
"Eca biar ku antar uncle karena ada yang mau aku sampaikan." ujar Daffin memohon izin.
"Apaan? harus sekarang ya, nanti merepotkan kamu, mumpung kamu searah biar sama uncle aja kerumah sakit." jawab Mezza.
"Nggak repot, aku juga lewat arah sana."
"Kamu yakin nggak bareng kamu aja Mez?" tanya Rey merasa takut jika Mezza menyetujui permintaan Daffin.
"Maaf uncle, duluan aja sama Rey." jawab Mezza.
"Baiklah, jangan terlalu lama ya ,ingat nanti mau Cesar." nasehat Amar.
"Ya udah, Tante balik dulu ya." ucap Bella berpamitan kepada adik dan keponakannya.
"Daffin jaga keponakan aunty ya." bisik Bella dengan tersenyum.
Daffin tersenyum sambil mengangguk. Bagi Daffin aunty Bella seperti Tante sendiri. Daffin lebih dekat kepada Bella daripada Mira karena sejak kecil sering bertemu. Bagi papanya keluarga Kusuma sudah seperti keluarga sendiri.
"Kita ngomongnya di mobil aja ya." ucap Mezza setelah semua pergi.
"Baiklah, tapi tunggu sebentar."
"Kenapa? jangan bilang bahwa mobil kamu nggak ada di sini." ucap Mezza menaruh curiga.
"Tadinya ada,takutnya Alfa sudah pergi pula." jawab Daffin mencoba menghubungi Alfa.
"Daffinnnnnnn." ucap Mezza geram lalu mencubit tangan lelaki yang menyebalkan itu.
"Sakit tau."
"Biarin, bisa - bisanya nawarin antar aku tapi nggak ada mobil." omel Mezza.
__ADS_1
Daffin nampak berbincang sebentar dengan seseorang di seberang sana.
"Ayok, mobil udah siap." ucap Daffin mengulurkan tangannya.
"Aku bisa sendiri." jawab Mezza berdiri lalu menepis tangan Daffin.
Daffin berjalan di belakang Mezza beberapa langkah. Setelah Samapi di parkiran Daffin mengambil kunci mobil.
"Kamu telpon sopir kantor aja atau naik taksi aja
" ujar Daffin kepada Alfa.
"Asemlah, mentang - mentang ketemu gebetannya." ujar Alfa dalam hati.
"Kamu nyumpain aku?" tanya Daffin dengan wajah dingin.
"Mana berani bos." ucap Alfa.
"Sumpahin aja fa bos kayak dia." ucap Mezza tertawa melihat dua sahabat itu.
"Udahlah karena kamu sahabat aku, silahkan kamu gunakan waktu senggang dengan cari cewek." ujar Daffin masuk kedalam mobil.
"Sok banget, padahal dia juga masih jomblo." gumam Alfa.
Mezza masuk kedalam mobil dengan tersenyum senang melihat dua makhluk dingin ini berseteru. Baginya hal seperti ini adalah menyenangkan.
"Bagaimana bisa dua monster dingin bisa berteman." ucap Mezza memulai pembicaraan di dalam mobil.
"Hey hati - hati bicara, jatuh cinta sama monster dingin ini repot kamu." jawab Daffin sambil menyetir.
"Emang kenapa dengan monster dingin ini? meleleh?"
__ADS_1
"Bisa jadi jika di tangan yang tepat." jawab Daffin.
"Mau omongin apa tadi?" tanya Mezza mengingat bahwa lelaki di sampingnya itu mengajaknya karena ada pembicaraan penting.
"Kemaren waktu di pulau bilang mau temani aku makan malam."
"Iya, kapan?"
"Malam ini, dan anggap ini sebagai kencan, gimana?" ucap Daffin sambil melengkungkan bibirnya.
"Loh perjanjiannya nggak kayak gitu loh, cuma makan malam tanpa KENCAN." ucap Mezza menekan kata kencan.
"Tapi kan ini permintaan, katanya mau ngabulin." ujar Daffin melirik Mezza sekilas.
"Baik jika begitu, kita ketemu di kafe jam 8."
"Tidak,Aku akan jemput kamu nanti malam." ucap Daffin dengan cepat.
"Kamu yakin? nanti orang rumah pada heboh loh." ucap Mezza meyakinkan Daffin.
"Biarin aja mereka sekali - kali heboh biar senang." jawab Daffin tersenyum.
Mezza terkesima dengan senyum Daffin.
"Manisnya senyumnya." teriak Mezza dalam hati.
"Aku tau jika senyumku manis jadi biasa aja karena nanti kamu juga akan terbiasa." ujar Daffin dengan percaya diri.
"Sok tau, manis darimana coba, emang gula."
"Ini lebih manis sayang daripada gula." goda Daffin membuat jantung Mezza berdebar lebih kencang.
__ADS_1
"Semoga cepat sampai." doa Mezza dalam hatinya.
Ia tidak tau jika berlama-lama dengan Daffin saat ini. Daffin akan dengan mudanya membaca pikirannya jika ia dah Dig dug begini.