syifa tungguin dikamar.” Chat Syifa pada Andi.
__ADS_1
Agak ragu juga Andi mau masuk ke hotel tersebut, ada rasa takut juga. Takut ketahuan orang yang dia kenal, takut ada operasi dan lain sebagainya. Namun semua ketakutan yang muncul itu terkalahkan oleh bisikan menyesatkan yang menawarkan kenikmatan sesaat.
Andi segera melangkah masuk ke hotal melati tersebut dan menanyakan lokasi kamar yang dimaksut Syifa.
Bahkan Andi samapi tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sedang mengawasi dirinya.
“Itukan Andi, pemuda Alim yang suka main music itu, bukanya dia habis bertyunangan kemarin dan belum resmi menikah. Apakah dia itu juga sebenarnya doyan perempuan, aah ternyata.. gak nyangka gue, gue kira Cuma gue yang brengsek. Ternyata tetangga gue yang sok alim itu ternyata brengsek juga.” Bisik orang itu dalam hati.
Kemudian orang itu diam diam mengikuti Andi sampai Andi mengetuk ke kamar Syifa dan Syifa membukakan pintu. Dengan model pakaian Syifa yang semi transparan berwarna cerah dan under wear yang berwarna menyala memberikan pandangan yang begitu kontras. Sehingga membuat mata Andi tak mampu berkedip melihat pemandangan di depan matanya.
Bahkan orang yang mengawasinya pun cukup dapat menyaksikan pemandadangan tersebut meskipun dari jarak yang cukup jauh.
“Wuaaah ternyata ceweknya cantik juga, mau ah aku juga. Biar aku foto saja, kalo Andi gak mau kasih pinjam itu cewek akan ku ancam sebarkan foto ini. dia pasti ketakutan nantinya.” Bisik orang itu.
Setelah Andi masuk ke kamar maka orang itupun pergi meninggalkan tempat itu. dan kembali keruangan loby hotel.
“Mas yang barusan masuk tadi namanya siapa yang ke kamar 36” Tanya orang itu pada receptionist.
“Maaf bapak, data pelanggan adalah privasi gak boleh kami sebarkan ke umum.” Jawab reseptionis tersebut ramah.
“Owh, yaudah gak papa kok Cuma mau mastiin kok kayaknya kenal. Tapi kalo itu rahasia ya gak masalah.” Jawab orang itu.
“Terimakasih bapak atas pengertianya, mohon maaf jika kurang nyaman.” Jawab receptionis itu.
Kemudian orang itu kembali duduk menunggu teman kencanya yang belum juga datang. Kemudin dia ingat harus bagaimana mendapatkan wanita yang bersama Andi sekarang.
Orang itu mengeluarkan ponsel dan menelepon sesorang.
“Malam pah, papah gak pulang lagi mala mini ?” Tanya seorang yang di telpon yang ternyata adalah istrinya.
“Iya mah, baru ada meeting belum tahu selesai jam berapa. Rencana mau adakan konser amal nih. Mamah punya no HP Andi tetangga kita yang barusan kemarin tunangan itu. papah minta dong, mau hubungi dia buat isi acara di konser amal.” Kata orang itu bohongi istri.
“Wah bagus tu pah konser amal, tapi mamah gak punya. Coba nanti mamah Tanya ke Yasinta, barang kali dia punya. Kan siang tadi juga Andi ngisi acara di sekolahnya Yasinta anak kita. Ngriringi Yasinta baca puisi dan Nyanyi juga.” Jawab sang Istri yang ternyata adalah mamahnya Yasinta.
Â
@@@@*****>>>>>?????
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1