
Hari ini semua kembali dari berlibur. Semua kembali ke aktivitas masing-masing. Mezza sudah kembali bekerja di rumah sakit milik kakeknya. Sebagai dokter anestesi, dia sering nampak sibuk.
Pagi ini dia nampak bergegas menuju ruangannya. Belum sampai ia sudah di hadang oleh penata anestesi.
"Dok, ada yang operasi pagi ini, ini rekam medisnya."
"Dengan dokter siapa?"
"Dengan dokter Amar dok." jawab Indra penata anestesi.
"Tanda - tanda vitalnya normal?" tanya Mezza memeriksa rekam medis pasien.
"Semua normal dok."
"Semua sudah berkumpul?"
"Tinggal dokter Amar dan kita dok."
"Baiklah, kita bareng aja kesana."
Mezza memakai baju operasi yang disebut seragam scrub atau baju surgical gown Ketika mau masuk dia mencuci tangannya terlebih dahulu. Setelah memasang sarung tangan dan masker diapun masuk ke ruang operasi.
Setelah tiga jam Mezza keluar dari ruang operasi bersama dengan dokter Amar.
"Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar, terima kasih dokter Mezza." ucap Amar tersenyum senang kepada keponakannya itu sambil mencuci tangan.
"Sama - sama dokter." ucap Mezza dengan sopan.
"Habis ini masih ada operasi"
"Nanti setelah makan siang Cesar dok."
__ADS_1
"Ohw semangat, nanti makan siang kita makan diluar ya." ajak Amar.
"Baik dok, nanti saya akan ke ruangan dokter."
"Biarkan saya yang menjemput kamu, suatu kehormatan mengajak dokter secantik kamu."
"Dokter ini berlebihan." ucap Mezza tertawa.
"Anak pemilik yayasan, jadi segan segan." ucap dokter Amar menggoda.
"Dan saya lebih segan lagi dengan dokter di sebelah saya ini karena salah satu pemegang saham terbesar di sini." ledek Mezza yang memang dekat dengan pamannya ini.
"Nanti kita undang Tante Bella ya, kangen juga om kumpul."
"Sekalian aja om undang kamu makan kami semuanya di rumah nenek." ucap Mezza merasa lucu dengan pamannya ini.
"Itu terlalu lama, kan Minggu depan juga kumpul semua."
"Oke, om keruangan dulu ya."
"Baik om."
Mezza menunduk ketika Amar meninggalkannya. Setelah mengganti baju serangam operasi, dia kembali keruangannya.
Mezza merapikan berbagai jenis obat-obatan yang ada di ruangannya. Dia juga memeriksa persediaan obat - obat anestesi yang terdiri dari beberapa obat NAPZA 6ang di letakkan di dalam lemari yang terkunci di dalam ruangan Mezza yang di awasi oleh pihak rumah sakit.
Tok tok
"Boleh saya masuk dok?" tanya dokter Rey muncul di balik pintu.
"Udah masukkan?" ucap Mezza sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sibuk dok?" tanya dokter Rey yang juga praktek di rumah sakit ini.
Sebenarnya dokter Rey juga praktek dirumah sakit lainnya. Jadi dokter Rey praktek di dua rumah sakit bagian penyakit dalam.
"Udah nggak, kenapa? tumben nongol di sini." ucap Mezza berjalan ke area kursinya.
"Aku mau ngajak makan siang."
"Hari ini nggak bisa, udah janjian dengan dokter Amar."
"Ohw jadi dokter Amar yang berumur 45 tahun itu tergoda juga dengan kecantikan kamu, sehingga bersaing dengan dokter muda yang lainnya." ujar Rey bercanda duduk di kursi di hadapan Mezza.
"Hei itu uncle ku, jangan macam-macam kamu." ujar Mezza menunjuk Rey. Sementara Rey malah tertawa merasa lucu.
"Tapi dengan wajah dokter Amar yang awet muda, bisa aja kamu seperti pasangan."
"Keturunan siapa dulu." ucap Mezza dengan sombong.
"Makanya dari dulu aku incar keturunan Kusuma, eh udah bertahun-tahun tapi dia masih acuh."
"Cicit Kusuma yang mana? anak uncle Amar?" goda Mezza.
"Hey aku tau anak dokter masih sekolah, nanti dikira pedofil pula."
"Hahahaha, jika jodoh takkan kemana."
"Berharap kamu jodoh aku."
"Mimpi." jawab Mezza dengan tertawa.
Mezza dan Rey memang sudah terbiasa bercanda seperti ini semenjak kuliah. Rey memang menaruh hati kepada Mezza sejak dari kuliah, akan tetapi Mezza hanya menganggapnya sebagai teman dekat.
__ADS_1