
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Kita tinggalkan sejenak Syifa yang sedang kebingungan menemukan jati dirinya dalam mencari keyakinannya. Mencari jawaban apakah Tuhan itu benar adanya atau hanya sekedar dongeng yang diciptakan manusia untuk menakut nakuti orang agar tidak berbuat jahat pada orang lain. Dengan ajaran atau Dogma Surga dan Neraka. Itulah pertanyaan yang ada di benak Syifa saat ini, sehingga di dorong rasa ingin tahunya itu membuat Syifa sering kali mondar mandir ke rumah bapak Hamid untuk sekedar mengobrol.
Kehidupan Aster pasca Menikah dengan Hendra.
“Bang, kapan kita ajak Asih jenguk orang tuanya sekaligus Aster mau lihat keadaan pak lek dan bulek ?” Tanya Aster ke Hendra.
“Kita lihat Agenda dulu Aster, kalo minggu ini kayaknya belum bisa karena akhir pekan kamu kan ada janjian dengan klien juga. Otomatis kan aku juga harus damping kamu nanti.” Jawab Hendra.
“Iya gak harus minggu ini juga bang, tapi kalo bisa secepatnya. Aster prihatin dengan keadaan pak lek dan bulek.” Kata Aster.
“Iya aku ngerti nanti setelah kamu menemui klien saja kita berangkat, kalo tugasku kan bisa di handle Astri kalo aku gak bisa ke kantor.” Ucap Hendra.
“Makasih ya bang, bang Hendra baik banget deh.” Kata Aster manja.
“Alaah kalo lagi ada maunya, udah gak usah ngerayu gitu malu di kantor juga. Takut ada yang masuk ruangan kerjaku nanti.” Kata Hendra sok jual mahal.
“gak lah, kan tadi Aster kunci pintunya.” Jawab Aster.
“Lah kok dikunci segala ?” Tanya Hendra.
“Gak papa lah, kan kita lagi bicara sebagai suami istri bukan sebagai atasan dan bawahan sekarang.” Jawab Aster masih bermanja di samping Hendra.
“Ya gak boleh begitu dong Aster, kalo di kantor jangan perlihatkan kemesraan di depan orang kantor.” Ucap Hendra.
“Jangan terlalu kaku juga lah bang, ini kan di ruang privasi bukan di ruang meeting atau ruang karyawan lainnya.” Sahut Aster.
“Iya deh, Aster sekarang maunya gimana ?” Tanya Hendra.
“Sebentar lagi kan waktu makan siang, kita makan siang keluar yuk pakai motor kayak waktu bang Hendra nembak Aster dulu !” ajak Aster kepada Hendra.
“Wah ide bagus tuh, tapi mau makan apa nanti ?” Tanya Hendra ke Aster.
“Makan apanya gak penting bang, yang penting kita berdua keluar saja biar bisa ngobrol bebas.” Jawab Aster.
“Boleh, tapi jangan yang jauh biar gak terlambat masuk ke kantor. Takut jadi contoh yang tidak baik nanti.” Ucap Hendra.
“Lah padahal Aster mau sekalian ajak bang Hendra untuk menemui manager perusahaan xxx untuk menawarkan kerja sama dengan perusahaan kita dalam project pembangunan Rusunawa di wilayah padat penduduk.” Jawab Aster.
“Boleh juga sih, tapi nanti aku bilang dulu dengan manager personalia agar dia menggantikan tugasku selagi aku di luar.” Jawab Hendra.
“Panggil kesini saja kenapa bang ?” kata Aster.
“Katanya pintunya kamu kunci ?” kata Hendra.
“Diih gak lah, Aster Cuma bercanda aja kok. Kayak perempuan gatel aja pakai kunci pintu ruangan saat berdua !” kata Aster.
“Owh kirain beneran, yaudah kamu duduknya di situ dulu nanti jangan begini kan gak enak kalo ada manager personalia kita begini.” Jawab Hendra.
Dalam hati Aster mengagumi profesionalisme kerja suaminya yang sangat menjaga dedikasi sebagai pemilik perusahaan meski Aster tahu hendra suaminya kalo dirumah sangat ingin selalu berdua dengan Aster, karena masih pengantin baru.
Kemudian Hendra pun memanggil Manager Personalia melalui pone line di kantor.
“Selamat siang. Dengan Personalia ada yang bisa dibantu ?” ucap Manager personalia dengan bahasa baku perusahaan ketika menerima panggilan pone line.
__ADS_1
“Siang pak, bisa datang ke ruangan saya sebentar ?” jawab Hendra.
“Baik pak, segera saya menuju ke ruangan bapak sekarang.” Jawaban Personalia kepada Hendra.
Kemudian Aster pun segera membetulkan posisi kursi dan duduknya layaknya seorang karyawan biasa yang yang sedang menghadap atasannya.
Tak lama kemudian terdengar pintu ruangan Hendra di ketuk oleh seseorang.
Tok…tok…tok…
Suara ketukan pintu ruangan Hendra.
“Masuk…!” kata hendra sambil pura pura membuka buka berkas di meja nya dan dihadapan Aster.
Kemudian masuklah personalia tersebut dan segera mengambil kursi disamping Aster dan menyapa Hendra.
“Selamat siang pak, ada tugas apa yang harus saya kerjakan ?” Tanya personalia itu kepada Hendra.
“Begini bapak, nanti setelah jam istirahat saya akan mendampingi bu Aster untuk menemui klien yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita. Mungkin juga sekalian akan membuat dan menanda tangani MOU. Jadi selama saya tidak di kantor nanti tolong semua pekerjaan saya bapak handle dulu. Dan jika menemui kendala bisa hubungi saya nanti.” Kata Hendra pada personalia.
“Baik pak, kira kira sampai jam berapa ya pak. Soalnya saya kemarin sudah ijin jika hari ini mau pulang lebih awal karena ada acara keluarga.” Jawab Personalia.
“Iya saya masih ingat kok, kami gak akan sampai sore. Sebelum jam tiga sore saya dan bu Aster sudah sampai ke kantor lagi.” Jawab Hendra.
“Owh baiklah pak, semoga semuanya lancar.” Jawab Personalia. Kemudian berpamitan untuk kembali keruangannya.
Setelah jam istirahta tiba Hendra dan Aster keluar Kantor untuk makan siang, saat hendak keluar Hendra dan Aster bertemu Asih dan Arya yang hendak makan siang juga.
“Siang pak Hendra bu Aster…!” sapa Asih dan Arya bersamaan.
“Siang pak Arya dan bu Asih, kalian gak makan siang ?” Tanya Hendra.
“Ikut kami saja Yuk, makan siang diluar nanti kami sekalian mau menemui klien setelah makan siang.” Kata Aster.
“Gampang nanti aku panggilkan taksi buat kalian balik ke kantor.” Jawab Hendra.
Akhirnya Asih dan Arya pun mengikuti Aster dan Hendra, dan Hendra tidak jadi menggunakan motor karena mengajak Asih dan Arya. Berangkatlah mereka kemudian mencari rumah makan yang cocok bagi mereka.
“Mau makan siang dimana bu Aster ?” Tanya Arya.
“Di luar kantor dan bukan urusan kerja jangan panggil ibu lah, risih Aster. Kita kan tetap sahabat seperti dulu, gak usah begitu Arya.” Jawab Aster.
“Eeh iya, jadi lupa kebiasaan panggil b uterus soalnya.” Jawab Arya.
“Kalian sendiri pingin makan apa, jujur saja aku dan Aster belum pilih menu makan siang. Siapa tahu kalian bisa kasih ide menu Makanan yang cocok buat kita.” Kata hendra.
“Gimana kalo kalo kita cari Sop kaki kambing saja bang Hendra ?” Tanya Asih mengusulkan menu makanan.
“Boleh, Asih tahu tempat yang enak gak sekitar sini, jangan yang terlalu jauh tapi.” Kata Hendra.
“Ada pak kami beberapa hari yang lalu makan disana dan ternyata masakanya cocok dan harganya sangat terjangkau pak.” Arya yang menyahut pertanyaan Hendra.
“Uhhuuuk owh ternyata diam diam kalian sudah sering nge-date ya…?” ejek Aster pada Asih dan Arya.
Sehingga Arya yang tak sadar telah membuka kartu akhirnya hanya tertunduk malu. Dan Asih pun akhirnya mencubit kaki Arya yang keceplosan secara diam diam takut dilihat Aster dan Hendra.
“Udah gak usah malu begitu, aku justru bahagia kok kalian bisa jadian begitu, Kan sama sama orang yang ditinggalkan kekasih hati.” Komentar Aster.
“iiih Aster bisaan deh kalo ngejek Asih dari dulu juga.” Ucap Asih yang memerah pipinya.
“santai saja Asih, gak usah panik begitu. Kita kan sudah sepakat menjadi saudara selamanya apapun yang terjadi.” Ucap Aster.
“Iya Asih, aku juga tetap anggap kamu adik kok !” sahut Hendra.
“Makasih bang Hendra, bang Hendra memang cocok dengan Aster.” Puji Asih kepada Aster dan Hendra.
“Makasih kembali, dan kamu Arya makasih juga ya sudah bantuin aku dulu untuk mendapatkan cinta nya Aster. Cinta Asteria yang tulus dan sangat membahagiakan aku.” Ucap Hendra.
__ADS_1
“Iiih ngegombal di depan teman teman sendiri juga bang Hendra nih ?” ucap Aster.
“Iya bang, sama sama Arya juga gak nyangka bang Hendra dan Aster akan jadi pasangan yang begitu Romantis.” Jawab Arya.
“Udah dong ngibulnya Arya, mau jadi makan siang gak nih ?” jawab Aster kemudian merasa jengah dengan sanjungan sanjungan itu.
“jadi dong, itu pertigaan di depan ambil kanan. Kemudian sekitar tiga ratus meter kiri jalan ada tulisan besar ‘Sop Kaki Kambing’ pak Jim soen. Enak banget tuh.” Kata Arya.
Dan sesampainya di rumah makan yang dimaksut mereka pen segera turun dan memesan menu makanan sesuai selera masing masing.
Kemudian mencari tempat duduk yang dirasa nyaman, karena jam segitu cukup ramai pengunjung sehingga pesanan mereka pun agak lama.
“Jadi bagaimana hubungan kalian Asih dan Arya ?” Tanya Aster membuka obrolan.
“Kami jalani saja Aster, karena jujur masing masing dari kami juga belum bisa benar benar move on dari kekasih kami yang kemarin.” Jawab Arya.
“Lah kamu juga Asih, masih juga belum bisa Move on dari Andi yang sekarang saja tidak jelas keberadaanya. Dan jujur aku dan Bang Hendra minggu depan akan mengajak kamu dan Arya mengunjungi orang tuamu. Sekaligus aku mau melihat keadaan orangtuanya Andi yang katanya sakit sakitan.” Kata Aster.
“Kapan itu Aster, Asih masih belum siap bertemu Andin nanti takutnya malah ketemu disana.” Jawab Asih.
“Gak usah khawatir, kalo nanti ada Andi maka Aster dan bang Hendra yang akan menghadapi Andi.” Jawab Aster.
“Bagaimana juga nanti Asih menghadapi bapak dan ibunya Andi Aster ?” Tanya Asih sedih.
Arya hanya diam saja tidak enak mau berkomentar karena itu adalah urusan privasi Asih. Sedangkan Arya merasa hubungan mereka masih belum ada ikatan yang jelas. Masih sekedar saling menjajagi saja.
“Kamu gak usah takut, pak lek dan bulek pasti memahami keputusanmu apapun itu Asih. Karena terbukti Andi sekarang sudah jauh berubah dari Andi yang dulu.” Jawab Aster.
“Iya Aster,Asih mau ikut kalian tapi Kayaknya Arya jangan dulu deh, jaga perasaan orang tua Andi.” Ucap Asih.
Aster dan Hendra kagum dengan keputusan Asih hingga keduanya saling berpandangan melihat keputusan Asih yang mengejutkan. Tidak hanya Aster dan Hendra saja, bahkan Arya pun merasakan kekaguman terhadap Asih yang begitu menjaga perasaan orang lain. Sehingga hal itu semakin menambah ketertarikan Arya terhadap Asih.
“Aku setuju dengan keputusan Asih, juga sangat mendukung keputusannya. Memang begitulah hati seorang wanita. Lembut dan penuh perasaan, sehingga semua dilakukan tanpa meninggalkan rasa atau perasaan.” Ucap Arya.
“Kamu tulus berkata begitu Arya ?” Tanya Asih kemudian.
“Sungguh aku tulus, dan jujur dengan keputusan kamu seperti itu malah menambah kekaguman ku padamu Asih.” Ucap Arya.
“Yasudah, sementara memang arya gak usah ikut dulu karena memang belum saatnya kalian menghadap orang tua Asih.” Jawab hendra.
“Iya aku sepakat dengan bang Hendra.” Sahut Aster.
Dan setelah menu pesanan mereka datang mereka pun segera menikmati hidangan menu yang mereka pesan. Setelah selesai Hendra segera memanggil Taksi untuk mengantar Asih dan Arya kembali ke kantor sementara Hendra dan Asih melanjutkan rencana mereka untuk menemui manager perusahaan yang akan diajak kerja sama. Dan saat saat seperti itu Hendra selalu memperkenalkan dirinya sebagai asisten Aster, sehingga sering kali membuat Aster gemas dengan tingkah hendra tersebut.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1