Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 81


__ADS_3

Selamat lebaran idul Adha 2022 bagi umat Islam, semoga lebaran haji ini kita bisa berkumpul dengan keluarga, dan kita semua dalam rezeki yang melimpah sehingga tahun depan kita bisa berqurban. Aamiin.


Yukkkk qurban kambing atau sapi, jangan kurbankan perasaan terus untuk dia. Kira2 keluarga Arkarna mau berapa ekor ya jika mau qurban sapi? hehehehe menghalu lagi 😄🙏


...****************...


Daffin tersenyum - senyum sendiri saat tau bahwa Mezza tidak jadi menikahi Rey. Dan yang paling membahagiakan hatinya ketika dia tau bahwa Rey akhirnya menikahi Momo anak dari uncle Amar.


Daffin merasa bahwa ini pertanda dari Allah. Pertanda baik yang di kirim Tuhan agar Mezza kembali kepadanya.


"Akan aku pastikan kamu akan menjadi milikku cepat atau lambat." gumam Dafiin tersenyum senang memandang ke arah ranjang Mezza.


Wanita itu tertidur setelah makan malam. Saat ini yang terjadi adalah pasien menunggu orang yang menunggu. Daffin tersenyum sendiri melihat MezA yang tertidur lelap.


"Tidurnya tidur batu, nggak ada berubah." pandangan Daffin tak terputus kepada Mezza.


Mezza menggeliat. Daffin dengan cepat memejamkan matanya. Dia ingin seolah-olah sedang tidur.


"Karena tidak mendengar apa-apa, Daffin membuka matanya lagi. Dia kangen minta ampun ketika melihat Mezza udah berdiri di hadapannya.


"Ngapain kamu belum tidur?" tanya Mezza.


"Kamu bisa bantu panggilkan perawat laki-laki nggak?"


"Kenapa? ada yang sakit?" tanya Mezza kuatir.


"Aku mau pipis, tapi masih belum bisa ke toilet." ucap Daffin dengan malu.


Ya sejak sejam yang lalu Daffin menahan kencingnya.

__ADS_1


"Sini biar aku bantu." ucap Mezza mengapit tangan Daffin.


"Kamu nggak akan kuat." mencoba mengelak.


"Tenang percaya aja sama aku."


"Perawat aja, aku masih belum bisa sendiri didalam kamar mandi."


"Aku udah bisa pun melihat boamu itu." ucap Mezza dengan santai.


"Boa?" tanya Daffin bingung.


"Iya banana kamu tu." mata Mezza mengarah ke arah dua tungkai kakinya.


"Kamu ini." ucap Daffin merasa malu sendiri.


"Kenapa aku? aku ini dokter, udah biasa aja." ucap Mezza mencoba membantu Daffin.


"Kenapa? boamu minder ketemu aku?" tanya Mezza sambil menggoda.


"Hei kenapa kamu senakal itu sekarang?" tanya Daffin tidak terima Mezza menggodanya.


"Aku nakal? bukannya kamu suka jika aku nakal? dulu......" ucapan Mezza dipotong Daffin.


"Cepat panggil perawat, aku sudah tidak kuat." ucap Daffin.


Mezza memencet bel. Di sana Mezza lansung memberitahu apa keperluannya. Karena panggilan berasal dari ruang VIP, para perawat dengan sigap menanggapi.


Setelah keluar dari kamar mandi Mezza duduk di samping Daffin. Ia merasa juga tidak bisa tidur.

__ADS_1


"Menurut kamu Rey dan Momo bahagia nggak?" tanya Mezza membuka pembicaraan.


"Mana aku tau, emang aku peramal." jawab Daffin agak jutek.


"Semoga aja mereka bahagia."


"Emang dia belum masuk kerja?"


"Belum tau juga, mungkin dia masih cuti." jawab Mezza.


"Jika Rey nggak bahagia itu karena kamu."


"Kok karena aku?" tanya Mezza tidak percaya dengan ucapan Daffin.


"Iyalah, kamu sering beri dia harapan, trus udah detik - detik mau nikah bisa - bisanya kamu tinggal."


"Hei jika aku nggak ninggalin dia, kamu udah di temukan nggak bernafas, udah malas untuk bangun kamu karena patah hati." ejek Mezza.


"Mana ada seperti itu, ini murni kecelakaan."


"Degil, tidak tau diri." ucap Mezza dengan cemberut.


"Kamu yang cinta mati sama aku kan? makanya dapat kabar lansung nangis-nangis lari kesini."


"Mana ada begitu?"


"Ini buktinya." ucap Daffin memperlihatkan sebuah video di ponselnya.


Mezza sungguh kangen melihat sebuah video di ponselnya. Di dalam video itu memperlihatkan dia sedang menangis di dalam mobil. Lalu saat dia berlari menuju ruang ICU.

__ADS_1


"Zahyan." ucapnya dengan marah karena tau pelakunya.


Daffin hanya tersenyum melihat wanita itu marah besar memanggil nama adiknya.


__ADS_2