Cinta Asteria

Cinta Asteria
Benih cinta tumbuh dihati Aster


__ADS_3

🌷🌷🌷


Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode Lalu


Keduanya bahkan sudah lupa jika mereka itu sedang berada di sofa runag tamu rumah mereka. Yang mungkin saja ada tamu datang karena pintu tak terkunci. Bahkan jendela yang tirainya pun tidak tertutup karena memang masih sore hari.


Begitulah ketika orang sedang dalam kendali nafsu, seakan tak peduli dengan keadaan sekitar. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang mengamati apa yang sedang mereka lakukan.


*****


Episode ini


Seorang wanita mengintip apa yang sedang Bram dan Rina lakukan, dan keisengan orang itu muncul untuk merekam adegan syur pasangan suami istri tersebut.


Dengan bermodal Ponsel dia merekam adegan dewasa tersebut dari luar jendela kaca yang tidak ditutup tirainya.


Sebuah kecerobohan yang bisa berakibat fatal telah dilakukan oleh Bram dan Rina istrinya. Meskipun itu hal yang syah bagi pasutri namun harus tetap menjaga privasi aktivitas tersebut. Demi menjaga dari hal hal yang tidak diinginkan.


Sementara wanita tersebut asyik merekam, mungkin juga dengan menahan nafas juga. Bram dan Rina sudah semakin jauh mendaki puncak kenikmatan yang sudah hampir sampai pada puncaknya. Dan ketika sama sama sudah sampai kepuncak, keduanya kelelahan karena habis melakukan pendakian panjang. Sehingga keringt keduanya mengucur deras, dikarenakan pendakian panjang yang melewati jalur terjal dan berliku naik turun lembah serta perbukitan.


“Udah mah, udah cape masuk kedalam saja yuuk. Istirahat dulu nanti kalo sudah hilang cape bisa lanjut.” Kata Bram pada Rina.


“Iya pah, jam berapa sih ini pah ?” Tanya Rina pada Bram.


“Masih jam delapan malam mah, masih sore kok.” Jawab Bram.


“Papah sih sore sore juga udah ngajak gituan saja.” Ucap Rina manja sambil memungut pakainya yang berhamburan dilantai.


Demikian juga bram, memunguti pakaian yang berserakan dan segera menuju ke kamar mandi.


Setelah keduanya keluar dari kamar mandi dan membersihkan diri dari sesuatu yang terasa lengket mereka kembali keruangan depan lagi menonton acara Televisi.


“Pah tu Ponselnya berbunyi !” ucap Rina kepada Bram.


“Iya mah, bukain saja gak papa.” Kata Bram.


Kemudian Rina membuka sebuah chat dari nomor yang belum dikenal.


“Malam pak Bram,


Mau minta informasi harga Asesories mobil untuk mobil saya. Kalo bisa datang kerumah saya sekarang juga. Karena ada beberapa type mobil rental untuk usaha kami. Jika bersedia akan saya kirimkan lokasi rumah saya.


Terimakasih.


Dyah Nuraini.


Isi Chat dari nomor tersebut yang berates nama Dyah Nuraini.


“Pah ada yang mau pesan asesoris nih buat rental mobilnya.” Kata Rina pada Bram.


Tanpa menjawab Bram mendekati Rina dan membaca ulang Chat tersebut dan membalasnya.


“Alamatnya dimana bu Dyah, jika tidak terlalu jauh saya bisa. Tapi kalo jauh besuk siang saja bagaimana ?


Balasan chat Bram


Ternyata langsung dibaca dan dibalas lagi.


“Klo siang Monil pada keluar operasional pak, karena dipaki rental. Jika bisa malam hari saja, biar bisa melihat langsung ada sepuluh unit yang akan saya pasang Assesories biar lebih nyaman dipakai pelanggan kami.


Balasan Chat dari orang yang mengaku Dyah Nuraini tersebut.


Wah 10 unit nih, jumlah yang lumayan banyak juga pikir Bram.


“Mah kalo mala mini papah keluar lihat mobil yang akan dipasangi Assesories bagaimana ? ada 10 unit yang minta dibuatin Assesories untuk rental.” Tanya Bram pada Rina istrinya.


“Terserah papah kalo gak capek.” Jawab Rina.


“Capek sih sebenarnya tapi sayang juga kalo dilewatkan ada 10 Unit nih.” Jawab Bram.


“Yaudah terserah papah saja, mau disanggupin atau tidak.” Jawab Rina istrinya Bram.


“Papah terima saja ya, soalnya bisanya malam kalo siang mobilnya pada keluar soalnya.” Kata Bram.


“Iya pah, Mamah senang kalo papah semangat begitu.” Ucap Rina istri Bram.


Kemudian Bram kembali membalas Chat orang tersebut.


“Baik bu silahkan kirim lokasi alamat, saya akan meluncur kesana.” Balas Bram.


Sesaat kemudian bram menerima Sharelok dan segera menuju ke lokasi yang di tunjukan.


Perjalanan ke lokasi membutuhkan waktu sekitar dua puluh lima menit. Sesampai dilokasi yang dimaksut Bram menelpon no tersebut dan mengabarkan jika sudah sampai di depan rumah yang bertuliskan ‘Dyah car rent’. Beberapa saat kemudian gerbang rumah dibuka dan Bram dipersilahkan masuk oleh penjaga rumah tersebut. Setelah memarkir mobil Bram menghampiri penjaga rumah.


“Bu Dyah ada dirumah kan, saya sudah ada janji mau melihat mobil yang akan dipasangi Assesories.” Tanya Bram.


“Iya pak, sudah ditunggu didalam langsung masuk saja.” Kata penjaga pintu.

__ADS_1


Bram langsung membuka pintu rumah yang berukuran besar tersebut, begitu masuk dilihatnya seorang wanita paruh baya yang sedang menonton televise dengan posisi membelakangi Bram.


“Malam bu Dyah, saya Bram yang mau lihat mobil yang akan dipasangi assesories.” Kata Bram sopan. Sebagai mantan tenaga marketing Bram cukup lihai dalam melakukan negoosiasi dan memberikan kesan baik pada saat jumpa pertama sekalipun.


“Iya mas, kita bicara disini dulu, jangan panggil saya bu napa. Saya masih muda kok. Paling juga beda dikit dengan usia mas.” Kata wanita itu agak denit tapi tanpa menoleh kepada Bram.


Dalam hati Bram berkata, “dari mana tahu usiaku dibawah dia dikit. Kayaknya juga baru sekali ini ketemu.”


Setelah duduk disamping perempuan itu Bram dapat melihat wajah perempuan itu memang hanya terpaut sekitar 5 tahunan denganya.


“Maaf bu, ini catalog dan prce list Assesories yang kami sediakan. Tapi jika ibu memnginginkan yang lain saya juga bisa mengusahakan.” Kata Bram membuka prolog dalam penawaran produknya.


“Sudah saya bilang jangan panggil saya bu, panggil saja Dyah atau Aini saja. Soal catalog itu soal gampang, mas saja yang pilihkan yang terbaik, soal harga gak usah khawatir aku gak akan menawar.” Ucap perempuan itu. sambil bergeser memandang Bram dan mematikan televise.


Saat berhadapan dengan perempuan itu Bram sempat kikuk dan kaget, melihat penampilan perempuan itu. Yang ternyata pakaian yang dikenakan bagian depan nyaris tidak dikancingkan bajunya. Bahkan rok yang dikenakan hanya sedikit di bawah pantatnya.


Mata bram pun mencuri curi pandangperempuan tersebut,meski beberapa kali ketahuan oleh perempuan itu.


“Jadi bagaimana buk eeh Aini untuk pemesanan assesoriesnya apakah 10 unit akan dipasangi semuanya dan diseragamkan. Saya bisa mengerjakan secara cepat paling dua hari sepupuh unit sudah kelar.” Kata Bram agak gugup berkali kali perempuan itu mengangkat kaki menyilangkan kaki bergantian kai kanan dan kirinya, sehingga mata bram pun  berkali kali menatap G-String yang dikenakan perempuan itu.


“Kamu kenapa gugup sih mas, kayak yang gak pernah lihat beginian saja.” Kata perempuan itu.


“Eeh maaf gak sengaja lihat kok Aini.” Jawab Bram takut yang punya tersinggung dan membatalkan kontraknya,


“Alaaah ngapain pakai pura pura bilang gak sengaja, memang apa bedanya sengaja dan tidak sama sama lihat ini. kata Aini sambil melepas baju atasnya hingga hanya menampakkan bra nya yang tampak kekecilan untuk menutupi bukit kembarnya.


“Udah gak usah basa basi, kita sama sama dewasa aku tadi sebenarnya mau membahas ini dirumah kamu karena membaca alamat kamu di iklan. Tapi sampai sana malah kamu mempertontonkan adegan ini hingga membuat aku horney.” Kata Aini yang menyerahkan hasil rekaman adegan Bram dengan Rina tadi sore.


“Maksut Aini apaan ini ?” Tanya Bram malu dan gugup.


“tenag aku gak akan memeras kamu dengan ancaman kalo gak mau ngasih duit akan menyebarkan video tersebut.” Jawab Aini kalem.


“Iya terus mau kamu apa ?” Tanya Bram.


“Aku ini istri pelaut, suamiku pulang gak tentu kadang enam bulann sekali baru pulang. Aku hanya ingin kamu perlakukan aku seperti dalam video antara kamu dan istrimu itu. kupikir aku belum terlalu tua untuk mengimbangi permainan kamu.” Ucap perempuan itu.


Bram yang sebenarnya juga sudah terangsang namun ingat akan janjinya pada istrinya akan tetap setia jadi bingung. Antara menerima tawaran kenikmatan Gratis dan bonus kontrak kerja atau menolak dan kehilangan kontrak kerja tersebut.


“Kamu serius Aini ?” Tanya Bram yang sudah tak tahan melihat Aini setengah telanjang terebut. Ditambah aroma parfum yang digunakan semakin membangkitkan gairah Bram.


“Udah ayo cepat lakukan, masalah kontrak aku maunya sehari kamu kerjakan satu saja biar selama sepuluh hari kamu kesini terus menemani aku.” Kata aini yang sudah gak sabar dan memluk bram dengan menghujani kecupan. Sambil melucuti pakaian Bram satu persatu dan ppakainya sendiri.


Sehingga terjadilah pergumulan dua insane lawan jenis yang bukan semestinya terjadi itu. meski Bram masih dihinggapi pikiran akan janjinya dengan Rina istrinya. Namun menghaapi singa betina yang kehausan akan belaian itu membuat Bram tak lagi mampu menahan gairahnya. Jebol lah pertahana Bram yang selama ini sudah mencoba setia dengan Rina istrinya. Akhirnya kestiaan Bram selama ini runtuh dihadapan seorang Aini. Dan syangnya itu menjadi awal yang akan terus berlanjut bahkan tidak hanya dengan Aini saja. Apalagi bisnis Bram semakin pesat dan Bram yang makin tampak memancarkan pesonany membuat Bram lupa akan dirinya. Lupa saat jatuh dia disemangati dan di dorong Rina istrinya untuk bangkit.


Bram lupa bahwa istrinya pernah berpesan jika suatu saat sukses jangan lupakan Rina istrinya. Bram lupa semuanya, sekarang yang ada di otak Bram adalah mencari pasangan baru bahkan mencari gadis gadis belia yang mau dikencani demi uang. Kareana secara ekonomi Bram sudah tidak kekurangan uang bahkan berlebih.


Disitulah kesetiaan seorang lelaki diuji pada saat dirinya baru dalam puncak karirnya. Daan Bram sudah gagal diuji kesetiaanya. Bahkan sekarang sudah jarang sekali menyentuh istrinya Rina Saraswati yang sudah setia menemani selama ini dalam suka dan duka. Yang mendorong dan menyemangati Bram sat jatuh, bahkan membiyai saat Bram baru di PHK sampai dengan bisa berusaha bangkit membuka usaha lagi sampai sekarang.


Akhirnya istrinya pu mencium ketidk beresan Bram dan mengikuti secara diam diam kemana sebenarnya Bram yang hampir tiap malam keluar rumah dengan alasan menemui klien, tiap malam ???


Begitulah Bram dan istrinya yang kehidupan ekonominya tercukupi namun moralitasnya justru sangat terpuruk. Bram kembali seperti saat belum nikah dengan Rin Sarawati.


*****


“Kayaknya Hendra nyerah deh Astri, sampai saat ini Hendra belum mampu menaklukan hati Aster.” Kata Hendra pada Astri.


“Jadi cowok kok gampang nyerah sih bang ?” kata Astri.


“Habis bagaimanan lagi, dilur jam kerja Aster gak pernah mau aku ajak bicara. Bahkan selalu bilang gak mau ngobrol diluar jam kerja katanya.” Cerita Hendr pada Astri.


“Lah abang sendiri bagaimana sebenarnya dengan Aster sudah ada perasaan cinta atau sekedar menerima tantangan saja ?” Tanya Astri pada Hendra.


“Jujur, semakin lama Hendra makin menyukai Aster,namun ster sedikitpun tidak ada perubahan sama sekali pada Hendra.” Jawab Hendra.


“Abang jangan putus asa dulu, coba dekati Aster secara personal jangan hanya membicarakan soal pekerjaan saja. Ajak bicara hallain yang mengarah kepada obrolan Romantis.” Kata Astri.


“Itu yang Hendra bingung Astri,mau ngobrolin apa kalo bukan soal pekerjaan.” Jawab Hendra.


“Ya ampun bang, masak yang kayak gitu harus Astri ajarin juga ? cari bahan dan cari cara sendiri dong bang. Ya pantas saja Aster biasa saja sama abang, abang kalo ngomong sama Aster hanya masalah pekerjaan saja. Mana ada perempuan yag mau setiap ngobrol hanya urusan pekerjaan terus bang.” Ucap Astri.


“Owh begitu ya, terus baiknya mulai dari mana ngobrolnya Astri ?” Tanya Hendra polos.


“terserah abang lah yang tahu bagaimana Aster sekarang kan Abang bukan Astri.” Jawab Astri


Hendra berpikir sejenak. Apa perlu kujak makan dilur dan ngobrol dilur ya, memang Aster tidak lantas menjadi sombong karena berhasil membuat perusahaah dia berkembang karena berjasil kerja sama dengan perusahaan Jessy sahabatnya. Namun kenapa Aster tetap dingin hatinya seperti es dipuncak gunung abadi.


Begitulah percakapan Astri dan Hendra, dan Hendra merencanakan sesuat kepada Aster besuk pagi diruang kerja.


*****


Suasana kerja antara Aster dan Hendra


“Pak Hendra, tolong berkas ini diselesaikan lebih dulu soalnya dari pihak Klien pingin segera tahu hasilnya.” Ucap Aster kepada Hendra. Dalam suasana kerja memang tidak boleh panggil hanya nama meski kepada OB sekalipun. Jadi statusnya Hendra adalah Asisten Aster, Aster tetap memanggil Hendra dengan sebutan Pak.


“Baik bu, ada lagi yang bisa saya bantu ?” Tanya Hendra kepada Aster.


“Mumpung gak ada orang aku mau bilang sesuatu Hendra.” Bisik Aster kepada Hendra.


“Soal apa ya bu “ jawab Hendra.


“Jangan keras keras, dan buang dulu sebutan Bu itu, aku bukan ibumu.” Kata Aster setengah berbisik. Hendra hanya senyum senyum saja mendengar komentar Aster.


“Ada apa Aster yang cantik ?” gurau Hendra.


“Songong lo, simpan pujian kamu buat pacar kamu saja jangan diobral…!” bentak Aster pada Hendra.


Itulah gambaran sekilas suasana kerja antara Aster dan Hendra yang kadang harus formal namun jika hanya berdua tetap antara Aster dan Hendra seperti dulu. Bedanya sekarang sudah gak uring uringan lagi kalo bicara. Meskipun Hendra merasa Aster masih tetap sedingin es hatinya. Padahal sebenarnya tidaklah seperti itu kenyataanya. Karena Asterpun merasakan ada kekaguman dengan perubahan pada diri Hendra. Bahkan semakin lama semakin besar kekaguman Aster dan berubah menjai benih benih cinta meski Aster tetap memendam rapat perasaan itu.

__ADS_1


“Iya ada apa, soal pujian sudah kusimpan lama buat pacarku tapi sampai sekarang belum juga dapet pacar jadi terpaksa kuberikan padamu Aster.” Ucap hendra dengan mimic wajah serius.


Membuat hati Aster sedikit berbunga bunga namun pura pura marah dan melotot pada Hendra.


“Sekali lagi lo ngomong gitu gue gampar lo Ndra.” Kata Aster pura pura marah beneran.


“Maaf mumpung lagi sepi biar gak spaneng.” Ucap hendra.


“Bisa gak sih lo serius kalo ngomong ?” ucap Aster.


“Iyaa iya aku serius sekarang, ada masalah apa yang mau kamu bilang ?” Tanya Hendra.


Aster mendengus kesal dengan Hendra yang tidak tanggap. Padahal maksut Aster adalah berharap Hendra mengucapkan kalo Hendra mencintai Aster. Tapi Hendra saja yang gak paham maksut ster. Sehingga Aster yang kebingungan mau menjelaskan.


“Aah susah ngong sama kamu, gak jadilah, Aster capek ngomong sama kamu. Sana berkasnyaselesain dulu !” kata Aster pada Hendra jengkel karena Hendra yang tidak tanggap. Hampir tiap hari Aster mendengar ucapan Hendra yang berisi rayuan jika sedang berdua. Namun Aster menyayangkan karena Hendra hanya mengucapakan dalam bahasa bercanda tidak mau mengucapkan secara serius kepada Aster. Dan Aster mengharapkan Hendra mengucapkan dalam nada yang serius agar Asterpun menanggapinya dengan serius.


Kemudian Hendra meninggalkan Aster untuk menyelesaikan pekerjaanya, dalam hati Hendra berkata, “Susah amat sih deketin kamu Aster, jujur aku suka sama kamu tapi kenapa kamu selalu ketus kalo aku mencoba merayu kamu ?” kata Hendra dalam hati.


Akhirnya jam istirahat tiba, Hendra mencoba memberanikan diri untuk mengajak Aster makan siang bersama.


“Aster, kita makan diluar yuk aku ada menu baru yang special kamu harus coba deh !” kata Hendra pada Aster.


Aster yang mendengar ajakan Hendra jadi kaget, karena baru kali ini hendra mengajak begitu dan dengan nada serius pula. Sehingga Aster antara percaya dan tidak bertanya memastikan kepada Hendra.


“Apa kamu bilang tadi ?” Tanya Aster.


Pertanyaan Aster itu dianggap hendra sebuah ekspresi ketidak senangan Aster dengan ajakanya. Padahal Aster hanya memastikan saja apakah ucapan Hendra itu serius atua bercanda.


“Gak kok kalo mau saja kalo gak mau juga gak papa, aku gak maksa kok.” Jawab hendra kecewa.


“Aster nanya kamu tadi bilang apa soalnya Aster tadi gak jelas, pikiranya baru di kerjaan jadi gak dengar. Kamu bilang apa tadi ?” jawab Aster dengan pelan agar Hendra gak slah paham.


“Tadi aku ngajak kamu makan diluar, ada menu baru yang special.” Kata hendra malu malu.


Giliran Aster yang kebingungan mau menjawab apa, mau lngsung bilang ok malu. Mau menolak juga merasa sayang melewatkan moment ini. sehingga Aster diam sejenak beberapa saat. Sedangkan Hendra dag dig dug menunggu jawaban Aster.


“Hmmm jauh gak tempatnya Hendra ?” Tanya Aster dengan nada yang lembut membuat Hendra semakin merasa tidak karuan. Karena baru kali ini juga dia mendengar Aster bicara denganya dengan lembut.


“Cukup jauh sih, tapi kalo kita naik motor bisa kok sampai sini gak terlambat jam kerjanya.” Kata Hendra.


Wah asik kalo naik motor bonceng Hendra kayaknya, tapi kalo ketahuan Asih dan Nisa gimana nanti Aster masih malu kalo dibully anak anak tersebut. Karena apa yang diucapkan Nisa dulu ternyata terbukti, dari benci menjadi cinta, batin Aster.


“Gimana mau gak Aster ?”Tanya Hendra dengan lembut pula.


Hingga Aster tersadar dan menatap hendra pas saat Hendra pun menatap Aster. Sehingga keduanya beradu pandang dan keduanya sama sama malu sendiri.


“Iya boleh.” Jawab Aster pelan nyaris tidak terdengar oleh Hendra.


“Yaudah ayuk kita berangkat sekarang dari pada gak keburu nanti.” Ucap Hendra.


Seperti tertarik magnet yang medan magnetnya sangat kuat, Aster mengikuti hendra dari belakang menuju parkiran motor Hendra.


“Duh kalo ketahuan Asih dan Nisa gimana nanti nih, lah bodo amat pikir nanti saja. Lagian juga pasti bakalan ketahuan ini entah kapan, batin Aster.


Dan memang Asih mengamati Aster yang berjalan mengikuti Hendra menuju tempat parker motor Hendra. Namun Asih hanya mengamati saja dari jauh tidak menegurnya bahkan hanya mengawasi saja ketika Aster mulai bonceng motor Hendra.


“Aaah jangan jangan mereka itu sekarang beneran berpacaran, ha ha ha Aster Aster, akhirnya kamu bisa jatuh cinta juga sekarang ya.” Bisik hati Asih sambil senyum.


Sampai di warung makan yang dimaksut Hendra langsung menggandeng tangan Aster tanpa sadar. Dan Asterpun juga hanya menurut apa yang dilakukan Hendra padanya. Dua orang yang baru saling jatuh cinta itupun mencari tempat yang paling ujung. Karena hendra sudah bertekat akan menyatakan isi hatinya pada Aster hari ini juga atau tidak sama sekali.


Saat sudah duduk setelah pesan menu makanan hendra membuka obrolan.


“Aster, maaf aku mau cerita nih.” Kata Hendra.


“cerita aja, ngapain harus ijin segala.” Jawab Aster


“Menurut kamu hubungan Astri dan Dimas itu bagaimana ?” Tanya Hendra membuka obrolan maksutnya. Namun Aster malah sangka dengan Hendra.


“Owh jadi jauh jauh kamu ajak Aster kesini Cuma mau bilang kalo kamu gak setuju hubungan Astri dengan Dimas saja.” Kata Aster. Sehingga membuat Hendra jadi kebingungan mendengar perkataan Aster tersebut.


 


@@@@@*****>>>>>?????


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


__ADS_2