Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
part 86


__ADS_3

Mezza kembali lebih cepat dari biasanya. Ia segera pulang kerumah utama keluarga Daffin. Saat dipintu masuk ia tersenyum melihat Daffin yang sudah uring - uringan.


Mezza mendekati Daffin dengan perlahan. Ia ingin mengagetkan lelaki itu. Akan tetapi belum sampai di tempat lelaki itu, dia sudah melihat keberadaan Mezza.


"Baru pulang, kemana aja? lalu kenapa telpon nggak di angkat?" tanya Daffin lansung membodong Mezza dengan banyak pertanyaan.


"Bisa tanya nya satu - satu?" tanya balik Mezza sambil duduk di sebelahnya Daffin.


"Aku lelah jadi jangan marah - marah tidak jelas." ucap Mezza lagi lalu menyandarkan kepalanya di bahu Daffin.


Daffin lansung terdiam ketika perempuan itu menyandarkan kepalanya di bahunya. Entah kenapa rasa kesalnya menghilang begitu saja melihat wanita itu sudah bersamanya.


"Kenapa kamu nggak mau minum obat?" tanya Mezza masih tetap posisinya.


"Siapa yang nggak minum obat?" tanya balik.


"Ya kamulah, siapa lagi?"


"siapa yang ngomong seperti itu? aku minum kok." jawabnya.


"Kata Alfa jika nggak ada aku kamu nggak mau minum obat, Lalau jika kamu nggak minum obat maka Dafizza akan menangis."


"Percaya kamu sama yang seperti itu?" tanya Daffin sedikit tersenyum setelah tau cara yang di pakai Alfa.

__ADS_1


"ah nggak penting, oh ya tadi Alfa nitip ponsel untuk mu, katanya ponselmu sudah hancur lebur karena kalah main game."


"Mana ada seperti itu, ponselku pecah karena kamu tidak menjawab teleponku." jawabnya kesal.


"Hubungan kita apa sih?" tanya Mezza mengangkat kepalanya lalu menatap Daffin.


"Kamu maunya seperti apa?" tanya Daffin bertanya dengan lembut sambil menyentuh wajah cantik Mezza dengan jarinya.


"Kok tanya aku?Mezza menepis jari Daffin.


"Aku ini terserah maunya kamu aja, mau jadi apanya aku?"tanya Daffin lagi sambil tersenyum.


"Kamu maunya aku jadi siapa kamu?" tanya Mezza membalikkan pertanyaan.


"Aku ikut maunya kamu." jawab Daffin.


Mezza berdiri dari duduknya.Ia ingin mencari keberadaan Dafizza. Namun Daffin lansung memeluknya sambil tersenyum puas.


"Jangan ngambek gitu ah." bujuknya.


"Siapa yang ngambek? dah ah aku mau pulang." jawab Mezza.


"Jangan pulang dulu, aku baru saja ketemu kamu."

__ADS_1


"Trus kenapa jika baru ketemu."


"Ya kangenlah sayang." ucap Daffin lansung menarik Mezza sehingga ia terduduk di pelukan Daffin.


"Kita akan menikah secepatnya, apa kamu bersedia menjadi istri aku kembali?" bisik Daffin di telinga kiri Mezza.


"Amboi, seronoknya." terdengar suara mama Dita dari arah belakang mereka.


"Sepertinya begini bisa buat cidera Daffin cepat pulih." sindirnya mama Dita.


"Yang tua nggak usah iri gitu ma." jawab Daffin.


"Dafizza mana ma?" tanya Mezza tidak melihat anaknya.


"Masih tidur, paling bentar lagi bangun." jawab Dita.


"Ma aku akan menikah kembali dengan Mezza." ucap Daffin ingin memberi tahu mamanya.


"Kamu serius? mama takut terulang kembali kisah yang lalu."


"Iya ma, Daffin jamin nggak akan terulang ma karena Daffin sayang sama Mezza." ucap Daffin mengusap rambut Mezza.


"Kamu gimana ca?" tanya Dita menatap manik mata Mezza agar serius.

__ADS_1


"Aku nggak tau tan ini perasaan seperti apa, namun ketika kecelakaan itu membuat aku sadar bahwa aku takut kehilangan Daffin ma." jawab Mezza.


"Mama terserah kalian aja, tapi jika kalian memang saling mencintai itu malah bagus karena itu artinya Dafizza tidak akan menjadi anak korban broken home." ucap Dita.


__ADS_2