
Tidak Astri, aku berjanji aku tidak akan menyerah sekedar dihalangi abang kamu atau dihina abang kamu seperti dulu. Aku gak peduli jika abang kamu menuduhku hanya sekedar mengincar harta kamu kek, atau sekedar memanfaatkan kamu atau dia mau menuduh aku hanya mau mempermainkan kamu. Bahkan aku akan buktikan jika aku sama sekali tidak tertarik dengan harta kamu. Jika perlu kamu akan aku ajak ke jogja hidup bersama di jogja dengan segala kesederhanaan di jogja. Tanpa menikmati atau mengambil sedikitpun harta keluargamu.” Kata Dimas meyakinkan Astri.
“Kalo kamu mau hidup susah di jogja, hidup saja sendiri tidak usah mengajak adikku untuk hidup susah bersamamu. Kamu pikir hidup cukup dengan cinta saja,kamu pikir rumah tangga gak butuh biaya. Kamu pikir merawat anak gak butuh dana. Udah sana kamu balik lagi ke jogja sendiri, gak usah bikin susah atau mengajak susah adikku. Susah saja sendiri kamu. ” Tiba tiba hendra muncul dan langsung memarahi Dimas.
“Bukan begitu bang, hidup memang perlu biaya perlu dana tapi itu bukan yang paling utama. Dan saya akan buktikan kalo saya tidak punya niatan untuk memanfaatkan Astri untuk mendapatkan dunia. Saya akan ajak stri hidup dengan kesederhanaan tapi tetap member kebahagiaan. ” Dimas menjawab dengan berani, sementara Astri hanya diam saja.
“Omong kosong kamu, semua itu hanya teori tidak akan bahagia orang yang hidup dalam kesusahan. Aku gak akan rela kamu menyengsarakan adikku, sebagai kakaknya aku ingin adikku bahagia bukan sengsara atau susah.” Kata Hendra yang menunjukkan ketegasanya sebagai seorang kakak.
“Saya akan berusaha mebahagiakan Astri, bukan mau menyusahkan Astri. Tidak ada juga orang yang mau hidup susah bang, tidak ada yang punya keinginan hidup miskin. Miskin itu bukan pilihan, tapi keadaan, miskin itu bukan tujuan tapi kenyataan. Makanya saya belajar dan berusaha lepas dari kemiskinan, tapi bukan menghalalkan segala cara dengan memanfaatkan Astri.” Jawab Dimas.
“Dengan apa kamu bahagiakan adikku Astri, sedang kamu sendiri kesusahan dalam hidup !” kata Hendra.
“Saya memang hidup kekurangan bang, tapi saya tidak merasa susah. Dan saya akan terus berusaha untuk membahagiakan Astri dengan ataupun tanpa harta kekayaan.” Jawab Dimas.
“Sudah aku bilang, tanpa harta sulit bahagia. Karena hidup itu bukan hanya sekedar modal cinta tapi juga butuh biaya. Dengan apa kamu akan bahagiakan Astri adikku kalo kamu tidak mempunyai biaya. Sakit butuh obat, lapar butuh makan melahirkan butuh dokter dan sebagainya. Apa kamu kira semua itu bisa digantikan dengan cinta saja ?” kata Hendra pada Dimas.
“Jelas tidak bang, hidup memang butuh biaya dari bangun tidur sampai mau tidur lagi semua butuh biaya. Dan aku akan berusaha keras memberikan itu semua kepada Astri nanti, meski mungkin tidak akan bisa seperti yang abang berikan pada istri abang nanti. Tapi setidaknya tanggung jawabku sebagai laki laki adalah mencukupi kebutuhan istri tetap akan aku laksanakan. Dan tidak akan menggantungkan dengan apa yang Astri miliki sekarang.” Jawaab Dimas dengan tegas.
Sesekali Dimas melirik Astri yang dari tadi tidak berkomentar apapun, tapi justru Astri malah senyum senyum mendengar dua laki laki dihadapanya saling adu Argument. Sehingga membuat Dimas jadi heran.
“Kok kamu senyum senyum saja Astri, apakah kamu juga sepemahaman dengan abang kamu sekarang ?” Tanya Dimas agak tersinggung.
“Lo jangan asal tuduh dulu Dimas, urusanku sama kau bukan sama Astri !” bentak Dimas.
“Udah deh bank kasihan Dimas, yang penting udah terbukti dia gak menyerha dengan keadaan aja udah cukup buat Astri.” Sahut Astri.
“Apa maksutnya Astri ?” Tanya Dimas bingung.
Dan Hendra justru tertawa mendengar pertanyaan Dimas, kemudian menjelaskan bahwa apa yang dia lakukan adalah permintaan Astri lewat Wa tadi. Untuk menguji keseriusan Dimas dalam mencintai Astri.
“Wkakaka… sabar Dimas, ini tidak seperyi yang kamu pikirkan. Sebenarnya Astri tadi kirim chat padaku untuk mengujimu, apakah kamu masih mudah menyerah seperti dulu untuk mendapatkan Astri. Atau sudah tahan mental jika aku marahin seperti tadi. “ kata Hendra sambil tertawa.
Dimas hanya tersenyum malu dan hanya tertunduk, yang tadinya bicara sambil menatap wajah Hendra kini hanya tertunduk malu.
“Ah kamu bisa Astri bikin aku gak enak hati sama bang Hendra.” Gerutu Dimas menahan malu.
“Ya habis gimana lagi, Astri juga gak mau jika Dimas kayak dulu menyerah kalah sebelum perang.” Kata Astri.
“Maaf ya bang, tadi Dimas jadi kurang ajar sama bang Hendra.” Kata Dimas malu malu.
“Gak, kamu gak salah memang seharusnya kamu bersikap tegas kayak gitu. Jangan seperti dulu malah meninggalkan adikku Astri tanpa ada kabar. Dan dulu aku yang bersalah, aku juga minta maaf dulu terbawa emosi, sebenarnya hanya karena rasa marahku saat kalian menjelekkan pacarke Elisa, dan ternyata kamu yang benar.”
Dimas tersenyum lega, akhirnya hubungan dia dengan Astri tidak terhalang oleh Hendra abangnya Astri.
“Terimakasih bang Hendra, maaf jika Dimas dulu sedikit dendam dan terbawa emosi sehingga meninggalkan Astri. Tapi ternyata Dimas pun tak mampu melupakan Astri adik abang.” Kata Dimas.
“Tapi bukan berarti aku begitu saja menerima kamu, kamu harus berani terima tantangan dariku jika ingin menjadikan Astri adikku sebagai pendamping hidupmu nanti.” Kata Hendra mengejutkan Dimas, bahkan juga Astri.
“Apa lagi bang, kan itu gak ada dalam scenario kita tadi ?” kata Astri.
“Tenang Astri, ini harus kita lakukan demi kebaikan kalian juga.” Kata Hendra.
__ADS_1
“Aku siap bang, terima tantangan bang Hendra asal itu masih dalam batas kewajaran saja.” Sahut Dimas.
“Pastilah bahkan sebenarnya hanya tantangan kecil, kalo kamu sampai tidak sanggup maka akupun tidak akan merestui hubungan kamu dengan Astri.” Kata Hendra.
“Diih abang apa apan ini, kok gak bilang ke Astri dulu ada rencana kayak gini ?” protes Astri.
“Udah kamu tenag saja Astri, tantanganya sangat mudah sebenarnya. Sama dengan yang kamu berikan ke Arya saja. Yaitu menunjukkan keseriusan dan kemampuanya dalam bekerja, kalo itu berhasil baru aku akan merestui hubungan kalian.” Jawab Hendra.
“Maksut abang, Dimas masuk kerja perusahaan ?” Tanya Astri.
“Benar, aku kan lihat seberapa kemampuan dia bekerja apakah benar benar mampu bekerja atau hanya sekedar pandai bicara saja. Sekaligus juga membantu rencana dan misi kita Astri.” Jawab Hendra.
“Owh kalo itu aku setuju bang, Dimas ini ujian bagi kamu terutama mengalahkan ego kamu yang begitu tinggi.” Kata Astri.
“Jujur aku belum paham dengan maksut kalian Astri, aku malah jadi bingung sekarang.” Jawab Dimas.
Kemudian Arya masuk dan memberikan penjelasan pada Dimas tentang apa yang dimaksut Hendra dan Astri. Bahwa Dimas diajak bergabung di perusahaan papahnya Astri sekaligus membantu mendekatkan Hendra dengan Aster sahabat Astri.
“Sori Dimas, sebenarnya bang Hendra tadi udah ketemu aku duluan, dan mengatur rencana ini sebelum bang Hendra masuk kesini. Intinya selain menguji keseriusan kamu, bang Hendra minta tolong ke kamu juga untuk membesarkan perusahaan papahnya. Sekaligus menjalankan misi untuk mendekatkan bang Hendra dengan sahabat Astri yang bernama Aster. Untuk itu kamu gak bisa menolak lagi, minimal agar kamu kelihatan kemampuan kerjanya sesuai dengan keahlian kamu. Aku juga bergabung di perusahaan itu.” kata Arya yang baru saja masuk.
“Tapi bang Hendra, apakah dengan begitu aku tidak memanfaatkan Astri namanya ?” Tanya Dimas kemudian pada Hendra.
“Tidak, karena akan ketahuan seberapa kemampuan kamu dalam bekerja jika kamu bekerja iperusahaan yang langsung aku awasi sendiri.” Kata Hendra.
“Baiklah aku bersedia jika tujuanya seperti itu bang, terus kapan aku harus bersiap untuk ikut bergabung di perusahaan itu ?” Tanya Dimas.
“Secepatnya, kalo bisa minggu depan kita semua sudah mulai bekerja karena kebetulan sedang ada job besar yang harus ditangani.” Kata Hendra.
“Baiklah, aku akan segera persiapkan persyaratan bekerja yang dibituhkan. Dan aku siap untuk menerima tantangan bang Hendra.” Kata Dimas Mantap.
Begitulah pertemuan antara Dimas, Astri, Hendra dan Arya setelah Dimas dijelaskan tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dirahasiakan akhirnya mereka meninggalkan kos an Dika sehingga hanya Arya yang tinggal disitu.
*****
Kita tinggalkan sejenak perkembangan Astri dan Dimas, kita menengok keadaan Aster di kantor yang sedang menghadapi cemoohan rekan rekan kerjanya yang terorganisir dalam sebuah rencana mau menyingkirkan Aster. Yang dipimpin oleh Bram, yang perlu diketahui Bram ini adalah mantan pacar Hazel yang saat ini masih berada dirumah sakit sehabis mengalami kecelakaan tunggal beberapa waktu lalu.
Kini Bram sudah menikah dengan orang lain, bukan Hazel bukan juga Ningsih yang waktu itu berselingkuh dengan Bram. Kini Bram sudah menikah dengan wanita lain yang bernama Rina Saraswati. Seorang wanita yang dia nikahi atas perjodohan karena keduanya saat itu sedang menjomblo akibat diputus pacarnya masing masing.
“Apakah semua sudah siap untuk menghadap manager marketing sekarang ?” Tanya Bram.
“Sudah, kami sudah siap semuanya !” jawab pekerja yang lain secara kompak.
Dan seua karyawan itupun menghadap kepada manager personalia secara bersamaan, dengan maksut mendemo manager personalia karena merasa keputusan yang diambil menyerahkan job besar kepada Aster adalah keputusan seara sepihak yang tidak adil. Karena Aster adalah karyawan yang baru saja masuk dan dinilai belum mempunyai pengalaman apapun. Dan mereka mengatasnamakan gerakan itu untuk kemajuan perusahaan semata. Karena mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang dipengaruhi oleh Bram yang sengaja mengadu mereka dengan Aster yang dianggap sebagi pesaing Bram dalam mengejar karir sebagai manger Marketing diperusahaan itu. bram berpikir bisa menyingkirkan Aster juga sekaligus manager marketing dalam waktu bersamaan sehingga dia akan dianggap pahlawan dan akan diberi jabatan manager marketing. Yang dia demo dan turunkan.
Dibawah kendali Bram, para karyawan beramai ramai mendatangi manager marketing untuk mengaakan unjuk rasa satu divisi marketing, minus Aster dan Nisa.
Setelah semua berhadapan dengan manager marketing dan di Tanya apa maksut kedatangan mereka secara beramai ramai, maka Bram bicara dengan mengatasnamakan seluruh karyawan.
“Begini bapak manager, saya akan berbicara mewakili semua teman teman karyawan disini yang punya pemikiran yang sama. Jai intinya kami ini sangat peduli dengan kemajuan perusahaan ini, dimana kami semua mencari nafkah juga diperusahaan ini. sehingga perusahaan ini kami anggap adalah lading bagi kami, karena itu maka kami sangat menginginkan agar perusahaan ini bisa berkembang dengan pesat.
__ADS_1
Karena kemajuan perusahaan ini juga merupakan kemajuan bagi kita semua. Sehingga semua rintangan yang ada harus kita singkirkan bersama. Oleh karena itu, demi kemajuan perusahaan yang merupakan lading bagi seluruh karyawan dalam mencari nafkah. Saya atas nama karyawan menyesalkan keputusan bapak yang menyerahkan job besar kepada Ibu Aster yang nota bene masih karyawan baru dan dirasa belum memiliki pengalaman serta belum teruji loyalitasnya kepada perusahaan.
Maka atas nama keadilan dan demi kemajuan perusahaan kami meminta agar keputusan tersebut ditinjau ulang dan dipertimbangkan lagi untuk menunjuk karyawan lain yang sudah teruji loyalitasnya serta pengalamanya dalam menjalankan tugas tugas yang dibebankan selama ini.
Kiranya cukup sekian apa yang kami sampaikan semoga dapat menjadi pertimbangan ulang bagi bapak manager dan semua yang terkait atas pengambilan keputusan tersebut, terimakasih.” Begitulah orasi Bram yang berbicara sok bijak dan sok peduli dengan perusahaan tapi hanya bermaksut mengambil keuntungan pribadi dengan memanfaatkan keluguan teman teman sekerjanya saja.
Manager marketing agak tersinggung, namun juga agak kebingungan menghaapi bram yang memang pandai berbicara dan memobilisasi mas serta mudah baginya untuk mempengaruhi mereka. Manager marketing sejenak terdiam, dia ingat semua pesan yang diberikan owner perusahaan dan rahasia yang harus ia jaga. Namun menghadapi Bram yang membawa beberapa karyawan ini membuat manager marketing tersebut agak gelagapan juga.
“Sebentar, semua keputusan yang diambil kemarin bukanlah keputusan pribadiku semata. Namun apa yang menjadi aspirasi kalian akan kami sampaikan kepada dewan direksi dan komisaris agar menjadi pertimbangan ulang. Meskipun tentang hasilnya nanti aku tidak bisa menjanjikan hasilnya bagaimana. Karena semua keputusan kemarin adalah hasil keputusan rapat terbatas para direksi dan komisaris.” Kata manager marketing itu.
Tiba tiba aa yang nyeletuk, “sebenarnya ada hubungan apa antara bapak dengan Aster ?” Tanya salah seorang karyawan yang sudah terprovokasi oleh hasutan Hendra. Yang menggiring opini karyawan yang menuduh antara manager marketing dengan Aster ada hubungan affair atau skandal dalam perusahaan.
Manager marketing it jelas menjadi sangat marah mendengar pertanyaan yang mengarah pada tuduhan tersebut.
“Tolong jaga ucapan kalian, jika kalian menuduh antara aku dengan ibu Aster ada hubungan tertentu nanti tuduhan itu akan berbalik pada kalian menjadi tuduhan pencemaran nama baik. dan jika kalian tidak mampu menunjukkan bukti, bukan hanya keluar dari perusahaan ini, tapi juga akan masuk penjara atas tuduhan tersebut. Sipa tadi yang mengatakan seperti itu. “ bentak manager marketing tersebut.
Namun para karyawan yang sudah terhasut tersebut berusaha melindungi orang yang berbicara tersebut dengan mengakui bahwa itu adalah ungkapan semua yang hadir disitu. Tentu saja manager marketing yang dari awal berusaha sabar tersebut ikut naik pitam. Dan kemudian berbalik mengancam kepada semua yang hadir.
“Owh begitu, kalo memang kalian maunya seperti itu sekarang saya beri kesempatan bagi kalian semua. Yang merasa punya pemikiran seperti itu berkumpul di samping kiri saya, dan yang tidak sepemikiran dengan itu berdiri disamping kanan saya. Karena saya juga tidak terima dengan tuduhan itu, aka saya juga akan membuat pengaduan kepada pihak yang berwajib, agar yang menuduh seperti itu bertanggung jawab. Termasuk siapa actor intelektual dibalik kalian semua ini yang harus bertanggung jawab penuh dengan pa yang terjadi saat ini.” bentak manager marketing.
Semua tampak ragu mendengar ucapan dan ancaman manager marketing yang tampaknya tidak main main, hati mereka mulai gentar ketika menghadapi kemarahan seorang manager yang selama ini mereka hormati. Namun masih ada juga beberapa orang yang tetap kukuh dengan pendirian mereka bahwa antara manager marketing dan Aster ada skandal atau hubungan tidak wajar yang menyebabkan manager marketing itu mengambil keputusan sepihak menyerahkan job besar kepada Aster yang masih baru masuk bekerja disitu.
Dari kerumunan karyawan yang ada didepan manager itu pelan pelan terpecah satu demi satu ada yang bergeser ke kanan manager dan sebagian ke samping kiri manager tersebut. Sementara yang tersisa semakin bingung menentukan sikap. Dalam keraguan itu, mereka saling lirik seakan minta pendapat kepada reka rekan yang lainya.
“Maaf pak, untuk masalah pribadi bapak sebaiknya kita tunda dulu. Kita selesaikan masalah perusahaan dulu saja.” Ucap Bram mencoba mengalihkan pembicaraan takut masa yang dia bawa jadi terbelah.
“Kamu pikir, masalah ini bisa dipisahkan begitu ? tuduhan kalian terhadapku yang mengatakan aku dan Bu Aster ada hubungan khusus itu merupakan salah satu rentetan tuduhan terhadap kepitusan yang sudah di tetapkan. Karena kalian mengira itu adalah keputusan pribadiku saja. Padahal itu sudah merupakan keputusan sampai dengan pihak owner yang turun tangan. Sekarang kamu tentukan pilihan kalian masing masing, mau disamping kanan aku atau di sampoing kiri aku.” Tegas manager itu membuat hati Bramtiba tiba menjadi ciut mendengar keterangan bahwa itu bukan keputusan pribadi manager marketing saja. Bahkan semua karyawan yang ada disitupun tiba tiba menjadi gelisah dengan tindakan yang mereka ambil barusan. Namun semua itu sudah terlambat.
Karena kegaduhan yang terjadi telah di dengar oleh semua bagian sampai kepada pihak direksi dan semua petinggi perusahaan pun hadir disitu, termasuk manager personalia yang merupakan tangan kanan dan penyambung lidah owner yaitu mamahnya Astri dan Hendra.
“Ada apa ini ribut ribut ?” Tanya manager personalia yang mengejutkan semua yang ada di situ.
...bersambung...
Terimakasih atas semua bentuk suport yang diberikan.
Jangan sungkan untuk memberikan saran dan kritik yang membangun.
...Juga suport nya berupa...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...🙏🙏🙏...
...Terima kasih...
__ADS_1