Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 25


__ADS_3

Saat Daffin terlelap tiba-tiba ponsel Daffin berbunyi. Daffin sedikitpun tidak terbangun. Dengan tidak sopan Mezza mengeluarkan ponselnya Daffin dari tas kecilnya.


Awalnya Mezza ragu untuk menjawab telpon tersebut. Kerja kali ini yang menelpon adalah Hanum. Kerena penasaran akhirnya Mezza menjawabnya. Mezza hany diam tanpa bersuara.


"Hallo sayang, lagi dimana?"


Mezza hanya diam tanpa menjawab.


"Sayang aku tau hubungan kita agak merenggang karena LDR, tapi kamu jangan lupa dengan janji kita, kamu boleh pacaran atau dekat dengan wanita lain tapi ingat tempat kamu kembali adalah aku, aku paham jika kita butuh pelarian saat berjauhan."


Mezza kaget mendengar penuturan dari Hanum. Dia dengan cepat mematikan sambungan teleponnya. Dia kembali meletakkan ponselnya di dalam tas Daffin.


Setelah itu dia lansung beranjak dari sofa tanpa mempedulikan Daffin terbangun. Dia merasa hatinya sakit saat ini.


Mezza berjalan menuju kamarnya. Dia bergegas bersiap - siap untuk pergi.


"Brengsek, jadi aku mau kamu jadikan selingan gitu, pantas aja kamu mulai nggak jelas belakangan ini." gumam Mezza berjalan meninggalkan Daffin di apartemennya sendirian.


Satu jam kemudian Daffin terbangun dari tidurnya. Dia tidak menemukan siapa - siapa. Daffin melihat secarik kertas berada di atas meja.

__ADS_1


[Setelah bangun silahkan pergi dari apartemen gua, jangan kembali lagi, oke]


Daffin menarik nafas sedalam-dalamnya agar ia bisa tenang. Jujur ia merasa kecewa saat ini. Perjuangannya sampai di sini tidaklah muda akan tetapi tidak di hargai oleh Mezza.


"Apa sih maumu? apa ini ajang balas dendam mu belum selesai juga." gumamnya.


Daffin keluar dari apartemen Mezza. Ia kembali ketempat keluarganya menginap. Sesampainya di sana, ia kaget melihat Mezza sudah di sana bersama dengan seorang lelaki. Lelaki ini nampak gagah di mata Daffin. Mereka juga nampak merah.


"Daf kamu baru pulang?"


"Iya ma, tadi lagi tidur di tinggal Eca." jawabnya agak kecewa.


"Rey kenalkan ini Daffin anak tente Dita, dia ini teman aku masa kecil, tapi kami jarang akur sih karena sering berantem, biasa nggak satu frekuensi." ujar Mezza lagi mengenalkan Daffin kepada teman lelakinya.


"Rey." ujar Rey mengenalkan diri kepada Daffin.


"Pacarnya Eca?" tanya Daffin kurang suka.


"Maunya begitu, doakan ya." ujar Rey sambil tertawa.

__ADS_1


"Daf, Rey ini sama aku satu frekuensi, kami sama-sama calon dokter." ucap Mezza tersenyum.


Dita melihat ada sedikit kekecewaan di mata Daffin. Namun untuk hal ini ia tidak ingin ikut campur. Baginya saat ini jika jodoh takkan kemana.


"Jadi kita bisa jalannya besok ya, aku dan Mezza akan mengajak kalian semua jalan - jalan di kota ini." ujar Rey.


"Emang harus butuh Guide, ca kamu lupa jika kita sudah sering ke sini." ucap Daffin tidak suka.


"Nggak apa-apa Daf biar lebih rame." jawab papanya.


"Rusaklah semua rencanaku selama jalan di sini, ah sudah nggak bersemangat lagi." ujarnya dalam hati.


"Tapi ini kan liburan keluarga pa, kak Eca jika kakak bawa teman gimana dengan Aya, ayakan maunya hanya berdua dengan kakak." ucap Aya yang paham dengan pemikiran kakaknya.


"Kak Rey bisa dengan Daffin, iyakan Daf?" pertanyaan Mezza membuat Daffin makin tidak senang.


"Terserah lah." jawab Daffin berjalan menuju kamarnya. Ia malas harus berdebat dengan wanita ini saat ini.


"Pamer dekat sama cowok, pa.er aja terus." ujar Daffin sambil berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2