
Baru setengah perjalanan tiba-tiba dia menelpon aku. Benar yang aku kuatir kan tadi. Ketika separuh perjalan dia menyuruhku putar balik untuk menjemputnya.
Jika bukan anak teman mama sudah aku amuk dia. Benar - benar selalu merepotkan. Aku terpaksa putar balik. Dan dia dengan gampangnya bilang minta maaf.
Saat ini aku kesal berjalan menuju kamar ketika sudah sampai rumah. Sedangkan dia sudah di sugukan makanan oleh mama. Terkadang aku berpikir bahwa dia anak kandung sedangkan aku anak punggut. Apakah kami ini tertukar di rumah sakit saat melahirkan.
Aku yang merasa lelah lansung merebahkan badan si atas ranjang. Rasanya terasa nyaman sekali di kasur empuk kayak begini.
Tidak butuh lama aku lansung memejamkan mata. Dan entah kenapa ternyata rasanya terasa nyaman sekali.
...****************...
Setelah beberapa hari perempuan itu di rumah, pada akhirnya dia menambah hari lagi. Kedua orang tuanya belum terlalu pulih untuk pulang. Sedangkan Zayyan dan Zahran akan pulang dalam Minggu depan karena menyangkut sekolah.
"Daf, kamu ajari Echa nanti Persiapan masuk ke universitas."
"Kenapa harus Daf ma, kan bisa dia les." jawabku tidak menerima dia jadi murid.
"Kamu bisa nggak tanpa penolakan, jika nggak......"
"Mama mogok makan." jawabku dengan tegas.
"Mama nggak anggap kamu anak." ujar mamanya.
__ADS_1
"Iya deh, belajarnya bebas di Mana saja."
"Kami berangkat." ujarku semangat berangkat ke sekolah.
Sedangkan dia sibuk mengejar aku agar tidak terlambat. Aya juga juga tidak kala cepat berjalan di sebelahnya.
"Besok-besok jika sibuk sangat, pakai sopir aja." ucapku dengan malas.
Kami berangkat ke sekolah dengan muka saling cuek. Sesampainya di sekolah, semua mata saling melihat kamu. Selamat datang yang menerima dia .
"Ada hubungan kamu dengan dia?" tanya Anak - anak lainnya.
"Nggak ada." jawabku dengan sopan. Aku berjalan menuju kelas . Sedangkan dia juga berjalan menuju kelasnya.
Entah mau jadi apa wanita ini, tugasku di sini hanya membantu di belajar. Wanita ini tidak pernah menolak mama jika dia terpaksa di suruh oleh mama.
Aku melihat bagaimana dia belajar. Tidak ada niat sama sekali. Entah apa yang di cita - citakan oleh wanita ini. Meski hanya mau jadi ibu rumah tangga tapi setidaknya tetaplah belajar.
"Kamu niat belajar nggak sih?" tanyaku kepadanya ketika melihat dia tersenyum melihat ponselnya.
"Nggak usah terlalu keras sama Eca daf." teriak mamaku sudah macam cenayang aja.
"Ya ma." jawabku dengan kesal.
__ADS_1
"Kamu mau nggak bantu aku?" tanyanya menatap diriku.
"Bantu apa?" tanyaku penasaran.
"Aku di ejek oleh musuh bebuyutan aku, kamu bantu aku pura jadi pacar aku, mau ya."
"Tidak."
"Ayolah, nanti aku janji akan belajar dengan rajin."
"Nggak ada hubungannya."
Lihatlah kelakuannya yang selalu membuat apa yang sesuka hatinya saja.
"Please, nanti aku janji akan bantu kamu juga." bujuknya dengan manisnya.
"Aku tidak pernah butuh bantuan kamu." jawabku dengan sedikit sombong.
Aku selama hidupku tidak pernah meminta bantuannya. Yang ada dia tiap hari merepotkan aku.Jadi untuk apa dia mengancam aku.
"Ayolah bantu aku, atau aku minta tolong Tante Dita aja agar nyuruh kamu." ucapnya tersenyum menyeringai penuh kepuasan.
"Iya aku bantu." jawabku menerima lansung permintaannya sehingga ia loncat gembira. Bagaimana saya bilang tidak jika ancamannya adalah mama.
__ADS_1
Nyungsep.