
Momo termenung di sebuah kamar yang di tujukan kepadanya. Semenjak menikah dia sudah tinggal di rumah Rey.
Masih ingat di ingatan Momo ketika malam pertama. Rey meninggalkan dirinya sendiri. Rey bahkan tidak menegurnya sama sekali.
Momo sudah dua hari berada di rumah ini. Rumah yang semewah kediaman Arkarna atau kediaman anak - anak Kusuma. Rumah ini tidak ada apa - apanya jika di bandingkan rumahnya. Namun rumah lantai dua ini cukup nyaman..
"Kemana dia? kok belum pulang sampai saat ini?" tanya Momo bolak - balik di kamarnya.
"Di sini nggak ada pelayan lagi, masa aku harus beli terus sih." ucap Momo berbicara sendiri.
"Atau aku minta pelayan satu dari rumah." ucapnya tersenyum merasa senang.
"Tapi nanti papa bakalan tanya - tanya."senyum di wajah Momo menghilang saat mengingat hat tersebut.
Momo memang tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Ia sehari - hari hanya taunya pergi keluyuran dengan menghabiskan uang.
Untuk belajar otak Momo memang tidak secerdas keturunan Kusuma. Kadang dia juga merasa Minder berada di keluarga Kusuma. Tapi kata papanya bahwa Tante Bella juga tidak secerdas itu. Namun menurut pandangan Momo tetap saja Tante Bella lebih hebat darinya.
Momo di sekolah selalu mendapat rangking terakhir. Apakah dia tidak berusaha? berusaha sampai harus kursus dimana - mana. Namun otaknya tetap tidak kuat menerima itu semua.
Saat sekolah ia selalu di ejek karena rangking terakhir. Jika bukan karena keturunan Kusuma, mungkin ia bisa di bully habis - habisan.
__ADS_1
Dooommmmmm
Terdengar suara pintu di banting.
Momo keluar dari kamarnya melihat siapa yang datang. Ia melihat Rey yang baru saja kembali. Momo segera berlari ke arah Rey.
"Syukurlah kakak pulang." ucap Momo dengan senang.
"Kamu apakah rumahku? kenapa berantakan semua."Maki Rey membuat senyum di wajah Momo menghilang.
"Maaf aku tidak pandai bersih - bersih." jawabnya sambil menunduk.
Rey mengedarkan pandangannya. Ia melihat banyak kotak makanan di atas meja tamu. Ia berjalan menuju dapur. Di wastafel ia menemukan banyak piring kotor bertumpuk. Bahkan tong sampah penuh dengan sampah.
"Cepat kamu bersihkan rumah ini, jika tidak malam ini kamu aku ceraikan."
"Rey jangan begitu." ucap Momo merengek.
"Percuma kamu merengek, kamu pikir aku bapakmu."
"Gimana jika aku panggil pelayan dari rumahku ya." usul Momo.
__ADS_1
"Aku tidak setuju orang lain masuk ke dalam rumahku, aku tunggu dalam satu jam semua rumah ini bersih." ucap Rey berjalan menuju kamar.
"Satu jam?" tanya Momo membuat Rey menghentikan langkahnya.
"Jika nggak selesai dalam satu jam, maka kamu sendiri akibatnya." ancam Rey.
"Baiklah." jawab Momo dengan lemas.
Momo lansung mengambil masker di lemari. Dia memulai dengan membuang sampah - sampah yang ada di tong sampah dapur. Ia muntah - muntah saat membuang sampah. Ia juga sempat ketakutan dan berteriak meminta tolong Rey saat melihat ulat kecil. Namun Rey tidak peduli sama sekali.
Momo yang tidak terbiasa bersih - bersih membuat ia bersin - bersin. Setelah membuang sampah dia melanjutkan mencuci piring. Saat mencuci piring, tanyanya licin membuat piring jatuh.
Prangggggg
Mendengar ada suara pecah Rey lansung menuju dapur. Dia melihat gadis itu sedang memungut kaca pecahan piring dengan tangannya.
"Sehari aja kamu cuci piring udah pecah, gimana jika kamu lama tinggal di sini? bisa habis perkakas rumahku." ucapnya dengan memaki.
"Maaf." ucapnya dengan menunduk.
Air matanya menggenang karena ia tidak pernah diperlakukan seperti itu. Namun ia tetap bersemangat.
__ADS_1
"Jangan pakai tangan, pakai sapu dan serok." ucap Rey meninggalkan Momo sendirian.