Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 9


__ADS_3

Aku merasa kesal sekali semenjak tinggal dirumahnya. Bagaimana tidak, dia yang selalu heboh setiap pagi dengan alasan takut terlambat. Padahal kami selalu sampai lima menit sebelum bel berbunyi. Memang sih mepet tapi yang penting kan tidak terlambat.


Kami bersekolah di salah satu sekolah swasta yang terkenal di kota kami. Semua murid di sana termasuk golongan orang-orang kaya - kaya semua. Di sekolah kami terdiri dari tingkatan TK sampai tingkat SMA. Makanya kami bisa berangkat barengan bersama.


Yang paling membuat aku kesal adalah ketika dia bilang otakku di dengkul. Hey aku ini wanita punya masa depan. Dia aja yang tidak tau jika aku mau menjadi dokter terkenal nantinya.


Dia nanti bakal terkejut jika aku bisa menjadi dokter terkenal seperti nenek atau uncle Amar. Aku ini masih punya keturunan dokter terkenal.


Sudah 4 hari aku tinggal di rumahnya. Aku bingung kenapa Tante Dita terlalu ngotot nyuruh aku tinggal di rumahnya. Padahal aku masih punya bibi Ami. Yah setelah 3 hari di rumah, uncle Amar, Tante Bella dan Om Alan kembali ke Jerman guna melihat perkembangan mama dan papa. Sedangkan Tante Ami harus berjauhan dengan uncle Amar karena menjaga nenek serta sepupu - sepupuku yang juga sudah beranjak remaja.


Siang ini aku duduk bersama dengan teman-temanku sambil menghabiskan waktu. Aku sungguh malas berada satu rumah dengan dia. Lebih baik aku menghabiskan waktu bersenang-senang dengan teman-temanku.


Tapi kesenangan aku tidak berlangsung lama karena si monster dingin itu sudah berdiri di depan mejaku. Sudah ku bilang agar menjaga jarak, tapi tetap saja dia datang menghampiri baku di samping teman - teman.


"Mau berapa lama aku menunggu kamu nona?" tanyanya dengan pandangan tajam dan datar.

__ADS_1


Melihat ekspresinya membuat aku dan teman-teman menjadi takut. Aku berpamitan dengan teman - teman karena tidak ingin kena amukan si Monster ini.


"Tinggal pulang aja kenapa repot." omelku sambil berjalan.


"Jika mama nggak suruh mana mau aku nungguin kamu, habisin waktu aku saja urus kamu." ucapnya dengan kasar di belakangku.


"Nggak ada yang nyuruh habisin waktupun."


"Cukup sadar diri aja deh."


"Mana Sudi aku sama dia." jawabnya membuat semua orang yang ada di situ tertawa.


"Emangnya aku Sudi apa." ucapku kesal sambil berjalan dengan cepat.


Teman - temannya memang nggak ada akhlak sama seperti dia. Awas aja kalian nanti karena sudah mempermalukan aku. Belum hilang rasa kesalku tiba-tiba ada lagi yang datang.

__ADS_1


"Sayang,.aku nebeng ya." ucapnya dengan manja sambil bergelayut di tangan Si Monster.


"Menjijikkan." gumamku yang ternyata di dengar oleh mereka.


"Sayang,liat dia bilang aku menjijikkan." ucap Hanum dengan manja lagi.


"Apa maksud kamu dengan berkata seperti itu?" tanyanya semakin datar.


"Kalian aja yang perasa, dah ah aku pulang naik taksi aja, daa." ucapku berjalan sambil meninggalkan mereka berdua.


Aku tidak ingin menjadi nyamuk di antara mereka. Aku pulang sendiri. Titik.


Aku dengan cepat berjalan menuju gerbang sekolah. Untungnya dengan cepat aku menemukan taksi.


Setelah di taksi aku terdiam. Ada yang lain rasanya di hati ini. Akupun tidak tau kenapa dengan hati ini. Merasa tidak enak aku tidak lansung pulang kerumah Tante Dita. Aku memberikan alamat lain kepada supir taksi. Aku ingin sendiri saat ini.

__ADS_1


__ADS_2