Cinta Asteria

Cinta Asteria
Astri dan mamahnya menyaksikan Hendra melamar Aster


__ADS_3

🌷🌷🌷


Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


“Bagaimana Aster, apa kamu sudah memikirkan jawaban lamaranku tadi ?” Tanya Hendra.


“Ya itu tadi jawabanya, ucapkan minimal didepan adikmu Astri jika kamu serius, baru Aster akan member jawaban. Dan kamu harus siap apapaun nanti jawaban Aster. Bisa bersedia bisa juga tidak.” Jawab ster meski hanya dalam lisan. Karena dalam hatinya Aster sudah menerima lamaran Hendra.


Namun bagi Hendra itu masih lima puluh persen kemungkinan Aster mau menerimanya. Karena Hendra sendiri memang tidak banyak pengalaman tentang wanita. Sehingga tidak mampu mana jawaban yang memang menunda untuk berpikir, mana jawaban yang sekedar butuh meyakinkan keseriusan sampai dengan mana jawaban yang sebenernya menolak secara halus saja.


Hendrapun jadi agak gelisah memikirkan kemungkinan jawaban Aster Nanti. Ada rasa khawatir jika jawaban Aster ternyata menolaknya…..!!?”


*****


Episode ini


Sesampai di kantor Hendra & Aster langsung menuju ke ruang kerja mereka. Karena Hendra posisinya adalah Asisten Aster mereka satu ruangan hanya berbeda meja kerja saja. Dan dari situ intensitas mereka untuk bertemu menjadi sering. Sehingga bisa lebih saling mengenal kepribadian masing masing.


Sehingga seiring berjalanya waktu tumbuh rasa cinta di hati mereka. Meskipun itu semua adalah scenario Astri adik kandung Hendra sendiri. Namun semua berjalan secara alamiah. Mengalir saja, meskipun Hendra sendiri awalnya hanya bermaksut menuruti kemauan Astri dan mamahnya. Tapi di kemudian hari dalam hati Hendra pun tumbuh rasa cinta kepada Aster dengan sendirinya.


“Ndra udah terlambat 10 menit nih.” Bisik Aster pada Hendra.


Belum sempat Hendra menyahut dikejutkan Asih yang muncul tiba tiba dihadapan mereka.


“Eheeem senangnya lihat dua sejoli rukun begitu !” ucap Asih menggoda Hendra dan Aster.


“Apaan Asih iih, kita tadi kebetulan ada urusan diluar saja kok jadi sekalian barengan makan siang.” Jawab Aster tersipu malu.


“Owh jadi kalian habis ngedate ya, makan siang bareng.” Seru Asih.


“Huuuss Asih jangan berteriak nanti dikira kita ngapa ngapain lagian ini dikantor dan jam kerja.” Ucap Aster panik. Asih sendiri buru buru menutup mulutnya,merasa keceplosan.


“Memang kalo sekarang kamu menutup mulut suara kamu tadi gak di denger orang lain apa ? ucap Hendra kalem.


“Iya juga ya, tapi kenapa orang kalo keceplosan lantas tutup mulut ya.” Batin Asih.


“Iya maaf, Asih keceplosan tadi.” Jawab Asih.


“Yaudah semoga gak ada yang denger masuk ke ruangan kerja kalian dulu sana.” Ucap Asih kemudian.


Hendra dan Aster segera masuk ke ruangan kerja mereka, di dalam sudah menunggu Nisa yang sendirian di meja kerjanya. Karena meja kerja Aster dan Hendra masih kosong.


“Selamat siang bu Aster, pak Hendra.” Sapa Nisa pada Aster dan Nisa ketika mereka berdua masuk ruangan.


“Siang juga, eeh maaf agak terlambat tadi ada urusan di luar sebentar.” Ucap Aster agak kaku.


Sementara Hendra hanya diam saja, karena Hendra sudah tahu jika NIsa adalah orang yang dipasang Astri adiknya dan tahu identitas dirinya sesungguhnya. Hendra kemudian mendekati Nisa dan berbisik.


“Sampaikan ke Astri, nanti Aku mau ajak dia berembuk. Aku mau nyelesaikan kerjaanku dulu takut dimarahin bu Aster.” Kata Hendra berbisik sambil tersenyum.


“Dalam kantor tidak boleh bisik bisik pak Hendra dan ibu Nisa.” Seru Aster. Pura pura tegas, padahal ada sedikit perasaan cemburu Hendra mendekati Nisa.


“Iya bu, maaf ini hanya minta laporan dari bu Nisa untuk mengerjakan berkas yang tadi bu Aster minta.” Jawab Hendra.


“Ya tapi gak perlu bisik bisik, bicara biasa saja.” Ucap Aster.


Begitulah gambaran suasana ruangan kerja Aster Hendra dan Nisa dalam sehari hari.


Nisa hanya tertawa dalam hati tiap kali melihat Aster memarahi Hendra. “Baru kali ini boss tiap hari dimarahin karyawanya.” Batin Nisa.


Kemudian Nisa sembunyi sembunyi chat Astri apa yang disampaikan Hendra tadi. Namun dilihatnya masih centang satu belum sampai.


“Dimas kemana bu Nisa ?” Tanya Aster pada Astri menanyakan Dimas.


“Ini bu, tadi saya minta untuk mengambil berkas laporan seluruh marketing yang minggu kemarin untuk pembukuan progress sellingnya.” Jawab Nisa.


“Owh, sementara ini grafiknya naik berapa persen dari bulan lalu.” Tanya Aster pada Nisa.


“Perminggu sebelumnya naik sepuluh persen bu.” Jawab Nisa.


“Ya cukup lumayan, tapi tolong klien yang perlu difollowup di buatkan schedule sekalian. Jika dirasa perlu didampingi saya atau pak Hendra biar didampingi agar proses try close nya lancar. Biasanya untuk tahap presentasi pada bagus, tapi di akhir try close nya pada kurang, rata rata pada buru buru pingin cepet closing. Bulan depan kita usulkan untuk diadakan training khusus masalah itu.” jelas Aster.


Dalam hati Hendra mengakui kecekatan ketegasan dan keuletan seorang Aster dalam memberikan pengarahan seputar menjaring konsumen. Dari mulai penanaman Brand Image perusahaan Bahkan Aster menambahkan perlunya penanaman Brand Image bagi sales force nya sendiri. Agar dikenal orang. Dengan tujuan ketika suatu ketika membutuhkan pruduk yang ditawarkan maka yang diingat calon Nasabah adalah identitas Sales forces tersebut, agar menambah prosentase closing ratio mereka.


“Gak salah kalo aku menjadikan Aster istriku, selain cantik energik juga berwawasan luas dan ulet tidak mudah menyerah. Udah gitu gak sombong lagi orangnya.” Batin Hendra sambil memandangi Aster.


“Ada apa pak Hendra ? apa ada yang mau ditanyakan ?” Tanya Aster merasa risih dipandangi Hendra.


“Iya bu, ini masalah follow up melihat dari laporan kayaknya ada yang perlu kita tangani langsung. Karena sudah tiga kali follow up belum juga ada keterangan pasti deal atau lose.” Jawab hendra agak ngarang. Hanya menutupi groginya karena ketahuan Aster saat sedang memandanginya.


“Coba saja pak Hendra kontak, kapan bisa ditemui dan buat janji jika perlu.” Jawab Aster.

__ADS_1


“Siap bu Aster.” Jawab Hendra. Kemudian mengeluarkan ponselnya.


Tapi bukan menghubungi calon nasabah melainkan malah menghubungi Astri adiknya.


“Assalaamu’alaikum adikku,


Aku habis nembak Aster, tapi Aster baru mau Jawab jika aku nembaknya di depan Kamu. Kamu sekarang dimana ?” chat Hendra kepada Astri.


Tapi belum terbaca dan belum sampai chat Hendra ke Astri adiknya.


Baru beberapa saat kemudian Astri memberikan balasan sekaligus membalas chat nya Nisa.


“Iya Nisa, ini bang Hendra juga udah chat Astri.” Jawaban chat Astri untuk Nisa.


Sedangkan balasan Chat untuk Hendra agak panjang, karena Astri merasa senang dan menjadi penasaran.


“Wa’alaikummussalaam bang Hendra,


Wah gercep ya, terus Aster maunya nembaknya di depan Astri gitu?


Yaudah, sekarang saja ketemu dimana. Kan kalian marketing bilang saja mau ketemu nasabah diluar. Sama boss kalian, wkakaka…!”  Jawaban chat Astri.


 


“Tapia bang agak Ragu, nih takutnya Aster menolak nanti.” Chat Hendra.


“Percaya Astri, kalo Aster gak akan nolak. Dia hanya butuh kepastian dan keberanian kamu nembak dia didepanku bang. Biar kelihatan abang serius mencintai dia, bukan candaan saja.” Chat Astri


“Yaudah kamu yang Atur, dimana tempatnya ?” jawab Hendra.


“Ditempat kita dulu ngobrol sama Arya itu saja bang, tempatnya eksklusive dan privasi nya juga terjaga.” Chat Astri.


“Ok, segera otw.” chat Hendra.


“Di telpon saja pak Hendra, biar cepat kalo orangnya sudah balas Chat, artinya dia gak sibuk.” Kata Aster.


“Ini sudah kok bu, minta bertemu langsung dengan bu Aster dan saya janjian di satu tempat sekarang sudah menunggu.” Jawab Hendra berbohong.


“Sekarang ? terus pak hendra mengiyakan ?” Tanya Aster.


“Iya bu, kan tadi bu Aster yang Nyuruh menghubungi ?” jawab Hendra.


“Iya sih, tapi kalo mau janjian gitu Tanya dulu dong lain kali pak. Yaudah ayuk berangkat sekarang jangan kecewakan calon nasabah dengan menunggu lama.” Jawab Aster.


“Siap bu Aster.” Jawab Hendra. Sambil berpikir bagaimana caranya nanti menjelaskan ke Aster atas tindakan bohongnya ini.


“Pak Hendra yang kemudikan mobil ya, saya agak cape.” Ucap Aster.


Setelah agak jauh dari perusahaan,


“Hendra minggir dulu sebentar.” Kata Aster. Hendra menepikan mobilnya dan hendak mebukakan pintu buat Aster, namun Aster sudah membuka pintu dan keluar sendiri pindah ke depan disamping Hendra.


“Kok pindah ke depan bu ?” Tanya Hendra pada Aster.


“Gak usah pakai bu disini, mang Aster mak kamu apa ?” jawab Aster.


“Kan jam kerja dan suasana kerja bu Aster.” Gurau Hendra.


“Bodo, nggak di perusahaan ini. ayo jalan keburu yang nunggu kelamaan nanti.” Kata Aster.


Hendra pun segera tancap Gas dan menuju tempat yang telah dijanjikan Astri Adiknya.


Sesampai di depan lokasi Aster bertanya pada Hendra.


“Hendra, bukanya itu mobil Astri adikmu, kenapa dia disini juga ?” Tanya Aster pada Hendra.


“Owh kok iya sih, janjian sama siapa tu anak kan Dimas lagi kerja.” Ucap Hendra pura pura kaget.


“Ya jangan curiga dulu lah, mungkin dengan temen dia aja. Coba Aster telpon dulu.” Kata Aster.


Hendra memutar otak gimana nanti jelasinya sama Aster, dan hari ini harus benar benar follow up agar Aster tidak marah nanti. Karena Aster orangnya penuh disiplin. Aah gampang nanti, kan kemarin memang ada yang mau minta penjelasan padaku. Sekalian saja nanti ajak Aster, pikir Hendra.


Setelah Aster selesai telpon, Aster justru mengajak Hendra menemui Astri dulu.


“Eeh kita ketemu Astri sebentar yuk dia di meja paling pojok !” ajak Aster.


“Tumben gak mentingin kerjaan dulu ini orang ?” batin Hendra.


“Boleh, ayuk.” Jawab Hendra.


“Rasain kamu Hendra, aku mau kamu mengulangi kata kata kamu tadi di depan Astri adikmu. Kalo kamu serius pasti berani tapi kalo kamu hanya bercanda biar aku sekalian hapus nama kamu dari hidupku, gak sudi aku sekedar berteman pun denganmu.” Batin Aster.


“Eeeh kamu hubungi sekalian yang janjian tadi dimeja berapa !” kata Aster.


“Baik bu.” Kata Hendra.


Ater menginjak kaki Hendra,


“Dibilangin jangan panggil bu diluar juga, mang Aster udah kayak mak mak !” sungut Aster.


“Maaf lupa Aster.” Jawab Hendra.

__ADS_1


Mereka segera menuju ke meja Astri yang sudah memesankan mereka berdua minuman saat Aster telpon tadi.


“Lah kok sudah ada minuman ?” Tanya Aster.


“Ya saat kamu telpon tadi aku langsung pesan minuman special. Mau pesan makanan gak nih ?” Tanya Astri.


“Gak ah, baru juga tadi habis makan siang kok.” Jawab Aster.


“Owh yaudah, camilan saja ya lumayan buat temen ngobrol.” Jawab Astri.


“Tapi Aster gangguin Astri gak nih, kok suasanya dibikin kayak romantic romantic begini. Apa Astri janjian sama Dimas disini ?” Tanya Aster lupa dengan tujuanya menemui Astri.


“Ya memang Astri minta dibikin Romantis, saat ada temen Astri yang mau jadian dan mau mengucapkan janjinya disini.” Jawab Astri.


“Kalo begitu Aster ganggu dong, Astri,” kata Aster.


“Gak kok, malah bisa jadi saksi nanti.” Jawab Astri.


“Sebenarnya Aster juga ada janji sama nasabah disini tapi dimeja mana belum tahu. Udah di hubungi belum nasabahnya ?” Tanya Aster ke Hendra.


“Iya ini lagi aku telpon.” Jawab Hendra bohong. Kemudian pura pura telpon padahal hpnya diset ke mode pesawat lebih dulu.


“Siang juga pak, bapak dimeja berapa ini saya sudah sampai lokasi.” Ucap Hendra pura pura telpon.


“Apa, sudah pulang,,, owh tadi ditelpon ibu disuruh pulang mendadak,,,, iya gak papa pak, tapi kalo kami nanti kerumah bapak atau ke perusahaan boleh ? owh yaudah besuk juga gak papa pak.. iyaa pak….. selamat siang.” Ucap hendra ngomong sendirian pura pura telpon.


“Aduh malah orangnya sudah pulang, kalo langsung balik kantor masih cape di jalan. Yaudah kita minum dulu saja.” Ucap Hendra lansung meyeruput minuman seperti yang lagi kehausan, padahal hanya menutupi groginya.


“Pesan lagi Astri, hari ini aku yang Traktir kamu dan Aster deh. Pesan yang Istimewa kek, biar yang mau romantisan lebih senang nanti” Ucap Hendra.


“Ok, ku pesan dulu, kalian tunggu sebentar aku pesan yang Istimewa deh.” Ucap Astri sambil berlalu.


Setelah Astri pergi Aster kemudian menantang Hendra.


“Kali ini mumpung ada adik kamu Astri, kalo kamu berani mengulangi kata kata kamu tadi aku akan berikan  jawaban saat ini juga.” Kata Aster.


“Boleh siapa takut, nanti tunggu Astri bawa pesanan special buat kamu dulu.” Kata Hendra keceplosan.


“Buat Aster, maksutnya ?” Tanya Aster bingung.


“Eeeh maksutnya buat temen Astri.” Jawab hendra bohong lagi.


Sesaat kemudian Astri datang dengan menggandeng tangan mamahnya.


“Loh kok mamah juga ada disini, mana pesanan buat temen kamu Astri. Katanya ada temen kamu yang mau bikin janji disini.” Ucap Aster menyalami mamahnya Astri. Memang Aster dari kecil sangat dekat dan ikut memanggilnya mamah seperti Astri.


“Aster,duduk dulu kita ngobrol santai dulu. Kamu mau tahu kenapa mamah disini kan, jelaskan Astri.” Pinta mamah Astri.


“Astri tahu, kmu tadi meminta Bang Hendra menyatakan cintanya padamu di depanku. Nah sekalian ini ku bawa mamahku. Biar lebih kuat lagi dan kamu lebih yakin lagi jika abangku Hendra serius tidak main main.” Kata Astri.


“Jadi, ini semua sudah kamu atur Hendra ? terus nasabah yang kamu telpon tadi,,, bohongan ya. Iiih kamu jahat banget sih, kan Aster gak enak sama kantor Hendra, kayak gak aa waktu lain saja. Iya udah Aster percaya kamu serius Hendra….!” Kata kata Aster dipotong Hendra.


“Tunggu dulu, jangan bicara dulu sebelum aku berbicara.” Kata Hendra.


Kemudian Astri menyerahkan sesuatu kepada Hendra dan Hendra duduk bersimpuh dihadapan Aster.


“Aster, Aku Hendra mengucapkan ini dengan sepenuh hatiku. Bahwa Aku ingin melamar kamu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Aku siap menerima kamu, jika kamu bersedia menjadi calon istriku maka ambilah cincin ini dan kita pakai berdua. Namun jika kamu tidak bersedia, ambilah cincin ini dan campakkan ke kotak sampah saja. Biar nasibnya sama dengan diriku yang kamu campakan cintaku.” Ucap Hendra didepan Astri dan mamahnya


Aster hanya menangis tak menjawab, dan justru menghampiri mamah Astri dan bersimpuh dihadapan mamah Astri, sementara Hendra dibiarkan ditempatnya tanpa merubah posisi bersimpuh Hendra….!!?


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2