Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 54


__ADS_3

5 Tahun kemudian.


Seorang anak berumur kurang dari 5 tahun berlari sana - sini. Dia baru saja datang kembali untuk menemui kakek dan neneknya. Sejak kecil tidak pernah tau keberadaan keluarga besarnya.


Sejak kecil ia hidup di desa neneknya bersama adik dari neneknya. Akan tetapi tidak ada yang menyangka kepergiannya ke salah satu provinsi di Sumatra barat.


"Dafizza." teriak maminya mamanggilnya tidak jauh di belakangnya.


"Mami buruan ." jawabnya nampak tidak sabar.


"Fizza jangan kayak gitu, kasihan momi." ucap Rey lansung menggendong gadis cantik itu.


"Tidak papa, kita harus cepat - cepat." jawabnya dengan cerewet.


Mereka naik taksi online yang sudah di pesannya. Mobil melaju menuju rumah kediaman neneknya. Mezza dapat kabar bahwa neneknya meninggal tadi pagi.


Mezza lansung berangkat setelah mendapat kabar duka itu. Dia sedikit bersedih karena selalu tidak ada di sebelah kakek dan neneknya saat menghembuskan nafasnya.

__ADS_1


Mobil berhenti di depan kediaman neneknya. Mezza melihat banyak pelayat yang datang. Mezza sudah menyiapkan dirinya jika bertemu dengan dia.


Mezza turun dari mobil. Orang yang pertama dia liat adalah Daffin. Entah bagaimana ceritanya, bisa - bisanya dia berjumpa lelaki itu ketika baru turun dari mobil.


Mezza menatap lelaki itu tampak agak kurus. Rambutnya agak panjang. Kumis tipisnya tidak di cukur sehingga nampak berantakan. Namun masih dalam kategori lelaki gagah.


Mezza mengacuhkan lelaki itu. Dia berjalan di samping Rey yang sedang menggendong anak kecil. Melihat semua itu membuat Daffin mengepalkan tinjunya. Amarahnya di tahannya karena tidak mungkin dia mengacaukan suasana duka.


"Meme, kamu pulang?" ucap mamanya yang kaget melihat anaknya berdiri di ambang pintu bersama dengan Rey dan seorang anak kecil layaknya keluarga kecil.


Semua anggota keluarga melihat kedatangan Mezza tidak terlalu terkejut terkejut. Anggota keluarga Mezza sudah tau keberadaannya semenjak neneknya sakit.


"Akhirnya kalian pulang juga, papa kangen." ucap Galuh ikut memeluk Mezza dan istrinya.


"Ini cucu opa ya." ucap Galuh dengan senang hati mengambil Dafizza ke gendongannya.


"Opa sangat keren, fi sering liat foto opa di hp mama."ucapnya dengan centil.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Galuh mencium Dafizza dengan senang.


Galuh dan keluarga lainnya baru kali ini bertemu dengan cucunya. Beberapa hari yang lalu Mezza menelponnya dan memberi kabar bahwa dia berada di kampung neneknya. Dan Mezza juga menceritakan semua yang terjadi.


"Pa nanti aja kita cerita dengan lengkap, sekarang papa urus nenek dulu." ucap Mezza mengingatkan papanya.


Mezza duduk di depan jenazah neneknya. Diabtau bahwa neneknya sangat mencintai sebagai cucu pertama. Neneknya akan selalu bertengkar dengan kakeknya hanya karena memperebutkan dia.


"Selamat jalan nek, maaf di akhir hidup nenek Eca nggak ada di samping nenek." ucapnya sambil menitikkan air matanya.


Mezza tidak menyadari sepasang mata masih menatapnya. Dan dia juga menatap anak kecil yang berada di pelukan mama Mezza.


Daffin memang sudah berdamai dengan papa dan mamanya setahun setelah pergi dari rumah. Abian dan Dita merasa sudah cukup memberikan Daffin mempelajaran. Hidup Daffin sudah sengsara setahun setelah ditinggal Mezza.


Begitu juga dengan Galuh dan Siska. Mereka merasa tidak sepenuhnya salah Daffin.Daffin hanya tidak menyadari cintanya karena sering bersama.


Mereka merasa bersalah karena memaksa menjodohkan mereka sejak kecil. Hanya saja tidak menyadarinya.

__ADS_1


__ADS_2