Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 75


__ADS_3

"Ngomong apa kamu mo?" ucap Amar dengan marah dan malu dengan sikap anaknya.


"Pa aku bersedia, aku mencintai Kak Rey udah 5 tahun." ucap gadis itu tidak gentar sedikitpun.


Ketika yang lain fokus kepada Momo, Mezza sudah pergi dengan Dafizza. Dia tidak pergi sendiri tapi di supirin oleh Zahyan.


"Bagaimana ini pak? keluarga kami bisa malu." ucap papa Rey kepada Galuh.


"Saya mohon maaf dengan apa yang terjadi, tapi mau bagaimana lagi pak, anak saya sudah pergi."jawab Galuh merasa tidak tau malu.


"Mungkin lebih baik Rey menikah dengan gadis ini saya untuk menutupi malu kita dari para undangan." ucap mama Rey membuat Rey terkejut.


"Nggak bisa gitu ma." jawab Rey spontan.


"Maaf kami butuh bicara dulu dengan Rey." ucap papanya pamit ingin berdiskusi.


Sebenarnya papa Rey sangat marah dengan kejadian ini. Akan tetapi marahnya tertahan karena ini didepan umum. Papa Rey paham betul siapa calon besannya ini. Dia tidak bisa sembarangan menyinggungnya.


"Rey demi menutupi malu keluarga, kamu lebih baik menikah dengan gadis tadi." ucap papanya.

__ADS_1


"Tapi pa aku tidak mencintainya."


"Mezza juga tidak mencintai kamu, dia lebih memilih mantan suaminya itu, kamu mau menunggu berapa tahun lagi." ucap mamanya emosi.


"Aku siap menunggu ma."


"Egois kamu, kamu hanya memikirkan diri sendiri, lalu bagaimana dengan kami yang sudah tua menunggu hadirnya cucu." kata mamanya.


"Bukan seperti itu ma." Rey mencoba menjelaskan.


"Lalu apa? kamu ingin kami mati menunggu kamu belum menikah? sampai kapanpun Mezza tidak akan memilih kamu, kalian memang tidak berjodoh, mungkin gadis itu memang jodoh kamu,pikirkan masa depan kamu, lebih baik di cintai daripada mencintai." ucap papanya.


"Saya ini lelaki pa, saya akan mencintai perempuan saya."


Rey putus asa melihat tangisan mamanya. Apalagi ini ada kata ancaman yang keluar dari mulut mamanya. Dia merasa kesal dengan Momo yang membuat semua menjadi rumit.


"Awas saja kamu nanti mo." ucapnya di dalam hati sambil menahan marah.


"Baiklah ma." ucap Rey dengan terpaksa.

__ADS_1


Sedangkan di kamar tamu, Amar memarahi anaknya. Dia tidak habis pikir dengan pola pemikirannya yang gampang mengambil keputusan tanpa diskusi dulu.


"Kamu pikir enak mencintai orang yang tidak mencintai kamu, kamu ini perempuan harusnya menunggu laki - laki yang mencintaimu datang." ucap Amar.


"Sampai kapan pa, lalu aku hidup hampa karena hidup bukan dengan orang yang aku cintai."


"Hidup dengan orang yang tidak mencintai kamu lebih sakit nak, kamu akan menderita setiap hari nak." nasihat Ami dengan lembut.


"Ma melihat dia aja aku sudah bahagia, apalagi ada di sampingnya dia aku makin bahagia."


"Kamu jangan terburu - buru dek, pikirkan masa depan kamu." ucap Gala sang kakak.


"Jika semua tidak merestui hubungan ini, Momo mau mati aja." ucap Momo mengancam semuanya.


Momo berjalan mengambil gunting di atas nakas di kamar itu.


"Ada yang menghalangi, ngomong biar Momo mati aja. ucap Momo siap menusuk lehernya dengan gunting.


" kamu sudah besar, harusnya kamu bisa memikirkan masa depan kamu, terserah kamu saja, papa nggak bakalan ikut campur lagi." ucap papanya menahan emosi. Ingi rasanya dia menjitak kepala anaknya atau otaknya sekaligus agar bisa berpikir jernih.

__ADS_1


"Kepala batu." ucap Gala dengan kesal.


Mama Ami hanya memeluk anak gadis satu - satunya. Ami mengaku ini semua salahnya karena membiarkan Amar terlalu memanjakan anaknya sejak kecil.


__ADS_2