
Mezza menggerakkan tubuhnya dengan pelan. Tubuhnya merasakan kelelahan akibat kejadian tadi malam. Ia malu sendiri membayangkan apa yang terjadi tadi malam.
Helaan nafas terdengar saat ia menyadari bahwa tidak ada Daffin di sebelahnya. Ia mengedarkan pandangannya di sekeliling kamarnya. Tidak menemukan keberadaan Daffin.
Ia tersenyum bahagia ketika membayangkan betapa lembutnya Daffin tadi malam. Daffin juga memeluknya sepanjang malam.
"Udah bangun?" terdengar suara maskulin Daffin yang sensual di telinga Mezza memenuhi kamar.
Mezza mengintip dari balik selimutnya dan mendapati Daffin sedang bersandar di ambang pintu kamar mandi dengan balutan handuk. Daffin menatapnya dengan manik mata coklat dan tersenyum menawan. Membayangkan semua itu membuat Sonia tersipu malu.
"Udah bangun ca?" tanya Daffin berjalan mendekat ke arah ranjang sambil tersenyum.
"Kan udah liat mataku melek masa nanya lagi." ucap Mezza kesal sambil duduk dan menyandarkan kepalanya di papan ranjang.
"Ayo mandi." ucap Daffin yang sudah duduk di ranjang tidak jauh dari Mezza.
"Apa?" ucap Mezza mencoba menenangkan diri agar Daffin tidak tau jika jantungnya berdetak lebih cepat. Tubuhnya kembali panas dingin melihat Daffin yang bertelanjang dada hanya berbalut handuk.
"Tuhan bolehkah aku menghamburkan diri kepelukannya." ucap Mezza dalam hati.
Ia membayangkan membelai dada Daffin. Ia tersenyum sendiri dengan pikirannya. Daffin yang melihat Mezza tersenyum sendiri menyerngitkan keningnya.
__ADS_1
"Kamu mikirin apa?" tanya Daffin menyentil kening Mezza.
"Sakit tau." protes Mezza.
"Kamu mikirin yang kotor ya?" tanya Daffin mengulum senyum.
"Mana ada, nuduh aja." jawab Mezza membuang pikirannya. Ia tidak mungkin mempermalukan dirinya di depan lelaki ini.
"Jadi mikirin apa?" tanyanya mengulum senyum karena yakin bahwa istrinya biru sedang memikirkan hal yang nakal kepada dirinya.
"Aku cuma kaget aja pas kamu sudah bangun." elak Mezza secepat mungkin.
"Gila, aku harus tenang jangan sampai dia tau, mau taro dimana harga diri aku." ucap Mezza dalam hati.
"Iya, aku.... aku...aku." ucap Mezza mencoba memikirkan alasan untuk Daffin.
"Aku apa Ca?"tanya Daffin mendekatkan dirinya.
"Aku mau Mandi, tapi aku nggak punya baju ganti." jawab Mezza tiba-tiba teringat isi kopernya.
"Kamu nggak bawa baju apapun? tapi bagus sih jika kamu nggak pakai baju." ucap Daffin tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Gimana mau sholat jika bajunya nggak beres semua?" ucap Mezza memilih - milin selimutnya.
"Kamu pakai baju kaosku aja, pasti kebesaran sama kamu." Daffin bergerak mengambil baju kaosnya lalu menyerahkan kepada Mezza.
"Ya udah, kamu hadap sana aku mau kekamar mandi."
"Sini aku gendong aja toh aku udah lihat semuanya." ucap Daffin lansung menggendong Mezza.
Wajah Mezza di sembunyikan di dada Daffin. Ia merasa malu sekali. Wajahnya memerah karena malu.
"Kenapa wajahnya di sembunyikan begitu?" tanya Daffin tersenyum melihat Mezza yang malu - malu begitu.
Mezzaluna Dazuri Kusuma yang biasanya selalu menantangnya tapi kali ini malu di pelukannya. Ia tersenyum senang karena ia tau bahwa Mezza tidak pernah pacaran. Istrinya masih polos dan lugu.
"Kenapa harus malu? aku kan suami kamu sekarang." ucap Daffin tersenyum meletakkan Mezza di dalam bathtub yang sudah di isi air hangat.
"Udah sana keluar, aku bisa sendiri." ucap Mezza sengaja mengusir Daffin supaya ia tidak tambah malu.
"Nggak sekalian di mandikan?" tanya Daffin menggoda.
"Nggak usah, ini mau subuh loh."
__ADS_1
"Jika butuh bantuan panggil aja." goda Daffin lalu keluar dari kamar mandi sambil tertawa. Sedangkan Mezza berteriak kesal karena suaminya yang tidak kunjung keluar dari kamar mandi karena mengodanya terus.