
Daffin dan keluarga telah sampai di kota Bern,Swiss. Mereka sudah sampai di hotel tempat mereka menginap. Ketika yang lainnya beristirahat karena jetlag tapi tidak dengan Daffin. Setelah tau di mana tempat tinggal Mezza, dia lansung menuju lokasi.
Daffin tampak bersemangat ketika memberikan sebuah kejutan untuk Mezza. Ketika sudah sampai di apartemen milik Mezza, dia mengetuk pintu.
Pintu di buka dan wanita yang membuka pintu nampak kaget ketika melihat lelaki yang sudah berdiri di hadapannya.
"Surprise." ucap Daffin tersenyum.
"Kamu kok bisa di sini?" tanya Mezza kaget.
"Katanya kamu kangen aku, makanya aku datang ke sini." ujar Daffin lansung masuk kedalam apartemen gadis itu.
Daffin memandang ke seluruh ruangan apartemen yang tidak terlalu besar. Apartemen ini mungkin sama besarnya dengan miliknya di kota Cambridge, Massachusetts.
"Enak juga di sini." ujar Daffin duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Sofa dan meja makan nampak berada dalam satu ruangan. Ia juga melihat di dekat meja makan ada sebuah kompor kecil.
"Kenapa tidak tinggal di apartemen yang lebih besar?" tanya Daffin.
"Lebih nyaman aja, lagian di sini dekat dengan kampus." jawab Mezza nampak sibuk membuat minuman.
"Belajar mandiri bagus juga."
__ADS_1
"Emang apartemen kamu di sana besar?"
"Nggak juga, hampir sama aja dengan punya kamu."
"Bukannya keluarga kamu punya rumah di sana?" tanya Mezza memberikan minuman panas ke tangan Daffin.
"Rumah kami di new York, bukannya kamu udah kesana? masa lupa." ucap Daffin meletakkan minuman hangatnya di atas meja.
"Oh iya lupa, kenapa bisa ada di sini?" tanya Mezza duduk di sebelah Daffin.
"Melepaskan kangen dengan kamu
" jawab Daffin mendekatkan diri ke Mezza.
Tiba-tiba jantung Mezza bergetar dengan cepat. Jarak Daffin yang begitu dekat membuatnya grogi.
"Kangen aku kan?" tanya Daffin berbisik di telinga kanan Mezza.
"Daf itu, itu hanya bercanda." jawab Mezza gugup.
"Tapi aku tidak, aku benar kangen sama kamu." ujar Daffin lembut dan mencium aroma wangi tubuh Mezza.
"Kamu jangan bercanda terus, kapan kamu mulai kuliah?" Mezza mendorong tubuh Daffin agar mereka ada jarak.
__ADS_1
"Aku masih lama liburnya, dan aku mau ajak kamu jalan - jalan di sini selama aku di sini." ujar Daffin membetulkan duduknya.
"Emang ke sini sendirian?" tanya Mezza kepo.
"Maunya biar bisa berduaan dengan kamu, tapi papa,mama dan Aya juga ikut." jawab Daffin kurang bersemangat.
"Kok mereka nggak ke sini? dimana mereka nginap?"tanya Mezza.
"Mereka istirahat, besok aku bawa kamu ke tempat mereka." jawab Daffin merebahkan tubuhnya di paha Mezza.
"ngapain sih? sekarang aja yuk." Mezza mencoba mendorong tubuh Daffin.
"Biarkan aku tidur sebentar ca di sini." ujar Daffin memejamkan matanya.
Mezza bingung harus berbuat apa. Ini pertama kalinya lelaki itu ingin tidur di pahanya.
Melihat Daffin memejamkan matanya, Mezza mengelus kepala Daffin karena merasa kasihan. Dia tau jika Daffin tidak bisa tidur di pesawat.
Mezza tersenyum malu ketika melihat wajah lelaki yang selalu songong kepadanya akan tetapi hari. ini di matanya begitu gagah.
"Gagah." ucapnya menelusuri wajah Daffin dengan jari telunjuknya.
"Aku akan menemani kamu berlibur di sini, semoga kamu happy liburan." ujar Mezza lagi.
__ADS_1
Hal tersebut membuat Daffin tidur semakin nyenyak. Daffin merasa seperti mendengar dongeng dari putri khayalan.