
Ketika mereka berjalan menuju tempat di mana Dafizza duduk, tiba-tiba langkah mereka terhenti oleh Rey. Rey yang baru saja datang melihat keduanya memandang tajam.
"Pada mau kemana? ini apa - apaan berduaan segala." Ucap Rey pada tidak senang.
"Kami mau ketempat Fizza."
"Dari sebanyak ini orang dan seluas ini tempat, apa nggak bisa jika nggak berduaan?" tanyanya dengan kesal.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." ucap Mezza.
"Jadi ini apa? kita udah mau nikah tapi kamu masih sibuk dengan mantan." ucap Rey.
"Bisa tenang nggak?" tanya Daffin mulai kesal dengan sikap Rey.
"Kamu siapa? kamu hanya orang luar, jadi jangan ikut campuran." ucap Rey.
"Masalahnya di sini anda bawa - bawa nama saya, dan satu lagi sampai kapanpun saya akan berkomunikasi dengan Eca karena di antara kami ada anak." ucap Daffin.
"Alasan basi, aku tau kamu sengaja memanfaatkan Fizza agar kamu bisa untuk mendapatkan Mezza lagi, cara kamu kuno tau nggak." ucap Rey dengan nada tinggi.
"Memanfaatkan? jangan sekali-kali kamu bilang saya memanfaatkan anak saya ya, anak saya melebihi apapun di dunia ini." ucap Daffin terpancing emosi.
"Udah, kenapa ribut di sini sih, pada nggak tau malu ya." ucap Mezza menengahi.
"Mezza mending kamu mikir deh buat nikah sama lelaki macam begini, nanti malah kamu dan anak kamu yang bakalan dipisahkan." ucap Daffin. tersenyum mengejek.
"Anda jangan sembarang nuduh ya, hati - hati jika ngomong." ucap Rey emosi.
"Baru begini aja anda emosi, gimana nanti melihat kami yang tiap Minggu ketemu." ujar Daffin.
"Banyak bacot lo." ucap Rey melayangkan tinjunya.
__ADS_1
Daffin yang tidak terima juga membalas. Pertengkaran yang tidak dapat dielakkan. Semua tamu yang hadir heboh.
Galuh, Abian, Dion dan Alan melerai pertengkaran tersebut. si kembar Zahran Dan Zahyan juga tidak mau kalah. Begitu juga dengan anaknya Alan Azam.
"Ini kenapa sih? bikin malu aja." ujar Galuh emosi.
"Dia tuh main tonjok aja." jawab Daffin kesal.
"Kamu yang sengaja memancing emosi aku."
"Aku memancing emosi? kamunya aja yang datang marah - marah nggak jelas." ucap Daffin membela diri.
"Siapa yang nggak marah melihat calon istri berduaan dengan mantannya."
"Berduaan dimana ceritanya bung jika di sini ramai sekali."
"Bisa diam ngga?" ucap Galuh merasa emosi melihat keduanya.
"Hey apa - apaan ini Gal? main usir - usir aja." ucap Abian yang tidak terima anaknya di usir oleh sahabatnya.
"Jika ada yang menganggu ketenangan di rumah kami, saya wajib mengusirnya, apa ada keberatan?" ucap Galuh.
"Baik mari pulang Daffin, jika kamu nanti di persulit menemui anakmu kita bisa tempuh lewat pengadilan." ucap Abian juga emosi melihat anaknya di salahkan.
"Silahkan, saya tidak melarang Daddy fi datang menjemputnya, tapi hargai yang punya rumah." ucap Galuh.
"Apa - apaan ini bang?" tanya Siska tidak terima dengan ucapan suaminya.
"Kamu jangan ikut campur." bantah Galuh.
"Dita, Daffin ayo pulang." ujar Abian.meninggalkan rumah itu dengan emosi.
__ADS_1
"Rey lebih baik kamu juga pulang." usir Zahyan.
"Apa - apaan ini?" tanya Rey tidak terima.
"Karena anda juga biang dari keributan ini, sebelum anda datang semua tenang." ucap Zahyan.
"Zahyan kamu bisa diam nggak? jangan memperkeruh suasana." ucap Galuh.
"Dia yang memperkeruh suasana." ucap Zahyan marah lalu mengajak mamanya masuk kedalam kamar.
"Lebih baik kamu pulang dulu Rey." ucap Alan dengan tenang.
"Ya biar semua tenang dulu." ucap Zahran.
Rey meninggalkan rumah itu dengan kesal.
"Ya udahlah kami pamit dulu." ucap Dion mengajak anak dan istrinya.
"Ada apa ini Mezza?" tanya Bella adik papanya.
Bella menceritakan semuanya dari awal kepada Bella dan keluarganya dengan detail. Ia tidak tau harus membela siapa di sini makanya dia hanya diam saja.
"Jadi Rey tidak mau kamu berdekatan dengan Daffin?" tanya Bella.
"Jika memang begitu kamu jauhi Daffin." ucap Galuh.
"Gimana bisa begitu bang, mereka butuh komunikasi demi kebaikan anak mereka." ucap Bella.
"Fizza dimana?" tanya Zahran ingat keponakannya.
"Di bawa sama tante Ami ke kamar tadi."
__ADS_1
"Syukurlah."ucap Zahran.