
Momo terbangun dari tidurnya dengan badannya yang sakit - sakit. Sejak semalam ia di suruh pindah kamar oleh Rey.
Sekarang di sinilah dia berada. Dia berada di kamar barunya lantai dasar.
"Capek banget." ucapnya sambil mengelus perutnya yang kelaparan.
"Haduw aku mau makan apa ya?" ucap Momo melihat sebuah aplikasi.
"Gua pesan aja deh, tapi dia udah makan apa belum ya?" tanya Momo lansung berjalan keluar kamar.
Momo mencari keberadaan Rey. Tapi dia tidak menemukannya. Momo berjalan menuju kamar Rey. Awalnya Momo mengetuk pintu kamar Rey. Tidak ada jawaban.
Momo membuka pintu kamar Rey dengan perlahan. Dia melihat Rey masih tidur dalam gulungan selimut.
"Rey bangun." ucap Momo membangunkan Rey setelah duduk di sisi ranjang.
Rey membuka matanya secara perlahan. Sebuah senyum nampak dari wajah Rey membuat hati Momo agak senang.
"Terima kasih Mez, kamu makin cantik." ucapnya sambil tersenyum.
Mendengar nama siapa yang di sebut membuat hati Momo terkoyak saat itu juga. Dia menyangka senyum itu untuknya ternyata untuk orang lain.
"Aku Momo bukan Mezza."
Mendengar ucapan Momo, Rey lansung terhenyak dan lansung duduk.
"Ngapain kamu di kamar aku?" tanya Rey dengan memaki.
"Aku....aku..." Momo ketakutan ketika melihat Rey semarah ini.
__ADS_1
Selama mengenal Rey, dia tidak pernah Sarah ini. Dia dokter paling ramah yang Momo kenal.
"Jangan sekali-kali kamu masuk ke kamar aku saat aku ada di rumah." ucap Rey dengan nada keras.
"Jika perlu kamu tidak usah masuk ke kamarku sekalian." ucapnya masih dengan nada tinggi.
"Maaf." ucap Momo dengan mata berlinang.
"Kenapa kakak tiba-tiba berubah jahat?" tanya Momo lagi.
"Kamu mau tau ha." jawab Rey memegang dagu Momo dengan kuat.
"Itu karena kamu telah menghancurkan impian aku untuk menikahi Mezza." ucapnya dengan nada tinggi lalu mendorong tubuh Momo.
Momo terjatuh ke lantai. Ia tidak pernah melihat Rey sekasar ini terhadap dirinya.
Rey masuk ke dalam kamar mandi. Lalu menghempas pintu kamar mandi dengan kencang.
Momo menangis berjalan keluar dari kamar Rey. Dia kembali masuk ke kamarnya.
"Kamu jahat Rey." tangisnya lansung berbaring di atas ranjang.
"Tapi itu mungkin karena aku yang salah, wajar dia marah." ucapnya mencoba menghapus air matanya.
"Mungkin jika aku berusaha lagi, dia akan terbuka hatinya untuk aku." ucapnya mencoba tersenyum.
Momo duduk dari tidurnya. Dia membuka ponselnya untuk belajar memasak.
"Kata orang jika mau mengambil hatinya maka senangkanlah perutnya dengan makanan enak - enak." ucapnya tertawa kembali.
__ADS_1
Momo berjalan ke dapur mencoba memasak pertama kalinya. Ia mencoba memasak nasi terlebih dahulu. Sambil menunggu masak, ia mencoba memasak bakwan dan telur dadar. Hanya itu yang bahan yang ada di kulkas saat ini.
Momo merasa senang karena bakwan dan telur dasarnya sudah jadi. Ia merasa bahwa memasak itu sangat mudah dengan bantuan YouTube.
"Ah jika begini gampang lah jika masak tiap hari." ucapnya memindahkan masakannya ke meja makan.
Ketika melihat Rey melewati area dapur, ia segera menyuruh Rey untuk duduk. Momo bahkan menarik Rey untuk ke meja makan.
"Ngapain sih?" tanya Rey ketika di paksa duduk di meja makan.
"Makan dulu."
"Kamu nggak racunin aku kan?" tanya Rey.
"Mana ada, aku udah belajar loh, coba aja pasti enak."
Rey mengambil sesendok nasi aja. Lalu memasukkan lauknya. Baru saja sesuap Rey lansung melepehkan makanannya.
"Makanan sampah apa ini?" teriaknya dengan marah.
"Maaf, nggak enak ya?" tanya Momo mencoba mencicipinya.
emang nggak seenak restoran, tapi ini lumayan loh."
"Habisin aja sendiri sama kamu." ucap Rey meninggalkan meja makan begitu aja.
Sebenarnya Momo sudah mencicipi tadi. Dia merasa tidak terlalu asin. Tapi dia heran kenapa reaksi Rey begitu. Bagi Momo untuk masakan pertama lumayan dengan rasa begini.
"Tidak mau pernah menghargai." ucapnya dengan cemberut.
__ADS_1