
Daffin dan Mezza sudah kembali mulai bekerja. Setelah mengantarkan Mezza, Daffin lansung menuju kantornya.
Setelah curi beberapa hari membuat pekerjaan menumpuk. Daffin mengerjakan dengan semangat.
Daffin nampak sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan ia lupa untuk makan siang. Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Dia berjanji sebelum jam empat sore dia sudah menyelesaikan beberapa dokumen agar bisa menjemput istrinya.
"Akhirnya selesai juga periksa dua dokumen, oke untuk yang lain di sambung besok aja." ujarnya lega.
Daffin tampak semangat berjalan meninggalkan ruangannya. Dia berpapasan dengan Alfa si asisten.
"Fa ada dokumen yang sudah selesai, sudah saya suruh Anita mengantarkan ke kamu, untuk yang lainnya besok."
"Minggu ini harus selesai bos."
"Iya, kamu tenang aja, jadwal aku udah kamu atur Minggu ini?"
"Sudah bos, sudah saya kasih ke Anita." jawab Alfa.
"Bagus, jangan ambil meeting di atas jam 3 sore, aku harus jemput istriku Jam 4 setiap hari." perintah Daffin.
"Baik bos, mari bos." ucap Alfa sudah siap mengantarkan bosnya pulang.
"Bagus biar kita bisa bahas pekerjaan sambil jalan ." ucap Daffin yang memang lebih sering di sopirin Alfa daripada sopirnya.
"Kamu juga urus nanti proyek yang di pulau K ya, saya ini belum bisa pergi kemana-mana."
"Baik bos, tapi apakah Tuan Tian mau bos?" tanya Alfa.
__ADS_1
"Kenapa dia nggak mau?'" tanya Daffin berjalan melewati beberapa karyawan.
"Karena tuan Tian sangat sombong bos, biasa dia tidak mau jika tidak ketemu lansung dengan CEO perusahaan."
"Batalkan saja kerjasamanya jika dia tidak mengganggap kamu ada, kesepakatan ada di tangan kamu." perintah Daffin kepada Alfa.
Karyawan memberi hormat kepada kedua orang penting di perusahaan ini. Jika tidak ada Daffin makan Alfalah yang paling di segani. Bahkan Alfa lebih sadis daripada Daffin atau papanya.
Semua karyawan tidak berani mencari masalah dengan Alfa. Jika Abian atau Daffin masih menggunakan hati nuraninya. Tidak dengan Alfa. Dia akan memecat karyawan yang bekerja tidak sesuai dengan keinginannya.
Mereka telah masuk kedalam mobil. Daffin kembali memeriksa dokumen emailnya.Sedangkan Alfa hanya fokus mengendarai mobilnya.
Mereka telah sampai di rumah sakit. Daffin berjalan menuju ruangan Mezza.Akan tetapi hatinya panas ketika melihat Mezza berjalan berduaan dengan Rey sambil tersenyum.
Daffin berjalan menghampiri Mezza. Ia tidak ingin lelaki itu mengambil kesempatan dalam perjalanan.
"Sudah, ini mau kemana?" tanyanya melihat ke arah Rey.
"Mau keluar, kebetulan sama - sama mau pulang, jadi barengan aja sampai parkiran." jawab Mezza.
"Ya udah yuk pulang." ajak Daffin.
"Kami duluan ya Rey." pamit Mezza.
Mereka berjalan menuju mobil meninggalkan Rey. Rey hanya tersenyum ketika melihat Daffin cemburu kepadanya.
"Kamu bisa nggak berhenti bekerja." ucap Daffin ketika mobil sudah jalan.
__ADS_1
"Kenapa mas?" tanya Mezza merasa ada yang aneh.
"Aku ingin kamu fokus urus fi, kamu cukup di rumah aja biar aku yang cari duit." jawab Daffin.
"Sebelum menikah mas tau profesi aku kan mas?" tanya Mezza.
"Iya, tapi aku kasihan aja sama kamu."
"Bohong, bukan itu alasan kamu." jawab Mezza kesal dengan suaminya.
"Ya aku akui aku cemburu dengan keberadaan Rey yang tiap hari di samping kamu di rumah sakit." jawab Daffin kesal membayangkan semua itu.
"Setiap hari? emang aku nggak ada pekerjaan selain di samping dia, aku adalah dokter punya kesibukan begitu juga dengan dia " jawab Mezza menjelaskan.
"Tapi tadi kalian nampak mesrah."
"Itu tadi dia mengucapkan terima kasih telah memberikan saran, aku hanya memberi saran untuk rumah tangganya."
"Kenapa harus kamu? emang kamu penasehat pernikahan dia?" tanya Daffin makin kesal.
"Istrinya dia itu sepupu aku, aku hanya ingin dia fokus mencintai Momo, itu saja nggak labih." ucap Mezza.
"Terserah lah, aku hanya ingin kamu di rumah, tapi sepertinya kamu lebih senang di rumah sakit." ucap Daffin mengambek.
"Kamu jangan kayak anak kecil dong, ini profesional kerja."
"Tau ah, Jiak itu mau kamu ya sudah." jawab Daffin mengalihkan pandangannya ke ponselnya.
__ADS_1
Dia kesal dengan istrinya karena tidak menuruti kemauannya. Mezza juga kesal atas keinginan Daffin. Dia hanya membuang muka ke arah jendela sisi kirinya. Sedangkan Alfa hanya menahan nafas mendengar pertengkaran keduanya.