Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 32


__ADS_3

Ketika Amar menjemput keponakannya ke ruangannya, dia menemukan Rey berada di sana. Akhirnya Amar mengajak Rey sekalian makan siang. Dia paham bahwa dokter Rey menyukai keponakannya sejak lama.


"Terima kasih dok udah ngajak saya sekalian." ucap Rey membuka pembicaraan ketika di kafe.


"Itu karena uncle merasa kasihan dengan kamu." ucap Mezza sambil tertawa.


"Kamu ini ca, santai aja jika diluar rumah sakit." ujar Amar.


"Iya dok."


"Tante Bella jadi di undang om?" tanya Mezza.


"Kebetulan Tante sedang di jalan." jawab Amar.


"Om pamit ke toilet dulu, nanti pesanannya samain aja dengan punyamu ya ca." ucap Amar berpamitan menuju toilet.


Mezza dan Rey memesan makanan sambil tertawa. Mereka ini seperti pasangan kekasih. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang kesal melihat kedekatan mereka berdua. Dia adalah Daffin.


Daffin yang sedang mengajak klien makan siang tiba - tiba tidak sengaja melihat mereka berdua. Entah apa yang merasukinya, hatinya merasa panas dengan kedekatan keduanya.


"Teryata dia masih berhubungan dengan cowok nggak jelas itu." gumam Daffin.


"Apa pak Daffin?" tanya kliennya mendengar gumaman Daffin.


"Eh nggak apa-apa pak." jawab Daffin kelabakan.


Alfa asisten Daffin tersenyum dingin melihat kegalauan bosnya. Dia paham bahwa bosnya ini mencintai sahabat masa kecilnya itu.


"Gengsi di pelihara, makan tu cemburu." ucap Alfa dalam hati.

__ADS_1


Iya dalam hati. Mana berani dia berkata terus terang kepada bosnya itu.


"Kamu menertawakan saya?" bisik Daffin kepada Alfa.


"Sial kenapa dia bisa baca pikiran aku." ucap Alfa menenangkan diri.


"Mana berani saya bos."


"Bagus, kamu temani klien ini sampai selesai, aku ada urusan."


"Maaf pak, saya masih ada urusan sedikit, maaf sekali saya harus pergi duluan." pamit Daffin dengan sopan.


"Nggak apa-apa pak Daffin, saya mau pergi juga ini, kebetulan asisten saya sudah di luar."


"Mari saya antar pak." ucap Alfa dengan sopan.


Selain mengantarkan klien ini adalah cara yang tepat agar kabur dari bosnya yang akan meledak sebentar lagi.


"Hmmmmm." dehem Daffin.


"Bikin kaget aja." ucap Mezza.


"Kirain jelangkung darimana pula tadi, datang nggak di undang." ucap Rey.


"Jika jelelangkung pulangnya nggak di antar dong." ucap Mezza meninju baju Rey sambil tertawa.


"Kenapa? terganggu kemesraannya jika aku bergabung di sini?" tanya Daffin.


"Biasa aja." jawab Mezza.

__ADS_1


"Iya sih ganggu, bisa pindah tempat ngga?" usir Rey.


"Aku akan melindungi Mezza dari laki-laki yang nggak jelas ini." ujar Daffin.


"Kamu yang nggak jelas." jawab Rey.


"Keluarga Mezza akan lebih percaya aku daripada kamu."


"Udah ah, kenapa ribut segala sih." ucap Mezza mencoba menenangkan mereka.


"Aku akan memastikan kamu baik - baik saja di sini." ujar Daffin dingin.


"Mezza akan baik - baik saja di sini."


Daffin terdiam karena suara ini bukan Rey yang menjawab. Daffin menoleh ke belakang dan menemui pamannya Mezza.


"Eh ada Uncle." ucap Daffin agak malu.


Untuk menghilangkan rasa malunya, ia menyalami uncle Amar.


"Sehat Fin?" tanya Amar ketika bersalaman dengan Daffin.


"Alhamdulillah sehat uncle, uncle juga sehat?"


"Alhamdulillah sehat, enak ya makan siang rame gini, tante Bella udah di parkiran katanya." ucap Amar.


"Ada aunty Bella juga uncle?" tanya Daffin.


"Iya, tadinya awalnya mau berdua aja dengan Mezza, tapi mumpung banyak yang mau bergabung ya udah deh." jawab Amar tertawa agar suasana di meja ini mencair.

__ADS_1


"Maaf terlambat." ucap Bella yang baru datang sendirian karena suaminya sedang sibuk di luar kota.


__ADS_2