
Setelah pulang dari honeymoon mereka lansung tinggal di apartemen milik Daffin. Daffin sengaja agar mamanya tidak banyak ikut campur.
Semenjak itu pula Mezza merasa ada yang berubah dari diri Daffin. Daffin selalu pulang malam dan pergi sangat pagi - pagi sekali. Daffin pulang saat ia sudah tertidur dan pergi saat ia belum bangun.
Mezza berusaha bangun pagi sekali sehingga dia membuatkan sarapan. Alan tetapi Daffin tidak pernah memakannya dengan alasan terburu-buru.
"Maaf ca aku lagi nggak mood sarapan pagi." alasan Daffin pagi ini.
"Aku bekalkan aja ya."
"Nggak usah, nanti kamu masak untuk diri sendiri aja, aku bisa makan di luar." ucap Daffin lansung berangkat tanpa pamitan.
"Kenapa di berubah? apa sesibuk itu?" tanya Mezza terpaku berdiri di tempat.
Mezza hanya diam di tempat melihat kepergian suaminya. Sudah dua Minggu suaminya lebih banyak diam. Dia bahkan jarang bertemu dengan suaminya meski tidur didalam kamar yang sama.
Mezza menghela nafas dengan kasar. Ia lalu bersiap - siap untuk berangkat bekerja.Masa cutinya sudah habis tiga hari yang lalu.
Setelah 30 menit, ia keluar dari apartemen dengan baju menawan. Siapa yang melihatnya akan terpana. Tetapi dia selalu menolak siapapun lelaki yang masuk kedalam hidupnya karena hatinya sudah di penuhi satu lelaki.
Mezza mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Dia kurang bersemangat menuju tempat kerjanya. Pikirannya masih terpaku dengan sikap suaminya.
Setelah memarkir mobilnya dia berjalan menuju ruangannya. Ia menyapa siapapun yang berpapasan dengannya.
__ADS_1
Ketika baru sampai di rumah sakit, dia lansung duduk di kursi kebesarannya. Dia menyandarkan kepalanya.
Tok tok tok
"Masuk."
"dok CITO."
"Kenapa?"
"Ada pasien yang mau Cesar karena lahir prematur, ibu itu susah pendarahan."
"Dokter siapa yang menangani."
"Tanda Vitalnya normal?"
"Masih normal dok."
"Baiklah ayo kesana." ucap Mezza setelah melihat rekam medisnya.
Setelah memakai baju Operasi, dia mencuci tangan lalu menyorongkan tangannya kedalam sarung tangan yang sudah di siapkan oleh perawat.
Mezza masuk kedalam ruang operasi. Mezza dengan sigap memberikan bius bunafest spinal. Perawat dan beberapa dokter membantu pasien agar bisa duduk.
__ADS_1
Setelah di suntikkan, pasien di baringkan. kembali. Namun ada yang aneh terjadi pada operasi kali ini. Pasien masih merasakan nyeri sebelum di operasi. Tiba-tiba pasien merasa sakit yang parah dan sesak nafas.
Semua yang di dalam ruang operasi nampak panik. Dokter Mezza mencoba mengecek apa yang terjadi. Begitu juga dengan dokter kandungan.
Namun tidak lama kemudian pasien menghembuskan nafas terakhirnya.Mezza cukup kaget melihat apa yang terjadi. Setelah lamanya dia bekerja baru kali ini dia melihat hal seperti ini.
"Buk." Dokter Kandungan mencoba membangunkan.
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un." ucap dokter Mela.
"Ayo cepat keluarkan anakny." ucap dokter Dian sebagai dokter Kandungan.
Operasi Caesar dilakukan karena darurat. Akan tetapi sangat di sayangkan. Anaknya juga tidak selamat.
Mezza terdiam melihat semua yang terjadi. Sebagai dokter dia merasa gagal menjadi dokter hari ini.
Keluarga pasien nampak histeris saat mengetahui pasien meninggal.Mezza berlari kedalam ruangannya. Dia memeriksa obat - obatan bius yang di pakainya. Dia memeriksanya dan ternyata tidak ada yang salah dengan obat-obatan.
"Apa yang terjadi Mezza?" tanya Uncle Amar baru saja masuk.
"Aku nggak tau uncle, bagaimana ini?" tanyanya.
"Kamu di panggil ketua yayasan, silahkan ke ruangannya." ucap Amar.
__ADS_1
Mezza merasa takut hari ini. Dia tidak tau entah apa yang terjadi dengan dirinya.