
Daffin sudah mulai kuliah di universitas Harvard businiss school. Ia memang sudah di persiapkan orang tuanya untuk kuliah bisnis. Namun Daffin yang memang gemar belajar, tidak tanggung - tanggung untuk menimba ilmu. Keinginannya yang besar yaitu ingin mengembangkan perusahaan keluarga menjadi lebih besar lagi.
Menjadi satu-satunya pewaris Arkarna Group membuat Daffin belajar dengan giat. Ia tidak ingin Arkarna Group hancur atau menurun ketika di olah oleh dirinya. Ia sudah dikasih paham oleh papanya dari kecil bahwa puluhan ribu karyawan akan bergantung kepadanya. Bahkan juga seluruh keluarga Arkarna baik dekat atau jauh akan menjadi tanggung jawabnya.
Setelah beberapa bulan di Cambridge, Massachusetts, Amerika serikat membuat dia tidak fokus terhadap pendidikan. Apa yang membuat Daffin tidak fokus? apakah belum betah tinggal di kota itu? Tentu bukan itu alasan utamanya. Dia mulai merasa kesepian. Dia merasa tidak tenang ketika tidak tau keberadaan di mana Mezza.
"hhhhmmmmmm, kenapa aku harus memikirkan dia?" tanya Daffin setelah membuang nafas dengan kasar.
"Lagian dia siapa? kenapa aku malah mikirin dia." ucapnya mengusap wajahnya.
Dia mencari media sosial Mezza. Namun entah kenapa dia tidak menemukan.
"Apa - apaan dia? kok kayak menghilang di telan bumi."
"Apa aku hanya Vincent baja kali ya, mana tau dia bisa tanya sama pacarnya."
Daffin sudah tidak sabar untuk menanyakan kepada Vincent. Tapi ketika nomor Vincent tidak aktif membuat dia frustasi.
"Jadi nggak sabar libur semester, padahal baru 3 bulan kuliah."
Daffin membuka galeri di ponselnya. Ia tersenyum ketika melihat sebuah foto Mezza yang masih ada di ponselnya.
"Kenapa aku merasa sepi tanpamu, kamu siapanya aku, ha." ucap Daffin sambil memandangi foto Mezza.
"Kok aku merasa kangen sama kamu? harusnya yang aku kangenin adalah Hanum."
Daffin merasa aneh dengan hatinya. Bisa - bisanya ia kangen kepada Mezza bukan kepada kekasihnya.
__ADS_1
Daffin mencoba menelpon Aya adiknya. Ia tau bahwa adiknya itu tau keberadaan Mezza. Dia yakin adiknya jika di sogok sesuatu dengan gampangnya membocorkan sebuah rahasia.
Tut... Tut...Tut
Telpon tersambung ke negara asalnya. Agak lambat sedikit adiknya mengangkat telepon darinya.
"Hallo Assalamualaikum bang."
"Waalaikumsalam, lagi dimana dek? kok lama angkat telepon."
"Ya lagi belajarlah bang, kamu nggak liat jam berapa sekarang?"
"Oh iya Abang lupa jika di sana sudah pukul 9 pagi."
"Nah jam 9 pagi aku lagi di kelas kan bang." jawab Aya terdengar kesal.
Daffin tersenyum ketika mendengar adiknya mengomel karena menggangu jam belajarnya. Sedangkan di Cambridge, Massachusetts saat ini masih pukul 10 malam. Dia lupa jika kota ini lebih lambat 11 jam dari negara asalnya.
"Tanya apa sih bang? apa nggak bisa lain waktu?"
"Kamu tau nggak di mana Eca kuliah?"
"Hahahahaha, jadi ini yang kamu bilang penting? sepenting apa sih dia bagi kamu."
Daffin agak kesal ketika adiknya menertawakan dirinya.
"Jangan tertawa, ayo cepat jawab."
__ADS_1
"Tinggal kamu telpon aja."
"Mana mau dia angkat telpon Abang."
"Emang Abang pernah nyakitin perasaan dia ya?"
"Mana ada, kami kan memang setelan pabrik kurang akur tapi nggak membenci sih."
"Iya tau, jika saling benci nggak mungkin kak Eca mau bergantung sama Abang terus dengan dalil perintah mama."
"Ayolah kasih tau, abang penasaran nih."
"Nggak mau, cari tau aja sendiri."
"Nanti Abang belikan apa yang kamu mau deh." bujuk Daffin.
"Jangan terlalu kepo nanti naksir."
" Jika naksir mau gimana lagi."
" Cie cie yang mulai membuka diri untuk kak Eca, eh salah kayaknya dari dulu udah mulai kok cuma nggak sadar aja." terdengar tawa Aya di seberang sana.
"Ngomong apa sih dek?"
"Udah ah, mau belajar dulu ."
"Kasih tau dulu."
__ADS_1
Tut Tut Tut.
Telpon di matikan oleh pihak di seberang sana membuat Daffin hanya mengelus dadanya.