
Alfa yang ingin ke ruangan bosnya melihat semua yang terjadi di depan matanya. Ia semakin geram dengan kelakuan bosnya. Dia memang tidak menyukai Hanum dari dulu kala.
Alfa mengetuk ruangan bosnya. Sebagai asisten dia tidak punya wewenang memberikan bosnya nasihat. Dia semakin geram saat melihat lagi - lagi mereka sedang sarapan bersama.
"Maaf bos, bos ada meeting sekarang." ucap Alfa berdiri tidak jauh dari Daffin dan Hanum.
"Apa kamu sebagai asisten tidak bisa menghandle semuanya?" tanya Hanum dengan lembut.
"Maaf Bu, saya tidak bekerja dengan anda jadi tolong jangan ikut campur."
"Kamu....." ucap Hanum tertahan.
"Kamu pulang dulu ya, nanti kita bicarakan lagi tentang pekerjaan untuk kamu, saya rapat dulu." ucap Daffin memberi jarak terhadap Hanum.
"Iya, aku akan membantu kamu di sini, dengan begitu kita akan selalu bersama." ucap Hanum dengan manja.
__ADS_1
"Kamu pergi dulu, aku nyusul " ucap Daffin memberikan perintah kepada Alfa.
"Jangan terlalu lama bos takutnya bos besar tau akan ini, saya permisi."
Mendengar nama papanya di sebut, Daffin lansung berdiri. Dia tau siapa papanya. Papanya tidak akan memberi ampun jika tau ia berduaan dengan Hanum di ruang kerja.
"Sayang kamu pulang dulu, nanti bahaya jika papa tau."
"Kok kamu takut gitu sih sama papa kamu, kamu ini niat nggak sih bersama aku?" tanya Hanum dengan melankolis.
"Jangan terlalu lama, dan nanti malam jangan lupa singgah di rumah dulu." ucap Hanum menggoda Daffin.
"Pasti, apa sih yang nggak untuk kamu." ucap Daffin menowel dagu Hanum.
Hanum keluar dari ruangan Daffin. Lalu tidak lama kemudian di susul oleh Daffin.
__ADS_1
Di ruang operasi Mezza sudah siap memberikan suntik bius. Dia sudah meriksa lagi semuanya dengan baik. Menurutnya tidak ada yang salah. Mezza memberikan suntik dengan percaya diri sesuai dengan keilmuan yang sudah dia pelajari.
Namun kali ini terjadi lagi. Pasien tiba-tiba tidak sadarkan diri setelah di berikan suntik bius. Mezza terdiam saat beberapa dokter sibuk melakukan tindakan darurat.
Dokter yang ada di ruangan operasi juga nampak memompa jantungnya agar normal kembali. Namun kejadian beberapa jam tadi terulang kembali. Pasien meninggal dunia.
Keluarga pasien merasa aneh degan sibuknya lara perawat. Dia merasa ada yang ganjil terjadi saat ini. Setelah tau bahwa keluarganya meninggal dalam ruangan operasi mereka marah. Mereka tau bahwa kesembuhan pasien lebih tinggi persentasenya.
Mezza semakin kacau setelah melihat semua itu. Dia hanya terdiam tanpa melakukan apa-apa. Rey yang mendengar semua itu lansung menyamperi Mezza. Dia membawa Mezza ke ruangannya. Dia takut Mezza kena amukan oleh keluarga pasien yang sedang mengamuk di area ruang tunggu operasi.
Berita tentang kematian pasien karena obat bius sudah sampai di mana - mana. Keluarga pasien melaporkan dokter anestesi dan pihak rumah sakit.
Tidak beberapa lama polisi mengambil alih kasus ini. Kasus ini juga melibatkan dinas kesehatan. Rumah sakit Melisa kasih dalam proses pemeriksaan termasuk dokternya yaitu Mezza.
Berita itu susah sampai ke telinga Daffin. Ia merasa terkejut dengan berita yang sedang heboh. Daffin mendadak pergi kerumah sakit untuk melihat kondisi Mezza. Ia takut jika terjadi apa-apa dengan istrinya. Dia tau bahwa dialah yang bisa menenangkan istrinya.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah sakit, Daffin harus menelan pil kekecewaan. Saat ini Mezza sedang menangis di bahu seseorang. Dia adalah dokter Rey.