
Daffin POV
Aku sudah sampai di rumah pukul 4 sore. Setelah mengantarkan Hanum kerumahnya, aku lansung tancap gas menuju rumah. Aku mendengar bahwa mama dan papa akan sampai di rumah hari ini.
Ternyata benar, mama sudah berdiri di depan pintu seperti menunggu sesuatu. Dia menatapku dengan pandangan tajam dan seperti ingin marah.
"Daffin Faaz Ilham Arkarna, di mana Echa?" tanyanya dengan emosi.
Aku paham jika mama sudah menyebut nama lengkap aku pertanda kiamat kecil akan terjadi. Dengan cepat aku harus membela diri. Lagi - lagi ini karena perempuan itu.
"Tadi dia pulang duluan, bukannya dia di rumah?" tanyaku dengan hati - hati.
"Kenapa dia bisa duluan, kamu pasti sibuk dengan pacar kamu itu."
"Ma, dia kan punya kaki, punya kehidupan sendiri jadi mana mau dia barengan Dari." jawabku.
"Jika terjadi apa-apa dengan dia, mama mogok makan." ucap mama berjalan di depanku dengan gaya ngambek.
Mama, mama, umur sudah mau kepala 4 tapi tetap saja kayak gitu. Tapi mama sih masih kayak anak gadis sih. Dan aku masih melihat di umur 38 seorang ibu punya anak masih kecil.
"Ma, jangan ngambek dong, nanti Daf cari ya." bujuk aku sambil mengekori mama.
__ADS_1
Aku harus bisa membujuk mama karena jika tidak papa akan menegurku. Papakan bucinnya minta ampun sama mama. Sampe - sampe jika istrinya itu merengut satu hari aja, maka dalang yang membuat istrinya merengut itu dalam masalah besar.
"Ma jangan merajuk ya, daf janji akan bawa dia pulang lagi secepatnya." ucapku membujuk mama dengan cara mencium punggung tangan mama.
"Cepat temukan Echa, jika tidak malam ini tidak ketemu makan kamu jangan pulang
" ancam mamaku.
Begitulah mamaku saking sayangnya sama si dia. Wanita yang di anggap calon menantunya. Entah sama anak yang mana mau di jodohkan. Jika dengan aku, aku ogah sama sekali.
Aku menancap gas menuju rumah neneknya. Aku tau jika nenek dan tantenya masih ada di kota ini. Namun sesampainya di sana kami tidak menemukan petunjuk.
"Haduh bisa - bisa di sate aku sama papa jika dia nggak bertemu, dia kan juga kesayangan papa. Karena papa juga bersahabat dengan papanya dia.
"Akhhhhh sial, bikin repot aja anak satu ini, sial kali jika menikah dengan dia nanti." ucapku kesal.
Aku melajukan mobilku kerumahnya dengan cepat. Namun rumahnya masih tampak sepi. Aku mencoba mengetuk pintu rumahnya. Namun tidak ada yang keluar satupun.
"Pada kemana ini, kok sepi banget? masa rumah orang kaya tanpa ada penjagaan yang ketat." gumamku kepada diri sendri.
Aku mencoba mengetuk pintu lagi. Pintu terbuka memperlihatkan sebuah seorang wanita yang agak berumur kurang lebih 50 tahun.
__ADS_1
"Assalamualaikum, maaf mbok apa ada Echa di sini?" tanyaku hati - hati.
"Waalaikumsalam, ada den, nona sejak pulang tadi hanya mengurung diri di kamar, belum makan juga sejak pulang sekolah, ada apa ya den dengan nona?" tanya salah satu pelayan rumah ini.
"Izin ke atas ya mbok."ucapku lansung menuju kamar atas.
Aku bergegas menuju kamar atas karena takut dia kenapa - Napa. Eh kenapa aku malah mengkuatirkan dia.
Aku lansung membuka handle pintu kamarnya. Untung tidak di kunci pintu kamarnya. Aku melihat dia duduk di antara gelapnya kamar. Semua akses cahaya di tutup dengan rapat.
Aku melihat dia menangis di tengah gelapnya kamar ini. Aku menghidupkan lampu tapi dia semakin jadi menangisnya. Dia menangis dengan posisi duduk di kursi belajarnya.
"Ada apa?" Tanya aku lembut
Dia tidak menjawab apa - apa. Aku mendekati dirinya lalu memberikan pelukan hangat lagi.
"Kamu tidak usah cerita jika itu berat, ayo pulang, mama cariin."
"Tapi aku masih ingin tidur di sini." rengekannya sambil menghapus air matanya.
"Tolong kerjasamanya karena ini permintaan mama." ucapku agak memohon kepadanya.
__ADS_1
Dia hanya diam tanpa bergerak atau tanpa mengeluarkan kata lagi.
"Apa perlu aku gendong." ucapku lagi membuat dia grasak grusuk.