
Mezza lansung bersiap - siap setelah mendapat telpon dari Aya. Aya mengatakan bahwa Daffin sudah sadar.
Setelah menitip Dafizza kepada mamanya. Ia berangkat menuju rumah sakit.Kali ini dia menyetir sendirian.
Mezza tidak sabar ingin berjumpa dengan lelaki itu. Dia ingin tau apa respon lelaki itu ketika melihatnya.
Mezza senyum - senyum berjalan menuju rumah sakit. Saat membuka pintu, senyum di wajahnya menghilang. Di sana ia melihat ada Hanum dan seorang lelaki yang tidak di kenalnya. Di dalam sana juga ada Aya, Dita dan Abian.
"Udah datang sayang, ayo duduk sini." ucap Dita menunjuk kursi di sebelahnya yang berada di sisi kana Daffin.
Dita berjalan menuju kursi yang di maksud oleh mama Dita.Entah kenapa dia selalu merasa insecure berada di ruangan ini bersama Hanum.
"Siapalah awak, Hanum selalu nomor satu di hatinya." ucapnya mulai sedih.
"Eca kamu kenapa?" tanya Dita menyadari bahwa wajah wanita yang duduk di sebelahnya itu sedikit manyun.
"Nggak ada apa-apa ma, gimana kabarnya Daffin ma." tanya Mezza mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah kata dokter tinggal pemulihan aja." jawab Dita.
"Oh iya kamu kenal Hanumkan?" tanya Abian.
Pertanyaan Abian membuat semua menoleh ke arahnya. Mereka semuanya tau bahwa wanita yang membuat Mezza menggugat cerai adalah Hanum.
"Hanya sebatas kenal pa." jawab Mezza dengan sungkan.
__ADS_1
"Ini yang di sampingnya ini adalah suaminya, jadi mereka berdua dulu sahabat sejak SMP." kata Abian.
"Papa ini lupa ya bahwa kak Eca juga sekolah di tempat yang sama dengan kak Daffin." jawab Aya.
"Oh iya, papa lupa." ucap Abian menepuk keningnya.
"Tapi aku memang lupa dengan dia, siapa ya?" tanya Mezza menatap Daffin.
Daffin tidak menjawab pertanyaan Mezza. Pikirannya sedang menerawang kemana - mana saat ini.
"Aku Fino, mungkin kamu lupa karena SMA kita udah pisah."
"Kita dulu pernah satu kelas saat kelas satu kan?" tanya Mezza.
"Yupz." jawab Fino.
"Ya udah kami pulang dulu ya Fin, ca, Tante dan om." pamit Fino dengan semuanya.
"Hati - hati ya." ucap Dita.
"Mungkin kita sekalian ma." ajak Abian.
"Kalau gitu Aya juga ikut pa."
"Loh kamu kan yang jaga Abang." ujar Dita.
__ADS_1
"Mungkin bang Daf butuh waktu berduaan dengan Kak Eca ma." jawab Aya tersenyum.
"Mama sih nggak apa-apa." jawab Dita.
"Nggak usah, biar aku sendiri aja." jawab Daffin.
"*Kok aku di tolak sama dia? dia udah nggak mau aku?" tanya Mezza dalam hatinya.
"Ngapain istri orang nungguin aku, yang ada nanti suaminya datang marah - marah." ucap Daffin dalam hati.
"Ada apa ini? kok dua - duanya nampak Jain dan gengsi?" tanya Dita dalam hatinya*.
"Kamu besok kerja ca?" tanya Dita ingin mencairkan suasana.
"Masih cuti Tante."
"Nah cocok dong, Aya malam ini masih jetlag kayaknya." ucap Aya berpura-pura lelah.
"Papa dan mama ingin mengulang honeymoon ." ucap Abian membuat suasana heboh. apalagi reaksi istrinya yang lansung mencubit suaminya yang tidak tau malu begitu.
"Nggak tau malu, anak - anak udah besar." ngomel Dita.
"Justru karena mereka besar sayang, dia sama-sama paham." jawab Abian tersenyum menggoda istrinya.
Wajah Dita memerah di depan anak - anaknya dan Mezza.
__ADS_1
"Dahlah yok pulang, Eca tolong jaga Daffin di sini ya, terima kasih." jawab Ditavingin menghilang secepat mungkin dari ruangan ini.