Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 46


__ADS_3

Mezza sudah duduk di ruang ketua yayasan yang tidak lain adalah papanya. Papanya nampak marah dengan kejadian ini. Papanya yang memantau operasi darurat dari ruang pemantau.


"Kenapa semua terjadi Mezza? kamu ini fokus nggak kerja?" tanya papanya.


"Maaf pa, tapi ini bukan kesalahan dari meme...."


"Ini rumah sakit." jawab Galuh memotong pembelaan dari Mezza.


"Maksud saya pak, saya sudah memeriksa semua obat yang ada di lemari saya."


"Tapi pasien meninggal setelah kamu berikan suntik bius, tanda vitalnya menurun setelah kamu berikan suntik."


"Tapi secara proses saya sudah melakukan hal benar."


"Jika berita ini sampai ke telinga pasien maka besar kemungkinannya kamu akan di penjara, itu hal yang terburuk." ucap Galuh yang frustasi dengan apa yang terjadi saat ini.


"Saya akan bertanggung jawab pak dengan semua yang terjadi, tapi saya rasa ini memang sudah ajal pak."

__ADS_1


"Itu bukan jawaban dari dokter Mezza." ucap Galuh dengan marah.


"Saya juga tidak melakukan malapraktik pak, saya juga sedih ketika pasien saya meningal, bapak pasti tau rasanya ketika kita sebagai dokter gagal menolong pasien kita, dan satu lagi pak, saya hanya manusia bukan Tuhan." jawab Mezza begitu sedih karena tau bahwa papanya sendiri menyalahkan dirinya.


Mezza berjalan keluar dari ruang operasi. Dia kembali ke ruangannya lalu mengambil tasnya. Ia merasa di salahkan saat ini. Dia yakin bahwa nanti pas rapat umum, dokter - dokter yang bersamanya juga akan dipertanyakan.


Dia membawa mobilnya menuju Arkarna Group. Dia ingin menenangkan hatinya bersama suaminya. Dia yakin bahwa ketika bersama suaminya maka hidupnya akan nyaman.


Setelah sampai di Arkarna grup, dia lansung ke meja resepsionis. Dia baru pertama kali ini berkunjung ke tempat kerja Daffin.


"Selamat pagi buk." ucap Resepsionis menegur Mezza.


"Maaf siapa suami ibu?"


"Saya Mezzaluna Dazuri Kusuma istri dari Daffin Faaz Ilham Arkarna." ucap Mezza dengan ramah.


"Ohw maaf Bu saya lupa dengan wajah ibu, lain kali akan saya hafalkan, silahkan Bu ruang bapak ada di lantai 13." ucap Resepsionis.

__ADS_1


Mezza berjalan menuju ruangan wakil CEO. Ternyata ruangannya ini terpisah sendiri. Mezza tidak melihat siapa - siapa di ruangan itu. Bahkan Mezza tidak menemukan sekretaris di mejanya.


Pintu ruangan Daffin ternyata sedikit terbuka. Mezza mendengar ada suara lain di dalam ruangannya. Entah siapa yang berada di dalam ruangan itu.


Setelah sedikit mengintip dari pintu yang terbuka, hatinya sungguh hancur. Dia melihat Daffin memeluk Seorang wanita sambil makan bersama di Sofanya. Dan yang membuatnya makin hancur adalah ketika tau siapa wanita itu. Dia adalah Hanum. Mereka tampak bahagia. Mezza melihat bahwa keduanya saling tersenyum bahagia.


Mezza merasa lemas dengan apa yang di liatnya. Dia tidak ingin menimbulkan keributan. Dia juga tidak ada tenaga untuk melabrak mereka. Mezza hanya membalikkan badannya.


"Tega kamu Daf, ternyata masa lalu kamu belum juga selesai." gumamnya sambil mengelap air matanya yang jatuh.


Mezza berjalan menuju lift. Hatinya benar-benar Hancur saat ini. Tiba-tiba telepon genggamnya berdering kembali.


"Dokter setengah jam lagi ada operasi dok." terdengar suara Indra mengingatkannya.


"Ini memang pasien aku?"


"Iya dok mungkin dokter lupa makanya saya menelpon dokter."

__ADS_1


"Baiklah, saya kerumah sakit sekarang."


Mezza berjalan dengan hati yang hancur. Tanpa ia sadari ternyata ada sepasang mata yang melihatnya mengingat ruangan Daffin.


__ADS_2