
🌷🌷🌷
Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode sebelumnya
“Loh boss kok disini…!” ucap pelayan itu yang mengenal Astri, dan Astripun baru sadar jika itu bisa membuka sandiwaranya pada Aster, Astri agak panik dan menyembunyikan perbahan wajahnya dari Aster dengan memalingkan wajahnya ke pelayan itu. sambil berusaha member isyarat agar diem. Namun pelayan itu tidak paham dengan maksut Astri.
“Apa boss ?” Tanya pelayan itu.
Membuat Astri jadi semakin panik. Maksut hati mau gabung makan dengan Aster sahabatnya tapi lupa jika warung itu mengenal siapa Astri.
“Duh, mampus aku bisa ketahuan aster kalo ini orang sampai menyebut siapa Astri. Dan menanyakan tentang perusahaan. Gagal total semua rencana yang udah Astri siapin.” Gerutu Astri dalam hati.
*****
Â
Episode ini
“Mas yang ini minumannya salah ?” kata Dimas tiba tiba.
Pelayan itupun mendekati Dimas, dan bertanya maksut Dimas.
“Minuman yang mana mas ?” Tanya pelayan itu.
“Bukan, hanya mau bilang jangan buka identitas Astri temen saya di depan teman teman dia. Mereka belum tahu siapa Astri, tahunya Astri bisnis online saja. Mas bilang saja kalo Astri sering makan disini jadi manggil dia boss.” Bisik Dimas pada pelayan itu. karena Dimas tahu sifat Astri, bahkan dengan Dimas pun dulu Astri mengaku anak padagang kecil dipasar.
“Owh iya mas maaf, saya gak tahu.” Kata pelayan itu.
“Yaudah gak papa, nanti biar gak curiga kamu ganti minuman ini dengan yang lain saja. Nanti masukan ke tagihan gak papa.” Kata pelayan itu.
“Ok mas siap, gak usah gak papa.” Jawab pelayan itu kemudian mengganti minuman Dimas yang sebenarnya gak keliru.
Sesaat kemudian pelayan itu datang lagi membawa minuman yang baru.
“Ini mas minumannya, sudah lama boss Astri gak jajan kesini kemana saja, masih lancar bisnis online nya ?” Tanya pelayan itu pura pura.
Untung Dimas tanggap dan cepat bertindak, jadi Aster gak curiga dan pelayan itu bisa juga berakting, batin Astri.
“Gak mas, baru off dulu mau cari kerja di dunia real aja sekarang.” Sahut Astri.
“Owh begitu, udah dapet kerjaan belum sekarang ?” Tanya pelayan itu.
“Belum sih, masih nyari nyari aja nih.” Sahut Astri.
Kemudian pelayan itu kembali ke tempatnya dan member tahu temenya yang juga mengenal Astri terkait pesan Dimas tadi.
“Kamu langganan warung ini juga Astri ?” Tanya Aster.
“Iya dulu sering kesini, warung makan murah meriah buat anak kuliahan bagi teme kuliah Astri dulu cukup sering makan disini.” Jawab Astri agak tergagap.
“Btw udah dapet kontrakannya Dimas ?” Tanya Aster kemudian sambil menikmati makanan mereka ngobrol.
“Belum Aster, kamu ada pandangan kah ?” Tanya Astri pada Aster.
“Dekat rumah aku ada, tapi ya gak besar besar amat paling cukup kalo hanya buat berdua. Buat Dimas dan Arya saja.” Kata Aster gak mau jika Hendra ikut tinggal disitu akan mengganggu konsentrasi Aster.
“Kalo buat bertiga sama Hendra gak bisa kah ?” Tanya Astri.
“Kayaknya terlalu kecil kalo buat bertiga.” Jawab Aster.
“Tapi gak butuh rumah besar juga kok, Aster biar Hendra juga tahu bagaimana susahnya berjuang tinggal di rumah kecil bersama teman dan harus apa apa sendiri.” Jawab Astri.
“Kenapa sih gak mau tinggal dengan kamu saja Astri ?” Tanya Aster.
“Karena Hendra mau belajar Mandiri dan malu jika tinggal di rumah hasil jerih payah Astri, bukan hasil jerih payahnya sendiri.” Jawab Astri berbohong.
“Owh gitu, memang itu rumah hasil kerja Astri sendiri ?” Tanya Aster.
“Gak semuanya sih, sebagian hasil penjualan tanah dan rumah Astri dulu. Dan sebagian juga dari pensiunan papah. Sebagian baru hasil jerih payah Astri. Sedang bang Hendra belum punya Andil jadi malu kalo tinggal jadi satu disitu. Maunya Astri sih ditempatin bersama aja dulu, kam sama sama belum berkeluarga dan ada mamah yang harus dijaga juga. Tapi bang Hendra Nya yang gak mau.” Jawab Astri.
__ADS_1
Berarti selama ini Hendra tinggal dimana ?” Tanya Aster.
“Di rumah kontrakan kecil yang dia sewa sendiri, tapi agak jauh dari tempat kerja. Jadi sekarang mau cari yang agak deketan. Tumben kamu nanyain abangku Aster, biasanya super cuek sama bang Hendra.” Tanya Astri.
“Gak sih, kan besuk dia dah mulai kerja satu divisi sama aku, jadi perlu tahu juga kan, biar nanti kalo ada sesuatu bisa koordinasi diluar kantor.” Jawab Aster.
“Iya sih,apa lagi dia kan Asisten kamu memang harus tahu latar belakangnya juga.” Jawab Astri.
Aster merasa lega karena Astri datangnya setelah dia menceritakan Hendra. Demikian juga Astri merasa lega Aster tidak jadi mengetahui rahasia yang dia sembunyikan selama ini.
Aster dan rombonganya selesai makan terlebih dahulu dan hendak pamit pulang. Namun Astri mencegahnya, karena mau bareng ke rumah Aster dan Hendak melihat rumah kontrakan yang dibilang Aster.
Aster menyetujui, dan menanti Astri selesai makan. Tapi Aster lebih dulu membayar makana yang dia pesan sekalian yang dipesan Astri dan Dimas. Sebenarnya Astri mau menolak dan mau membayar semua makanan Aster dan dirinya. Namun diurungkan, agar aster tidak curiga Astri punya uang banyak dari mana.
“Wah makasih Aster, tahu aja kalo kita lagi butuh dana buat cari kontrakan.” Kata Astri basa basi.
“Gak gitu juga Astri, ini kebetulan kita juga lagi sukuran atas pertunangan Asih dengan sepupu Aster. Jadi yang pas jika Aster yang sekarang traktir kalian.” Jawab Aster.
Nisa hanya senyum kecil, “pandai juga Astri bersandiwara meski tadi kayaknya hampir terbongkar karena pelayan warung makan ini.” kata Nisa dalam hati.
Setelah Astri selesai makan, mereka segera pergi Aster.
Sebelum masuk ke jalan gang rumah Aster, Aster berhenti dan turun sebentar diikuti Astri.
“Astri, ini rumah yang aku bilang tadi kebetulan pemiliknya juga pas di depan rumahnya, itu disamping rumah yang dikontrakan. Apa sekalian mau di tanyakan ?” Tanya Aster.
“Owh iya boleh, sukur sukur kalo mala mini bisa langsung di tempati biar Dimas langsung tinggal dirumah itu.” jawab Astri.
Kemudian Aster menghantarkan Astri dan Dimas menemui pemilik rumah kontrakan tersebut. Kemudian mempersilahkan Astri dan Dimas berembuk sendiri dengan pemilik rumah kontrakan tersebut.
Aster meninggalkan Astri dan Dimas yang sedang berembuk dengan pemilik rumah kontrakan.
“Nah Dimas, Astri Aster kerumah dulu ya kalian berembuk sendiri dengan ibu pemilik rumah itu. nanti nyusul saja kerumah Aster.” Kata Aster.
“Iya Aster, makasih ya nanti Astri kesana nyusul.” Jawab Astri.
“Makasih ya Aster.” Ucap Dimas, hati Dimas berkata, “kenapa wajah kalian bisa mirip ya. Untung aku bsa membedakan kalian hingga tak salah duga.” Kata Dimas dalam hati.
Kemudian Astri dan Dimas melakukan negosiasi dengan pemilik kontrakan, tak butuuh waktu lama karena pemilik rumah kontrakan tidak memasang tariff yang terlalu tinggi dan Astri juga tidak menawar terlalu rendah.
Hanya dalam hitungan menit gak sampai satu jam negosiasi langsung selesai. Dan Astri langsung melakukan pembayaran melalui transfer dari e-Bangkingnya sesuai harga sewa yang disepakati. Dan Dimas langsung menempati rumah itu.
“Jadi mala mini juga mbak dan mas nya ini mau langsung tinggal dirumah ini “ kata pemilik rumah kontrakan tersebut.
“Owh kirain sudah pasangan suami Istri, baguslah kalo kalian bisa menjaga diri. Jarang anak sekarang yang bisa berpikir seperti kalian.” Ucap pemilik rumah kontrakan itu.
“Alhamdulillah bu, kita masih menjaga batas batas dalam berpacaran kok.” Jawab Astri.
“Iya bu, bahkan kami dua tahunan gak saling ketemu karena saya di jogja dan Astri disini. Doakan saja bu, kita bisa cepat menikah nanti.” Sambung Dimas.
“Ow iya bu, saya minta tolong jika teman saya tadi Tanya soal pembayaran. Bilang saja kalo pembayaran saya lakukan dua kali dan sekarang sudah saya kasih dp nya dulu.” Kata Astri.
“Kenapa begitu mbak ?” Tanya pemilik Rumah.
“Ada sesuatu yang belum bisa saya ceritakan bu, maaf. Tapi bukan hal yang jelek kok. Sekedar mau kaish surprise sama dia saja.” Jawab Astri.
“Owh iya baiklah, dan kayaknya temen mbak yang mirip mbak tadi juga bukan orang yang kepo kayaknya.” Komentar pemilik rumah tersebut.
Setelah menyerahkan kunci rumah dan menunjukkan bagian dalam rumah kontrakanya. Pemilik rumah itupun mohon diri. Sementara Astri dan Dimas mengunjungi rumah Aster, Astri mau sekalian menitipkan Dimas pada Aster.
Sesampai dirumah Aster.
“Hai gimana udah deal kah ?” Tanya Aster pada Dimas dan Astri.
“Udah, mala mini juga Dimas langsung bisa tidur disana biar Hendra dan Arya menyusul besuk. Rumahnya terawat kok. Tinggal nempatin gak perlu bersih bersih langsung bisa ditempati.” Jawab Astri.
“iya mang, tip hari dibersihin kok Aster lihat tiap hari ibu pemiliknya selalu rajin membersihkan.” Jawab Aster.
“Yaudah Aster, Astri mau pulang dulu udah cukup malam nih. Titip Dimas ya, jangan diapa apain !” pamit Aster.
“Lah kirain kamu juga mau nginep disitu Astri ?” goda Aster.
“Sembarangan mang nya Astri cewek apaan ?” gerutu Astri.
“Wkakaka…. Gak lah Astri bercanda saja kali.” Jawab Aster.
“Sekali lagi makasih ya Aster, Dimas juga mau pulang dulu nih besuk sudah harus masuk kerja juga kan.” Kata Dimas.
“Owh iya Dimas, besuk kita berangkat bareng saja, bolehkan Astri Dimas aku ajak bareng berangkat kerjanya ?” Tanya Aster pada Astri.
__ADS_1
“Boleh saja, kalo gak merepotkan kamu nanti.” Jawab Astri sambil senyum.
“Gak dong Astri, kayak ma sapa aja. Dari kecil kan kita selalu bersama sebelum keadaan memisahkan kita sehingga kita lama tak jumpa. Rasanya kayak mimpi saja saat kita bertemu setelah sekian lama dulu kita berpisah.” Kata Aster yang tiba tiba ingat saat merindukan Astri sahabatnya itu sampai kadang menangis.
“Iya Aster Astri juga begitu, seandainya gak inget mamah sendirian dirumah Astri juga pingin tinggal disini mala mini.” Jawab Aster.
Begitulah suasana malam itu dirumah Aster. Astri segera meninggalkan Rumah Aster untuk kembali ke rumahnya.
*****
Kehidupan Bram dan Rina setelah Bram keluar kerja dan membuka usaha sendiri.
“Mah belum seminggu kita buka usaha pelanggan suda banyak sekali nih, mudah mudahan ini awal yang baik sehingga kedepanya usaha ini bisa berkembang lebih pesat lagi ya mah.” Kata Bram pada Rina Saraswati istrinya.
“Iya pah, tapi mamah minta satu hal pah.” Kata Rina istri Bram.
“Apa itu mah ?” Tanya Bram.
“Kalo usaha papah berkembang pesat kemudian menjadi besar. Papah sudah sukses dan punya karyawan banyak. Kemudian disukai dan disegani banyak orang karena kesuksesan papah. Satu hal yang harus papah ingat, jamgam tinggalkan atau jangan khianati mamah ya pah.” Kata Rina istri Bram.
“Iya dong mah, papah bisa bangkit kan juga karena support mamah. Gak mungkin lah papah lupa jasa mamah.” Kata Bram sambil memeluk Rina istrinya.
“Pah, mamah Tanya satu hal lagi boleh gak ?” kata RIna pda Bram.
“Boleh saja mah, mau Tanya apa ?” kata Bram.
“Kata papah, dulu kan diputusin pacar papah karena papah ketahuan selingkuh. Misalnya ketemu mantan papah saat papah Sukses nanti. Kemudian dia mengajak papah balikan bagaimana pah ?” Tanya istri Bram. Sebuah pertanyaan yang sering muncul dari seorang istri yang merasa karir suaminya sedang mulai menanjak. Merasa khawatir jika suaminya mulai berpaling darinya.
“Ngapain mamah nanyain itu, gak usah dipikirin papah aja gak mau inget dia lagi.” Ucap Bram.
“Siapa sih nama gadis itu pah. sayang loh dia gadis baik baik gak kayak mamah yang masa lalunya buruk.” Pancing Rina pada Bram.
“Baik apaan waktu itu aja Bram udah horney banget dia gak mau aku ajak ML.” sahut Bram.
“Memang papah sebelumnya udah pernah melakukan dengan gadis lainya ?” tanya Rina.
Jujur saja memang udah, tiap papah pacaran selalu berujung ke situ.” Jawab Bram.
“Berarti kita sama dong pah, dulu kalo sama lawan jenis yang cocok dri persahabatan ya berujung ke ranjang juga akhirnya meski tanpa komitment apapun. Just having fun saja.” Ucap Rina.
“Gak usah diungkit mah, yang penting kita sekarang aja. Btw mamah lagi pingin gak nih,papah jadi pingin nih. Habis mamah ngomongin hal begituan sih.” kata Bram.
“Kalo mamah sih selalu pingin pah, papah aja yang kadang ogah ogahan sampai dipancing pancing juga kadang cuek saja.” Kata Rina.
“Masak sih mah, kok papah gak tahu.” kata Bram yang mulai bergerilya diseputar area sensitive Rina.
“aah papah mamah jadi basah nih, lanjutin ke kamar aja yuuk paah.” Kata Rina yang sudah mulai panas.
Wajarlah mereka memang dari awal tergolong orang yang mudah terangsang sehingga mendapat rangsangan sedikit saja langsung menaikan gairah mereka berdua.
“Disini Aja mah, kan sensasinya beda dengan dikamar. Lebih memacu adrenalin karena harus waspada jika ada tamu atau orang yang mungkin lewat dan iseng.” Kata Hendra sambil terus bergerilya dengan tanganya. Seakan tidak mau melewatkan setiap inci tubuh Istrinya yang sudah mulai kejang menahan gairah. Dari mulai berpakaian lengkap samapi tak sehelai benangpun menempel ditubuhnya.
Rina yang sudah tak kuat menahan sekedar diraba oleh Bram lantas berbalik melucuti Bram yang masih utuh berpakaian. Sampai posisinya sama dengan dirinya.
Dan Rina lantas mencium bibir Bram dengan ganasnya karena sudah tak mampu lagi menahan gejolak yang timbul dan rasanya sudah sampai ke ubun ubun Rina. Bram pun menjadi semakin buas dan liar mendapat serangan dari Rina. Seperti Singa lapar yang sudah berhari hari tidak dapat mangsa dan dihadapannya ada seekor kijang yang siap diterkam dan dicabik cabik untuk dimangsa.
Keduanya bahkan sudah lupa jika mereka itu sedang berada di sofa ruang tamu rumah mereka. Yang mungkin saja ada tamu datang karena pintu tak terkunci. Bahkan jendela yang tirai nya pun tidak tertutup karena memang masih sore hari.
Begitulah ketika orang sedang dalam kendali nafsu, seakan tak peduli dengan keadaan sekitar. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang mengamati apa yang sedang mereka lakukan.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...